Mendengarkan Amsal

KORO’OTO. … apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku. Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka. Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya. Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung daripada kedahsyatan malapetaka.(Amsal 1:27-33).

Kami sedang mengikuti ibadah keluarga pada pukul 21.00 WITa. Lonceng gereja di kampung kami dibunyikan. Seluruh keluarga-keluarga di dalam Jemaat Pniel Tefneno Koro’oto berdiam diri, berteduh di bawah panji-panji Firman Tuhan. Setiap keluarga mendapatkan kebebasan memilih bagian alkitab yang berisi Firman Tuhan untuk dibacakan.

Malam ini anak kami, Feto’ mendapat giliran memilih bagian yang akan dibacakan. Ia telah memilihnya pada siang tadi, dan ketika mendapat kesempatan membaca bagian yang ditandainya, ia berhenti untuk memberi kesempatan membaca pada yang lain. Amsal 1, kami mau membaca seluruh ayat yang tertuis di sana.

Kami membaca sampai pada bagian yang saya kutip dan ketik dengan huruf miring di atas. Suatu refleksi teguran yang hebat dari TUHAN pada umat manusia bila mensejajarkan bagian itu dengan situasi terkini, paling tidak dalam kurun waktu Januari – Maret 2020 ini ketika dunia dilanda dengan virus apa yang disebutkan namanya covid-19 (corona virus disease-19).

Pilihan bacaan yang menarik. Ketika dunia pada hari-hari ini di bawah kendali satu benda yang disebut covid-19 lalu para petinggi negara baik pada institusi pemerintahan maupun institusi sosial dan keagamaan mengingatkan, menghimbau, hingga memerintahkan untuk berhenti sejenak, calling down, slow down, hingga lockdown, masih ada saja yang tidak peduli.

Ada kisah karang-mengararang yang beredar di media sosial melalui aplikasi WhatsApp tentang seorang Agus yang menganggap remeh masalah covid-19. Ia keluyuran dan terjangkit. Orang-orangnya di rumah tidak mengetahui bahwa Agus sudah terjangkit dan telah pula membawa virus itu ke dalam rumah mereka, dan mereka pun telah terjangkit. Akhirnya, satu per satu mereka harus dibawa ke rumah sakit. Rumah sakit kewalahan karena bukan hanya keluarga Agus yang terpapar, tetapi juga teman-teman Agus pun demikian. Agus akhirnya meninggal dunia. Neneknya, orang tuanya, dan teman-temannya pun mengalami nasib serupa, bahkan sebahagian paramedis yang menangani mereka yang sakit terjangkit covid-19 ini.

Kisah ini yang ditulis secara imajiner berisi pesan moral agar tidak menganggap remeh seruan pemerintah dan pemimpin agama. Penulis kisah ini pun berpesan agar pengetahuan yang dimiliki sebaiknya dipergunakan untuk kebaikan bersama. Pengetahuan dan kepakaran yang berdasarkan pada Hikmat Ilahi disalurkan secara nyata baik dalam kata, sikap dan tindakan agar benar-benar dinikmati dan dirasakan oleh sesama ciptaan Tuhan.

Bagian yang saya kutip dan sengaja ditulis dengan huruf miring (italic) itu mendeskripsikan kepada kita bahwa hikmat dan pengetahuan selalu mesti dapat meyakinkan orang sesama. Hikmat dan pengetahuan yang telah dimiliki seseorang dan berhasil dengan suatu sistematika yang validitasnya akurat patut didengarkan dan diimplementasikan secara nyata, terlebih lagi menyangkut sesuatu yang mengancam keselamatan umat manusia.

Covid-19 telah merenggut banyak orang yang dikuburkan hampir tidak secara layak sebagaimana lazimnya menguburkan jenazah. Peti-peti jenazah dan keranda jenazah seakan menggapai-gapai untuk dibaringi jenazah-jenazah yang menganggap remeh kabar yang bersumber dari hikmat dan pengetahuan yang benar, valid, akurat, dipercaya, dan dapat diandalkan.

Malam ini, melalui teks ini, Feto’ telah memilih bacaaan yang merefleksikan suatu permenungan mendalam. Kembalilah pada TUHAN sang Sumber Hikmat itu. Ia sungguh-sungguh mengingatkan bahwa siapa yang mendengarkan-Nya, ia akan tinggal dengan aman, terlindung daripada kedahsyatan malapetaka.

Terima kasih TUHAN atas nasihat dan peringatan-Mu ini. Amin

 

Koro’oto, 23 Maret 2020
Heronimus Bani