Jawaban Tuhan ketika Syukuran atas Hujan

Jawaban Tuhan ketika Syukuran atas Hujan

Hujan. Bukan barang baru dalam siklus alam. Panas datang, hujan pergi. Hujan datang, panas pergi. Jika keduanya berbarengan, betapa indahnya. Tapi, alam selalu punya siklus tetap yang mencengangkan untuk dijelaskan, walau ilmu pengetahuan dapat menjelaskannya. Sayangnya, kami di pedesaan tidak memahami bagaimana menjelaskannya secara ilmu pengetahuan, kecuali kami belajar membaca tanda-tanda alam. Jika kami keliru membaca tanda alam yang kelihatan, kami tidak dapat menolak atau menerima kenyataan bahwa hujan belum dapat dinikmati, atau panas sedang melanda dan kami harus terus bergelut di dalamnya.

Pada akhir Desember 2019 lalu, Jemaat Koro’oto melakukan ritual secara berjemaat di dalam gedung gereja untuk memohonkan kepada Tuhan agar kiranya mendapatkan hujan itu. Pada pagi hari Minggu terakhir Desember itu doa dipanjatkan. Sore harinya, hujan pun turun. Keesokannya peladang mulai menanam.

Dua puluh enam Januari 2020, dalam kesempatan bersidang, Majelis Jemaat menetapkan untuk menyatakan syukur dalam suatu ibadah kepada Tuhan. Ibadah syukur atas berkat Tuhan melalui hujan yang dimohonkan kepada-Nya. Selentingan pernyataan bernada canda, “Mestinya kita bersyukur atau masih memohon hujan?”

Hari ini dalam ibadah/kebaktian Minggu (09/02/20), ketika jemaat/umat membawa rasa syukur kepada Tuhan, pada saat yang sama dibawakan pula pergumulan atas hujan yang tidak cukup curahannya pada ladang-ladang. Sore harinya, hingga malam saat tulisan ini dibuat, Tuhan memerintahkan langit menurunkan hujan. Bukankah ini jawaban Tuhan atas permohonan yang disampaikan dari ketulusan dan keikhlasan? Mengapa kita ragu? Tuhan menjawab doa umat bukan menunggu semua orang datang kepada-Nya. Ia menjawab doa umat/jemaat walau dalam jumlah terbatas, asalkan ada ketulusan, ada kerendahan hati, ada tanda syukur sesuai cara hidup manusia berbudaya.

Terima kasih Tuhan atas jawaban doa yang kami sampaikan pada hari ini Minggu (09/02). Kami akan terus ada di hadirat-Mu dalam pergumulan-pergumulan kami secara berjemaat dan bermasyarakat.

Inilah bentuk doa itu

Koi Uisneno, Amo’et-Apakaet neno tuun am ne,

RO TUNAN

Hai mbaiseun ma mronaen Ko Usi’ Arikin-Ape’en too namsai’ namraur naheun pah-pinan Ho haem nobim noni mne,

RO NONI

Ho mneek ma mumnau kai Usi’ es naan ate, mneen ma mutniin hai baisenut ma onen re’ hai misaeb ee neit neu ko fai-manas nmatoom nok uran arekot re’ ho mruun maan ee meu kai rek-reko mne,

RO REKO

Es naan ate, uran arekot anin arekot ho musaunt ee ma mfee sin neu kai mbi neon reko mamasa’ mne,

MAMASA’

Neno ia hai meik fua’-turu’ ma fuatnatas he mseun banin Ho manekam mapina’ mne,

MAKRAHA’

Ka mahuma’ mamasa’ fa mes maut he msium sin ma mtoup sin am ne,

RO SIN

He njarin fua’-turu’ ma fuatnatas arekot nbi Ho humam ma Ho matam akniun am ne,

RO KNINU’

He musanut ma munebet ai’ muhoeb tetus neno tunan nahuum uran-anin piut-piut am ne,

PIUT-PIUT

Nbi oras ho anah upuf kai mseen ma mroe rene ma po’on aan’-ana’ ma ba-babun am ne,

BA-BAUN

Mau he hai miit suufk ein ma fuak ein te hai mhuum a’moe ma mkumain, msii ma mi’baa’ mreku ‘sene ma mibsoo’ mteek Ho kaan Re’u Kniun am ne,

RO KNINU’

Hai baisenut ma onen antuu’ ma nheu’ on re’ naan, tua.

 

Penulis: Heronimus Bani

1 Komentar

  1. Pules Uisneno! Tuhan baik dan setia dalam segala hal. Dia penjawab doa yg setia.

Komentar ditutup.