Kelima Batang Lilin itu

tefneno-koroto.org
Lima Batang Lilin Dinyalakan pada Minggu Sengsara Kelima

KORO’OTO. Minggu kelima dalam masa raya Tujuh Minggu Sengsara Yesus ditandai dengan membakar lima batang lilin. Koro’oto memadukan dengan panen perdana dari hasil ladang.

Mengapa panen perdana? Kekuatiran akan curah hujan yang belum tiba telah terjawab ketika dalam kebaktian Minggu (29/12/19). Dalam kebaktian ini dipadu dengan doa dan persembahan khusus minta hujan yang mendapatkan jawaban Tuhan pada hari itu juga. Majelis Jemaat kemudian menetapkan satu program sebagai rasa syukur pada Tuhan yang menjawab doa ini, para peladang dapat menanam ladangnya. Hasil pertama dari ladang patut dibawa sebagai rasa syukur pada Tuhan.

Hari ini, Minggu (22/03/20) hal itu diwujudkan walau dalam kecemasan pada covid-19 yang sedang menebar ancaman pada kehidupan.

Lima lilin dinyalakan. Kebaktian dengan liturgi yang teramat syahdu mengalir melarutkan rasa hati yang penuh dengan ucapan syukur pada Tuhan.

Sayangnya, lima lilin ini tidak akan bertambah pada minggu berikutnya, berhubung telah disepakati agar kebaktian minggu berikutnya dilakukan di setiap rumah keluarga-keluarga anggota Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

Suatu catatan sejarah di sini, bahwa biasanya ada 7 batang lilin akan dinyalakan sampai seluruh masa raya pra paskah berakhir. Kini, Koro’oto menyalakan sampai lima batang. Entah di tempat lain melakukannya sampai batang ke berapa berhubung suara gembala MSH GMIT yang menghimbau agar mengikuti protokol pemerintah bila harus melaksanakan kebaktian, atau sebaiknya kebaktian dan ibadah kampung atau ibadah rayon berlangsung di rumah saja.

Koro’oto, kau mencatat “kesedihan” di sini. Ingatan tak akan terhapuskan pada anak-anak kami.

 

oleh: Heronimus Bani
Foto: Heronimus Bani