Babak Akhir Pembulian Yesus di Golgota

Pada suatu hari Jumat, ketika itu Pontius Pilatus menjadi Gubernur (wakil Pemerintah Kekaisaran Romawi) di Propinsi Yudea. Ketika Jumat itu tiba, kepada sang Gubernur kaum Yahudi memperhadapkan kepadanya seseorang yang oleh mereka telah diadili menurut hukum agama Yahudi. Pengadilan itu berlangsung secara adil menurut mereka, ketika mereka mendapatkan jawaban “pembelaan” dari Yesus.

“Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekrang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” (Mat.26:64)

Merunut waktu ke belakang, pernyataan Yesus sebagaimana dicatat Matius di atas, kiranya terjadi pada beberapa jam pada malam sebelumnya, lalu ketika pagi tiba mereka menghadapkannya kepada Pontius Pilatus. Pagi itulah hari Jumat. Pengetahuan kita tentang waktu saat malam itu ada dalam catatan Matius, Markus, Lukas dan Yohanis tentang kokok ayam. Pada saat ayam berkokok, Petrus ingat tentang perkataan Yesus, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali (Mat.26:75).

Keputusan Mahkamah Agama diambil secara cepat. Malam hari mereka membuka sidang pengadilan terhadap Yesus, pagi hingga siang mereka kembali berkumpul. Pada pertemuan kedua ini mereka mengambil keputusan untuk membunuh Yesus (Mat 27:2).

Cerita selanjutnya dapat kita baca sebagaimana yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Mereka mencatat dalam versi mereka tentang bagaimana Yesus dihadapkan kepada Pontius Pilatus. Di hadapan sang Gubernur mereka mengajukan berbagai tuduhan yang mendiskreditkan Yesus. Mereka pun menyampaikan bahwa Yesus pantas dan layak dihukum mati.

Yohanes memberi informasi menarik tentang dialog Pilatus versus Yesus. Suatu percakapan yang tidak sempat ditulis oleh penulis Injil Matius, Markus dan Lukas. Pilatus menanyakan asal dan status Yesus di tempat asalnya. Yesus memberikan jawaban yang tidak dapat dipahami oleh Pilatus,

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”
Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?”
Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”
Kata Pilatus kepada-Nya, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh.18:36-38a)

Apakah seorang Gubernur sama sekali tidak paham tentang kebenaran?

Dalam kebingungan, Pilatus pergi menemui orang-orang Yahudi dan menyampaikan bahwa ia tidak menemukan kesalahan apa pun pada Yesus. Tetapi, desakan orang-orang Yahudi yang disponsori para pemimpin agama dan tokoh-tokoh masyarakat, Yesus akhirnya harus memanggul palang salib. Palang salib itu dipanggul keluar dari kota Yerusalem. Di luar kota, Yesus menerima hukuman mati itu bersama-sama dengan dua orang penjahat.

Yesus membiarkan Diri-Nya menjadi korban konspirasi antara Yudas Iskariot dengan para pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat Yahudi. Mereka memperalat kekuasaan untuk menghukum Yesus. Ketika Pilatus sebagai pemegang kekuasaan kekaisaran Romawi memberikan keluasan untuk menghukum Yesus, kaum Yahudi merasa telah menang dalam konspirasi itu.

Babakan akhir dari seluruh konspirasi itu terjadi di Bukit Golgota. Siapakah yang menanggung dampak konspirasi itu?

  • Yesus menanggung konspirasi itu dengan memikul salib. Sebelum tiba di tempat penyaliban itu, Ia telah menerima berbagai hojatan dan hinaan, siksaan dan sesahan. Ia menerima semua itu tanpa memberikan perlawanan sedikit pun. Ia bahkan mendoakan mereka yang memperlakukan Diri-Nya sebagai seorang penjahat sehingga mensejajarkannya dengan dua orang yang pantas menerima hukuman mati itu. Yesus menanggung dampak konspirasi itu dengan kematian.
  • Yudas Iskariot. Ia menyerahkan kembali uang hasil penjualan Yesus. Ia menyesal dan membuat pernyataan bahwa ia telah berdosa (Mat.27:4). Ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri.
  • Para murid. Mereka melarikan diri (Mat 26:56), tidak berani mendekat ke dalam ruang sidang Mahkamah Agama. Perempuan-perempuan yang mengikut Yesus berdiri jauh-jauh. Mungkin saja para murid Yesus yang semuanya laki-laki berdiri di belakang para perempuan, seperti yang terbaca ketika Yesus berbicara dengan Maria ibu-Nya dan Yohanes (Yoh.19:25-27). Pada situasi itu, nyali para lelaki ciut lalu membiarkan para perempuan menjadi “umpan” kepongahan kaum Yahudi.
  • Bait Allah, tempat Maha Kudus tersibak. Jika tempat itu hanya boleh dikunjungi sekali setahun oleh orang terpilih dengan cara undian. Kini tempat maha kudus itu tidak lagi menjadi tempat khusus yang istimewa. Keistimewaan tempat itu telah tergadaikan agar semua orang dapat langsung menghadap Tuhan Allah sang Khalik melalui Yesus.

Babak akhir dari semua itu, kaum yang tidak mengenal Tuhan tergerak hati. Kepala pasukan Romawi yang memimpin penyaliban Yesus mengakui Yesus, sungguh Anak Allah. Bagaimana tidak? Ketika Yesus disalibkan, ada fenomena alam yang tidak biasa terjadi di sana. Panas terik, berubah menjadi mendung hingga gelap. Matahari bagai tidak sudi memberikan pancaran panas pada tubuh yang sedang tersiksa hingga mati. Matahari bagai malu melihat kedurjanaan dan kedurhakaan kaum Yahudi yang mengaku sebagai agamawan yang monoteis. Matahari menutup matanya untuk tidak melihat ketelanjuran para serdadu yang diindoktrin dengan konspirasi untuk membunuh Yesus dengan cara keji.

Satu babak akhir yang mencekam. Banyak orang menyesal atas ide yang mereka bangun dengan opini-opini yang mendiskreditkan kaum terpinggirkan di bawah kepemimpinan Rabi Yesus. Mereka berasal dari kalangan bawah. Opini dibangun oleh mereka yang berada di level menengah ke atas dengan status sosial dan ekonomi yang mapan. Mereka kalangan terdidik dan terhormat. Sementara pengikut Yesus, kaum lemah. Kalangan yang tinggal di kolong kemelaratan sambil menengadah dan menadahkan tangan kepada konglomerasi agama.

Hari ini, Jumat yang sesungguhnya biasa saja. Kaum Kristen melabelinya sebagai Jumat Agung. Jumat yang berbeda dari Jumat yang lainnya. Pada Jumat yang satu ini, Rabi Yesus membiarkan Diri-Nya disalibkan. Ia menyerahkan jiwa dan raga-Nya untuk dikorbankan. Tubuh-Nya hancur karena dicambuk dan dipakukan. Darah-Nya dicurahkan. Darah yang demikian itu sebagai “air” pembasuh dosa makhluk istimewa ciptaan Tuhan, manusia.

Adakah padamu refleksi pada hari ini?

 

 

Koro’oto, 2 April 2021
Heronimus Bani

Surga itu Idaman Insan Fana

Menuju surga (sorga) tempat idaman setiap insan fana yang beriman, ber-Tuhan. Beriman kepada Tuhan saja tidak cukup dengan mengatakan telah lahir dalam keluarga yang taat beragama. Bertaqwa kepada Tuhan saja tidak cukup dengan mengatakan telah memeluk atau berpindah dari agama A ke agama B oleh karena ajaran agama sebelumnya meragukan sehingga keimanan menjadi diragukan. Surga menjadi kabur, kasih kepada sesama kurang nyata atau bahkan tidak dapat menginternalisasikan ke dalam sel, darah, jiwa dan roh dogma agama. Dalam kesadaran-kesadaran seperti itu orang memeluk agama atau berpindah agama. Pada sisi lainnya, ada yang sama sekali tidak sudi beragama sehingga bila membicarakan Tuhan dengan segala hal di sekitarnya termasuk surga (sorga), hanya membuang-buang waktu saja. Padahal, para penganut agama yang fanatis akan begitu merindukan surga, bahkan jika perlu melakukan sesuatu agar segera tiba di surga.

Banyak dan beragam cerita orang baik lisan maupun tulisan tentang “kunjungan” mereka ke surga. Cobalah baca artikel-artikel berikut ini

https://www.liputan6.com/citizen6/read/3427857/4-orang-ini-terkenal-karena-mengaku-pernah-melihat-surga-dan-neraka

https://www.merdeka.com/jabar/kisah-nabi-idris-mengenai-kematian-dan-saat-pertama-kali-melihat-surga-dan-neraka-kln.html?page=all

Anda, para sahabat yang setia mengunjungi weblog ini dapat saja berselancar ria untuk menemukan artikel-artikel yang ditebar. Guglinglah. Pengetahuanmu akan bertambah sambil Anda harus bijak menyortir manakah yang patut diterima sebagai informasi bersifat pengetahuan yang valid.

Bagaimana surga itu dalam ajaran agama-agama? Agama di dunia sangat banyak dan beragam. Orang Indonesia menerima dan mengakui sedikitnya 6 agama. Semuanya mengajarkan bahwa suatu ketika orang akan tiba di suatu tempat di luar kehidupan diri dan komunitasnya. Tempapt itu amat sangat luar biasa sehingga tak dapat digambarkan dengan kata-kata manusia. Terbatas, tetapi orang rindu melukiskannya bila sudah sempat tiba di sana.

Setiap muslim percaya bahwa semua manusia dilahirkan suci. Surga tertinggi tingkatnya adalah Firdaus (فردوس)—Pardis(پردیس), di mana para nabi dan rasul , syuhada dan orang-orang saleh. Tempat itu menjadi idaman bagi setiap insan penganutnya. Bukankah hal ini sesuatu yang luar biasa bila berada di sana? Siapa yang tidak merindukan untuk hidup bersama para nabi dan rasul atau syuhada yang dikisahkan dalam kitab suci dan tradisi ajaran? (id.wikipedia.org).

Dalam agama Hindu, surga artinya pergi menuju cahaya. Walaupun pergi menuju cahaya, tetapi surga itu sendiri hanya suatu tempat yang bersifat kesenangan sementara. Kesementaraan itu terjadi karena jiwa harus mencapai moksha yakni bersatunya atman (jiwa) dengan Brahman yang kekal. Di sanalah keabadian sesungguhnya (https://www.malangtimes.com/)

Dalam agama Buddha ada ajaran berbeda. Cobalah untuk menengok di sini https://www.kompasiana.com/sudhana/55202820a333110844b65c03/perbandingan-surga-neraka-dalam-islam-buddha-bag-1?

Lantas apa kata penganut atheis? https://kumparan.com/frisa-pangestiko/saya-bertanya-atheis-menjawab/full

Berdebat dengan kaum atheis atau bahkan bidat dalam agama mana pun sangat mungkin untuk segera meninggalkan atau melepas pelukan pada agama. Logika sangat dimainkan sehingga semuanya terasa nyata di depan mata dan dapat dirasakan. Surga bagi kaum atheis ada atau tidak itu hanyalah ilusi kaum lemah dan bodoh yang menganut agama untuk menghibur diri. Mengapa? Karena ketidakadilan di dalam dunia. Ketidakadilan itu bahkan terbawa sampai di suatu lokasi yang sifatnya imajiner yakni surga vesus neraka. Di sana masih ada ketidakadilan, kata kaum atheis.

Jika demikian, mengapa orang mengidolakan tempat yang bernama surga itu? Bahkan untuk mencapai surga ada oknum fanatis agama rela mengorbankan diri untuk segera sampai ke sana. Mereka yang terpapar ajaran radikal agama mengantar jiwa ke surga itu. Mereka bagaikan sudah pernah berkunjung ke sana, lantas kembali hanya untuk mengakhiri jasad atau raganya agar jiwa dan rohnya tiba di sana lebih awal dari rencana semula.

Tidakkah kita menyadarinya? Jika sebagaimana kata kaum atheis bahwa surga versus neraka hanyalah lokasi imajiner, maka sia-sialah kepercayaan kita pada perkataan para nabi dan rasul. Padahal seluruh kaum penganut agama sungguh-sungguh meyakini akan adanya surga, bahkan Yesus, Nabi dan Imam yang sungguh-sungguh Manusia Istimewa pun mengatakannya.

Yesus menyebut suatu tempat dengan menggunakan istilah, Rumah Bapa-Ku, kata-Nya:

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempaat tinggal, Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yoh.14;2-4)

Jika Anda sungguh-sungguh percaya pada perkataan Yesus Sang Manusia Tulen nan Istimewa itu, bukankah pernyataan di atas harus diaminkan? Mengapa ragu atau malah memintakan suatu fakta? Ada kisah lain tentang orang-orang yang menghuni tempat itu. Kisah itu disaksikan oleh Yesus sendiri tentang Abraham, Lazarus yang miskin dan seorang kaya. Abraham sudah berada di suatu tempat dan hidup di sana. Lazarus yang miskin mati, lalu dibawa pergi ke sana oleh malaikat untuk hidup bersama Abraham. Sementara si kaya mati pula dan dibawa malaikat ke suatu tempat yang lain. Ia hidup, tetapi dalam derita berkepanjangan. Kisah ini tertulis dalam Lukas 16:19-31

Dikisahkan bahwa ada suatu jurang yang memisahkan dua tempat kehidupan abadi itu. Nuansa kehidupan abadi pada dua tempat itu berbeda. Satunya untuk mendapatkan setetes air saja dari ujung jari seseorang pun, sangat dan teramat sulit, apalagi ada jurang yang memisahkan sehingga tidak dapat menjangkau mereka yang hidup dalam kesengsaraan kekal itu. Lalu, lokasi yang satunya, di sana orang dapat hidup berdampingan dengan tokoh-tokoh besar di antaranya Abraham, Sahabat Allah, bapak segala orang percaya. Nah, kehidupan seperti itulah yang diharapkan terjadi. Lantas rumah yang dimaksudkan Yesus sebagaimana dicatat Yohanis (14:2-4) itu yakni surga.

Penganut Kristen menerima ajaran yang kiranya padat berisi bahwa untuk tiba di tempat dimana Yesus menyediakannya, lantas di mana Yesus berada, di sanalah pengikut-Nya berada, maka orang harus menyadari, meyakini dan melakukan apa yang Yesus ajarkan.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. … .” (Yoh.14:6)

Pernyataan ini sangat sulit diterima kaum manusia. Bagaimana mungkin Yesus Sang Manusia Tulen yang lahir dari satu keluarga sederhana dapat menunjukkan jalan, kebenaran dan kehidupan? Tidak logis dan realistis. Kira-kira demikian kata kaum atheis. Tidak mungkin, seorang Manusia yang menerima segala hinaan, olokan, buli, hingga disiksa dan disalibkan, mati dan dikuburkan dapat menunjukkan jalan, kebenaran dan kehidupan. Jalan menuju cahaya itu harus jelas,bukan suatu mimpi seperti yang tertulis dalam Kejadian 28:10-22. Ketika Yakob bangun dari tidurnya ia berkata,

“Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya! Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” (Kej.28:16-17)

Tidak rindukah Anda naik-turun tangga itu untuk sampai ke tempat terindah? Di tangga itu pintu gerbang sorga terbuka. Tetapi, apakah Anda harus mempercepat niat untuk tiba di sana dengan cara menghabisi diri raga realistis ini? Tidak, bukan?

Jika demikian, kaum Kristen harus yakini bahwa Yesus mengajarkan tentang Rumah Bapa itu, suatu tempat dimana kehidupan abadi berlangsung. Suasananya tergambarkan seperti Firdaus/Eden baru yang hanya dapat dinikmati bila berada di Jalan Lurusnya, Yesus, Manusia Tulen itu yang rela mati untuk menebus dosa umat manusia. Ia bangkit dari kematian-Nya sebagai kemenangan atas maut. Ia tanpa proklamasi yang menghebohkan dunia, yang membelalakkan mata, mengherankan publik. Ia cukup mengajak para murid-Nya untuk menyaksikan ketika Ia terangkat ke sorga dalam awan.

 

 

Koro’oto, 1 April 2021
Heronimus Bani

 

 

 

Di Makasar Nada itu Dimainkan Lagi

Hari Minggu (28/03/21) kabar menggemparkan beredar di jagad informasi. Sebentuk bom meledak. Isinya bom bunuh diri yang terjadi di depan pintu masuk Gereja Katedral Makasar. Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo mengutuk tindakan brutal ini. Menteri Agama melakukan hal yang sama. Para rohaniawan Katolik dan Kristen menyerukan doa dan menghimbau umat untuk tetap tenang menyikapi peristiwa ini. Pegiat Kemanusiaan resah. Bom kembali memakan korban jiwa pada mereka yang terindoktrin dengan ideologi teorisme yang radikal. Tewas sia-sia, walau dallam ingatan mereka sendiri, mereka telah melakukan jihad di jalan Allah. Padahal, tidaklah demikian ajaran agama mana pun untuk menghilangkan nyawa sendiri dan sesama.

Yang bersangkutan merupakan merupakan bagian dari kelompok … yang terkait dengan kelompok yang pernah melaksanakan kegiatan operasi di Jolo Filipina…,” kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, hari Minggu (28/03).

“Kita tindak lanjuti dengan melaksanakan pemeriksaan DNA yang bersangkutan untuk bisa kita pertanggung jawabkan secara ilmiah, namun demikian hari ini untuk inisial pelaku saya kira kita sudah tuntas dan kita sedang kembangkan untuk mencari kelompok yang lain,” kata Kapolri (bbc.com/indonesia/)

Pernyataan Kapolri hendak menegaskan bahwa ada jaringan internasional yang bergerak secara senyap di bawah tanah. Mereka tidak segan dan sungkan untuk membunuh diri sendiri dan menewaskan orang lain. Pemberitaan tentang peristiwa di Jolo pada Januari 2019, dimana kejadian meledakkan bom bunuh diri telah menewaskan 20 orang warga sipil. Bom bunuh diri ini dilakukan di salah satu gedung gereja di Jolo-Filipina.

“Kami mengecam keras ledakan yang terjadi di Jolo,” kata Harry Roque, juru bicara Presiden Rodrigo Duterte, seperti dilansir Channel News Asia pada Senin, 24 Agustus 2020.

Delapan tentara dan enam warga sipil tewas dalam serangan ini. 27 petugas keamanan dan 48 warga sipil terluka.

Reuters melansir belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden ini. Ini merupakan serangan terbesar di sana sejak Januari 2019.

Saat itu, dua orang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya di sebuah gereja di Jolo dan menewaskan lebih dari 20 orang serta melukai lebih dari 100 orang

Mari kita renungkan sejenak apa kata Alkitab tentang hal-hal seperti ini?

Bunuh Diri. Itulah kata kunci dari tewasnya orang yang melakukan tindakan bom bunuh diri yang menyebabkan dirinya tewas, menciderai dan menewaskan orang lain.

Bunuh diri tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun. Kaum Kristen  melalui Alkitab di sana tercatat banyak peristiwa kematian yang terjadi di antaranya dengan bunuh diri. Caranya dengan menggantung diri atau menikam diri dengan pedang hingga tewas. Lihatlah contoh berikut ini:

Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya, “Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini menikam aku dan memperlakukan aku sebagai permainan.”
Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat ssegan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya.
Ketika pembawa senjatanya melihat, bahwa Saul telah mati, ia pun menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, lalu mati bersama-sama dengan Saul (1 Sam. 31:4-5)

Tewasnya raja Saul di medan tempur bukan atas serangan musuhnya. Ia malu bila musuh berhasil menangkap dirinya dalam keadaan hidup, lalu akan dijadikan tawanan dan tertawaan. Ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri yang diikuti oleh pengawalnya. Suatu tindakan yang dalam budaya Jepang akan dihormati dan dihargai sebagai pahlawan. Daripada dipermalukan, sebaiknya mati dengan “cara terhormat” harakiri atau seppuku.

Saul melakukannya setelah tidak mendapatkan jawaban pasti dari pengawalnya. Keseganan dan rasa hormat pada sang raja yang dikawalnya itu menyebabkan ia tidak berani melakukan tindakan tidak terpuji itu. Tetapi, akhirnya ia melakukannya pada dirinya sendiri setelah menyaksikan di depan matanya bagaiman sang raja mengakhiri hidupnya.

Hal kisah lain yang menyebabkan seseorang mati dengan cara membunuh dirinya terjadi pada seorang penasihat di masa kepemimpinan raja Daud. Saat terjadi huru-hara di kalangan istana dalam keluarga raja Daud, Ahitofel memberikan nasihat yang tidak dihiraukan. Ia kemudian mati di rumahnya sendiri dengan cara membunuh dirinya.

Ketika dilihat Ahitofel, bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnyalah pelana kudanya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya, ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri. Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya (2 Sam. 17:23)

Apakah tindakan bunuh diri atas alasan tertentu atau bahkan mengatasnamakan “jihad di jalan Allah” sebagai sesuatu yang mulia? Tidak! Tidak demikian adanya. Tindakan mengakhiri hidup yang merupakan anugerah Tuhan bukanlah tindakan terpuji. Hidup itu pemberian Tuhan pada makhluk istimewa yang diciptakan-Nya sendiri dengan tangan-Nya. Bagaimana mungkin orang mengakhiri hidupnya dan orang lain atas nama “jihad di jalan Allah”  lantas itu merupakan tindakan terpuji dan mulia?

Yudas Iskariot, salah seorang murid Yesus akhirnya tewas setelah menggantung dirinya. Ia mungkin saja sudah malu, merasa sangat berdosa. Mungkin dia mengira bahwa setelah menjual Yesus, gurunya itu, orang-orang hanya memperlakukan-Nya sebagai permainan lalu dilepaskan. Ternyata ia keliru. Yesus disengsarakan dengan begitu banyak ragam kehinaan hingga yang terhina yakni disalibkan. Yudas memilih untuk menggantung dirinya.

Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri (Mat.27:5)

Tidak dikisahkan secara detil suasana kebatinan keluarga Yudas Iskariot sesudah kematiannya. Satu hal yang dapat kita pastikan, ia tewas sia-sia. Kepengikutannya kepada Yesus sebagai murid, sia-sia. Ia “tidak lulus” dalam “ujian akhir” yang diikuti para murid. Para murid lainnya lari dalam “ujian akhir” itu. Petrus mengikuti dari belakang dan mendapatkan “ujian akhir tambahan” yang menyudurkan dirinya. Ia tidak lulus di sana, tetapi segera berbalik dan menyesal. Murid-murid yang lain berdiri di kejauhan saja. Perempuan-perempuan sajalah yang dengan keberanian yang dipaksakan mendekat pada Yesus ketika Ia berada di jalan kesengsaraan menuju bukit Golgota.

Satu nada intolerasi yang disasarkan pada kaum pengikut Yesus Kristus telah dimainkan. Nada itu sungguh sangat minor sehingga hanya orang tertentu saja yang mampu memainkannya. Penikmat nada itu trenyuh dalam keperihan dan kepedihan hati. Menyayat kalbu, menghancurkan rasa dan raga. Yesus sebagai Manusia Utuh pernah mengalami sengsara melebihi kesengsaraan yang dimainkan dalam nada dan irama kehancuran dan kematian rasa kemanusiaan. Di sini, kebhinekaan diancam. Kemanusiaan sedang ditindas oleh mereka yang merindukan keberingasan dipentaskan di altar kudus ala mereka.

Umat Kristen terus berada di jalan kesengsaraan sebagai “ujian” yang tidak dapat dihindarkan. Tidak ada dalam kamusnya umat Kristen bahwa, mengikut Yesus itu suatu hal yang mudah. Memikul salib yang berat merupakan tugas kita. Satu di antara salib itu nyata di depan mata, bom bunuh diri menyasar tempat ibadah dan umat yang sedang beribadah.

Mari terus berdoa dan berjaga-jaga. Hiduplah selalu dalam Tuhan yang mengasihi kita. Ia setia, maka sepatutnyalah kita setia pada-Nya.

Mari kita doakan mereka yang melakukan tindakan brutal membunuh diri dan orang lain. Kiranya Tuhan mengubahkan indoktrin yang telah tertabur di dalam ide dan darah mereka yang terpapar.

 

Koro’oto, 29 Maret 2021.
Heronimus Bani

Membela Diri di Tengah Kegentingan dan Hoax

Membela Diri di Tengah Kegentingan dan Hoax

Minggu (21/03/21), kebaktian (misa) berlangsung sebagaimana biasanya. Umat/Jemaat (GMIT) membaca Firman Tuhan dari Markus 14:53-65. Pokok khotbah tentang Integritas Diri di Tengah Hoax. Hoax sudah bukan kata asing lagi di masa ini. Sebelumnya orang tidak mengenal kata ini, orang mengenal dan mengetahui kabar bohong, kebohongan, dusta, tipu-daya. Kata hoax memperkaya khazanah perbendaharaan kata untuk sesuatu yang tidak disukai, tetapi malah dijadikan alat atau jembatan penyeberangan yang menguntungkan penggunanya. Integritas, satu keseluruhan yang utuh  utuh yang memancarkan kewibawaan (KBBI:437).

Menghubungkan pokok khotbah ini dengan Firman Tuhan yang dibacakan, terlihat pada saat para saksi mengajukan kesaksian mereka di hadapan Mahkamah Agama Yahudi. Mahkamah Agama itu beranggotakan; Imam Besar, para Imam Kepala, para Guru Agama, dan Tua-tua Adat Yahudi. Mereka membuka suatu persidangan untuk perkara yang diajukan kepada mereka dengan terdakwa Yesus. Yesus didakwa dengan bermacam dakwaan di depan persidangan Mahkamah Agama ini. Seluruh dakwaan itu bersifat pembenaran pada kebohongan. Hal ini menimbulkan perselihan di antara mereka yang memberikan kesaksian-kesaksian itu. Jadi, mereka yang mendakwa, mereka sendiri yang berdebat atas dakwaan yang diajukan. Sementara terdakwanya tidak sedang dalam upaya membela diri.

Apakah dunia peradilan zaman ini mirip, sama atau berbeda dalam kasus-kasus yang melibatkan kaum agama?

Dunia peradilan di Indonesia mengalami suatu perkembangan yang terasa berbeda, khususnya Hukum Acara Pidana. Para terdakwa didakwa dengan beragam pasal ayat, baik tunggal maupun berlapis. Ancaman hukuman pun beragam berdasarkan kualitas dan tensi tindak pidana yang disangkakan dan didakwakan. Hukum tidak mengenal status sosial seseorang di tengah-tengah masyarakat. Semua orang sama di mata hukum. Oleh karena itu, sebelum seseorang didakwa, mereka harus dinyatakan sebagai belum bersalah, sehingga baru ditersangkakan. Bila sudah ada bukti-bukti yang menguatkan ketersangkaan, barulah diajukan sebagai terdakwa di depan suatu acara peradilan.

Proses seperti ini sudah berlangsung lama sejak Indonesia mengenal hukum acara pidana, bahkan negara ini mengacu pada Kitab Hukum Acara Pidana peninggalan Belanda. KHUAP telah mengalami revisi dan diundangkan untuk diberlakukan. Para aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan hakim di pengadilan serta para penasihat hukum mengacu padanya serta berbagai Undang-Undang dan aturan-aturan di bawah Undang-Undang. Hal mengajukan seseorang sebagai terdakwa di pengadilan bukan sesuatu yang serta-merta (ujug-ujug). Proses yang panjang, membutuhkan waktu, tenaga, alat bukti yang cukup, saksi, informasi dan data yang memungkinkan ketersangkaan berubah menjadi terdakwa, yang kiranya pada akhirnya menjadi terpidana.

Lihatlah berbagai kasus yang terjadi, entah itu secara fakta hukum atau atas tekanan massa.  Di sana ada yang harus dipidana dengan pemenjaraan yang di Indonesia disebut pemasyarakatan. Jika demikian, bukankah pemasyarakatan lebih bermartabat daripada pemidanaan/pemenjaraan? Dengan pemasyarakatan yang dilakukan di dalam ruang penjara, pemerintah berharap ada efek jera pada para pelaku tindak pidana. Lantas, apakah kaum agamawan pun mendapatkan hal yang sama?

Kaum agamawan tertentu Indonesia sangat sering disebut sebagai “korban” kriminalisasi. Entah bagaimana seorang agamawan diasumsikan sebagai sedang dikriminalisasi bila ia nyata-nyata menghina dan menghojat? Agamawan yang demikian merasa paling benar dan bersih. Selalu ada padanya tampilan bak malaikat pembawa kesejukan pada umat yang mengikuti, padahal ia menebar kebencian. Sementara orang lain yang dihina dan dihojat tidak dianggap sebagai korban, tetapi justru dianggap sebagai kaum kafir atau bidat. Agamawan tertentu yang menghina dan menghojat dijerat pasal-pasal pidana, tetapi mereka tidak serta merta menerima untuk tiba di ruang sidang pengadilan. Berbelit-belit ke sana ke mari untuk menemukan trik pembenaran agar dapat terhindar dari jerat hukum. Pendekatan terbaik agamawan seperti itu adalah memaksa aparat penegak hukum dengan demonstrasi yang bersifat “ancaman”. Bila pengadilan tetap tak bergeming, dicarilah pembenaran dengan membohongi masyarakat di ruang publik.

Apakah para hakim di pengadilan akan terpengaruh akibat “pemaksaan kehendak” di jalur demonstrasi?

Dunia pelayanan Yesus berbeda. Yesus, ketika dihadapkan ke ruang sidang Pengadilan Agama, Ia mengatupkan mulut-Nya. Ia tidak mencari pembenaran. Ia dicaci dan dihina. Ia dihojat dengan kesaksian-kesaksian palsu. Ia tetap diam.

Pada simpul waktu persidangan berlangsung ada dialog antara Imam Besar, Yesus, dan seorang penjaga (Yoh. 18:19-23)

Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan ajaran-Nya.
Jawab Yesus kepadanya: “Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadah dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.
Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.”
Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata, “Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?”
Jawab Yesus kepadanya, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?

Yesus telah berada di tengah-tengah satu suasana ribet yang mendebarkan. Para pecundang dan pengecut duduk manis sambil menggertakkan gigi dan mengepalkan tinju. Mereka tidak mampu untuk melakukan tindakan kekerasan pada-Nya pada saat itu berhubung hal itu akan menimbulkan keributan yang lebih besar. Mereka akan disalahkan oleh penguasa. Tuduhan pada mereka sebagai mengganggu keamanan dan ketertiban ada dalam pengetahuan mereka. Maka, langkah bijak diambil. Mereka menyerahkan Yesus kepada penguasa. Jika terjadi keributan, mereka dapat mencuci tangan.

 

 

Kematian itu Pilihan Terikat

Kematian akan terus berada di sekitar kita sepanjang adanya mayapada dimana segala makhluk hidup menghuninya. Di sana makhluk hidup apa pun pada satu titik waktu akan mengalami apa yang disebut kematian. Pepohonan akan mati, walau di sana ada yang tumbuh lagi karena adanya bijian yang ditinggalkan untuk melanjutkan jenisnya. Rerumputan dan semak yang dibakar atau terbakar hingga hangus orang menyebut rumput dan semak telah mati. Hewan, binatang atau ternak akan mati pada titik waktu tertentu karena sakit oleh wabah penyakit tertentu, atau justru mati di tangan makhluk hidup sesama binatang dengan jenis dan karakter berbeda; dan terlebih lagi  mati di tangan makhluk hidup istimewa bernama manusia. Jadi, kematian merupakan pilihan terikat. Ada yang memilihkan dan objeknya terikat pada pilihan itu.

Makhluk hidup istimewa yang disebut manusia, diciptakan oleh Sang Khalik, Allah, Tuhan Maha Pencipta. Ia menciptakan mereka laki-laki dan perempuan.

Maka Allah menciptakan mereka itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej.1:27)

Jadi, makhluk manusia yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan ini, diciptakan secara istimewa. Keistimewaannya terletak pada pendekatan Allah dalam menciptakannya. Salah satu yang terdapat di dalam ayat alkitab yang saya kutip di atas, istimewanya manusia karena diciptakan menurut gambar-Nya. Menurut gambar Allah.

Saya ingat para perempuan bila membuat gambar di lungsinan benang. Gambar itu ada dalam imajinasi mereka. Bila mereka menuangkannya di atas kertas gambar kelihatan tidak indah, namun bila dibentuk pada lungsinan benang, betapa orang menyukainya dan bangga mengenakannya. Bayangkanlah bagaimana “gambar imajinatif” Allah yang nyata sebagai makhluk hidup, manusia. Mulia, agung, terhormat, bukan? Maka kepadanya, ia mendapatkan kehidupan. Ia diistimewakan pada saat hidup dan mati. Ia hidup dengan berbaju raga, dan mati meninggalkan raganya. Itulah sebabnya sekalipun raga itu hanyalah seonggok daging yang segera akan membusuk, tokh harus mendapatkan perlakuan istimewa dengan melakukan upacara padanya.

Upacara dilakukan menurut anutan dari etnis pada entitas tertentu untuk menguburkan jenazah sebagai raga yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Upacara subat pada kalangan Atoin’ Meto’; Ngaben pada masyarakat Bali, Rambu Solo pada etnis Tana Toraja, Marapu pada etnis Sumba, Saur Matua untuk masyarakat Sumatera Utara, dan lain-lain. Semuanya itu hendak memberi kesan istimewa pada keistimewaan yang dimiliki manusia ketika ia hidup dan bahkan pada kematiannya.

Tetapi, kematian bukan pilihan orang yang mati. Siapa yang memilih mati, ia melakukan perbuatan tercela. Bunuh diri merupakan perbuatan tercela. Ia mati atau tewas hingga meninggalkan raganya. Ia tidak menjadi manusia istimewa; celaan dan hinaan, buli dan olokan akan menjadi bunga dan buah percakapan di sela suasana duka pada mereka yang mati secara normal. Kata-kata terhormat disampaikan kepada orang yang meninggal seperti: almarhum, almarhumah, atau mendiang. Orang tidak menyebut jenazah atau jasad, apalagi bangkai busuk pada raga yang teronggok tanpa napas dan darah. Ia tidak memilih kematian, tetapi, ia terikat untuk sampai pada kematian itu.

Orang memberi pilihan-pilihan kata seperti: mati, meninggal, mangkat, wafat, tewas, dan mampus. Pilihan kata (diksi) seperti apa yang Anda pilih ketika berada pada suatu suasana berkabung? Di sana orang mesti secara etik dan moral menjaga ucapan yang keluar dari mulutnya. Ia harus menyampaikan sesuatu yang kiranya dapat membesarkan hati, menghiburkan, dan menghilangkan kepedihan dan pilunya hati karena kehilangan orang yang dikasihi, bahkan dengan cara kematian yang sangat tidak disukai, misalnya, bunuh diri, dibunuh, atau kecelakaan.

Coba Anda telisik secara cermat kutipan berikut ini, apakah orang yang mati dibunuh akan mendapatkan kata terhormat, mangkat atau wafat?

Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. (Kej.4:8)

Pada peristiwa ini, Habel akhirnya mati. Habel tidak memilih untuk mati. Kainlah yang memilihkan cara matinya Habel. Pada kisah selanjutnya, Kain mendapatkan hal buruk dalam kehidupannya. Ia harus menerima akibat dari memilihkan cara kematian pada adiknya, Habel. Mengapa harus terjadi demikian pada Kain? Karena Kain bukanlah yang memberikan kehidupan kepada Habel. Kain dan Habel juga tidk menerima kehidupan dari Adam dan Hawa, orang tua mereka. Kehidupan itu datang dari Allah, Tuhan Sang Khalik yang mengistimewakan manusia.

Nah, jika Tuhanlah yang memberikan kehidupan itu pada kita, Ia pun menghendaki kita merasakan kematian. Kematian dalam hal ini bukanlah yang bersifat kekal, tetapi kematian yang maknanya sebagai meninggalkan raga fana. Jadi Tuhan sendiri yang meminta kita keluar dari raga (baju) yang fana itu untuk pergi kepada raga lain yang kekal (baka). Ketika Sang Khalik membangun raga ini untuk dihuni roh yang diberikan kepadanya, raga itu bagaikan satu unit rumah pada roh. Maka, bila rumah itu harus ditinggalkan, pasti ada rumah lain yang lebih baik, indah dan sempurna yang disediakan oleh Sang Khalik itu sendiri.

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat dimana Aku berada, kamu pun berada (Yoh.14:2-3)

Pikirkan kata-kata seperti; tewas dan mampus; sebagai cara orang mencapai kematian. Tewas dan mampus tidak ada pada pilihan orang hidup. Pilihan itu diberikan oleh mereka yang menginginkan sasaran/korban mengalaminya. Tuhan tidak menghendaki hal itu, sekalipun sering sekali orang berkata, “Itu kehendak Tuhan!” Apakah Tuhan menghendaki seseorang mati dibunuh dengan cara tidak terhormat? Ada kematian yang dikehendaki Tuhan. Ketika Tuhan menghendaki orang-orang lalim mati dibunuh dalam perang, mereka ditewaskan. Orang-orang yang menjadi penyebab tewasnya para korban dalam perang, sebetulnya Tuhan menggunakan tangan mereka untuk memilihkan cara kematian mereka. Berbeda dengan kematian yang terjadi karena perencanaan menghilangkan nyawa orang.

Kematian itu pilihan terikat. Kematian dipilihkan oleh mereka yang menghendaki hal itu terjadi. Bila yang menghendaki hal itu terjadi adalah sesama kita, maka dosa sedang mengintai.  Bila yang menghendaki kematian itu ada pada Allah Sang Khalik, betapa Ia hanya meminta kita untuk keluar dari raga fana menuju ke rumah-Nya. Bukankah hal ini kabar gembira?

 

 

Koro’oto, 18 Maret 2021
Heronimus Bani

 

 

 

 

 

Tuhan Berkehendak Lain?

Sangat sering orang berkata, “Tuhan berkehendak lain!”

Kalimat seperti itu diucapkan oleh mereka yang mendapatkan kepercayaan memandu acara penguburan jenazah. Siapa pun yang pernah sakit, ada usaha yang tak henti-hentinya untuk mendapatkan kesembuhan dengan pendekatan apa pun, asalkan sembuh dan bukan sebaliknya meninggal. Usaha yang seperti itu rasanya harus “mendapatkan perhatian” dari Tuhan. Mengapa? Karena di dalam usaha-usaha seperti itu, pasti ada “laporan” kepada Tuhan. Dalam “laporan” itu pada bagian akhir ada harapan pada Tuhan. Harapan itu merupakan kesembuhan pada orang yang dikasihi. Orang itu sedang dalam keadaan sakit (koma, sekarat, menahun, dan lain-lain).

Jika Tuhan menghendaki seseorang meninggal dunia, bolehkah kita berkata, “Tuhan berkehendak lain?” Boleh jadi, ya. Kita mungkin boleh saja mengatakan seperti itu karena kehendak Tuhan bukanlah kehendak kita. Kehendak Tuhan tidak sama, beda, lain dari yang kita kehendaki. Tapi, apakah kita perlu mengatakannya pada publik? Ketika kita mengatakannya pada publik, seakan kita sedang kecewa pada kehendak Tuhan itu. Kehendak Tuhan yang satu ini, ketika Ia menetapkan suatu keputusan untuk mengambil seorang dari antara kita dengan cara kematian, apakah kita harus kecewa?

Bacalah Ayub 14; di sana ada kekecewaan, ya. Tapi, ada pula harapan-harapan.

… Engkau akan memanggil, dan aku pun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu. Sesungguhnya Engkau menghitung langkahku, Engkau tidak akan memperhatikan dosaku, pelanggaranku akan dimasukkan di dalam pundi-pundi yang dimeteraikan dan kesalahanku akan Kaututup dengan lepa (Ayub 14:15-17)

Masih banyak ayat alkitab yang dapat kita kutip untuk menyebutkan suatu kematian. Bahkan kematian Yesus sekali pun telah dinubuatkan jauh sebelum Ia datang sebagai Manusia Tulen. Ia datang untuk melayani, sengsara, mati, dikuburkan dan bangkit sebagai Tuhan yang menang atas maut.

Jadi ketika seseorang meninggal dunia, kita mungkin sebaiknya berkata, “Tuhan telah menghendakinya. Ia lebih memilih dia daripada kami (kita) yang masih hidup sekarang ini. Ia memberikan kesempatan kepada kami (kita) untuk menyelenggarakan kehidupan saat ini. Ia telah memilih satu di antara kami (kita) karena kerinduan padanya.”  Bagaimana dengan kalimat seperti itu? Bukankah kita justru berada sejalan dengan Tuhan, karena secara tersirat ada kerinduan kita pada-Nya? Coba bandingkan ketika kita berkata, “Kami telah berusaha, tetapi Tuhan berkehendak lain!” Pada kalimat seperti itu, ada indikasi kita menyalahkan Tuhan, kecewa pada Tuhan yang tidak mendengarkan “laporan dan harapan” kita.

 

 

Koro’oto, 18 Maret 2021
Heronimus Bani

 

Rindu Saja Tidak Cukup pada Rumah Idaman

Pengantar

Banyak kisah inspiratof di sekitar kita tentang hubungan orang tua dengan anak yang harmonis, dramatis, dan tragedis. Biasanya yang harmonis dan dramatis akan sangat menyenangkan pembaca bila kisah itu ditulis (dibukukan), dan bila dijadikan film atau sinetron, penontonnya akan bergirang melihat tingkah pola yang harmonis antarpara pelakunya. Sebaliknya yang bersfiat dramatis semisal orang tua kehilangan anak dan suatu ketika menemukannya kembali; atau sebaliknya anak yang kehilangan orang tua karena berbagai sebab, lalu suatu ketika mereka bertemu lagi. Betapa trenyuh perasaan, bukan? Lalu, bagaimana bila sangat tragis? Seorang anak tega berkhianat pada orang tuanya, atau membunuh orang tuanya, dan lain-lain yang menyebabkan orang tua berada di pihak yang teraniaya; begitu sebaliknya orang tua menjadi penyebab anak sebagai korban. Kisah-kisah seperti itu sungguh mengeksploitasi emosi.

Berikut contoh-contoh yang saya kutipkan dari https://www.fimela.com/parenting/read/3727122/7-cerita-orang-tua-dan-anak-paling-mengharukan; bacalah;

Mungkin Anda akan terinspirasi. Boleh pula membaca yang satu ini, ketika seorang ibu secara sadar dan sengaja meninggalkan anaknya di satu gubuk. Seorang pemulung perempuan memberinya makanan, besama si anak berlatih menulis hanya untuk menuliskan pesan pada ibunya. Setelah berhasil menulis, ia meninggal dunia. Suatu hari ibunya pergi mencarinya. Sang ibu merasa sangat berdosa sehingga ia harus menemukan anak itu. Suami kedua yang menikahinya mendukung sikap dan tindakannya. Mereka berhasil menemukan tempat dimana anak itu sengaja dibuang. Mereka hanya menemukan seorang perempuan pemulung, secarik kertas bertuliskan pesan dari anak, dan kuburan anak itu. https://www.kompasiana.com/www.puisiapaaja.com/55288c426ea83439058b460e/kisah-mengharukan-seorang-anak-yang-ditinggal-orang-tuanya

Kisah Anak yang Hilang dalam Alkitab

Lukas 15:11-32

Anda Pembaca Alkitab yang baik. Anda pasti sudah membaca berkali-kali perumpamaan tentang anak yang hilang. Bila Anda pendengar yang baik, mungkin Anda pun telah mendengarkan, menyimak secara cermat nuansa teknis penyajian kisah ini oleh para pencerita. Para pencerita akan mengantar sedemikian rupa sehingga akan mengeksploitasi emosi (perasaan) agar hanyut dalam kisah itu, walau dari sumber yang sama.

Yesus secara lugas bercerita tentang hubungan Bapa-Anak yang saling merindukan. Bapa begitu menyayangi anak-anaknya sehingga permintaan si bungsu dikabulkan. Si Bungsu pergi dengan pongahnya karena telah mengisi pundi-pundi perbekalannya untuk kesenangan yang kiranya baginya tiada akan berakhir. Ternyata tidaklah demikian.

Lukas mencatatkan kisah ini secermat mungkin hingga detil kesulitan si Bungsu. Ia terpaksa harus makan makanan untuk ternak babi yang jelas-jelas kotor. Ia telah turun derajat kehidupannya. Ia seorang anak dari manusia berkelas. Orang tuanya kaya raya, mempunyai sejumlah besar pekerja, dan rumah dengan kamar-kamar mewah. Di sana ia dapat menikmati semuanya. Sayangnya, ia telah berdosa kepada Tuhan dan kepada orang tuanya. Ia merindukan untuk kembali kepada orang tuanya, bapanya. Apakah orang tuanya akan menerimanya?

Sementara itu di rumah, bapanya hidup bersama seorang anaknya yang lain, si Sulung. Sebagai yang sulung, ia bekerja di rumah bapanya itu. Secara diam-diam sesungguhnya ia berharap ada satu titik waktu dimana ia mendapatkan kesempatan bersukacita bersama para sahabatnya. Tetapi, ia tidak pernah mendapatkannya. Ia mengharapkan adanya penghargaan (reward) dari orang tuanya. Penghargaan itu tidak pernah didapatkannya. Padahal, begitu adiknya, si Bungsu pulang, orang tuanya (bapanya) mengadakan pesta meriah. Kepada adiknya, bapanya memberikan pakaian yang paling indah dan sepatu yang paling mahal. Pesta terbaik yang pernah terjadi di rumah mereka.

Tidakkah kita membayangkan, siapakah yang dinilai sebagai yang bijaksana di dalam cerita ini? Bila menelisik dan berdiri pada posisi si Bungsu, perasaan malu bercampur haru karena diterima kembali di rumah bapa, bahkan dengan pesta yang meriah. Bila berdiri pada posisi si Sulung, bukankah sebaiknya menghelat suatu acara meriah karena segala yang ada di rumah bapanya adalah miliknya? Sementara bila berdiri di posisi orang tua (bapa), Sang orang tua merindukan kesukaan pada anak-anaknya di rumahnya, rumah bersama; karantina sukacita; wisma kebahagiaan; ropo (lopo) kedamaian; sonaf kemuliaan.

Si Bungsu tidak saja merindukan bapanya. Ia tidak saja merindukan rumah dan suasananya. Ia tidak duduk diam lalu merenungi nasib malang bersama babi-babi dan cirik babi di kandang. Ia tidak saja mengelus dada atau meraung-raung dalam tangis kebodohan. Ia tidak saja meneriaki bapanya. Ia, bangkit. Pulang. Pulang ke rumah bapanya dengan segala resiko yang siap ia tanggung. Apapun itu resikonya, ia akan pikul, asalkan itu terjadi di rumah bapanya. Di rumah yang pernah memberinya kehangatan kasih dari bapa, saudara dan para pekerjanya.

Adakah yang merindukan untuk sampai pada titik ini?

Siapa Yang Tidak Rindu Pulang?

Dalam budaya Atoin’ Meto’ pulang ke umi mnasi’atau uim nono sangat dinantikan. Mereka yang merantau selalu berusaha menentukan waktu yang tepat untuk pulang ke kampung halaman. Di sana akan ada pesta, sukacita akbar di rumah bersama, umi mnasi’, uim nono. Mengapa demikian? Karena mereka yang merantau, ketika pergi membujang/lajang, ketika pulang, ada yang menyertai, yang dibawa; tidak sendirian. Seorang pemuda Atoin’ Meto’ yang merantau, bila mengambil isteri di rantauan lalu memiliki anak, kelak mereka akan tiba di umi mnasi’, uim nono, untuk mengupacarakan perkawinan mereka, menyematkan nama keluarga (nono) pada isteri dan anak-anak. Pesta akbar menanti.

Budaya yang sama kiranya ada pada semua etnis di Nusa Tenggara Timur. Tensinya penerimaan sama, teknisnya berbeda. Isinya, pesta akbar yang membuat mereka yang diterima dari “pulang” itu dan mereka yang menerima, sama-sama bersukacita.

Apakah budaya ini sama dengan budaya di sorga? ha ha…

Seorang master of ceremony berkata, “Bila merindukan sorga, jalan terbaik untuk sampai ke sana adalah, kematian!” Wao… kematian. Kalimat ini dikukuhkan dan diaminkan oleh pelayan yang melayani kebaktian penguburan jenazah pada hari itu. Sang pelayan menjelaskan tentang kondisi-kondisi tertentu yang harus dipenuhi bila kelak akan tiba di pintu kematian. Lalu, berbekal kondisi-kondisi yang telah dipenuhi itu, seseorang yang meninggal dunia akan tiba di sorga yang menjanjikan sukacita selamanya.

Suatu ketika saya menghadiri satu upacara penguburan jenazah seorang bapak. Ketika saya diminta mewakili institusi dimana kami pernah bersama dalam tugas, saya membuat analogi seperti ini.

Dalam budaya orang pulau kecil, (misalnya, pulau Rote) meninggalkan kampung halaman dengan berperahu akan sangat menyayat hati. Tangisan bertalu-talu selama kapal berlayar. Tangisan mungkin baru berhenti ketika layar kapal itu telah ditelan ufuk barat. Tetapi, kesedihan rasanya tidak segera berhenti. Tetapi, baiknya keluarga duka tidak perlu lagi bersedih, karena kemudi kapal layar itu ada di tangah Yesus. Yesus yang membawa kapal itu ke tempat yang paling membahagiakan. Maka, orang tua, bapak yang meninggal itu telah berada di dalam kapal itu. Ia dijemput oleh Yesus sendiri. Yesus mengulurkan tangan-Nya, memeluk, membawanya tiba di dalam kapal itu. Lalu mereka berangkat bersama-sama. Bukankah ini suatu kebahagiaan? Mengapa berdiri di bibir pantai untuk melambaikan taangan sambil menangisi kapal itu? Bukankah sebaiknya kembali ke dalam keseharian hidup, rutinitas sambil memandang kepada Dia yang menghidupkan?

Kita semua, kelak akan pulang. Atau mungkinkah ada yang masih rindu berlama-lama di sini? Akh… mari bersegera ke sana, ropo (lopo) kedamaian dan sukacita.

Kita tidak hanya harus merindukannya. Kita harus mulai menanggalkan segala hal yang membebani diri kita. Ketika menanggalkan semua itu, kita perlu mengenakan “baju” dan isian baru yang diberikan oleh “bapa” pemilik kehidupan yang memberi kedamaian, sukacita, dan kebahagiaan itu. Mengenakan itu semua, kita pun boleh berangkat untuk tiba di sana, diterima oleh-Nya dengan “pesta”.

 

Koro’oto, 17 Maret 2021
Heronimus Bani

 

Judas Iskariot, Maat Ranan menuju Kematian

Judas Iskariot, Maat Ranan Menuju Kematian

 

Minggu, (14/03/21), dalam kebaktian Minggu Sengsara Yesus, nama yang satu ini kembali disebutkan. Judas/Yudas Iskariot. Satu nama yang selalu identik dengan intrik dan keburukan. Begitu “buruknya” nama ini sehingga menyebutkan dan hendak menyematkannya pada seorang anak yang baru lahir, tidak akan diterima oleh orang tua mana pun, kecuali mereka yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang kisah hidup Judas/Yudas Iskariot. Bahkan nama ini dipakai sebagai istilah yang tergolong sifat buruk pada kalangan masyarakat ketika orang berkata, “judes!” Orang yang punya judes tidak disukai oleh siapa pun.

Lady Gaga dalam satu lagu berjudul Judas bercerita tentang pergumulan manusia yang dalam perjalanan menuju terang hidup. Manusia berusaha merengkuh cahaya Ilahi, sementara Iblis mengintip dari belakang dan siap menerkam. Jadi, Judas/Yudas Iskariot akan selalu disebutkan sebagai murid Yesus dengan fungsi lain yang disandangnya, pemegang kas, hingga pengkhianat. Ia tidak sama dengan Simon Petrus yang menyangkal Yesus bahkan tiga kali dalam satu satuan waktu yang saling berdekatan. Simon Petrus malam itu juga menangisi dirinya sendiri. Ia telah menyangkal Gurunya di depan orang-orang lain yang menggodanya.

Judas, maat ranan. Dia menjadi penunjuk jalan kepada orang-orang yang akan menangkapnya. Konspirasi tingkat tinggi antara Judas/Yudas Iskariot, imam-imam kepala, tua-tua adat Yahudi, guru-guru Agama, dan petinggi lainnya di kalangan kaum Yahudi. Bukan suatu hal yang mudah ketika melibatkan kekuasaan untuk menghancurkan “kaum lemah”. Yesus berada pada posisi kaum lemah. Ia disenangi dan diikuti khalayak, publik dari banyak kalangan yang mengharapkan-Nya kelak akan menjadi raja yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan kekaisaran Romawi pada saat itu. Kaum lemah dalam jumlah besar tidak mudah untuk ditaklukkan oleh kalangan elit. Maka mereka harus menemukan celah untuk menembus “barikade” kaum lemah sehingga mereka dapat menangkap dan mencelakai Yesus.

Maat ranan, dalam Bahasa Amarasi secara artinya mata jalan. Bila suatu kasus pencurian terjadi di dalam kampung, orang berasumsi bahwa pencuri yang datang dari luar kampung, hanya bisa masuk bila ada seseorang dari dalam kampung bertindak sebagai maat ranan. Ia mengetahui seluk-beluk kampung, termasuk jalan keluar yang dapat meloloskan mereka bila harus lari menghindari kejaran. Maat ranan menjadi informan yang amat berharga pada kelompoknya. Judas Iskariot memenuhi syarat ini. Ia salah seorang yang amat dekat dengan Yesus. Ia bahkan menjadi salah satu orang kepercayaan di dalam komunitas para murid. Dialah pemegang kas. Bukankah seseorang yang menjadi pemegang kas itu seorang yang mendapatkan kepercayaan?

Maat ranan dalam kasus pencurian, bila berhasil. Ia akan mendapatkan bagiannya tersendiri karena ia bukanlah yang turut memainkan peran di dalam pencurian itu. Ia akan berdiri di tempat yang jauh, menjadikan dirinya bukan objek persangkaan. Ia memiliki alibi bila para anggota kelompok tertangkap.

Yesus ditemui Judas Iskariot dan prajurit yang ditugaskan mengkap-Nya. Para prajurit tidak mengetahui rupa Yesus seperti apa. Para prajurit mungkin pernah mendengar nama-Nya, tetapi belum bertemu langsung dengan-Nya. Mereka bersemangat dalam tugas penangkapan seseorang yang dianggap membahayakan keamanan negara (kota) pada saat itu.

Judas Iskariot sebagai penunjuk jalan, melakukan tugasnya dengan baik. Ia tidak berdiri jauh-jauh. Justru ia sampai di depan Yesus, guru-Nya. Ia menyapa dan mencium guru-Nya itu. Ciuman itu sebagai tanda kepada para prajurit untuk segera menangkap-Nya. Ciuman Judas (judes). Ciuman yang menggetarkan dada, mendesirkan darah. Ciuman yang membahayakan guru-Nya dan para sahabatnya.

Guru-Nya ditangkap, para sahabatnya berlarian masing-masing ingin menyelamatkan diri. Judas Iskariot merasa telah berhasil menjadi pahlawan di hadapan para elit Yahudi, khususnya kaum agamawan, saleh, dan bermoral. Mereka menyambut Yesus dengan sukacita dan sukahati. Musuh besar yang selama ini tak dapat disentuh aturan dunia, akhirnya dapat ditangkap, dan segera akan menerima hukuman terberat yang disiapkan mereka. Hukuman mati merupakan rancangan mereka sebagai cara yang menghabisi Yesus.

Judas Iskariot telah menjadi maat ranan yang mencelakai guru-Nya sendiri.

 

 

Koro’oto, 15 Maret 2021

 

 

Uji Coba Membaca Terjemahan Alkitab sebagai Satu Tahapan Kerja Tim

Uji Coba Membaca Terjemahan Alkitab sebagai Satu Tahapan Kerja Tim

 

Unit Bahasa dan Budaya Gereja Masehi Injili di Timor (UBB GMIT) Kupang sebagai salah satu unit pelayann dari Kantor Majelis Sinode GMIT. Tugasnya menerjemahkan alkitab khususnya Perjanjian Baru ke dalam Bahasa-bahasa daerah di lingkungan pelayanan GMIT. Bahasa-bahasa daerah yang sudah mendapatkan jatah terjemahan yakni: Bahasa Melayu Kupang, Bahasa (Uab) Amarasi, Bahasa Dhao, Bahasa Helong, Bahasa Tetun, Bahasa Rote Tii, Bahsa Lole, Bahasa Rote Rikou, dan beberapa bahasa lainnya yang masih dalam proses kerja seperti Bahasa Delha, Bahasa (Aguab) Amfo’an, Bahasa (Uab) Amanuban, Bahasa Teiwa, Bahasa Wersing, dan Bahasa Klon;

Tahapan penerjemahan yang diberlakukan oleh Unit Bahasa dan Budaya GMIT yakni; konsep, revisi tim atas konsep, revisi dengan Pembina, Uji Coba dengan pembaca awam, revisi tim tahap kedua, terjemahan balik, dan uji coba dengan awam dan dihadiri Konsultan Ahli. Bila sudah tiba pada tahap uji coba kedua yang dipimpin oleh Konsultan Ahli dan dinyatakan lulus, maka selanjutnya disiapkan untu percetakan. Penyiapan untuk percetakan ini disebut type setting, hingga akhirnya dikirim ke percetakan. Hasilnya diserahkan ke MS GMIT untuk selanjutnya dilepas ke tengah-tengah jemaat/umat melalui suatu kebaktian. Selanjutnya jemaat dapat memanfaatkannya.

Pada Klaster Uab Meto’ dua cabang Bahasa Meto’ yaitu Aguab Amfo’an dan Uab Amanuban. Kedua bahasa daerah ini telah dan sedang dalam proses melalui tahapan-tahapan sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Aguab Amfo’an telah menghasilkan dua kitab yakni Kitab Injil Markus dan Kitab Kisah Para Rasul. Demikan halnya Uab Amanuban telah meluncurkan Kitab Injil Markus dan Kitab Kisah Para Rasul.

Satu-satunya kitab dalam Perjanjian Lama (PL) yang masuk dalam program terjemahan UBB GMIT yakni, Kitab Kejadian. Semua tim yang sedang bekerja untuk menerjemahkan alkitab dipastikan untuk menerjemahkan Kitab Kejadian ke dalam Bahasa daerah yang sedang dalam proses itu.

Pada saat tulisan ini dibuat, Tim Aguab Amfo’an sedang mengadakan uji coba dan revisi dengan Pembina untuk kitab-kitab: 1,2, Timotius, 1,2 Tesalonika, Titus, Yakobus (5T dan Yakobus) yang disebut Surat-Surat Pastoral, dilanjutkan dengan Kitab Injil Lukas.

Dalam 5T dan Yakobus terdapat 486 ayat yang harus diterjemahkan. Jumlah ini tidak sebanyak yang terdapat dalam Injil Lukas yakni 1151 ayat. Uji coba dan revisi bersama Pembina senantiasa direncanakan dalam tenggat waktu  10 hari untuk 5T dan Yakobus; demikian untuk Injil Lukas. Konsep yang sudah tersedia telah direvisi pula oleh tim konseptor, harus tetap dibaca ayat per ayat; membacanya berkali-kali, merevisi, mengoreksi, menempatkan diksi yang tepat agar tidak mengubah makna dari teks asli dalam Bahasa Yunani.

Tim Amfo’an bersama pembaca awam telah bekerja sejak 1 Maret 2021, berharap dalam 10 – 12 hari dapat menyelesaikan tugas ini dengan kualitas terbaik. Kita doakan mereka bekerja tuntas untuk menghasilkan kitab-kitab ini yang kelak dapat tiba di tangan umat Tuhan yang memiliki dan menggunakan bahasa daerah itu. Pada saat membaca dalam bahasa daerah mereka sendiri, mereka makin memahami maksud Tuhan, sekaligus melestarian bahasa daerah mereka baik dalam tata tulis, dan baca.

Mohon dukungan doa.

 

 

Koro’oto, 10 Maret 2021

Heronimus Bani

 

Bersyukur dengan Ritus Budaya Lokal

Bersyukur dengan Ritus Budaya Lokal

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya (Yak.5:17-18).

Bagian Alkitab yang saya kutip di atas bercerita tentang apa yang pernah dilakukan oleh Elia yang dicatat dalam Kitab 1 Raja-Raja 18:44-45; ketika itu Elia berkata kepada bujangnya,

“Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan.”

Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat, Ahab naik kereta lalu pergi ke Yizreel.

Pembaca yang budiman. Dalam tahun-tahun belakangan ini musim kemarau berkepanjangan menyebabkan siapa pun berkeluh-kesah tentang kesulitan-kesulitan hidup, terutama kekurangan air karena sumber-sumber air menipis hingga mengering, tanaman dan ternak yang mati karena kekurangan air dan banyak masalah sosial terjadi akibat kemarau berkepanjangan. Doa-doa disampaikan kepada Tuhan, sekiranya Ia berkenan menurunkan hujan. Sementara itu sas-sus di sekitar percakapan informal bahwa proyek-proyek besar yang sedang dikerjakan menjadi kendala datangnya hujan. Para pengusaha menggunakan pendekatan tertentu yang dapat mengalihkan awan mendung ke area lain sehingga hujan di area proyek menjadi batal. Hal ini tidak dapat dibuktikan secara jelas, tetapi sudah menjadi rahasia umum. Apakah begitu? Sekali lagi tidak dapat dibuktikan.

Satu hal yang pasti, alam makin rusak, khususnya hutan dan isinya baik hasil hutan berupa kayu termasuk jenis-jenis binatang liar dan unggas telah dibabat dan dipangkas kehidupan mereka. Mereka yang menjadi bagian dari ekosistem dan jaring-jaring makanan telah dipangkas. Pemangkasan ini menyebabkan unsur-unsur di dalam ekosistem terputus sehingga menimbulkan permasalahan pada cuaca dan perubahan iklim.

Tidak mudah untuk mengatakan bahwa manusia lepas dari tanggung jawab perubahan iklim. Manusia mendapatkan kuasa untuk memelihara dan memanfaatkan alam.

Lihatlah Aku memberikan kepadamau segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh muda bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu (Kej.1:29).

Ayat ini jelas memperlihatkan kepada kita bagaimana manusia menerima mandat untuk mengambil hasil dari tetumbuhan dan pepohonan yang Tuhan Allah ciptakan. Ayat ini tidak memberikan perintah agar manusia merusak alam, sekalipun pada ayat sebelumnya (ayat 28) menyebutkan taklukkan dan berkuasa. Apakah dengan term taklukkan dan berkuasa memberi makna mengambil tanpa memelihara? Tentu tidaklah demikian. Tuhan menempatkan manusia lebih tinggi daripada segala ciptaan-Nya sehingga pemanfaatannya untuk kemuliaan nama-Nya. Ingatlah Mazmur 8 (silahkan dibaca nanti).

Bolehkah Ritual budaya dalam Gereja (GMIT)?

Saya ingat setiap bulan Oktober di pedesaan, jemaat-jemaat pedesaan berbakti di padang. Saat itu mereka berdoa untuk satu maksud minta hujan. Bila boleh bertanya untuk sesuatu yang paradoks, bolehkah manusia melakukan ritual atau ibadah untuk meminta agar musim kemarau segera datang? Belum pernah terjadi. Yang terjadi pada kita yaitu selalu berharap agar hujan segera turun. Betapa hujan amat penting bagi kehidupan. Oleh karena itu, orang beribadah dan berdoa secara khusus untuk mendatangkan hujan. Apakah mungkin hal itu dilakukan dalam gereja menurut tradisi suku tertentu?

Suku-suku di Indonesia mempunyai cara untuk mendatangkan hujan. Apakah hujan benar-benar turun sesudah melakukan ritual itu? Jika hujan benar-benar turun sesudah suatu ritual yang tidak secara budaya, apakah kita akan berkata, mereka telah beragama secara benar? Coba baca tulisan ini, https://travel.tribunnews.com/2018/10/15/kemarau-berkepanjangan-ini-6-ritual-minta-hujan-dari-berbagai-daerah-di-indonesia?page=all

Di Timor sendiri masyarakat dalam sub-sub suku Atoin’ Meto’ memiliki ritual sendiri untuk maksud mendatangkan hujan. https://regional.kompas.com/read/2020/02/11/12374541/musim-hujan-di-ntt-terlambat-masyarakat-gelar-ritual-minta-hujan?page=all

Apakah semua itu akan dengan mudah “meluluhkan hati” penguasa langit agar memberi perintah kepada awan dan angin segera menurunkan hujan? Jawabannya, bukan demikian halnya.

Tetapi, bila budaya ini khas, mengapa tidak dapat dilakukan di dalam suatu akta liturgis yang oleh karenanya mengantar jemaat Tuhan makin dekat kepada Penciptanya?

Akhir tahun 2019 Jemaat Koro’oto dalam salah satu kebaktian Minggu, disisipkan doa minta hujan. Seluruh jemaat menyatukan doa kepada Tuhan dalam satu keyakinan bahwa hujan benar-benar akan turun. http://tefneno-koroto.org/?p=2791

 

Peristiwa ini mengantar jemaat Tuhan makin dekat kepada-Nya. Jemaat bergairah dalam doa-doa syukur mereka. Ibadah-ibadah syukur panen sudah menjadi suatu tradisi. Tetapi, bersyukur atas datangnya hujan kemudian dipikirkan, ditelaah dan akhirnya masuk dalam akta liturgis. Kami yakini bahwa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi di Jemaat Koro’oto. Tahun 2020 berlalu dengan persembahan-persembahan syukur sebagaimana biasanya dilakukan ketika panen tiba. Warna ibadah lain masuk pada akta liturgis yakni bersyukur atas hujan dan panen perdana. Tahun 2021 hal ini kembali dilakukan oleh Jemaat di Koro’oto pada kebaktian Minggu, (07/03/21).

Dua narasi yang dimadahkan kepada Tuhan dalam bahasa lokal, Uab Amarasi sebagai berikut.

Aok-bian too srani’ arkit. Neno ia, hit arkit tabua ma ta’mees’ ok atbi Uim Re’u Kninu, Sonbua Kninu’. Hit tahiin ma takeo tak, Uisneno nneek ma namnau tuaf ma fatuf arkit. Hit, mese’-mese’ arkit tnaben tiit Uisneno In manekan naan. Hit arkit tahini msa’ tak, uran ma anin neem natuin Uisneno In tabu ma oras, ka natuin fa mansian ii in tabu ma oras. Es on naan ate, hit arkit re’ atmareen ma tmui’ po’on, tseen ma tbeben roet nahum roet uki-noah, ma pena’-maka’; 
Sekaukah es re’ natorob ma namonib roet ein naan? Hit tbeben ma tsenan sin, mes, re’ he natorob ma namonib sin, Uisneno neikn On. Onaim, hit arkit tsai ma tpoho ‘basak, rarit tasaeb sukur ma makasi teu Uisneno.
Neno ia, hit tait teik fu’-fua’ ma babaun he njair tanar nak, hit he tpao ttein rene ma po’on sin aafk ein  ma neesk ein; Maut he hit tasaeb sukur ma makasi, rarit tait ma tbukae nai.

Terjemahannya sebagai berikut

Shalom, Saudara-saudara. Hari ini kita bersama-sama di dalam Rumah Kudus, Istana kudus. Ada dalam pengetahuan kita bersama bahwa, Tuhan mengasihi dan mengingat kita. Masing-masing kita merasakan kasih-Nya. Kita mengetahui pula bahwa, hujan dan angin itu datang mengikuti yang Tuhan kehendaki pada waktunya, bukan kita yang mengaturnya. Maka, kita berladang dan mempunyai mamar (kebun tanaman umur panjang). Kita tanami semuanya dengan tanaman seperti padi dan jagung. Siapakah yang membuat semuanya bertunas dan bertumbuh? Tuhanlah yang menghidupkan semuanya itu. Jadi, kita memeluk dada dan bersyukur pada Tuhan.
Hari ini kita membawa sedikit dari ladang sebagai tanda bahwa hasil dari ladang sudah tiba. Biarlah kita bersyukur atasnya, dan mulai menikmati semuanya itu.

Di dalam kebaktian ini, jemaat Tuhan mengantar persembahan dengan doa yang kiranya sangat kental. Doa itu dinarasikan sambil musik gong ditabuh, diiringi tarian. Narasi doa pengantar persembahan berbunyi,

Koi Uisneno Amahoet
Hai mfonat iim ampaumaak Ko, Usi’
Hai msiri’ iim amtean Ko, Usi’.
Hai he mi’siti’ meik haan baisenut ma feef baisenut
Hai he mitnaat ma miskau Ho manekam meu kai
Hai mtean Ho mei-fuat akninu’
Hai meik fua’-turu’ ma fuatnatas
Hai msee’ meik sin mi’ko rene ma po’on
Hai mnona’ sin njarin fua’ unu
Hai mifneek ma mi’paen meu Ko, Usi’
Msimo ma mtoup maan sin, tua

Terjemahannya sebagai berikut,

Ya Tuhan yang Sumber Kelimpahan
Kami mendekat pada-MU
Kami makin merapat pada-MU
Kami mengganggu dengan suara berisik dalam hormat
Kami memapah dan menggendong kasih-Mu pada kami
Kami tiba di meja persembahan kudus
Kami membawa persembahan
Kami mengambil semuanya dari ladang dan kebun (mamar)
Kami menyerahkan semuanya sebagai buah sulung
Kami berharap hanya pada-MU
Terimalah semua, ya Tuhan

Kami sungguh yakin bahwa jemaat Tuhan makin dekat dan sangat rindu berada di rumah Tuhan dengan ibadah bernuansa budaya lokal. Beberapa kali kebaktian dengan pendekatan yang demikian selalu dihadiri ratusan anggota jemaat. Mereka sangat antusias membawa persembahan yang kelihatan di tangan dan yang terbungkus rapi. Angka persembahan syukur bertambah karena pemberian itu selalu disadari sebagai ta’tuta’ hanaf he tbaiseun Uisneno, (terj. mengalaskan suara (hati) ketika menghadap hadirat Tuhan).

Demikian suatu rangkaian ritual budaya yang dikemas dalam akta liturgis. Bersyukurlah senantiasa kepada-Nya dengan nyanyian, musik dan tari. Persembahan yang kami tidak seberapa banyaknya, terimalah ya, Tuhan. Kidung ini kami bawakan dalam bahasa lokal,

Fua’-turu’ fuatnatas, hai mnona’ sin ba-baun, amsium ma mtoup maan sin koi, Usi. Amnnek ma mumnau, kai.

 

 

 

Koro’oto, 9 Maret 2021
Heronimus Bani

Exit mobile version