Mungkinkah ?

MUNGKINKAH … ?

Pdt. Semuel V. Nitti

Ibadah rumahtangga telah lahir menjadi ibadah minggu sebagai bentuk dukungan gereja bagi mencegah penyebaran virus corona, sekaligus sebagai tanda pentingnya perayaan iman dalam wujud ibadah yang tidak bisa diabaikan. Telah banyak kesaksian luar biasa yang kita baca tentang hal ini.

Kini sejatinya warga gereja bersiap untuk merayakan perjamuan kudus sehubungan dengan ibadah memperingati dan mensyukuri kematian Yesus bagi keselamatan manusia. Tetapi perjamuan berjemaat itu ditunda. Saya bertanya dalam hati: “Mungkinkah warga gereja merayakan perjamuan dengan cara khusus di rumah masing-masing?” Saya membayangkan bahwa setiap keluarga mempersiapkan sebuah jamuan makan malam khusus, sesuai kebiasaan makan dalam tiap keluarga, pada hari Jumat Agung, menatanya di meja makan atau pada tikar yang dibentangkan, mengatur kursi sekeliling meja atau tikar yang dibentangkan. Seisi rumah mengambil tempat duduk dan membiarkan kosong kursi pada ujung meja atau tikar, sebagai simbol pengakuan akan hadirnya Yesus pada meja atau tikar makan keluarga. Di depan kursi kosong itu diletakan sebuah piring dengan sendok, lalu di samping piring itu diletakkan alkitab dan sebuah lilin menyala sebagai simbol tetap bersandar pada firman Tuhan dan simbol pengharapan yang tidak padam dalam situasi krisis. Keluarga menyanyi bersama, membaca teks tertentu dari kitab suci, berdoa bersama, memberi persembahan, lalu makan bersama. Persembahan itu diberikan kepada badan krisis yang menangani perawatan mereka yang terpapar atau untuk ikut mendukung upaya mencegah penyebaran virus corona, atau menolong mereka yang mengalami kesulitan dan tinggal terus di rumah.

Dalam alkitab setidaknya ada dua peristiwa makan bersama Yesus yang amat mencerahkan dan meneguhkan iman. Pertama, kisah makan malam dua murid di rumah salah seorang dari mereka di Emaus, bersama TAMU tak dikenal. Betapa kegembiraan mereka meluap ganti dukacita dan cemas, ketika mereka mengenal Yesus yang memecahkan dan membagikan roti bagi mereka. Sebuah peristiwa makan malam yang tak terbayangkan dan tak terlupakan seumur hidup, karena Yesus yang bangkit itu makan bersama mereka di rumah mereka (Lukas 24:15-35). Kedua, jamuan makan pagi yang mengesankan di pantai danau Tiberias. Tujuh orang murid Yesus, disponsori oleh Petrus, telah berjerih-lelah sepanjang malam tanpa hasil. Pengalaman mereka mirip seperti kata pepatah tua: “Telah jatuh, tertimpa tangga pula,” sebab kabar kebangkitan baru samar-samar terdengar sehingga masih ada sisa-sisa frustrasi dan rasa takut akan bahaya dari para pemimpin agama, ditambah dengan usaha sia-sia sepanjang malam untuk mencari rejeki. Menjelang fajar Sang Tamu itu berdiri di pantai dan menyuruh mereka menebar jalan di sebelah kanan perahu. Mereka menebar jala mengikuti kata-kata Sang Tamu itu dan …….. astaga, betapa banyaknya ikan yang masuk dalam jala mereka. Rasa gagal semalam terobati dalam sekali tebar jala mengikuti kata-kata Sang Tamu. Dan mereka segera tahu: Itu Yesus. Mereka tiba di darat dengan hati girang karena Yesus menjumpai mereka, lebih dari karena ikan yang mereka dapat. Hebatnya lagi, Yesus telah memanggang roti dan ikan untuk menjamu mereka dengan berkata: “Marilah dan sarapanlah.” Lalu Yesus mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. (Yohanes 21:1-14). Sang Tamu itu adalah Yesus, Tuan Rumah dan Kepala Rumahtangga yang menjamu para murid dan selanjutnya meneguhkan kembali panggilan mereka. Sebuah peristiwa sarapan pagi yang ‘kan terus dikenang seumur hidup mereka.

Yakinkah kita bahwa Yesus bersedia datang menjumpai kita di rumah kita masing-masing dan menjadi Tuan yang menjamu kita di meja atau tikar makan kita ???

Salam dari Oebufu!