Duniaku Berbeda Kini

Satu tayangan pagi ini saya sempat lirik. Seorang ayah bersama anak gadis kecilnya berbelanja di mall (supermarket). Apa yang mereka belanjakan? Mereka membeli beberapa potong roti dan terutama satu kerat roti khusus untuk memeriahkan satu hari penting dari orang tua dari sang ayah atau kakek dari si gadis.

Sang ayah menyerahkan barang-barang belanjaannya di depan kasir. Kasir dengan sigap menghitung semua yang harus dibayarkan. Ketika ia diberitahukan bahwa jumlah yang harus dibayarkan adalah sekian dollar, ternyata, uang yang ada di tangannya tidak cukup. Ia menyerahkan semua uangnya yang tidak mencapai angka seperti yang dimintakan oleh kasir. Ia membuka dompetnya dan menunjukkan isinya kepada sang kasir.

Kasir menawarkan untuk mengurangi, tapi, anak gadis itu berharap si ayah masih punya sisa uang di saku celana atau baju. Ternyata tidak ada. Lalu, si ayah meminta kasir untuk mengurangi barang belanjaan. Lalu dihitung lagi, ternyata, uang yang diserahkan pun belum dapat melunasi barang yang tersisa. Kemudian, ia meminta agar kue khusus untuk memeriahkan hari penting sang orang tua, ia minta untuk tidak diikutsertakan.

Anak gadisnya protes. Sementara di belakang antrian makin panjang, dan seseorang tidak lagi dapat menahan kesabarannya. Ia menegur si ayah dan anaknya itu. Si ayah memohon maaf.

Kini, tinggallah sebungkus roti dan pemanisnya yang mereka akan membawanya pulang. Di rumah mereka akan bersama orang tua dan si kakek memeriahkan hari penting itu dengan roti itu.

Ketika mereka berada di luar supermarket itu, seorang lelaki paruh baya memanggil dan menyapa mereka. Ia meminta maaf, dan menyerahkan satu kantong kecil hadiah. Ia mengatakan bahwa, ketika ia masih muda, pengalaman berdiri di depan kasir dengan nilai uang yang tidak cukup telah ia dan ibunya alami. Mereka sangat malu, tapi, semua itu telah terjadi. Mereka mendapatkan pelajaran penting bahwa, menjadi miskin itu sesuatu yang mungkin saja buruk, tetapi, kita tidak boleh miskin sikap, tutur dan tindakan. Ia melanjutkan, bahwa, ketika ia mengetahui bahwa roti yang dipesan itu gagal dibawa pulang untuk membahagiakan kakek yang berulang tahun, ia memutuskan untuk membelinya dan menyerahkannya pada kedua orang di depannya ketika berada di kasir tadi.

Sang orang tua dan anak gadisnya ini, sungguh sangat berterima kasih. Mereka tidak sempat lagi berkenalan dengan lelaki paruh baya itu. Mereka justru mendapat satu lembar kartu bertuliskan, Pay fot it, forward… Bayarkan … lanjutkan…

Ketika ayah-anak tiba di rumah, mereka hendak membuat kejutan pada orang tua renta di sana. Mereka membakar sebatang lilin kecil, ditempatkannya di atas roti, dan membawanya pada si kakek diiringi lagu happy birthday…

Si kakek tersenyum gembira. Dalam umur yang mencapai angka 76, ia menerima sepotong kue ulang tahun. Ia bertanya, darimana mendapatkan kue yang terasa nikmat itu? Kue kesukaannya!

Ayah-anak itu menjelaskannya. Mereka tidak punya cukup uang untuk membelinya, tetapi seseorang telah membelikannya untuk mereka. Mereka rindu merayakan hari penting itu dan membahagiakan sang orang tua.

Si kakek, tersenyum. Ia mengenang masa mudanya. Ketika ia berdiri seorang anak bersama ibunya berdiri di depan kasir, membayar belanjaan mereka dengan uang receh yang tidak cukup juga untuk melunasi belanjaan mereka. Sang kakek yang kala itu masih muda, maju dan membayarkan belanjaan si ibu dan anaknya yang nampak amat miskin itu. Kemudian ia menyerahkan satu lembar kertas bertulisan, pay fot it… forward…

Kertas itu kini kembali ke tangannya. Ketika ia menerima kartu itu dari anaknya, ia tersenyum. Ia berkata, “Duniaku berbeda kini!”

Saudara, apakah duniamu berbeda kini? Hari berlalu dan berlanjut dalam hitungan. Masa memakan raga, rasa bermain dalam masa yang sedang berlanjut secara tetap. Lalu, nilai, etika dan moral mendapat tantangannya tersendiri di dunia yang makin berbeda saja ini…

Apa katamu, Saudaraku?

 

Penulis: Heronimus Bani

2 comments