Kampungku di Minggu Pagi dalam Panen Perdana

Jalanan yang sepi menuju ke gereja

KORO’OTO, Sudah sejak 1980-an Jemaat Koro’oto bergereja/berbakti pada pukul 06.30 waktu setempat. Sepanjang tahun-tahun itu tidak pernah terlambat semenitpun sekalipun itu terjadi sakramen baptisan atau peneguhan-peneguhan. Bila ada pelayanan sakramen perjamuan kudus selalu dilakukan pada pukul 16.00 waktu setempat dan tidak lebih semenitpun. Lalu hal itu telah mentradisi hingga membudaya.

Berbeda dengan situasi pagi ini bahkan untuk “hari-hari tenang” yang diberlakukan antara 20 – 31 Maret 2020.

Di Koro’oto, kampung dengan kekerabatan yang dikenal luas sebagai kampungnya keluarga Bani, Ora,  dan rumpun keluarga penyangganya: Saebesi, Takain, Masneno, dan Nubatonis. Pada pagi hari Minggu, 22 Marer 2020, pukul 06.00 jalanan amat sepi. Padahal 30 menit berikutnya pelayan sudah akan berdiri di mimbar gereja untuk memulai kebaktian.

Apakah ini dampak dari berita-berita tentang covid-19 yang sedang menyebar dan menebar maut?

Ternyata tidak demikian. Dalam waktu kurang dari 20 menit kemudian di jalan-jalan menuju gedung gereja, sudah dipenuhi anggota jemaat yang akan mengikuti kebaktian. Mereka akan segera mengikuti kebaktian pagi ini. Di antara mereka ada juga yang belum mengetahui bahwa Majelis Jemaat telah mengambil suatu keputusan penting pada beberapa jam sebelum kebaktian itu berlangsung.

Kebaktian Minggu 22 Maret 2020 ini menggunakan liturgi yang telah disiapkan oleh MS GMIT, lalu MJ Pniel Tefneno’ Koro’oto memadukannya dengan program syukur panen perdana. Seluruh keluarga yang mengusahakan lahan/ladang, hari ini membawa hasil pertama dari ladangnya. Semuanya menyatakan rasa syukur dengan persembahan. Bila ladangnya belum memberi hasil yang dapat diambil, secara bijak tetap memberi tanda syukur.

Kesepian di jalan tidak menggambarkan sepinya hati. Hati tetap bersyukur. Bersyukur di tengah guncangan dunia akan serangan covid-19. Maka, Ketua Majelis Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto menyuarakan yang sama dengan apa yang disuarakan oleh MSH GMIT. Bedanya, konteks Koro’oto orang harus tetap beraktivitas ke ladang, ke kebun, memberi pakan pada ternak yang oleh karena itu harus ke luar rumah. Kontak fisik dengan orang lain terlebih pada orang yang baru tiba dari luar kampung, dari tempat yang jauh menyeberang laut, melintasi udara, sedapat-dapatnya harus dihindari.

Itulah konteks kampung Koro’oto pada “hari-hari tenang” ke depan. Dalam ketenangan itu, ibadah tidak diberhentikan. Ibadah tetap akan dilaksanakan dari rumah keluarga-keluarga. Tuntunan dari gedung gereja yang terletak cukup tinggi melalui pengeras suara akan diupayakan oleh MJ. Jika tidak ada sekalipun, keluarga-keluarga di Koro’oto sudah lasim, patuh pada suara gembalanya.

Sepinya kampung tiada mengantarkan orang ke tepian kesibukan. Di sana tetap ada kesibukan untuk menata hidup lebih baik, menata hubungan internal keluarga (suami-isteri-anak), dan menata hubungan dengan Tuhannya.

 

Oleh : Heronimus Bani
Foto: Roni Bani, Osten Bani