Mengejar Kebaikan dengan cara Tuhan

Mengejar Kebaikan dengan Cara Tuhan
Markus 10 :17-27

Pdt.Yulita Y. Zina-Lero, S.Th

Saudaraku terkasih dalam Yesus Kristus Tuhan. Seseorang bisa saja mempunyai tujuan mulia, punya mimpi mulia, tapi belum tentu tujuan dan mimipi itu berjalan seiring dengan cara yang dipilih untuk mencapai tujuan. Kerap kali kita mendengar orang berkata: ”tujuan baik namun cara salah”. Akhirnya apa yang menjadi impian, tujuan dan cita-cita tidak tercapai karena cara yang digunakan itu salah.

Dalam bacaan ini terlihat bersama bahwa ada seseorang yang sudah tidak muda lagi dan yang banyak hartanya membangun usaha keras bertemu Yesus. Ia berlari secepatnya untuk tidak ketinggalan berbicara dengan Yesus. Ia memberi tempat Yesus sebagai Raja dalam dirinya sehingga saat berbicara ia mengambil posisi bertelut sembari bertanya, ”Apa yang harus saya buat untuk mendapatkan hidup yang kekal?”

Pertanyaan ini tidak salah, karena itu Yesus memberi jawaban pertama lakukan semua perintah hukum Taurat dan Kitab para nabi. Syarat pertama ini sudah dilakukan olehnya sejak ia masih muda. Ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang hidup mengenal baik hukum taurat dan kitab para nabi. Ia adalah orang yang bergaul karib dengan kebenaran. Namun bergaul karib dia dengan pelataran kebenaran itu dan semua harta yang menemani dia selama ini tidak mampu memberi jawab untuk harapannya supaya memiliki hidup yang kekal.

Hal yang menarik selanjutnya terjadi, Yesus memandang dia dengan kasih. Mengapa untuk memberi tanggapan atas jawaban orang ini, Yesus harus memandang Dia dengan kasih? Seolah-olah Yesus tahu bahwa antusias dia untuk mencari hidup kekal akan segera redup dengan jawaban Yesus yang kedua. Dan ternyata benar ketika Yesus mengatakan juallah semua hartamu, bagilah kepada orang miskin dan datanglah kepada-Ku, maka orang itu menjadi sEdih, menjadi kecewa, seolah tidak percaya dengan apa yang Yesus suruhkan. Selama ini ia bukan hanya bergaul karib dengan kebenaran taurat Tuhan tapi ia juga bergaul karib dengan semua harta kekayaan dunia dan kalau ia telah memiliki semuanya, namun ia belum tenang dengan kehidupan kekal maka ada yang salah di situ. Ada fokus yang hilang di situ. Engkau tidak bisa menyembah kepada dua tuan, Tuhan dan mamon. Harus ada pilihan di sini.

Apakah pilihan ini menunjukkan bahwa manusia hidup tidak perlu harta? Kesedihan Yesus memandang kepadanya adalah semata-mata karena Yesus tahu pilihan apa yang akan ia ambil. Pilihan yang akan membuat ia kehilangan tujuannya dan semakin terpuruk dalam kekecewaan. Ia terombang-ambing dalam hidupnya yang kemudian ia tidak mendapatkan apa-apa. Hubungan dengan Yesus tidak terjadi namun juga kekayaan tidak bisa menghapus kekecewaannya karena kekayaan tidak menjawab apa yang menjadi tujuannya.

Kekasih Tuhan, dalam hidup ada pilihan, tetapi Tuhan bukanlah untuk dipilih. Kecintaan kepada Tuhan adalah merupakan suatu kesungguhan yang tidak semata kita tempatkan sebagai syarat keinginan kita akan mendapatkan sesuatu. Perkataan Yesus datanglah kepadaku adalah panggilan utuh untuk kepuasaan hidup yang sesungguhnya. Apa yang kita kejar dan kita banggakan akan hilang, tetapi berdiam bersama Allah adalah sebuah kepastian akan segalanya. Manusia haus akan air, namun apa yang kita kerjakan kadang kala menjauh dari sumber air, akhirnya kita berusaha dengan keras namun kehidupan kita semakin kering. ”Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). Datang kepada Allah harus menjadi prioritas kita. Hiruk pikuk dunia, tawa dan tangis, kerja keras danpengorbanan nilainya tidaklah lebih dari kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.

Itulah hukum yang pertama dan yang terutama. Tapi Tuhan, aku sudah melakukannya sejak semula.. Aku sudah mengerti itu, aku sudah setia memberi persembahan, aku sudah setia melayani, aku sudah setia beribadah, Benar. Tetapi ingatlah iman tanpa perbuatan adalah mati. Praktek keagamaan itu harus diwujudkan lewat perayaan hidup yang terbuka bagi sesama. Dunia yang semakin canggih melahirkan manusia yang individualistis, datanglah kepada Tuhan, belajarlah tunduk pada apa yang baik dan benar menurut Allah, kejarlah tujuan muliamu dengan cara Tuhan bukan dengan caramu. Sadarilah semua yang ada dalam hidup ini adalah milik Allah maka engkau tidak akan pernah menjadi kecewa dengan hidupmu.

Amin.

Penulis: Pdt. Yulita Y. Zina-Lero, S.Th