FCBH (4) Menuju Alkitab Audio

anggota tim yang bekerja dalam proses rekaman PB Uab Amarasi di Koro'oto (foto: penulis)
Menuju Alkitab Audio

Mendengar radio. Bukan sesuatu yang baru. Sampai saat ini radio masih eksis dengan berbagai programnya. Mendengar lagu yang diputar baik dari piringan hingga copy duplicate dalam format MP3 atau MP4, bukan barang baru pula. Kini makin canggih saja. Mendengar Firman Tuhan yang dibacakan, itupun bukan hal yang luar biasa. Orang membaca kitab suci dengan bersuara, didengarkan orang sekitar, berakhir di situ. Bila diperlukan membaca lagi, mengulang lagi. Itu sudah lazin.

Kelaziman mendengarkan Firman Tuhan atau mendengarkan isi kitab suci merupakan kerinduan pemeluk-pemeluk agama manapun, sebab kitab suci dari agama manapun mesti dibaca, baik untuk diri sendiri, maupun diperdengarkan pada orang lain.

Bukan hal baru sesungguhnya bila isi kitab suci mulai direkam. Seorang pegiat medsos mengomentari tautan dimana saya tulis tentang program rekaman yang sedang kami lakukan di Koro’oto, tempat saya menjalani hidup dalam komunitas berjemaat (beragama). Ia berkata, bahwa sekitar tahun 1980-an hingga 1990-an ia bergelut dengan kegiatan rekaman isi kitab suci umat Kristen. Sayangnya, ia tidak memberikan keterangan lebih lanjut tentang hal ini. Tapi, informasi itu menjadi menarik karena Firman Tuhan telah diperdengarkan dengan cara itu sejak puluhan tahun lampau.

Saya dan teman-teman di Koro’oto, dan jemaat-jemaat Kristen pada umumnya di Amarasi Raya dan pengguna Uab Amarasi pada umumnya, kini, patut bersyukur sekali lagi.
Kitab Suci umat Kristen khususnya Perjanjian Baru telah diterjemahkan dan diluncurkan ke tengah-tengah jemaat/umat pada tahun 2015. Penggunaannya oleh jemaat/umat sejauh ini belum seberapa besarnya, tetapi kiranya ada perkembangan baru di dalamnya. Perkembangan yang dimaksudkan itu adalah, adanya kesadaran melestarikan bahasa daerah, adanya rasa cinta bahasa daerah yang tadinya menipis, kini mulai naik kembali, bukan saja mencintai bahasa, tetapi juga mencintai budaya daerah sendiri.

Kini, Perjanjian Baru yang telah diterjemahkan ke dalam Uab Amarasi itu sedang memasuki tahap rekaman. Perjanjian Baru yang tertulis (dibukukan) akan menjadi yang oral (audio) untuk diperdengarkan. Para pembaca dan tim perekam dari satu institusi yang disebutkan namanya dalam bahasa asing yaitu Faith Comes by Hearing, yang kira-kira di-Indonesiakan menjadi Iman bertumbuh dari mendengarkan.

Harapan bahwa kitab suci audio akan semakin menjangkau banyak orang ketika dunia teknologi makin memamerkan kecanggihan produk-produknya. Kiranya Firman Tuhan sampai ke hati para pendengarnya, khususnya pengguna bahasa daerah sasaran. Lalu, dari aspek pendidikan, kiranya bahasa daerah tetap terpelihara, dan orang mau mempelajari bahasa daerah di daerah-daerah yang multi etnis.

Penulis: Heronimus Bani