Mari Kita Kuatir

KORO’OTO, Rasanya judul di atas mengecewakan atau menjengkelkan pembaca. Bagaimana mungkin seseorang mengajak seseorang yang lain atau sekelompok orang yang lain untuk kuatir?

Judul di atas saya peroleh dari penggalan kalimat khotbah yang kami dengarkan dalam Kebaktian Minggu, 22 Maret 2020 di Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto. Kebaktian dipimpin oleh Pdt. Papi A. Ch. Zina, S.Th. Apakah sang pendeta sedang keliru dengan pernyataan yang saya penggal ini? Tentu saja tidak! Ia telah menyatakan sesuatu yang benar, tetapi saya penggal oleh karena inspirasi untuk menuliskannya di sini sebagai satu uraian dari sudut pandang yang beriringan dengan pernyataan sang pendeta.

Sesungguhnya pembacaan alkitab minggu ini terambil dari Matius 26:1-10, cerita tentang Yesus di hadapan Pilatus yang diakhiri penggenapan nubuat tentang seseorang yang mati bunuh diri dan tanah dimana ia bunuh diri itu dipakai untuk menguburkan orang-orang asing atau yang meninggal tanpa diketahui asal-muasalnya.

Kisah ini, kemudian dikemas dalam judul khotbah, sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak ada gunanya. Judul ini pun merupakan satu kalimat peribahasa yang mengingatkan orang tentang pertimbangan-pertimbangan yang harus diambil secara bijaksana sebelum melakukan sesuatu. Hal ini dimaksudkan agar orang tidak menyesal bila sesuatu itu pada pelaksanaannya justru menimbulkan masalah atau bahkan menjadi penyebab masalah lain yang berdampak luas, termasuk akibat yang paling buruk misalnya, ancaman kematian dan kematian itu sendiri.

Judas akhirnya menyesali perbuatannya ketika ia mengetahui bahwa Yesus yang dia jual ternyata bukan dihukum ringan biasa, tetapi justru hukuman mati. Pada titik ini, Judas menyesal. Penyesalan yang terlambat tiba. Penyesalan yang tidak lagi ada pertimbangan berikutnya. Sesak di dada buntu di benak dan akal sehat. Jalan kematian menjadi pilihan termudah baginya. Akhir hidup yang tragis.

Bagaimana menghubungkan hal ini dengan kekuatiran?

Sebagaimana kabar-kabar belakangan ini rasanya kecemasan, kegalauan dan kepanikan sedang melanda dunia. Mulanya biasa-biasa saja kabar tentang covid-19 yang dimulai dari Wuhan-China, yang menelan korban jiwa di atas 3000 orang. Pemerintah China mengambil langkah kebijaksanaan yang teramat cepat, membangun rumah sakit, mengerahkan tenaga medis dalam jumlah besar, dan tentu saja anggaran negara yang besar untuk sesegera mungkin mengatasi masalah ini agar tidak menyebar dan harus dapat memastikan bahwa rakyat di negara berpenduduk 1 milyar itu bebas dari covid-19 yang mematikan itu.

Sementara itu, kabar itu dianggap sepele oleh negara lain, bahkan oleh para pemimpin agama yang “beriman”. Anggota dari satu jemaat yang berkumpul dalam satu kebaktian, kemudian meninggal dunia. Pemimpin Gereja di tempat itu harus membuat pernyataan maaf kepada dunia atas kekeliruan dan keteledoran mereka terhadap peringatan dan himbauan pemerintah.

Hal menyebarnya covid-19 terus berlangsung. Mobilitas manusia dari satu tempat ke tempat lain tidak dapat diputus begitu saja. Orang bepergian tanpa diketahui siapa membawa penyakit apa atau siapa terjangkit penyakit apa, termasuk covid-19.

Italia, Iran dan banyak negara lainnya, termasuk Indonesia dengan kota-kota kecil-besarnya hingga wilayah-wilayah kelurahan dan desa sudah terpapar virus ini walau datanya terasa masih sedikit,tetapi kewaspadaan mesti tetap ada pada masyarakat.

Italia dan Iran serta banyak negara lainnya telah “menangis” atas pemusnahan massal oleh covid-19 yang sampai dengan Marer 2020 ini belum jelas apakah sudah ada obatnya atau juga vaksinnya? Siapa yang teramat kuat sistem kekebalan tubuhnya? Setiap individu dalam satu komunitas ada yang tidak imun dan ada pula yang imun (kebal). Lalu, apakah yang imun lantas berkata, “Tubuhku kebal sehingga aku dapat berkeliaran sesuka hatiku. Ke manapun aku pergi tak ada yang dapat menghalangiku!” Apakah orang akan berkata demikian?

Tidak!

Sebagaimana yang sudah disampaikan sebagai himbauan yang bersifat  instruksi dari Presiden NKRI, Ir. Joko Widodo dan jajaran Pembantunya, yang diikuti pula oleh para pemimpin institusi-institusi keagamaan, baiklah setian individu dan komunitas dapat menahan diri. Dalam situasi yang demikian, kita perlu untuk menahan diri dari “memeluk”. Kita perlu mengikuti protokol apa yang disampaikan oleh pemerintah bila terpaksa harus mengumpulkan orang dalam jumlah besar.

Maka, adalah baik untuk menahan diri di dalam rumah. Ketika berada di dalam rumah itu, kita perlu merasa kuatir. Kuatir akan keselamatan diri sendiri, keselamatan keluarga, keselamatan komunitas. Dalam kekuatiran itu, mari kita “bergantung” kepada Tuhan. Ini sikap dan tindakan yang bijaksana. Orang bijaksana menghindari malapetaka, demikian kata Amsal.

Lantas orang akan mengatakan pada saya, “Hei, Yesus sendiri menganjurkan agar tidak kuatir! Mengapa hari ini kamu justru bertolak belakang dari apa yang Yesus katakan?”

Konteks pernyataan Yesus tentu berbeda dengan situasi kita hari ini. Bahwa benar, Yesus dapat menghapus kekuatiran kita. Ia pasti menguatkan kita. Ia pasti meneguhkan kita. Oleh karena itu kita tidak perlu kuatir.

Dalam kondisi kita saat ini dalam kekuatiran, kita justru bergantung kepada-Nya, kepada Dia yang menciptakan kita. Jika kita tidak kuatir secara massal, adakah kita yang akan berdoa setiap malam pada pukul 21.00 waktu setempat secara serentak? Kecemasan, kegalauan, dan kekuatiran telah melanda kita. Dalam situasi yang seprti itu tidak ada jalan lain, mendekat kepada Tuhan. Menghampiri kemuliaan-Nya, mendengarkan suara-Nya melalui pembacaan Firman Tuhan.

Kekuatiran tidak akan menghapus harapan, justru di sana ada harapan besar untuk maju. Maju ke pelataran-Nya. Maju ke dalam bait-Nya. Ia bertakhta di dalam diri setiap individu manakala orang yang kuatir menyerahkan diri kepada-Nya.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya. Ia akan mengambil dan menjauhkannya dan membuat dirimu bersorak-sorai.

 

Oleh: Heronimus Bani
Foto: Heronimus Bani