Firman Tuhan di Dalam Kuburan

Firman Tuhan di dalam Kuburan

Mungkin pembaca kecewa ketika melirik judul tulisan ini. Silahkan kecewa atau sejenis itu. Tapi, bolehlah gunakan waktu sebentar untuk melirik dan membaca dua cerita dari situasi yang pernah saya saksikan hingga mengantar saya untuk tiba pada tulisan ini.

Pertama. Suatu waktu kira-kira dua tahun yang lalu, saya hadir dalam suatu upacara subat ~ penguburan jenazah. Orang yang meninggal ini seorang tokoh di dalam masyarakat bukan saja di dalam kampung itu, tetapi meluas ke wilayah satu Kabupaten oleh karena ia pernah menjadi anggota legislatif. Sebagai tokoh dalam masyarakat, ia dihormati, disegani hingga ketika meninggal, berjubel pejabat daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga masyarakat menghadiri upacara penguburan jenazahnya. Satu hal dilakukan oleh orang-orang yang menjaga jenazahnya. Kepada jenazahnya dipelukkan satu buku alkitab. Alkitab itu ditempatkan di dadanya, kedua tangannya memeluk. Kami yang melayat tidak ada satupun yang berani berkomentar dengan bersuara, kecuali bisik-bisik sesudah melayat.

Kedua, Seorang mahasiswi semester terakhir meninggal dunia. Saya mendapat kabar dari utusan keluarga duka. Utusan keluarga duka di Pah Amarasi disebut haef. Haef yang tiba di rumah tidak sempat bertemu dengan saya. Saya diberitahu ketika saya pulang. Saya memutuskan untuk melayat saja tanpa menghadiri upacara subat. Kami pun berangkat. Rombongan 20 orang berkendaraan satu unit pikap. Kami tiba di rumah duka, di sana tangisan dan ratapan dari orang tua dan saudara-saudaranya amat sangat pilu. Seorang gadis yang hampir mencapai dan menggapai gelar sarjana harus menerima takdirnya sampai di sini. Lalu, apa yang saya saksikan sungguh di luar dugaan. Saudara-saudara dari sang almarhumah, semuanya berpendidikan baik, bahkan sudah menjadi abdi-abdi negara. Mereka bergelar akademik yang baik dan oleh karenaya mereka disegani di kampung itu. Di mata masyarakat, orang tua mereka menjadi terhormat oleh karena anak-anak telah meninggikan harkat orang tua dengan cara menyelesaikan studi hingga perguruan tinggi. Namun, bukan jaminan, mereka yang berpendidikan tinggi belum tentu dapat memahami bahwa alkitab yang berisi Kata-Kata Tuhan dalam bahasa manusia yang ditulis itu mesti dibaca oleh orang-orang yang masih hidup di planet bumi ini. Sekali lagi di luar dugaan. Saya (dan kami para pelayat) menyaksikan, di dalam peti jenazah itu, mereka menempatkan tiga buku Alkitab bahkan yang paling baru. Mereka membeli ketiga buku itu khusus untuk ditempatkan di dalam peti jenazah, ditempatkanlah ketiga buku itu di dekat kepalanya, samping kiri dan kanan. Saya yang menyaksikan hal itu, kecewa. Lalu, ketika mengambil tempat duduk sesudah memberi salam turut berduka dan penguatan, saya memanggil orang tua dari almarhumah. Saya mohon dengan sangat agar buku-buku yang ditempatkan di sana ditinggalkan saja untuk orang-orang hidup dapat membacanya. “Hanya orang yang masih hidup, yang membaca alkitab!” begitu yang saya katakan pada si orang tua. Ia menyanggupinya.

Sejam kemudian, ia memberitahukan kepada saya bahwa buku-buku itu tidak boleh ditinggalkan. Biarlah buku-buku itu dikuburkan bersama jenazahnya karena rohnya akan membawa buku-buku itu di hadapan Tuhan. Di sana ia akan bercerita tentang situasi kehidupannya di dunia, dimana saat ia hidup, ia tubuhnya didera penyakit oleh karena perbuatan manusia yang iri, dengki dan sirik padanya.Biarlah orang-orang yang demikian itu juga akan berdiri bersama dengannya di hadapan Tuhan, dan dipastikan Tuhan akan mengadili mereka secara bersama-sama.

“Siapa yang menempatkan tiga buku alkitab itu di dalam peti jenazah?” begitu saya bertanya. Jawabannya, “Orang Pintar”! Ada “orang pintar” yang menempatkan alkitab di dalam peti agar menggugah Tuhan ketika roh almarhumah tiba di hadapan-Nya.

Saya tertawa sangat keras. Saya, akhirnya tidak dapat lagi menjelaskan lebih jauh, oleh karena ilusi yang telah direcokkan ke dalam hati dan perasaan mereka yang berduka.

Saya menyadari kekeliruan mereka itu, bahkan mereka sesungguhnya telah secara sadar melakukan suatu tindakan dosa. Mereka (dan kita) yang hidup mestinya membaca isi buku itu. Isi buku yang adalah Firman Tuhan dalam bahasa manusia. Firman Tuhan yang diilhamkan kepada kita. Firman Tuhan yang bila dibaca siang dan malam akan menyehatkan roh bahkan menyehatkan raga. Firman Tuhan yang menjadi makanan sebagaimana kata Yesus pada Iblis, “Mansian ii ka nmoin fa na’ko mnaaht ahaa. Mes sin ro he nneen ma natniin Uisneno In Kabin ma Prenat amsa’, ma nmoe’ natuin In romin” (Teks Amarasi (aaz) Mat.4:4). Manusia tidak hidup dari makanan saja. Tetapi mereka harus mendengarkan Firman Tuhan dan melakukan kehendak Tuhan.

Nah, bagaimana mungkin orang yang meninggal membaca Firman Tuhan? Bagaimana mungkin jenazah yang memeluk alkitab akan membukanya di dalam kuburan? Bagaimana mungkin jenazah akan bangun dan melihat tiga buku alkitab sekaligus yang ditempatkan di sana? Bila ia mampu, mungkinkah ia membaca tiga buku yang isinya sama?

Saudara yang membaca tulisan ini, mungkin akan memberi tanggapan beragam. Saya sadar bahwa budaya memberikan sofi itu tidak salah. Tetapi berilah sofi yang bukan bersifat dokumen, buku, apalagi buku yang berisi Firman Tuhan. Mereka yang masih hidup mesti membaca Firman Tuhan setiap saat. Mazmur pasal 1 mengingatkan kita, bahwa orang yang kesukaannya pada Taurat, hidupnya seperti pohon di aliran sungai. Ia menghasilkan, apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Lalu, apakah jenazah akan berbuat sesuatu ketika padanya diberikan sofi berupa alkitab yang berisi Firman Tuhan?

 

Penulis: Heronimus Bani