Si Cerdik Mengubah Pendekatan Menipu

Kitab Suci Kaum Kristen, Alkitab, mencatat dalam Kejadian 3 : 1a (LAI), Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. … Dalam teks berbahasa Amarasi, Na’ko are’ kanan mu’it re’ UISNENO nmoe’ nain sin nbin pah-pinan ia, kaun ii es aputa-kriu anesit. … .

Pada Alkitab yang sama, tertera pula kata-kata Yesus yang dicatat oleh Matius. Ia mencatatnya pada Matius 10:16, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Dalam teks berbahasa Amarasi bunyinya demikian, “Mimnau! Au ‘reek haefan ki nahuum on re’ Au ‘sonu’ ‘bib-kase ntaam neu aus fui apisut sin baark ein. Etun hi ro he mpaek ronef on re’ kaun anonok. Ma hi neekm ein ro he namnonon on re’ koor kefi re’ ka naim nahiin fa rasi msa’.”

Semua orang yang berpengetahuan telah mengetahui bahwa manusia zaman ini berada di satu zaman yang disebut industri 4.0. Pemimpin negara-negara manapun selalu mengingatkan warga negaranya bahwa di zaman ini orang berlomba secara amat sangat ketat. Maka, sebagai warga bangsa, jangan sampai lengah yang akan mengakibatkan ketertinggalan pada komunitas-komunitas hingga bangsa. Hal ini berarti, dibutuhkan kerja keras dan cerdas, tanpa mengabaikan ketelitian dan kecermatan yang pada akhirnya akan mengantar pada apa yang oleh para kawula muda disebut sukses.

Nah, berbicara tentang sukses, ular telah sukses pada mulanya. Ketika alam semesta telah paripurna dalam penciptaannya oleh TUHAN Allah, ular menjadi satu-satunya binatang yang disebutkan sebagai yang cerdik. Kecerdikannya dimanfaatkan sedemikian rupa hingga manusia terlena dan lupa bahwa antara makhluk manusia dan binatang ada bedanya, walau sama sebagai ciptaan TUHAN Allah.

Manusia sempurna dan terlebih lagi ia diciptakan dengan menggunakan tangan-Nya. Tangan itu memanfaatkan bahan tertentu yang dipilih-Nya. Penciptanya memerlukan diskusi sebelum menciptakan bangunan yang kemudian disebut namanya sebagai manusia laki-laki dan perempuan.

Waktu berlalu, manusia menjalani kehidupan bersama para makhluk ciptaan itu, sampai ular bertemu dan berbicara dengan salah satu di antara dua orang yang diciptakan TUHAN Allah itu, Hawa. Jadilah Hawa masuk dalam perangkap empuk milik ular, dan berlanjut pada Adam yang turut menjadi penikmat hasil dialog yang penuh dengan kecerdikan dan kelicikan.

Kecerdikan ular tidak berhenti ketika Adam dan Hawa keluar dari Taman Eden menuju Taman Kerja Keras yang membutuhkan kecerdasan. Di dalam kerja keras yang demikian itu, ular  masuk pada mereka yang memang sudah bekerja keras menciptakan satu jenis permainan yang menggunakan tubuhnya sendiri dalam wujud benda maya.

Kali ini ular yang mencari makanan. Ia tidak memberi opininya tentang bagaimana mendapatkan makanan ketika memegang perlengkapan teknologi informasi yang modern dan canggih. Ia justru berharap para gamer memainkan tubuhnya meliuk-liuk, kepalanya diarahkan atau dikendalikan oleh gamer (manusia) kepada buah-buah yang wujudnya benda maya pula. Lalu, para gamer berhubungan melalui dunia maya. Mereka mengeluarkan sejumlah uang untuk dapat bertempur di udara dengan media handphone android.

Si Ular memang cerdik. Itu yang dicatat dalam Kejadian 3:1. Kecerdikannya tidak berhenti sehingga Yesus pun mengingatkan murid-murid-Nya akan pemanfaatan kecerdikan bila masuk ke area yang paling buas sekalipun.

Apakah saat ini para gamer sedang menyadari bahwa si ular sedang menipu mereka dengan kecerdikannya? Ia yang makan, kita yang rugi. Hawa dan Adam makan, dia untung dan bersorak. Hawa dan Adam rugi karena diusir keluar dari Taman Kebahagiaan menuju Lahan Kecemasan, sementara si ular berjingkrak gembira di Ayunan Dahan Berbuah Kenikmatan.

Kini buah-buah maya dia tawarkan kepada para gamer, “Ayo arahkan kepala saya ke buah-buah itu, Biarkan saya makan. Semakin banyak saya makan, semakin panjang dan besar tubuhku, dan point yang kamu peroleh semakin banyak!” kira-kira begitu katanya.

Lalu para pemain mulai dari anak-anak, pemuda hingga orang dewasa dari berbagai kalangan dan profesi pun terlena pada buah kenikmatan yang ditawarkan ular di dunia modern ini. Tawaran kenikmatan itu bukan gratis.

Pengelola blog dimensidata.com mencatat dampak positif dan negatif bermain game online, di antaranya: kecanduan, malas, kurang tidur, kerugian finansial, mengurangi ketajaman indra penglihat (mata), dan malas mandi.

Banyak artikel telah mengular hal ini berkali-kali dari sudut pandang mereka. Tetapi, ular yang cerdik tetaplah cerdik dan licik. Ia terus memasang perangkap empuk dan nikmat. Ketika jatuh ke dalam perangkapnya mereka yang terjerat tetap merasa nyaman pada mulanya. Mereka baru merasakan dampak buruk itu dalam durasi waktu yang panjang.

Maka, mestinya manusia memanfaatkan kecerdikan yang dimiliki oleh dengan mengambil kecerdikan itu, berpikir lebih baik daripada si ular untuk mencerdikinya sedemikian hingga ia masuk ke dalam perangkap manusia agar ia terkurung dan meronta di area sempit yaitu lahan derita.

Yesus mengingatkan para murid, kamu harus cerdik seperti ular, itu tidak sama dengan kamu harus pandai menipu seperti ular… 

Tetapi, manusia yang hidup di era industri 4.0 ini justru makin pandai menipu dan tertipu.

Mari mencoba untuk keluar dari perangkap empuk dan nyaman dimana si ular telah berhasil menjerat. Sementara yang belum terjerat, baiklah bijaksana menolong anak-anak untuk terselamatkan dari perangkap itu.

Tuhan memberkati hari ini dan seterusnya.

 

Penulis: Heronimus Bani
Sumber foto:  maxresdefault