Pastori, Rumah Bersama

Pdt.Yulita Y. Zina-Lero, S.Th

Suatu perasaan tersendiri ketika Majelis Sinode GMIT memberi satu sapaan baru pada Kantor Sinode GMIT yaitu Rumah Bersama. Rasanya begitu indah. Sangat terasa, Majelis Sinode GMIT hendak menyatakan bahwa tempat itu bukan milik hanya sekelompok orang dengan sekelompok kepentingan tetapi tempat itu adalah milik bersama, rumah bersama, rumah di mana akan membuat semua orang secara bersama-sama nyaman. Rumah di mana akan menjadi tempat untuk secara bersama-sama meluapkan kegembiraan dan juga kesedihan, rumah di mana orang-orang yang dipayungi dan bernaung di dalamnya berbagi akan banyak hal dengan tersenyum, atau mungkin dengan muka yang masam, amarah yang bertentangan. Walau begitu mesti dalam satu tujuan yang sama menuju kepada Pemilik Agung itu yang akan membuat kita selalu nyaman menjadi bagian dari rumah bersama.

Dari Rumah Bersama itu, lahir anak-anak yang diutus kemanapunpergi untuk menjadi berkat. Sebelum mereka diutus, mereka selalu berkumpul di rumah bersama untuk sekedar bergurau atau menyampaikan rasa kuatir tentang sesuatu yang belum dirasakannya. Ketika kembali, mereka bersua untuk saling berbagi dan menyampaikan curahan hati agar rasa lelah dari satu perjalanan jauh menjadi bagian yang turut dirasakan.  Bahkan bila hal yang memungkinkan untuk saling menguatkan ketika bertemu dengan sejumlah persoalan pelik yang menekan berat, kiranya hal itu terjadi di Rumah Bersama itu.

Saya sendiri melihat bahwa di aras jemaat, pastori atau rumah pelayanan, rumah yang disediakan jemaat untuk pelayanan yang datang silih berganti juga adalah “rumah bersama”. Ada privasi para pelayan yang kemudian dijaga dan sebisa mungkin tidak disentuh, namun juga lebih dari itu besarnya aura kebahagiaan bersama jemaat dan pelayanan menjadi bagian yang penting dalam esensi mendasar keberadaan rumah pelayan. Rumah itu tidak semata-mata menjadi tempat bernaung, tapi menjadi tempat berbagi dan berdoa keluarga pelayan dan jemaat. Tempat “melaporkan” segala kesedihan, persoalan, tempat untuk tangan saling bertemu dalam doa. Bila mungkin, di sana terkadang pula hal-hal yang disampaikan dengan berlinang atau bercucuran air mata. Tempat di mana jemaat selalu ingat, memberi cinta lewat apa saja yang mereka miliki bagi penghuni rumah itu.

Sungguh, seorang pelayan Tuhan, seorang pendeta tidak pernah kekurangan cinta. Cinta itu masuk keluar dari pagi sampai matahari menyembunyikan dirinya. Cinta itu melengkapi dan menyatukan satu dengan yang lain. Secara fisik pastori hanya sebuah rumah tinggal biasa namun padanya terkandung sejuta nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, kasih dan cinta yang tidak pernah pudar. Apalagi ketika semua jemaat dari kategorial manapun merasa nyaman menjadi bagian sukacita dari rumah itu.

Dalam rumah itu mungkin ada air mata, ada “pertentangan” yang sering terdengar dari penghuninya, mungkin ada suasana kaku dan dingin, ada kekurangan yang tak terelakkan sebagai manusia biasa tapi nilai-nilai yang saya coba urai tadi akan memberi kekuatan untuk terus percaya bahwa ada senyuman di setiap pertemuan. Rumah bersama itu akan menjadi tempat yang mampu menciptakan moment kekeluargaan yang hangat dalam setiap pertemuan. Rumah bersama itupun mampu menghapuskan jarak antara pendeta, keluarga pendeta dan jemaat dalam sikap kasih dan tentunya saling menghargai. Banyak kisah mengenai rumah pelayanan yang tidak dapat dilukiskan satu persatu karena banyak cinta yang diberi di sana.

Pastori, rumah pelayanan tidak bicara layak atau tidak layak nampaknya, rumah pelayanan berbicara tentang layak atau tidakkah suatu kebersamaan itu tetap terjalin antara pendeta dengan jemaat. Tidak harus syarat layak fisik satu unit rumah. Karena tak ada satupun jemaat buta akan kesejahteraan seorang pendeta. Kasih dan kebersamaan akan melahirkan kesejahteraan yang sesungguhnya dan Tuhan menyediakan yang terbaik untuk kehidupan anak-anakNya.

Kenyamanan seorang pelayan bukan pada rumah pelayanan yang seperti istana atau gubuk reot, tetapi kenyamanan seorang pelayanan adalah ketika ia ada di hati jemaat dan jemaat ada di hatinya. Dan bagaimana itu bisa terjadi ? Ketika Yesus Kristus sumber damai sejahtera ada di hati keduanya maka tidak ada alasan untuk saling mempertahankan pertentangan, tetapi selalu ada alasan untuk mari kita duduk bersama, makan jagung rebus sambil tertawa bahagia akan hari ini dan merencanakan hidup kita bersama di masa depan.