Tefneno’ Koro’oto dalam Konteks Alam dan Biblis

TEFNENO’ KORO’OTO DALAM TELAAH KONTEKS ALAM DAN TEKS BIBLIS

 

Pengantar

Pnt. Heronimus Bani

Klasis Amarasi Timur, pada masa ini meliputi 3 wilayah administrasi kecamatan dalam Kabupaten Kupang: Kecamatan Amarasi, Kecamatan Amarasi Selatan dan Kecamatan Amarasi Timur. Dalam prospek dan progress yang sudah disepakati untuk ada pemekarannya menjadi tiga klasis mengikuti pendekatan kecamatan. Apakah ini akan menguntungkan atau merugikan? Tentu saja Majelis Klasis Amarasi Timur telah melakukan kajian-kajian mendalam dari berbagai aspek. Hasil kajianlah yang dipakai sebagai rujukan untuk mengantarnya secara organisatoris ke Sidang Majelis Sinode dan Sidang Sinode. Keputusan Sidang Sinodelah yang akan menjadikan Klasis Amarasi Timur dimekarkan atau ditundak pemekarannya.

Terlepas dari hal ini, selaku anggota Gereja Masehi Injili di Timor dalam Klasis Amarasi Timur, terlebih dalam Jemaat GMIT Pniel Tefneno’ Koro’oto, saya rindu menyampaikan pikiran dari pengalaman sepanjang beberapa tahun terakhir ketika Gereja (dhi. Klasis Amarasi Timur) berkiprah, tetapi tidak seluas wilayah klasis ini. Luasnya cakupan tulisan ini hanya pada Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto dimana berada di dalam wilayah Klasis Amarasi Timur.

Tulisan ini lahir dari latar pikir bahwa Roh Kudus tidak bekerja di ruang hampa. Ia bekerja dalam waktu, tempat dan di dalam hati manusia. Di sana ada konteks dan kondisi tertentu yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Di dalam waktu dan tempat itu, Roh Kudus mengilhami makhluk individu tertentu atau komunitas tertentu untuk saling berbicara, bersikap dan bertindak. Dalam hal demikian, selanjutnya mereka menyatu dalam kesepakatan-kesepakatan natokob ma nahakeb (mendudukkan/mendirikan) bersama apa yang disebut gereja atau jemaat.

Saya sungguh mengimani bahwa Roh Kudus telah menjadi Inspirator di beberaoa temoat dimana Jemaat GMIT berdiri. Nama-nama Jemaat itu menggunakan nama dalam Bahasa Amarasi. Menurut pendapat saya, itu terjadi atas inspirasi/wahyu Roh Kudus. Itu tidak berarti mereka yang menggunakan nama-nama seperti Ebenhaezer, Bethania, Bet’El dan lain-lain tidak mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus. Tapi, saya hendak fokus pada Jemaat Tefneno’ yang menggunakan nama dalam Bahasa Amarasi yang tidak lazim.

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengangkat budaya penamaan sesuai konteks belaka. Bila jemaat-jemaat yang menggunakan nama bukan Bahasa Amarasi, bukan berarti mereka tidak kontekstual. Ebenhaezer, Hananial, Bokhim, Bethesda, dan lain-lain tentu punya latar pikir yang konteksnya tepat untuk mereka. Ada tujuan yang kedua yaitu untuk mengedukasi jemaat tentang pentingnya bahasa daerah dilestarikan. Salah satunya dengan penamaan, baik pada nama institusi maupun nama orang.

 

Tefneno’ Koro’oto dalam Klasis Amarasi Timur

 

Saya menulis sederhana saja bagai bercerita lisan.sebagaimana apa-apa saja yang saya dengar dari mereka yang pernah ada dan menjadi pelaku sejarah di Jemaat Koro’oto khususnya ketika nateek ma nahakeb Jemaat Koro’oto. Lalu, pada masa antara tahun 2000 sampai dengan tulisan ini dibuat, saya dan teman-teman presbiter (penatua) ikut di dalam barisan kecil pemberi warna dan tanda di sana. Di Koro’oto saya dibaptiskan dan diteguhkan menjadi anggota sidi, bersama-sama dengan orang-orang sesama dalam kampung ini.

 

  1. Tefneno’ Koro’oto dalam Konteks Alam Setempat

Secara administrasi pemerintahan, Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto terletak di desa Nekmese’ Kecamatan Amarasi Selatan. Jemaat ini sesungguhnya telah mengalami perubahan nama beberapa kali sejak berdirinya pada 1 Agustus 1931. Sejarah Panjang jemaat ini bila ditelusuri dan seandainya ada bukti tertulis yang dapat diandalkan, semestinya jemaat ini telah berumur lebih dari serratus tahun. Sayangnya, satu-satunya dokumen tertulis yang sempat terlihat adalah Besluit yang diberikan oleh Indische Klerk kepada Thimotius Sae’besi, disana tertera tanggal 1 Agustus 1931. Tanggal pada dokumen inilah yang selanjutnya dipakai sebagai hari lahirnya Jemaat Koro’oto. Dokumen itu sendiri telah ditelah bumi Bersama jenazah mendiang Thimotius Sae’besi. Ketika itu, Majelis Jemaat tidak sempat menyelamatkan dokumen itu. Anggota keluarga dari mendiang Thimotius Sae’besi menaruhnya di dalam peti jenazah. Sedih? Ya. Sungguh sedih. Miris dan sakit hati jua.

Sedangkan bila mengikuti masa pembaptisan, sesungguhnya orang-orang yang dibaptiskan pertama kalinya terjadi pada tahun 1913 di Sekolah Rakyat Oekabiti. Sayangnya mereka tidak mendapat surat baptisan. Mereka pulang dari belajar baca, tulis, hitung dan mengaku telah dibaptis sehingga harus membaca alkitab dalam Bahasa Melayu Tinggi pada masa itu.

Nama Jemaat Koro’oto sebutan menurut kampung. Nama ini bertahan sangat lama. Sekitar tahun 1950-an mereka menambah nama Nefo ‘Honis (Kolam Keselamatan). Ada alas an kontekstualnya. Rumah gereja berdiri di satu kampung kecil bernama Rua’rofo’ (kampung lompor). Entah siapa yang memulai sebutan Rua’rofo’? Tidak jelas, namun orang Koro’oto tidak punya diksi Rua’ atau Ruan. Diksi ini datang dari kaum Ro’is. Mungkinkah ada orang dari kalangan Ro’is yang menyebut demikian ketika itu? Tidak ada tuturannya.

Satu kepastian, Rua’rofo’ artinya kampung berlumpur. Konteksnya adalah, kampung ini tanahnya labil. Sedikit saja hujan, pasti berlumpur liat yang melekat di kaki. Akan tetapi, bila panas memancar dari matahari sampai pada lumpur itu, akan cepat kering. Area ini mudah longsor. Tahun 1974-75 longsoran datang melanda. Bernasib baiklah masyarakat yang tinggal di sekitarnya termasuk gereja, yang dibongkar terakhir atas program pembentukan desa gaya baru. Padahal area ini landai atau bukan curam. Area sekitarnya dapat ditanami dengan tanaman umur panjang seperti kelapa, pinang, dan lain-lain. Penduduk di dalam kampung Rua’rofo’ hanya 7 kepala keluarga saja. Mereka tinggal mengitari rumah gereja.

Penduduk terbanyak di kampung besar atau pusat kampung yang disebut Koro’oto itu sendiri. Di sana pusat pemerintahan, kemasyarakatan dan agama suku. Ada dua bangunan di sana yaitu Ropo Prenat dan Uim Re’u. Ropo Prenat atau diIndonesiakan menjadi Balai Pertemuan; di sana masyarakat Bersama-sama dengan pemerintah (dhi. ‘nakaf atau temukung, serta amaf-amaf dan mnasi’-mnasi’) dapat bermusyawarah untuk suatu tujuan Bersama. Sementara Uim Re’u terletak di area yang tidak luas disebut Poo’ Re’u (Taman “Kudus”). Lokasi dan sisa-sisa bangunan masih ada sampai tulisan ini dibuat.

Mengapa Kolam Keselamatan? Sekali lagi karena area yang kontekstual, berlumpur. Rumah gereja dikelilingi kali (sungai kecil) di arah timur dan barat. Di utara, ada sungai yang agak besar dan di Selatan terdapat mata air. Itulah kondisi dan konteks mula-mula rumah gereja di Koro’oto. Indah, bukan?

Antara tahun 1975-1968 (Bani,2, Pemerintah Swapraja Amarasi mulai membangun desa-desa gaya baru. Pada saat itu rumah-rumah gereja pun harus dibongkar mengikuti jemaat/umat yang rumahnya dibongkar dan dipindahkan. Kolam Keselamatan pun dibongkar. Seluruh bahan bangunan dari rumah gereja ini yang masih bermanfaat diangkut ke lokasi baru, desa Nekmese’. Di sana digabungkan dengan rumah gereja Koro’oto yang lain yang disebut Koro’oto A.

Kedua rumah gereja ini dibongkar oleh umatnya. Keduanya disatukan dalam satu bangunan dengan konstruksi beton. Sejak tahun 1975 namanya berubah menjadi Pniel Tefneno’. Mengapa Pniel Tefneno’?

Pada masa itu diberlakukan wilayah kependetaan. Dalam desa Nekmese’ terdapat 3 jemaat GMIT: Pniel Koro’oto, Ebenhaezer Naimuti; keduanya di pusat desa Nekmese. Kedua mata jemaat ini disatukan dalam satu wilayah yang disebut dalam Bahasa Amarasi Tefneno’. Satu jemaat GMIT yaitu Betania berada di Naet, satu wilayah dusun yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari pusat desa ke arah Selatan. Betania Naet bergabung dengan Bet’el Sonraen dalam satu wilayah kependetaan, wilayah Kependetaan Bet’el Sonraen.

Kini di dalam desa Nekmese, terdapat lima wilayah dusun. Dusun Naet atau yang disebut Dusun 01, di sana terdapat dua jemaat GMIT; Betania dan O’of Honis. Di pusat desa, terdapat dua jemaat GMIT, Pniel Tefneno’-Koro’oto dan Ebenhaezer Naimuti.

Wilayah GMIT Tefneno’-Koro’oto yang dulunya Pniel dan Ebenhaezer kini “berpisah”. Keterpisahan itu terjadi pada 05 Oktober 2014, ketika Pdt. Nivlen Marhaelnis dimutasi ke Wilayah Bileno’ Kupang Timur.

Majelis Sinode GMIT menempatkan dua orang karyawan GMIT, Pdt. Ivonei C. Isliko-Nalle, S.Si.Teol sebagai Ketua Majelis Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto dan Pdt. Madrous Lau, S.Th, sebagai Ketua Majelis Jemaat Ebenhaezer Naimuti.

Pemisahan atau yang dikenal dengan istilah pendewasaan/pemandirian mata jemaat

 

  1. Tefneno’ Koro’oto dalam Teks Alkitab

Akh… apakah ada teks Alkitab yang menyebut Tefneno’? Jawabannya, kabur! Mengapa kabur? Karena teks Alkitab yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Amarasi sekalipun tidak menyebut tefneno’. Lalu mengapa saya cantumkan Tefneno’ dalam teks Alkitab?

Ada alasan sebagai latar pikir orang di Koro’oto yang akan saya jelaskan sepintas di sini, kemudian hendak mengantarkannya sebagai keyakinan bahwa Roh Kudus telah mewahyukan, memberi inspirasi kepada para tokoh pada zamannya di Jemaat Koro’oto untuk memberi nama pada Jemaat  ini sebagai satu kumpulan orang-orang percaya, kumpulan orang-orang yang menjadi murid Kristus Yesus Tuhan.

Sangat banyak dan variatif kata atau istilah yang dipakai dalam teks-teks alkitab baik dalam Perjanjian Lama. saya ambil sebagai pemisalan istilah-istilah seperti: Betel (Kej.28:16-22), Galed dan Mizpa (Kej.31:43-54); Eben-Haezer (1 Sam 4:1; 5:1; 7:12).

Betel dengan varian tata tulis yang saling berbeda menurut asal kata Bahasa tertentu. Misalnya Bahasa Ibrani menulis Beth-El artinya rumah Allah; Bahasa Indonesia, sering ada yang menulis Bet’El atau Betal saja. Dalam varian menulis seperti itu maknanya tetap sama sebagaimana kata Yakub (Kej 28:16), “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini,  dan aku tidak mengetahuinya.” (aaz: Au fe’ uhiin ‘ak, UISNENO et bare re’ ia msa’!”) Sambungnya (28:17), “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” (aaz: Bare ia nmoe’ kau m’au fuunk ein natoron. Namneo-namneo, Uisneno In uim ji et re’ ia! Ma eno’ he ttaam teu sonaf neon tunan, es re’ ia.”).

Galed, Mizpa dan Yegar Sahaduta (Kej.31:43-54); Pernyatan Yakub yang diperdengarkan kepada Laban dan pengikutnya juga diperdengarkan kepada Tuhan Allah. Demikian sebaliknya Laban pada Yakub. Keduanya berikrar/bersumpah untuk tidak saling bermusuhan, dan berharap kiranya Tuhan Allah menjadi saksi antara keduanya. Tumpukan batu sebagai tugu itu bermakna sebagai Menara jaga atau Menara kesaksian.

Saya mengapresiasinya dengan menafsirkan sebagai tugu perbatasan dimana bila dua pihak hendak bertemu dengan niat jahat, maka akan terjadi sesuatu yang merugikan pihak yang berniat jahat itu. Jadi, Galed dan Mizpa sebagai tugu peringatan dimana ada sumpah antardua pihak: Yakub dan Laban. Sumpah yang disirami dengan darah ternak sembelihan. Darah yang menjadi symbol perdamaian keduanya, dan tugu batu sebagai tanda peringatan dan batas psikologis dua keluarga dari dua tempat berbeda.

Istilah Ebenhezer misalnya yang terdapat dalam 1 Sam.4:1; 5:1; dan 7:12. Pada dua ayat pertama tidak disebutkan maknanya. Pada 1Sam.7:12 disebutkan Eben-Haezer artinya, sampai di sini Tuhan menolong kita, sesuai kata Samuel.

Tuhan senantiasa Bersama umat-Nya. Umat-Nya yang menikmati dan merasakan akan penyertaan Tuhan berkerinduan untuk melakukan sesuatu sebagai tanda peringatan. Tanda peringatan itu diwujudkan dengan tugu batu. Sebagaimana tiga contoh di atas.

Menginterpretasi yang demikian itu, Jemaat Koro’oto melalui para tokohnya bermusyawarah dan menetapkan kata Tefneno’ yang diinterpretasi dari Pniel (Kej. 32:30). Kisahnya, Yakub bertemu dengan Allah berhadapan muka dengan muka, tetapi nyawanya tertolong. Apa artinya ini untuk orang Koro’oto?

Orang Koro’oto pada masa lampau menganut agama suku dengan pusat peribadahan agama suku di Poo’ Re’u dimana ada bangunan yang disebut Uim Re’u. Bukan hanya itu saja, beberapa tempat seperti pertemuan aliran sungai, batu-batuan besar, hingga daratan kecil Menifo pun pernah ada yang “bertuhan” ke sana. Ketika itu mereka meyakini bahwa ada kekuatan di luar diri mereka yang disebut usi’ atau usif. Bahwa ada sebutan uisneno, maknanya terbatas pada tuan langit, dewa langit pemberi hujan, panas, dingin, mendung, dan lain-lain. Pandangan dan indra mereka dibenturkan pada apa yang terlihat yaitu langit, dan apa yang dirasakan yaitu waktu, hari; siang dan malam.

Suatu ketika, di awal abad ke-XX, Injil masuk melalui sekolah-sekolah. Beberapa orang sempat mengenyam kenikmatan sebagai murid sekolah yang hanya mengajarkan paling kurang empat hal: membaca, menulis, berhitung dan pengetahuan agama Kristen sehingga mereka dibaptis. Merekalah cikal-bakal adanya Jemaat Koro’oto ketika kembali ke kampung halaman.

Dampaknya, mereka mulai memberi pengaruh pada keluarga-keluarga di  Koro’oto, pada komunitas Umi: Umi Nii Baki/Umi Rete, Umi Eno ‘To’i, Umi Tbaat, Umi ‘Too’, Umi Baikena’ dan lain-lain dimana ada rumpun-rumpun keluarga Bani, Ora,  Saebesi, Takain, Masneno, Nubatonis, walau empat rumpun keluarga terakhir di sini jumlahnya kecil dan menyebar di banyak tempat di luar Koro’oto). Lahirlah Jemaat Koro’oto yang mula-mula dinamai Kolam Keselamatan yang diinterpretasi dari Betesda (Yoh.5:1-18).

Ketika mereka tiba di tempat baru setelah keluar dari Kolam Keselamatan (Betesda; Yoh.5:1-18), mereka seakan sedang mengangkat tempat tidur mereka dan berjalan. Faktanya kira-kira demikian adanya. Mereka harus membongkar rumah lalu pindah ke tempat baru. Ketika pindah ke tempat baru, mereka sungguh kecewa karena diperlakukan oleh pemerintah Swapraja/Kecamatan Amarasi layaknya keong yang pindah tempat sambil membawa rumahnya. Jemaat Koro’oto berada di dalam Kolam Keselamatan yang disediakan Tuhan. Mereka sudah “nyaman”. Lalu diperintahkan pindah. Mereka pun berdo’a dan membongkar rumah dan perkampungan itu dibiarkan kosong, termasuk rumah gereja tempat berkumpul dan beribadahpun dibongkar.

Kekecewaan harus dibayar dengan kelelahan. Mereka harus membangun rumah, menata pemukiman, termasuk membangun rumah gereja. Semua itu dilakukan di antaranya dengan menginjeksikan emosi (jengkel, kecewa, marah, sakit hati, dan lain-lain yang negatif), di samping ada positifnya. Penataan pemukiman yang rapih dan indah. Lalu, ketika mereka sampai di dalam rumah yang dibangun untuk kebersamaan dengan sesama dan dalam kebersamaan itu bertemu dengan Tuhan, justru Tuhan tidak marah. Ia tetap menyayangi mereka. Lalu, atas perenungan historis, mereka punya satu cerita dimana pada masa lampau seorang meo bernama Mnune Bani menunggang seekor kuda bernama Tefneno’. Diceritakan bahwa sang meo menjadi salah satu pengawal usif ketika diusir dari sonaf Wewiku. Para tetua Koro’oto menyimpan kisah ini. Mereka tidak mengisahkannya pada anak-anak, generasi baru di Koro’oto. Mereka justru merefleksikannya ke dalam dunia kehidupan bersama yang lebih bernilai yaitu menamai persekutuan berjemaatnya dengan nama Tefneno’ tetapi dalam dibaptiskan menggunakan Kata-Kata Kudus milik Tuhan Pemelihara kehidupan. Mula-mula mereka menggunakan nama Pniel. Lalu ketika Wilayah Kependetaan Koro’oto berganti nama menjadi Jemaat Wilayah, mereka menamainya Tefneno’.

Secara etimologis, kata itu dibentuk dari dua kata; tefas dan neno. Tefas sebagai kata dasar yang bila dijadikan kata kerja dapat Nampak seperti ini, uteef, muteef, nateef, miteef, natefan, dan tateef artinya sama; bertemu. Neno, mempunyai dua arti; langit dan waktu. Jadi, bila diterjemahkan secara lurus, tefneno’ artinya, bertemu langit. Padahal, bukan itu yang dimaksudkan. Mereka menunjuk langit dalam hal ini adalah Tuhan Allah, Tuhan Yang Mahakuasa yang berada di atas segala-galanya. Yang oleh karena itu, mereka menyebutnya Uisneno. Manusia tidak dapat sampai kepada-Nya secara fisik. Dapat dirasakan, tetapi tidak dapat diraba atau menggapainya pun tidak dapat. Maka, jadilah olah pikir kepada Tuhan Allah, sehingga Tefneno’ artinya bertemu dengan Tuhan Allah.

Mengetahui akan hal ini, para tokoh akhirnya melanjutkan diskusi bahwa, mereka yang sebelumnya berlaku jahat ketika keluar dari Kolam Keselamatan, semestinya bersyukur, bukan sebaliknya kecewa. Sebab bila mereka kecewa dan sejenis itu, semestinya Tuhan Allah menjatuhkan sanksi pada mereka seperti yang terjadi pada Yakub yang cacat setelah bertemu dengan Tuhan Allah. Sekalipun demikian, Ia selamat karena Tuhan Allah membiarkan dia hidup (baca, menyelamatkannya). Jadi, Tuhan Allah itu Penyayang dan sungguh sangat sabar. Ia tidak segera menghukum. Ia menimbang dalam timbangan keadilan-Nya sebelum menjatuhkan hukuman.

Panjang dan lamanya ziarah umat Tuhan di Koro’oto yang menamakan diri Tefneno’ sejak 1975 sampai hari ini telah ada dalam segala suka dan dukanya. Ada naik-turunnya perkembangan yang menjadikan jemaat ini terus belajar untuk menata diri, menata umat sebagai satu komunitas yang berkualitas dan kualitas itu harus ditunjukkan dalam sikap dan tindakan bersama. Bahwa ada sikap dan tindakan individu atau oknum yang muncul dari Jemaat Koro’oto sering sekali tidak mewakili keseluruhannya.

Tuhan di dalam Roh Kudusnya bekerja di dalam komunitas jemaat Koro’oto dengan nama Kolam Keselamatan (Betesda, Yoh.5:1-18) dan Tefneno (Pniel, Kej. 32:30). Teks Alkitab yang ditunjuk ini menurut saya relevan dalam konteks alam dan situasi umat Tuhan di Koro’oto.

 

  1. Tefneno’ Koro’oto menuju masa depan

Menata untuk menatap masa depan Jemaat Koro’oto, bukanlah pekerjaan mudah. Sejak 1971 – 2019 (dan di masa yang akan datang) Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (MS GMIT) menempatkan para pelayan yang disebutkan oleh organisasi gereja sebagai karyawan GMIT. Mereka itu adalah, Pdt. Theofilus Ora; Pdt. Jesmarlianus Riwu Djonaga,S.Th, Pdt. Nivlen Marhaelnis Tari, S.Si.Teol, Pdt. Ivonei C. Isliko-Nalle, S.Si.Teol, Pdt. Papy Zina, S.Th dan Pdt. Yulita Y. Zina-Lero, S.Th. Masing-masing ditempatkan secara organisatoris dalam tugas sebagai Ketua Majelis Jemaat dan yang paling akhir sepasang kekasih dalam tugas sebagai Ketua Majelis Jemaat dan Wakil Ketua Majelis. Apa yang sudah dan dapat dilakukan oleh mereka yang memimpin bersama-sama dengan anggota Majelis Jemaat?

Sesungguhnya orang melihat hasil yang kelihatan dan dapat diraba. Padahal, dalam organisasi keagamaan, spirit kualitas itu bukan sekedar dipertontonkan pada apa yang nampak, tetapi mestinya pada apa yang dirasakan bermanfaat bagi sesama tanpa menafikan adanya pembuktian yang terlihat sebagai fakta.

Penyatuan jemaat-jemaat yang sebelumnya menyebar. Jemaat di Sabar di Makuni’, Jemaat Koro’oto A, Jemaat Takah dan Jemaat Naimuti. Penyatuan ini bukan menjadi satu di dalam satu wilayah administrasi pemerintah desa Nekmese’, tetapi terbagi atas dua jemaat: Pniel dan Ebenhaezer. Dari Makuni, Bak’uru, Oesu’u dan Tutun, rumah gereja dibongkar menuju ke Koro’oto A. Rumah gereja yang berada di Rua’rofo’ yaitu rumah gereja Kolam Keselamatan dibongkar, bergabung ke Koro’oto A. Rumah gereja Koro’oto A, sebelumnya diperuntukkan pada warga Koro’oto yang menetap di Nunu’nene’ (keluarga Masneno’), dan mereka yang menggembala ternak sapi di sekitar Oepoi termasuk para guru yang bertugas di SR/SD GMIT Koro’oto. Sementara kampung besar Koro’oto dan sekitarnya yaitu: Kuareno’, Saikaes, Tau’reko, Suu’baun, Rua’rofo’, Oemari dan sekitarnya dengan jumlah anggota terbanyak dan menjadi pusat peribadahan, harus rela bergabung ke Koro’oto A, berhubung lokasinya sudah ada di pusat desa Nekmese’ dimana desa gaya baru dibentuk.

Tahun-tahun yang penuh dengan kerja keras oleh Pdt. Theofilus Ora dalam kepemimpinan Bersama (collective collegial ~ CC). Rumah ibadah pun direncanakan untuk dibangun. Hasilnya masih terlihat sampai hari ini. SMP Kristen 1 Amarasi Selatan masih memanfaatkannya sebagai Gedung sekolah. Usaha dan kerja keras untuk membangun Gedung Gereja yang lebih representative tidak henti-hentinya dilakukan.

Pada tahun 1992, berhasil meletakkan batu pertama pembangunan Gedung Gereja. Tahun 2002, Pdt. Theofilus Ora memasuki masa emiritasi. Pdt. Jesmarlianus Riwu Djonaga diutus menjadi pelayan umat di sini. Usaha dan kerja keras Bersama menyelesaikan bangunan “super besar” ini (dalam takaran dan perasaan orang Koro’oto). Tahun 2005, bangunan ini ditahbiskan dan diresmikan. Pada hari itu, Pdt. Dr. Ayub Ranoh menandatangani Prasasti, sedangkan Gubernur NTT, Piet Alexander Tallo, SH, tidak menghadiri upacara ini sehingga prasasti ini ditandatangani hanya oleh pihak organisasi keagamaan (GMIT) saja.

Penataan organisasi kegerejaan seperti rayonisasi jemaat agar mudah dalam pelayanan rutin (ibadah kampung atau kumpulan kampung). Ebenhaezer Naimuti’ masih dianggap sebagai Pos Kebaktian. Sekalipun demikian, rayon-rayon pelayanan diatur pula di sana. Kebaktian utama yang berlangsung setiap hari Minggu, dipimpin oleh seorang penatua. Di Jemaat Pniel Koro’oto, pendeta melayani penuh waktu. Sesering mungkin pendeta ke Ebenhaezer Naimuti’.

Kebaktian dalam pelayanan Sakramen baptisan kudus dan perjamuan kudus masih bergabung. Teknis pemilihan anggota Majelis jemaat sama, tetapi peneguhannya dilakukan secara terpusat. Penataan yang demikian menyebabkan ada dua hal yang secara psikologis cukup mengganggu. Jemaat Ebenhaezer Naimuti menjadi sangat bergantung pada Jemaat Pniel Koro’oto, padahal Jemaat Ebenhaezer Naimuti semestinya sejak semula pembentukannya sudah dapat berdiri sendiri sebagai satu jemaat tunggal. Dampak ikutannya secara diam-diam mereka menimbun “bara” kecemasan dan kekecewaan. Suatu ketika pada tahun 1992, mereka “berontak” bukan kepada Jemaat Pniel Koro’oto tetapi diarahkan kepada Pdt. Theofilus Ora sebagai Ketua Majelis Jemaat, yang menurut mereka, sang pendeta/KMJ tidak melakukan upaya pendewasaan/pemandirian jemaat Ebenhaezer Naimuti.

Akibat kedua yang terasa sangat menonjol. Sejak itu mereka dimandirikan secara administratisi saja. Sementara secara legal formal harus menunggu Keputusan Majelis Sinode melalui usulan dalam forum Sidang Klasis.

Kira-kira ada dua Sidang Klasis Amarasi Timur yang membahas pemekaran/pendewasaan Wilayah Tenfneno’. Pniel Koro’oto sebagai salah satu mata jemaat di dalam wilayah ini dengan tangan terbuka dan lapang dada mau mendewasakan diri Bersama-sama dengan Ebenhaezer Naimuti’. Proses ini memakan waktu teramat lama. Ebenhaezer Naimuti belum beranjak untuk mandiri.

Tahun 2014, ketika Pdt. Nivlen Marhaelnis Tari dimutasi ke Wilayah Bileno Kupang Timur, disanalah momentum pemekaran tiba. Pniel Koro’oto bersedia menerima karyawan GMIT yang baru dengan syarat. Jadi, ada semacam “pemberontakan” kecil di Pniel demi pendewasaan/pemandirian Jemaat Ebenhaezer Naimuti’. Sekalipun agak berat hati, namun dorongan yang kuat dierikan pada mereka, oleh karena mereka sudah dianggap sangat siap. Mereka butuh satu saja, seorang Ketua Majelis Jemaat, yang akan menjalankan fungsi Gembala Sidang, Pendeta. Dalam fungsi organisatoris mereka akan dimotivasi untuk bergerak senada seirama. Pada saat yang sama Pniel Koro’oto pun dianggap baru mampu mendewasakan diri. Miris, bukan? Maka, jadilah Jemaat Ebenhaezer Naimuti didewasakan dan dimandirikan pada 5 Oktober 2014, yang juga sama untuk Jemaat Pniel Koro’oto.

Mari saya ajak kembali sebentar kepada masa kepemimpinan (CC) Pdt. Jesmarlianus Riwu Djonaga. Telah terjadi perubahan besar ketika itu. Seorang pemuda tiba dengan bara penghangat bahkan hingga membakar semangat karsa dan karya. Beberapa program dan tindakan sebagai pembuktian.

  • Pembubaran Panitia Pembangunan. Panitia Pembangunan yang ada telah menjadi organ tersendiri di luar MJ. Sekalipun mereka mengaku bahwa berada di dalam dan menjadi “anak kandung” dari MJ, tetapi mereka bekerja tanpa kontrol (menciptakan merk/cap organisasi tersendiri).
  • Pemetaan rayon baru yang semula sepuluh rayon menjadi dua belas rayon di Pniel Koro’oto.
  • Melanjutkan pembangunan tanpa menunggu penumpukan persembahan pembangunan. Sebelumnya, setiap tahapan harus berhenti selama setahun untuk mengumpulkan persembahan pembangunan. Tahun berikutnya membangun, lalu berhenti dan berulang lagi seperti itu.
  • Membangun jejaring dengan Yayasan Compassion Indonesia (YCI) yang menghasilkan Pusat Pengembangan Anak IO-600 Manekat. Program ini berhasil, namun menjadi titik pemecah. Secara psikologis kedua jemaat mandiri ini tidak akur lagi atas permasalahan tipu daya, akal-mengakali. PPA IO-600 Manekat akhirnya teralihkan tanpa prosedur saling menghormati antar Lembaga gereja di dalam wilayah Tefneno’ Koro’oto. Ebenhaezer mengakali Pniel Koro’oto.
  • Semasa Pdt. Jes R. Djonaga menjadi KMJ, dua mata jemaat ini satu. Hal ini terus berlangsung sampai Pdt. Nivlen Marhaelnis Tari dimutasi.
  • Pentahbisan 30 orang pendeta GMIT berlangsung di Koro’oto.
  • Jes R. Djonaga “membakar” semangat membangun di Jemaat Ebenhaezer. Mereka mampu membangun satu unit gedung kebaktian hanya dalam tempo kurang dari dua tahun.

Sejak dimutasinya Pdt. Jesmarlianus Riwu Djonaga yang digantikan oleh Pdt. Nivlen Marhaelnis Tari, pembangunan dalam arti kasat mata yaitu gedung gereja terus berlangsung. Di Jemaat Pniel Koro’to dibangunlah sayap utara yang dipakai untuk kepentingan ruang serba guna dan kantor. Sang pelayan terus menyemangati hingga lahir buku renungan berjudul SnaK yang terbit selama tiga tahun (2013 – 2014). Sempat membangun studio Radio Komunitas. Ketika Pdt. Nivlen dimutasi, pada saat itu dilakukan pembangunan sayap selatan yang diperuntukkan sebagai ruang sidang.

Pdt. Ivonei C. Isliko-Nalle melanjutkan apa yang ditinggalkan oleh Pdt. Nivlen Marhaelnis Tari. Bersama seluruh jemaat Pniel dalam sidang Jemaat 2015, disepakati agar nama Tefneno’ yang dulunya dipakai untuk nama Jemaat Wilayah disematkan pada nama Jemaat Pniel Koro’oto. Nama Jemaat ini kemudian menjadi Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto. Pada Mei 2015, diadakan suatu kegiatan yang bertaraf internasional. Peluncuran Perjanjian Baru dan Kejadian yang disatukan dalam satu buku, Kabin ma Prenat Uisneno (Uab Amarasi). Kegiatan ini dihadiri baik oleh Jemaat-jemaat dari Klasis Amarasi Timur, para pendeta dan pastor Paroki St. Johanis Pemandi Buraen, MS GMIT (Pdt. Benjamin Naralulu), Pdt. Semuel V. Nitti, M.Th dan Pdt. Hawa Kaseh, S.Th sebagai Pengkhotbah dan Liturgos, serta Konsultan Ahli (Prof. Dr. Charles Grimes, Ph.D), para penerjemah, dan lembaga pendukung penerjemahan (The Seed Company, UBB GMIT, AuSIL,) dan tamu-tamu dari lembaga-lembaga gereja dan penerjemahan alkitab dalam dan luar negeri.

Pembangunan terus berlangsung. Rumah pastori suatu ketika kecurian. Anggota kepolisian Sektor Amarasi tiba di lokasi, melakukan olah te ka pe, namun tidak pernah mengungkap siapa pelakunya. Majelis Jemaat tanpa melakukan Sidang Jemaat, diputuskanlah dalam sidang MJ untuk membangun rumah pastori yang terasa lebih baik untuk aman dan nyaman. Terjadilah perubahan itu. SnaK hilang, PPA-IO 600 Manekat diambil secara diam-diam oleh Ebenhaezer Naimuti tanpa kompromi terlebih dahulu dengan Pniel Tefneno’ Koro’oto. Desas-desus bahwa Ebenhaezer Naimuti sudah mandiri, jemaat mandiri tidak boleh bergabung dengan jemaat mandiri lainnya untuk membangun kerjasama dengan Yayasan Compasion Indonesia. MJ Pniel Tefneno’ Kor’oto membiarkan hal itu terjadi tanpa berbuat apapun. Sejarah akan terus bercerita tentang kesemuanya itu.

 

Kini, menuju masa depan, penggalian, penggembangan daya dan potensi manusia di Koro’oto sudah dan akan terus dilakukan. Pdt. Papy Zina dan Pdt. Yulita Y. Zina-Lero akan mencoba menyegarkan situasi dengan ide dan olah pikir serta aksi-aksi yang kiranya mengundang reaksi jemaat secara konstruktif.

 

Penutup

Di atas segalanya, Yesus Kristus Tuhan, Dialah Penggurat Sejarah yang paling jitu dan aktual. Ia tidak akan melencengkan satu noktahpun dari setiap titik ziarah umat-Nya, jemaat-Nya. Ia mencatat lebih detil daripada yang dicatat dan diingat oleh penulis artikel ini dan mereka yang sudi berbagi kisah.

Maka, marilah terus menulis dan menggurat kisah. Biarkan waktu turut mencatatnya agar ia mencerahkan generasi yang akan datang.

 

Selamat Hari Jadi ke – 88 Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

 

Kami mengenang: (au ‘teek ‘aan tuaf fauk aah, re’ au umnau ‘iit sin, beta sebut barapa sa yang beta inga)

David Saebesi, Manase Bani, Arkilaus Ora,Thimotius Saebesi, Marthinus Nabubois, Jusak Bois, Boas Namah, Pdt. BJ Jacob, Pdt. Dethan, Pdt. Lukius Manafe, Pdt. Theofilus Ora, Frans Bani, Paulus Ora, Paulus Ataupah, Thimotius Nabukefi, Thimotius Nabu, Orpa Namah-Bani, Welhelmina Takain-Ora,  Wellem Orafeto, Rentinus Bani, Matheos Ora, Saul Bani, Yahya Ora, Jan Bani, Barnabas Bani, Anderias Saebesi, Johan Reo, Jermias Saebesi/Ora, Eliazer Ora, dan lain-lainnya.

2 comments

  • Menarik untuk dibagikan sehingga memiliki rasa kebangsaan dan keimanan

    • admin

      Terima kasih ibu Astuti. Kami mengupayakan sebisa mungkin bagi pelayanan gereja kami yang dipedesaan. Terima kasih bila sudi membagikan agar mendapatkan area layanan yang lebih luas.