Faith Comes by Hearing (1)

Faith Comes by Hearing (1)

Pendahuluan

Dalam beberapa bulan yang lalu di tahun 2019, UBB GMIT memanggil saya untuk berdiskusi tentang satu program yang kiranya akan menolong umat/jemaat untuk makin mencintai Firman Tuhan dalam bahasa hati, bahasa ibu, dan bahasa daerahnya. Saya makin bersemangat saja demi pelestarian bahasa. Ada diskusi dengan Prof. Dr. Barbara Dix Grimes, Ph.D, Ena Hayer-Pah, Pdt. Gabriel Bria, S.Th serta teman-teman di UBB GMIT. Mendapat dukungan Prof. Dr. Charles E. Grimes, Ph.D, Pdt. Yakob Niap, S.Th, Pdt. Papi A. Ch. Zina, S.Th, Pdt. Yulita Y. Zina-Lero, S.Th, dan jemaat-jemaat Klasis Amarasi Timur, khususnya Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto, saya berada dalam semangat itu, semangat untuk melestarikan bahasa daerah yang sedang saya dan tim kerjakan dan usahakan secara berpeluh siang-malam.

Apakah berpeluh untuk memastikan bahwa bahasa daerah itu patut dilestrikan itu patut pula dibanggakan? Jawabannya, sesungguhnya saya bukanlah tipe insan yang patut dibanggakan dan mengharapkan pujian. Tetapi, saya bekerja untuk mendapatkan hasil untuk berbagai. Bagai mengusahakan ladang, hasilnya akan dinikmati bukan seorang diri, tetapi bagi sekeliling individu dan komunitas. Akan sangat berharga bila secara spiralis makin meluas penikmatnya. Begitulah kiranya gambaran hasil kerja yang layak dinikmati, ketika Perjanjian Baru dan Kejadian dalam Bahasa, Uab Amarasi diluncurkan pada tahun 2015.

Saya dan tim serta seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Kantor MS GMIT, UBB GMIT, Majelis Klasis Amarasi Timur dan Amarasi Barat, terus mendoakan dan berupaya agar buku-buku yang sudah dicetakperbanyak ini sampai di tangan para pembaca. Pembacanya tentulah orang Amarasi Raya sendiri yang menyebar di 4 kecamatan Amarasi Raya, Kota Kupang dan sekitarnya, bahkan yang telah merantau jauh meninggalkan Pah Amarasi.

Sekedar flash back. Ada pengalaman pada saya bagaimana mereka yang di rantauan merindukan untuk membaca Firman Tuhan dalam bahasa daerahnya. Seorang saudara di Jawa mengirim kabar bahwa buku pesananannya telah ia terima. Ia sungguh berterima kasih telah dapat membaca Firman Tuhan dalam bahasa daerahnya. Ia turut mendoakan agar buku ini tidak mengisi gudang tetapi keluar dari gudang dan sampai ke tangan mereka yang berkerinduan membaca.

Seorang lagi dari Papua Barat mengirim pesan singkat agar kepadanya dikirimkan buku berisi Firman Tuhan dalam bahasa daerah Amarasi. Saya pastikan padanya, sebaiknya menggunakan aplikasi yang sudah disediakan oleh kecanggihan para penciptanya. Unduhlah perjanjian baru dalam Uab Amarasi dengan menggunakan gugel plei stor (google play store). Di sana ada e-alkitab, dan salah satunya dalam Uab Amarasi. Dia yang katanya masih gagap teknologi meminta bantuan teman yang memahami hal ini. Beberapa hari kemudian ia menelpon, “Pak Roni, terima kasih saya sudah dapat Firman Tuhan dalam Uab Amarasi. Saya sangat bangga, lebih berbangga lagi saya membacakannya di depan umat Tuhan yang tidak mengerti bahasa daerah saya, bahasa daerah kita. Tapi, mereka pun memuji Tuhan, oleh karena ternyata Tuhan membuka jalan agar bahasa-bahasa daerah yang dianggap tidak layak menjadi bahasa kitab suci, justru dilayakkan Tuhan.”

Kabar-kabar sukacita yang demikian bukan saja datang dari rantauan. Dari sekitar Pah Amarasi pun ada yang mengirim kabar, atau jika bertemu ada kisah-kisah tentang pemanfaatan perjanjian baru dalam Uab Amarasi.

Tidak sedikit pula yang apatis pada buku yang sudah diterbitkan ini. Keengganan untuk belajar membaca menjadi satu persoalan tersendiri. Anggapan bahwa mereka sudah pandai membaca menjadikan mereka tidak peduli pada buku berbahasa daerah. “Mengapa Alkitab harus dibuatkan dalam bahasa daerah? Bukankah sudah ada Alkitab berbahasa Indonesia?” Mereka yang berkata demikian menjadi ‘batu antukan’ pada pelestarian bahasa. Jika jumlah mereka dominan, kekuatiran pudar hingga punahnya suatu bahasa daerah bakal terjadi. Apalagi bila hal itu dilakukan oleh tokoh-tokoh yang dihormati dan disegani di tengah-tengah masyarakat dan umat bergereja dan beragama.

Kesempatan tiba. Datanglah satu lembaga yang mengkhususkan diri pada pelayanan (misi) Firman Tuhan kepada umat melalui pemanfaatan indra pendengaran. Dari indra pendengaran, emosi dimainkan, hati digoda untuk menimbang dan membersihkan suatu ruang penyimpanan. Jika selama ini pendengaran terjadi karena pembacaan dari mimbar oleh orang lain, kali ini pendengaran diintensifkan justru dalam bahasa daerah sendiri.

Kesaksian Pdt. Chandra Badudu. Ketika ia bertugas di salah satu tempat di Papua. Ia memperdengarkan Firman Tuhan melalui perlengkapan apa yang disebut pengeras suara (toa). Para pendengarnya berdiri termangu-mangu. Mereka bersorak ketika nada dan dinamika suara yang terdengar di sana, persis orang-orang yang ada di dalam kampung itu. Padahal, di sana ada suara Yesus yang jelas selama ini digambarkan bagai orang asing di benua lain. Lalu, sesudah itu, seorang ibu berkata, “Hari ini saya mengetahui bahwa Yesus Tuhan yang saya sembah, dapat berbicara dalam bahasa daerah saya!” Satu pernyataan menarik yang menggambarkan situasi hati seorang pendengar yang menurut cerita Pdt. Chandra, sang ibu belum dapat membaca dan menulis secara baik.

Hari-hari sedang beringsut datang dan pergi. Firman Tuhan tak dapat ditahan walau dengan tembok setebal great wall di Cina sana. Ia akan merembes perlahan untuk tiba sampai di dalam hati umat-Nya. Maka, FCbH datang. Ia menjadi “murid” Kristus yang kesekian untuk menyaksikan dan memberitakan Kabar Sukacita dari-Nya.

Setelah bahasa Rote-Tii mengakhiri rekamannya secara amat cepat, hanya dalam waktu dua bulan seluruh Perjanjian Baru berbahasa Rote-Tii selesai direkam. Pengalaman itu ditularkan ke tim Amarasi dan tim Tetun.

Tim Amarasi dan tim Tetun menyambut program ini dengan sukacita. Pertemuan dengan pendeta dan pastor paroki serta uskup telah berlangsung. Sambutan tidak berhenti di dalam rapat, tetapi akan nyata di dalam aksi perekaman.

(ikuti cerita-cerita lanjutannya di sini. Koro’oto sedang menuju ke proses itu)

Penulis: Heronimus Bani