FCbH (5), Tidak Terlihat tetapi Nyata

FCbH (5), Tidak Terlihat tetapi Nyata

Kegiatan merekam isi Perjanjian Baru yang telah diterjemahkan dalam bahasa daerah, pada hari-hari ini sedang digiatkan oleh Faith Comes by Hearing (FCbH) Perwakilan Jakarta. Anggota dari tim FCbH telah ada di Koro’oto, Klasis Amarasi Timur sejak tanggal 6 Februari 2020. Tugas-tugas awal telah dilaksanakan secara baik, mulai dari menyiapkan segala prasarana pendukung kegiatan rekaman.

Ruang rekaman (studi) disiapkan dengan mengundang beberapa orang membantu menyiapkannya. Tim dari FCbH menyiapkan material yang tak sempat disiapkan oleh Jemaat Koro’oto. Pengadaannya dengan cara membeli, sehingga mereka harus beberapa kali ke kota Kupang untuk maksud itu termasuk menyiapkan skrip untuk para pembaca.

Ruang baca dan rekaman telah tersedia. Segala hal yang berhubungan dengan akomodasi dan transportasi pun telah siap. Ini semua atas kerja sama dan saling menerima dengan hati yang lapang pada pihak Jemaat Koro’oto di bawah kepemimpinan duo pendeta Zina.  Tim yang datang sebanyak 3 orang, dua orang teknisi sekaligus operator dan seorang supervisor. Supervisor tidak penuh waktu, oleh karena ia harus melanjutkan tugas ke tempat lain yang juga akan melakukan perekaman.

Hal-hal yang tidak kelihatan akan tetapi jelas terasakan dapat dicatat di sini sebagai refleksi pada kegiatan yang maha penting ini. Mengapa maha penting? Karena rekaman ini akan menjadi contoh pada para pembaca alkitab bahasa daerah pada masa ini, dan sepanjang masa dimana belum ada perubahan pada dinamika perkembangan bahasa. Oleh karena itu, pembaca mesti menyiapkan diri sebaik-baiknya secara psikologis, oleh karena melalui suara mereka yang direkam (disimpan) dan diperdengarkan setiap saat, di sana Firman Tuhan, kisah-kisah inspiratif yang naratif, menjadi hidup di dalam relung hati pendengarnya, yang sekaligus akan melatih diri membaca alkitab dalam bahasa daerah.

Hari ini (14/02/20), saya mencermati beberapa hal yang sangat berpengaruh pada proses perekaman ini.

  • Kerja sama tim (team working). Tugas ini tidak dapat dilakukan oleh seseorang secara individual. Tim sangat diperlukan. Tim yang solid, yang saling menghargai pendapat, kritik dan saran untuk kebaikan bersama, khususnya pada teknik membaca yang baik dan benar, oleh karena membacanya tidak membaca diam, tetapi membaca bersuara. Suara yang lantang, suara yang tegas, suara yang seakan mendramatisir suatu suasana dan kondisi, dan hal-hal di sekitarnya, menjadi perhatian tim. Tim itu terdiri dari seorang yang menyiapkan skrip secara berkelanjutan di layar monitor; seorang yang merekam, seorang (dan beberapa orang lain yang masuk secara bergiliran, terjadwal) yang masuk ke dalam ruang baca tertutup dan kedap suara, tim pengamat, dan seorang supervisor. Tim pengamat sendiri terdiri dari 4 orang yang secara bergantian membantu dua teknisi dan operator. Mengapa? Kedua teknisi dan operator tidak memiliki pengetahuan bahasa daerah sasaran. Tim pengamat inilah yang membenarkan ucapan dan ujaran kata, diksi,frase hingga paragraf itu dibaca secara benar, keliru atau sangat tidak tepat. Kesigapan tim pengamat yang berganti-gantian akan membuat kualitas nada dan dinamika pembaca menjadi lebih terkontrol.
  • Ketenangan suasana sekitar. Bila suasana di sekitar tempat rekaman sepi dan tenang, akan sangat mendukung rekaman. Tetapi, bagaimana hal itu terjadi? Sangat tidak mungkin menegur ayam berkokok atau anjing menggonggong. Sangat tidak mungkin menegur pesawat terbang melintas, dan atau ketika hujan, sangat tidak mungkin memberhentikan suara guntur. Belum lagi suara anak-anak dan siapapun yang bersibuk riang di sekitar tempat rekaman. Mereka akan menjadi penyebab bunyi-bunyian. Bunyi tak boleh sampai ke dalam alat rekaman yang sangat sensitif terhadap bebunyian di sekitarnya. Tim operator dan teknisi akan menghentikan sementara sampai tiba pada ketenangan itu sendiri.
  • Ketertiban. Tim yang sedang bekerja, baik antara teknisi dan operator, supervisor, pengamat/pengawas nada dan alunan pembaca, pembaca yang terdiri dari beberapa orang yang ditunjuk mewakili tokoh tertentu dalam teks, dan narator. Semua anggota yang ada dalam tim rekaman ini mesti tertib. Tertib waktu, tertib berbicara, tertib menggunakan fasilitas yang tersedia. Tidak ada tuntutan untuk berpakaian yang paling indah, tetapi sopan. Tidak dituntut untuk adanya makanan yang luar biasa, tetapi, bila makanan tersedia dan harus disantap, baiklah pada waktunya. Bila hendak berbicara, baiklah saling bertegur sapa secara sopan dan ramah. Dalam hal ketertiban ini, termasuk jadwal yang disampaikan secara lisan kepada para pembaca. Berhubung pada zaman ini orang menggunakan handphone, maka setiap pembaca akan dipanggil pada saatnya. Penjadwalan ini penting untuk memberi peluang kepada pembaca agar mengerjakan tugas-tugas kesehariannya di rumah tanpa terganggu. Mereka datang ke ruang rekaman hanya pada saat dibutuhkan.
  • Kontrol emosi. Membaca teks berbahasa daerah sangat berbeda dibandingkan membaca teks dalam bahasa nasional seperti yang dipelajari di sekolah. Membaca teks berbahasa daerah itu membutuhkan ketrampilan yang patut dilatih berulang-ulang sebagaimana juga ketika membaca permulaan kelas satu di sekolah dasar. Membaca dengan bersuara agar mengetahui nada alunan, dinamika suara bagai sedang berbicara saja. Ketika membaca untuk merekam, tidak semudah yang dibayangkan bahwa akan sekali membaca dan langsung jadi. Tidaklah demikian! Seorang pembaca akan membaca satu ayat saja pun mungkin langsung sekali baca, tetapi dapat saja beberapa kali membacanya. Mengapa? Lagi-lagi karena nada dan alunan suara, lantang, tegas, memelas, atau yang bersifat dramatisasi pun mesti terdengar secara jelas, dan terdengar pula lafal dan intonasinya. Dalam hal yang demikian, seorang pembaca bila tidak dapat mengontrol emosinya, ia akan meninggalkan ruang baca dan ruang rekaman. Akan tetapi, bila ia mampu mengendalikan emosinya, bahkan semua anggota tim bila dapat mengontrol emosi, akan sangat membantu sehingga proses rekam akan berlangsung lancar. Kematangan emosi sangat dituntut di sini pada semua anggota tim
  • Latihan membaca. Setiap pembaca yang terpilih sesungguhnya telah pernah membaca sehingga mereka nampak dapat melakukannya secara baik ketika proses audisi berlangsung. Akan tetapi, ketika masuk ke ruang rekam, orang harus berkali-kali membaca lagi dan lagi. Maka, latihan membaca sangat diperlukan baik oleh pembaca sendiri, maupun oleh siapapun yang rindu mendengarkan/membaca firman Tuhan. Bacalah secara bersuara. Bila membaca diam, orang tidak akan pernah mengetahui akan kekeliruan atau kesalahannya membaca.
  • Membaca Firman Tuhan secara sadar. Siapakah yang membaca Firman Tuhan setiap hari? Pasti ada. Tetapi, membaca seluruh perjanjian baru dalam waktu kurang lebih 2 bulan, itu adalah prestasi pada tim. Mereka tidak membaca hanya untuk program rekaman berjalan lancar dan sukses. Mereka pun membaca firman Tuhan untuk “menutrisi” roh dan jiwanya sendiri. Maka ketika tugas ini berlangsung, tim mengawalinya dan menutupnya setiap hari dengan berdoa. Doa  disampaikan kepada Tuhan agar Roh Kudus memimpin dan menyertai. Roh Kudus menguatkan dan memberanikan pembaca. Roh Kudus memberi kepada setiap anggota tim kesehatan yang prima sehingga program ini berlangsung baik dan sukses tanpa halangan oleh karena terjadinya sesuatu di luar dugaan.

Demikian beberapa hal yang saya cermati dalam proses rekaman perjanjian baru dalam Uab Amarasi yang sedang berlangsung di Koro’oto Klasis Amarasi Timur saat ini.

 

Penulis: Heronimus Bani

2 comments