Sejarah Jemaat Koro’oto (2) Masa Agama Suku, Re’u di Koro’oto

Masa Agama Suku, Re’u di Koro’oto

 

Aliran kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Koro’oto pada masa lampau, tidak jelas dimulai sejak kapan. Bila ditelusuri masa kedatangan mereka ke Koro’oto, mungkin saja mereka membawan kepercayaan itu dari arah Timur (neon saet, atau maans ee ‘saen). Tidak jelas pula, yang dimaksudkan dengan neon saet atau maans ee ‘saen itu yang mana. Namun dari cerita-cerita tentang kedatangan leluhur Koro’oto, mereka berasal dari sana. Mungkin Banam, mungkin dari Belu Selatan menyusuri pantai selatan bersama-sama dengan rombongan keluarga Liurai yang diusir ketika berperkara di sonaf.

Semuanya itu hanya perkiraan belaka.  Dalam skripsi yang ditulis oleh Noh Bani (2007), di sana ia menyatakan bahwa leluhur orang Koro’oto menempati area atau wilayah ini pada kira-kira abad ke XII. Benar atau tidaknya, itu merupakan catatan ilmiah yang dibuatnya dan dipertanggungjawabkannya. Ia melakukan penelitian dengan mewawancarai beberapa orang tua yang dapat mengisahkan tentang leluhur Koro’oto, walau kisah-kisah itu terasa mulai kabur.

Satu yang menarik pada zaman modern ini ketika media sosial merajai kehidupan anak manusia. Komunikasi dibangun oleh orang Koro’oto dengan semua orang yang rindu berteman di dunia maya. Informasi tentang generasi orang Koro’oto telah mencapai 12 generasi. Seorang pengguna media sosial bernama Michael Bani mengisahkan akan hal ini melalui percakapan WhatsApp. Ia berasal dari kampung leluhur orang Koro’oto di Belu Selatan.

Dalam masa-masa pengembaraan itu, mereka tidak langsung tiba di Koro’oto. Persinggahan mereka di antaranya ke Mutis. Dari sana, sebahagian menempati wilayan itu berbaur dengan masyarakat yang telah ada sebelumnya. Sebahagian lagi melanjutkan perjalanannya hingga tiba di Koro’oto. Ketika mereka tiba di kampung ini, wilayahnya dipenuhi bambu-bambu hutan (oo fui). Mereka menamai tempat itu, Haar Oo yang artinya tempat yang bagai pembaringan terbuat dari bambu. Mengapa? Karena begitu banyaknya bambu-bambu hutan yang bagai teranyam secara alamiah. Mereka menempati area itu dengan membuka lahan dan pemukiman.

Dikisahkan, ketika mereka membuka lahan untuk pemukiman itulah, nama terjadi sesuatu yang aneh dan ajaib. Seekor burung bersuara dengan cara yang tidak lazim. Mendengar suara burung itu, mereka mencari-carinya. Mereka menemukan burung itu di dalam satu ruas bambu. Suara burung itu layaknya satu kata yang dinyatakan secara berulang. Setiap kali si burung bersuara, selalu sama dengan sebelumnya dan bagai berkata-kata saja. Kata-kata yang diucapkan burung itu kira-kira bila ditulis akan jadinya seperti ini, koor oot, koor oot[1].

Mendengar perulangan yang demikian, para leluhur bersepakat untuk mengganti nama wilayah yang mereka tempati itu. Nama tempat itu yang sebelumnya Haar Oo, diganti menjadi Koro’oto, lalu mereka menyebutkan nama burung itu Koor’otos, dan penghuni kampung itu sendiri menjadi Koor’otos, yang artinya orang Koro’oto.

Dalam masa-masa itu mereka menjalani hidup di tempat yang sempit berlumpur. Sesungguhnya tidak amat sangat berlumpur, akan tetapi kondisi dan kontur tanah yang ada digambarkan sebagai tanah berlumpur, auf makri’it, sering pula digambarkan sebagai nai ra’e. Kampung kecil itu kemudian dinamai Rua’rofo’ artinya, kampung berlumpur. Area ini dialiri satu sungai kecil (kali) yang sumbernya berasal dari satu tempat yang disebut Suu’baun. Aliran air ini menyinggahi Suis Re’uf, lalu tiba di Nono’ Nisa, yang mengalir hingga bertemu dengan cabang sungai besar Ba’benak. Dari sana mengalirlah sungai itu menuju sungai yang lebih besar yang disebutkan Namanya ‘Boni’.

Wilayah-wilayah berair kali dan sungai ini tidak luas, sehingga orang harus berebutan tempat tinggal dan lahan untuk berladang. Maka, pilihan mereka adalah berpencar. Mulailah kea rah timur, dan barat. Mereka yang ke arah barat bertemu dengan para pembesar yang juga datang dari Neon Saet, seperti Taebenu, dan Amheka’. Mereka ada yang menetap di Bokong tetapi mayoritas mereka menetap di Oeltua’. Keturunan mereka terus bertambah, lalu menyebar hingga pesisir pantai Tablolong.

Tulisan ini tidak hendak menyusuri keturunan orang Koro’oto lebih lanjut, itu hanyalah suatu uraian kisah dari mulut ke mulut dan masa ke masa yang mulai kabur dan dapat saja digugat sebagai suatu ilusi atau khayalan. Akan tetapi, biarlah itu bagai dongeng atau hikayat belaka, karena kisah yang makin kabur itu masih ada di bibir para pencerita walau mungkin sering pula dibumbui menjadi pemanis atau bahkan menguranginya menjadi lebih buruk lagi.

Dalam masa-masa sebelum sampa pada datangnya Ds. Groothuist di Babau, masyarakat Amarasi sesungguhnya telah beragama Katolik karena Perang Penfui menghasilkan penerimaan Protestan secara terpaksa[2]. Ds. Groothuist menyebarkan Injil dari Babau ke Camplong dengan menyinggahi Oekabiti.

Pada tahun 1913, Sekolah Rakyat di Oekbiti berdiri oleh karena telah ada masyarakat yang menerima kekristenan. SR ini dibangun oleh gereja dengan mempekerjakan seroang guru bernama Huandao[3].

Sebelum datangnya kekristenan yang disebarkan oleh para guru di sekolah, leluhur orang Koro’oto mempunyai kepercayaannya sendiri.Secara umum, nenek moyang (mereka) menyembah hanya kepada dua jenis allah (dewa) yaitu Dewa Pelindung/Keamanan (Hau Monef) dan Dewa Kesejahteraan (Uisneon Pa’E). Bentuk-bentuk Dewa disimbolkan atau diwujudkan mereka menurut keinginan mereka seperti:

  1. Patung kayu berbentuk manusia (Hau Monef)
  2. Pohon-pohon besar, batu bulat besar, batu datar lebar dan luas.
  3. Benda-benda langit (bulan dan matahari)
  4. Binatang air (belut khususnya dinamai Ate-Hamba dari buaya)

Buaya sebenarnya hanya merupakan jelmaan atau tipuan mata dari iblis yang menyerupai buaya, sehingga pada setiap pelaksanaan upacara sembahan pada buaya, yang menyantap sajian adalah Ate/Belut. Wahana yang sangat terkenal dengan sembahan jenis ini adalah NUNUH NAPA (Nun Napa) yang kini hampir tidak nampak bekasnya.

Tujuan dan Sekelumit Tata Cara Penyembahan:

  1. Hau Monef

Hau Monef sebenarnya merupakan tonggak-tonggak kayu yang ditempatkan mengelilingi perkampungan/pemukiman sebagai laskar pelindung kampung. Jenis kayu paling digunakan untuk keperluan ini dinamakan Hau Kabun. Tugas Hau Monef yaitu menjaga dan melindungi perkampungan agar terhindar dari segala ancaman bahaya baik yang datangnya dari suku-suku lain, dari kampung yang lain maupun terhadap keselamatan pribadi dan rumah tangga yang dilindunginya.

Perlindungan hau monef tidak hanya sekedar menjaga keselamatan dan keamanan orang dan kampung, namun sampai kepada segala sesuatu yang menjadi milik masyarakat dalam wilayah yang dijaganya. Sehubungan dengan namanya sebagai laskar pelindung, maka dalam suatu peperangan melawan musuh hau monef pun turut dilibatkan. Keterlibatan hau monef tentu haruslah diundang melalui suatu tata upacara penyembahan yang dipimpin oleh meo atau mea. Tata upacara penyembahan itu adalah sebagai berikut, langkat pertama dikumpulkanlah para pemuda dengan segala perlengkapan senjata perang seperti: panah, tombak, parang, pedang dan sumpit. Mereka berkumpul di dalam bangunan upacara yang disebut Umi Re’u (baca: uim re’u). Di dalam Uim Re’u ini telah disediakan altar tempat menaruh segala sesajen. Altar ini terbuat dari hau kabun yang diambil dari pohonnya termasuk akar-akarnya kemudian ditanam terbalik, dan di atas akar-akar itu ditempatkan batu yang permukaannya datar sebagai meja persembahan.

Di atas meja persembahan ini biasanya yang dipersembahkan adalah tetesan darah binatang baik itu ayam, sapi, babi, kambing dan lain-lain seerta bulu binatang yang mana bulu binatang itu diambil dari bagian tengkuk binatang yang telah disembelih di depan Uim Re’u. Setelah upacara ini berakhir maka kepada para pemuda diadakan pengecekan kesiapan mereka yang sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyeleksi mereka atas izinan dari usif yang disembah. Seleksi ini diadakan dengan cara pemeteraian pada ulu hati (jantung) setiap pemuda dengan jalan dilempari ramuan yang dilumatkan dari mulut MEO. Bila ramuan ini menempel maka kepada pemuda-pemuda ini diperkenankan turut serta sebalinya bila tidak menempel, maka tidak diperkenankan. Hal ini untuk menjaga agar mereka yang pergi itulah orang-orang terpilih dan jelas mereka semua akan kembali sambil membawa kemenangan.

  1. Uisneon Pa’e (Dewa Kesejahteraan)

Wujud Uisneon Pa’e banyak dan beragam dapat berupa: pohon, batu, benda langit, binatang air, gunung, telaga, (biasanya terdapat di pertemuan sungai). Dari Uisneon Pa’e ini mereka mengharapkan banyak hal, yaitu kesehatan (termasuk berbagai jenis obat-obatan dan cara pengobatan), harta benda/kekayaan, hujan untuk kebutuhan pertanian dan kehidupan.

Biasanya untuk memperoleh kesehatan ini hanya dimintakan kepada dewa kalau sedang sakit, begitu pula dengan harta kekayaan akan dimintakan bila ia benar-benar membutuhkan dalam jumlah yang banyak untuk suatu keperluan yang sangat mendesak. Sedangkan hujan sangat dibutuhkan karena umumnya mereka bertani dan beternak sehingga air merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Untuk memperoleh hujan, mereka mengadakan upacara di dalam Uis Re’u khusus Uisneon Pa’e atau langsung datang kepada wujud Uisneon Pa’e di mana mereka dapat melihatnya secara jelas.

Kedua usif baik hau monef maupun Uisneon Pa’e sama-sama dipimpin upacaranya oleh Meo/Mea. Siapapun yang ahli dalam hal memimpin upacara itu tentulah disebut Meo/Mea. Namun kenyataan yang terjadi, Meo/Mea itu hanya diberikan kepada seorang atau dua orang Meo saja.

Menurut penuturan Bapak Thimotius Sae’besi’, Meo yang sangat disegani adalah (Reet) Ree’ Oe alias Ree’ Re’u alias Ree’ Kefan yang membangun Uim Re’unya di Koro’oto. Uim Re’u itu sangat dikeramatkan sampai adanya kepercayaan akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Puing-puing bangunan tidak nampak, namun batuan pagar Uim Re’u dapat dilihat hingga sekarang. Masyarakat menamakan tempat itu Poo’ Re’u.

[1]Dua vocal rangkap diucapkan satu bunyi secara lebih panjang

[2] Bani, Koroh natiik Maria, suatu tinjauan sejarah (artikel ilmiah) belum dipublikasikan.

[3]Nuban Timo, Kupang pung Carita

 

Penulis: Heronimus Bani

One comment