FCbH (6) Membaca, Merekam dan Revisi

FCbH (6) Membaca, Merekam dan Revisi

Saya lanjutkan catatan tentang program merekam PB dalam Uab Amarasi yang sedang berlangsung di Koro’oto. Pada catatan saya yang kelima, saya sampaikan beberapa hal yang tidak kelihatan, namun nyata mengganggu ketika proses ini berlangsung.

Berikut saya lanjutkan tentang, bagaimana orang membaca, merekam dan revisi?

Sesungguhnya membaca itu hal biasa, bila sudah mempunyai ketrampilan membaca. Bedanya, membaca teks berbahasa Indonesia sebagaimana umumnya orang mempelajari Bahasa Indonesia di sekolah, itu berbeda dengan membaca teks berbahasa daerah, di antaranya Uab Amarasi. Uab Amarasi atau Bahasa Amarasi adalah satu bahasa tersendiri yang tentu saja harus dipelajari. Salah satu hal yang harus dipelajari dan dilatihkan adalah, cara membacanya. Orang yang membaca teks berbahasa daerah, bila memulainya dengah membawa pengetahuan dan pemahaman bahwa ia telah dapat membaca karena ia telah belajar membaca Bahasa Indonesia, maka orang itu akan menganggap enteng teks bacaan berbahasa daerah, termasuk teks berbahasa Amarasi. Itulah yang kiranya perlu orang berlatih untuk memiliki ketrampilan membaca teks berbahasa daerah. Mengapa? Karena Bahasa Daerah manapun, dia merupakan bahasa tersendiri yang mesti dipelajari, baik ejaan, tata tulis, dan termasuk di dalamnya membaca.

Pada proses membaca PB berbahasa Amarasi untuk merekamnya, pembaca harus berlatih terlebih dahulu. Untuk itu, mereka mendapat teks-teks untuk dibaca. Membacanya pun harus bersuara agar dapat mengetahui intonasi, dinamika suara, bahkan makna kata, frase dan kalimat dapat dimengerti. Bila satu kata diucapkan berbeda dari kebiasaan umum orang mengucapkannya, maka maknya akan berubah.

Cobalah untuk berlatih membaca teks ini:

  • Karu m’onen, amtoit piut-piut meu Uisneno; In of anfee ma nnona’ ki. Karu hi maim piut-piut; In of nakrira’ ma naruru’ ranan neu ki. Karu hi mhaman piut-piut; In of nasoit ma nfei eno’ neu ki. Fin tuaf-tuaf re’ ntoit piut-piut neu Uisneno, of ansium ma antoup goe. Tuaf-tuaf re’ naim piut-piut, of niit ma napein je. Tuaf-tuaf re’ nhaman piut-piut, In of nasoit ma nfei ne eno’. (Mat 7:7-8)
  • Fin au ‘roim he ‘moe’ rais reko, mes au ka ‘moe’ je fa. Ma au ka ‘roim fa he ‘moe’ rais maufinu, mes au ‘moe’ kuuk ee! (Rom 7:19)
  • Uisneno nak, “Au re’ ia, Alfa ntea Omega. Au re’ ia, A ntea Z. Are’ saa’-saa’ ii, sin na’uun ma na’ba’an na’ko Kau, anmurai na’ko ahunut tar antea amunit. Au es re’ ‘bi ‘ain ia na’ko unu’. Au es re’ oras ia. Au es re’ ‘bi oras amnemat tar antea nabar-baar. Fin Au kuuk es re’ akuas re’uf.” (Rasi Mnitas neu nai’ Yohanis 1 : 8 ~ Wahyu !:8) 

Dengan berlatih membaca bersuara, orang akan paham untuk dirinya sendiri, dan ketika diperdengarkan kepada orang sekitar, mereka pun turut memahaminya. Jika terjadi kekeliruan dalam membaca satu kata, frase atau kalimat, orang akan membantu mengoreksinya.

Itulah sebabnya, diperlukan revisi dalam proses merekam bacaan dalam Perjanjian Baru berbahasa Amarasi ini. Proses revisi dilakukan dengan cara, mendengarkan ayat per ayat dari teks yang telah dibaca. Setiap kata, frase, kalimat dan paragraf diperdengarkan kembali. Bila terjadi kekurangan pada nada tekanan, dinamika suara, bahkan kekurangan huruf/fonem satu saja pun bila kedengaran akan mengganggu pendengaran dan pemahaman, maka kata itu mesti diulangi rekamannya.

Oleh karena itu, catatan saya terdahulu, disana saya menulis, bahwa kontrol emosi amat penting di sini. Setiap anggota tim, baik tim perekan dari FCBH maupun tim yang direkrut untuk menjadi pengamat dan pembaca, mesti menyadari bahwa bahasa daerah yang mereka baca, bukanlah Bahasa Indonesia, tetapi bahasa yang berbeda daripadanya. Lalu, kontrol emosi diperlukan agar ketika terjadi pengulangan walau itu berkali-kali, hasil yang diharapkan. Proses yang demikian menyakitkan, tetapi hasilnya akan menjadi ukuran pada waktu diperdengarkan atau didengarkan oleh pendengarnya.

Semua anggota tim berharap, ketika proses ini berakhir dan program ini dinyatakan sukses, nama Tuhan dimuliakan melalui Alkitab Audio yang diperdengarkan pada umat/jemaat Tuhan, khususnya yang berbahasa Amarasi.

Doakan.

 

Penulis: Heronimus Bani