Tabrak Lari, Inspirasi di Rumah Cendawan

Tabrak Lari, Inspirasi di Rumah Cendawan

Hari ini menyenangkan. Hujan deras mengguyur mayapada dan persada. Permukaan persada makin sadar akan keberadaannya, bahwa ia tidak lagi dapat menghisap secara cepat cairan langit yang mencurah begitu banyaknya. Di jalanan di beberapa tempat di wilayah selatan Amarasi, terlihat air tergenang cukup banyak, tempat-tempat tertentu yang biasanya air menggenang untuk paling kurang dua sampai tiga bulan, di sana mulai ada genangannya. Sementara yang tersisa mengalir melalui saluran-saluran biasa atau membuat saluran baru bila terganjal.

Beberapa pemuda desa Nekmese yang berasal dari kampung Koro’oto, pada malam hari tiba dan duduk di rumah cendawan.

Akh… rumah cendawan?

Ya, rumah itu bertiang satu bagai cendawan. Jadi boleh disebut demikian, walau orang di Amarasi mengucapkan dengan cara Amanuban yaitu, lopo. Padahal, lopo berbeda dengan rumah cendawan. Sayangnya sudah sangat jamak bahwa rumah cendawan di Timor selalu disebut lopo.

Para muda duduk sambil bercerita ringan. Dua orang tua yang sedang duduk di situ terlebih dahulu ikut mendengarkan sambil memberi sentuhan lain pada cerita yang sedang mereka buat.

Terdengarlah kabar bahwa seorang ibu telah melahirkan. Entah melahirkan dimana? Tapi mereka menyebutkan bahwa kelahiran itu untuk kedua kalinya. Baik kelahiran pertama maupun kelahiran kedua dari kedua anaknya ini, tak ada seorang pun pria yang datang mengakui bahwa anak-anak itu adalah anak-anaknya.

Lalu, tiba-tiba muncul satu istilah menarik dari seorang pemuda. “Itu korban tabrak lari!”

Menarik. Saya yang menulis cerita ini sedang duduk di situ, terkejut. Tidak percaya dengan kata-kata itu, lalu bertanya, “Tolong ulangi pernyataan tadi!”

Sambil malu-malu sang pemuda melafalkan lagi, “Tabrak lari!” Lafal ini diaminkan oleh teman-temannya sambil tertawa.

Saya yang meminta lafal itu diulangi lantas berpikir cepat untuk memahami makna tabrak lari.

Saya ingat satu idiom. Idiom itu saya sendiri yang buat untuk suatu kelahiran sebelum pasangan suami-isteri resmi hidup dalam satu rumah tangga. Idiom itu berbunyi, kecelakaan tempat tidur.

Bila kecelakaan tempat tidur itu berdampak pada kelahiran seorang anak, lalu, kedua pelakunya bertanggung jawab, terutama pelaku penyebab yang memainkan peran tanggung jawab penuh, maka jadilah si jabang bayi, atau bayi dan anak itu akan berayah-ibu. Sayangnya, yang dimaksudkan oleh si pemuda yang melafalkan tabrak lari justru menyatakan itu bahwa sang ibu yang melahirkan itu korban tabrak lari, yang maknanya, kecelakaan di tempat tidur, adalah kecelakaan yang merupakan kejadian tabrak lari, sehingga tanggung jawab itu diserahkan hanya pada ibu yang mengandung saja. Sementara penyebabnya sudah melarikan diri mencari kesenangan berbeda di tempat lain.

Sampai di sini percakapan di rumah cendawan terhenti. Kami merenung sebentar. Saya teringat si pemuda yang melafalkan frase tabrak lari. Ternyata pada beberapa waktu lampau, ia pernah melakukan suatu perbuatan yang disebutkan sebagai tabrak lari itu. Jadi, simpulan frase yang dibuatnya itu justru datang dari dirinya sendiri sebagai pelaku tabrak lari.

Semoga peristiwa tabrak lari ini tidak terjadi lagi pada pasangan-pasangan muda-mudi yang berketetapan hati untuk menuju rumah tangga.

Dari informasi yang diceritakan secara ringan di rumah cendawan, saya ketahui, siapa ibu yang dimaksudkan itu. Aplikasi feisbuk dapat memberikan jawabannya. Saya melakukan brosing dan ternyata benar. Anak itu lahir pada tanggal 7 Maret 2020. Ketika saya mendapati informasi di akun itu, sudah ada lebih dari 100 orang telah membaca dan melihat sosok bayi yang baru lahir itu. Ia lahir dari satu pertemuan intim yang disebut tabrak lari.

 

Penulis: Heronimus Bani
Sumber foto: holodoc.com