Bumi Menyehatkan Dirinya

Bumi Menyehatkan Dirinya

KORO’OTO. Sadarkah kita bahwasanya bumi sedang menyehatkan dirinya? Segera sesudah membaca judul ini orang sudah mengetahui akan apa yang sedang terjadi hari-hari ini.

Manusia dalam aktivitas perekonomian telah melakukan ekspansi dan eksploitasi pada berbagai sumber daya alam, baik di permukaan bumi, di perut bumi, hingga kedalaman laut dan lautan. Semua upaya dan kerja keras itu untuk mendatangkan keuntungan dan menaikkan derajat kehidupan manusia. Semakin besar ekspansi dan eksploitasi semakin besar dampak yang menyertainya.

Tulisan ini tidak mengulas panjang lebar ekspansi dan eksploitasi manusia pada bumi. Sedikit ulasan pada polusi yang kelihatannya ringan namun sesungguhnya berdampak luas. Mari kita lihat beberapa jenis polusi.

Beberapa jenis polusi yang ada di bumi yang dihasilan oleh manusia akibat ekspansi dan eksploitasi alam yaitu, polusi udara, polusi air, polusi tanah, polusi cahaya, dan polusi suara/buny/bising[1]. Menurut blog rumushitung.com penyebab polusi berupa gas H2S yang dihasilkan oleh gunung berapi, dan proses pembakaran batubara dan minyak bumi. Di samping proses pembakaran pada kendaraan bermotor yang menghasilkan H2S juga menghasilkan CO dan CO2. Semuanya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa.

Fosfat dan nitrat, dua hal yang diciptakan manusia untuk kebutuhannya, tetapi sekaligus menjadi penyebab polusi air. Plastik dan steroform dua dari banyak hal yang menjadi bahan polusi untuk tanah. Sementara penggunaan cahaya yang berlebihan di luar ruangan menjadi penyebab perubahan warna langit. Bising dan berbagai bunyi deru yang dihasilkan oleh mesin-mesin industry, kendaraan darat, laut, udara, bahkan suara yang natural seperti Guntur berlebihan. Semua hal yang disebutkan di sini menyebabkan terjadinya polusi pada bumi. Manusia pelakunya dan manusia pula yang mengalaminya. Bumi dalam durasi waktu yang Panjang akan menjadi “layu” dan tidak sehat.

Dalam rentang waktu yang panjang, layunya dan tidak sehatnya bumi, ia terus menerima perlakuan itu. Ia berdiam diri bagai budak belian tanpa hak hidup yang diperah tenaganya, sementara kepada si budak diberi remah berupa sampah untuk dinikmati.

Saat indutri-industri besar beroperasi dengan pemanfaatan mesin-mesin operasional yang menggunakan berbagai produk lainnya untuk kepentingan produksi dalam jumlah besar, mereka membangun rantai perjalanan produk. Mulai dari proses produksi, produk, pergudangan hingga retail, semuanya sibuk dan ribet dengan masalah yang menyenangkan dan sekaligus memberi dampak buruk pada bumi bila manusianya tidak sadar sampah.

Sampah sebagai material yang dibuang sebagai sisa dari hasil produksi industry maupun rumah tangga[2]. Kita tidak perlu membuat definisi sehebat apapun untuk mengetahui tentang sampah. Manusia dan makhluk lain merupakan produsen sampah. Sampah berserakan mulai dari dalam rumah, lingkungan rumah, lingkungan pemukiman, di pasar-pasar, dan jalan-jalan, dan di semua tempat dimana manusia pernah tiba di situ pasti ada sampah. Udara sebagai area luas yang tak terjangkau pun di sana ada sampahnya. Sampah udara[3].

Bila bumi ini bagai manusia, ia telah lelah memikul kesibukan manusia di atasnya. Manusia tidak beristirahat, yang oleh karenanya bumipun tidak dapat beristirahat. Dalam upaya ekspansi dan eksploitasi itu, manusia menjadwalkan jam kerja. Pekerja terbagi atas beberapa waktu kerja antara pagi hingga siang, dan siang hingga sore, sore ke malam, dan seterusnya, tanpa henti. Mesin-mesin produksi tidak berhenti. Asap, bunyi, produk sampah organic dan unorganik, dan lain-lain terus ditebar di permukaan bumi, di laut, sungai, danau, hingga udara.

Bumi Lelah. Dalam kelelahan itu, ia mengeluh sakit. Sakit. Entah apa jenis penyakit yang sedang mendera tubuh bumi. Manusia telah menciptakan penyakit itu untuk bumi dimana manusia berpijak. Lalu, bila dianalogikan bahwa jenis penyakit itu kemudian ia muntahkan, jadilah manusia yang menikmati muntahan penyakit dari bumi. Ketika manusia sakit dan bersembunyi, ia berhenti, ia beristirahat dari segala aktivitas yang menyibukkan diri tanpa henti itu. Dalam istirahat itu, bumi pun rindu turut beristirahat.

Istirahatnya bumi ini untuk menyehatkan dirinya. Polusi udara, baik dengan bunyi maupun asap mungkin sementara cukup untuk membuatnya bernafas segar. Polusi tanah, mungkin baginya ada kesempatan untuk bakteri mengurai yang dapat diurai. Polusi air, pada waktu istirahat ini, mungkin bumi mengeluarkan air jernih untuk mengusir air yang jenuh di sekitarnya oleh karena kesempatan membuang yang busuk ke air bersih sedang berkurang akibat manusia yang sedang beristirahat.

Akh…

Saya berhenti di sini. Ini hanya pikir saja dari orang kampung. Terima kasih

 

Koro’oto, 23 Maret 2020

[1] https://rumushitung.com/

[2] https://foresteract.com/

[3] https://www.idntimes.com/