Baper Dua Sahabat

Suatu malam melalui aplikasi media sosial WhatsApp, dua sahabat saling bertukar pikiran. Sebutan zaman now, mereka sedang curhat ~ curahan hati. Ada pula yang menyebutkannya sebagai baper ~ bawa perasaan. Entah mana yang tepat, tetapi dua-duanya sedang asyik-masyuk bercerita.

Di antara mereka ada satu bayangan turut mendengarkan cerita keduanya. Ia bahkan turut membaca teks-teks chatting yang sesekali saling bertubrukan di udara.

Su amper seminggu ini beta sonde aktif. Kesibukan sidang deng ruma tangga bekin beta sond talalu liat sosmet. Dari kemaren sampe ini  pagi beta ada bingung untuk materi persiapan ibada persekutuan do’a sebentar.  Begitu seorang sahabat memulai percakapan melalui WhatsApp yang disebut chatting.

Sahabatnya menjawab, Benar. Belakangan ini jemaat-jemaat ada sidang-sidang. Majelis-Majelis Jemaat, Majelis Klasis, sibuk sidang.

Ia melanjutkan, Beta mau kasitau beta pung rasa sedih. Beta sedih, ketika gereja menghabiskan waktu, energi dan dana untuk segala sesuatu yang beraroma seremonial dan formalitas. Mengukur iman dengan banyaknya kolekte, tidak punya waktu untuk melawat mereka yang terhilang. Dan ketika berbicara tentang tugas diaken, dianggap sesuatu yang mengada-ada dan merusak kewajaran, Demikian sahabat yang satu mengirim teks chatting.

Sahabatnya pun terdiam beberapa saat. Kemudian dari seberang sana ia mengirim lagi, Sebagai Pendeta yang mengamini diri sebagai pelayan, beta punya mimpi yang selalu berusaha beta wujudkan . Beta pung mimpi tentang usaha bersama deng jema’at untuk gereja yang melayani, warga jema’at yang pro aktif dalam karya untuk saling membangun. Beta baharap gereja bisa jadi tampa yang bae untuk semua orang bisa ketemu Tuhan.

Kesedihan seorang pelayan. Ia tumpahkan pada sahabatnya. Sahabatnya memberi jawaban yang tidak solutif pula, walau hanya berupa cuplikan-cuplikan tulisan. Lalu, ia menyambung, dulu beta menulis di buku harian, sebagai tempat menumpahkan rasa dan pikiran, sarana melepaskan beban yang tak sanggup ditanggung jiwa. Sekarang semenjak punya anak balita, menulis menjadi sesuatu yang terasa mewah. 

Sampai di sini, sahabatnya memintanya untuk sejenak menoleh pada buku hariannya. Mungkin ada sesuatu yang berguna. Lalu, ia mengucapkan terima kasih setelah keduanya saling memberi ucapan terima kasih. Sang Sahabat di seberang sana berkata, terima kasih untuk penguatan ini. 

Pembaca yang budiman, dapatkah membantu sang pelayan? Sang pelayan belum lagi lelah jiwanya. Ia punya semangat yang membara di dadanya, tetapi, ia lelah dalam olah pikirnya. Ia hendak keluar dari rutinitasnya sebagai pelayan yang melayani di dunia pelayanan yang menurutnya mesti ada semacam revolusi di area pelayanannya. Tapi, ia butuh pendorong yang lebih kuat, oleh karena pada dirinya telah tergantung sebentuk beban personal; rumah tangga (suami, anak, dan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga).

Ya, semangat kaum Hawa di dunia pelayanan makin bersinar. Mereka yang diasumsikan kaum lemah, kini justru makin menunjukkan taringnya yang siap mencabik-cabik kemapanan agar keluar dari sana menuju pembaharuan.

Mari doakan para pelayan agar mereka makin bersemangat. Jiwa mereka disegarkan Tuhan agar kelemahan fisik tidak menjadi penghalang upaya yang hebat dalam melayani Tuhan melalui jemaat-Nya. Dia, malam itu turut menjadi saksi atas bapernya dua sahabat itu.

Nah, begitulah bila ada kisah-kisah yang menginspirasi, biarlah boleh saling berbagi di zaman ini, dimana orang tidak bersentuhan secara langsung namun dapat berkomunikasi secara baik. Bila demikian, komunikasikan semua pergumulan itu pada Yang Empunya segalanya, Dia akan menjawab secara pasti pada waktunya, pada waktu yang tidak sempat kita sangka dan duga.

 

Penulis: Heronimus Bani/Admin