Pedihnya Kemenangan

KORO’OTO.- Hari Jumat ini, umat bergereja se-jagad merayakan Kematian (wafat) Yesus di salib. Membaca catatan Markus dalam Markus 15 : 1-41 (dan cerita yang sama dalam Matius, Luas dan Yohanis), pastilah berpandangan dan opini saling berbeda. Mengapa?

Kaum Kristen yang percaya Yesus mati/wafat demi menebus manusia yang berdosa.  Kata kunci yang berkali-kali dilafalkan. Kata kunci yang kemudian dapat menjadi batu pijakan buli dari kaum berbeda aliran bergereja hingga berbeda agama.

Renungkan dan imajinasikan suatu rekonstruksi situasi yang telah terlampaui pada awal tarikh masehi ketika Yesus disalibkan. Rekonstruksikan suasana kota Yerusalem dalam imajinasimu. Apa yang saudara peroleh dari rekonstruksi dalam imajinasimu ketika beribadah di rumah sendiri?

Mari kita mencoba mengkategorikan publik pada masa itu dalam paling kurang empat kategori.

Pertama, Kaum Pemegang Kendali Pemerintahan. Fokus segala kaum pada masa itu yang berlanjut dari masa ke masa yaitu pada sang Gubernur Pilatus. Semua sudah fasih dalam ingatan, di sana ada Gubernur Propinsi Yudea sebagai yang mewakili Kaisar Roma pada masa itu. Sebagai Gubernur ia bertindak dengan nuansa berpemerintahan yang sayapnya terbuka lebar. Ia dapat dengan sungguh-sungguh menggunakan kekuasaannya untuk berbagai kepentingan. Ia dapat pula menggunakan kekuasaannya untuk berpura-pura agar kepentingan terselubungnya dapat diwujudkan. Pilatus yang terkenal dan amat tersohor bahkan sampai dunia kiamat, namanya tetap terukir di dalam Kitab Suci kaum Kristen. Ia, entah akan disanjung atau dibuli; akan dihormati atau digagahi; diterima sebagai pahlawan atau pecundang, semuanya kabur dalam rentang waktu berjalan. Satu yang pasti, Yesus telah disalibkan melalui suatu keputusan Pengadilan yang absurd. Para punggawa di sekitar Pilatus diam. Tentara teramat siaga bagai pejagal binatang buas agar segera dihentikan cabikan dan robekannya. Semua situasi ini tergambar dalam suasana hiruk-pikuk kota. Demostrasi publik  tidak diperlukan dalam berjilid-jilid di depan kursi pengadilan Pilatus. Keputusan diambil secara absurd (Mrk 15:15). Itulah kekuasaan. Dapat saja ada ketegasan berbungkus kekeliruan untuk kepentingan dua pihak sekaligus (penguasa dan demonstran) dan mengorbankan kepentingan yang lebih luas (masyarakat)

Kedua, Kaum Penganut Agama. Kategori ini yang berdiri paling depan adalah para pemimpin agama Yahudi dengan segala anak-pinaknya. Di sana ada kaum Farisi, Saduki, Esene, dan beberapa aliran kecil yang tak tercatat. Para pemimpin ketiga kaum yang kelihatan inilah yang berdiri paling depan. Menggunakan istilah garda depan, merekalah yang berada di garda depan, garis paling depan yang bersuara untuk menghukum Yesus dengan cara yang paling keji. Berdiri di garda depan dapat dibaca dari dua sisi. pertama, paling nyata terlihat di depan. Secara fisik terlihat di sana sebagai yang paling bertanggung jawab atas sesuatu yang sedang diperjuangkannya. Ketangguhan dalam keberanian yang berkobar. Kedua, tidak nyata. Mereka menjadi aktor intelektual dari suatu gerakan. Mereka dapat saja menjadi pemicu gerakan. Ketika gerakan itu dimulai mereka bagai pemegang remote controle, duduk tenang memainkannya lalu permainan dimulai. Mereka akan dengan amat sangat menyenangi permainan ini, sebab bila terjadi sesuatu yang sifatnya fatal, mereka akan dengan mudah mencuci tangan.

Kaum pemimpin agama, pemuka agama, dengan sebutan apapun itu merasa telah menjadi pelaku ajaran agama secara tepat dan jitu ketika menyerukan penyaliban pada Yesus. Kaum pemuka agama zaman manapun masih dapat dinilai, mana yang benar-benar pemuka agama yang hikmat dan kebijaksanaannya berdasarkan ajaran agama yang murni dan dapat masuk dalam situasi terkini untuk memberi kesejukan pada pengikutnya. Ada pemuka agama yang nampak sangat agamawan terlihat pada tampilan, pakaiannya dan segala hal yang nampak secara kasat mata persis seperti yang tercatat dalam kitab suci. Hatinya? Benaknya? Rencananya? Kata-katanya, dapatkah memberi kesejukan pada segenap umat tanpa pandang perbedaan?

Pada kedua golonga pemuka agama seperti ini, pengikut-pengikut mereka pun masih dapat dikategorikan.

Ketiga, para murid Yesus. Mereka berada di mana pada saat itu? Apakah mereka sedang berada di antara kerumunan para demonstran, berpakaian sama dengan merreka? Apakah mereka turut memegang baliho dan diam di antara para demonstran yang menggunakan pengeras suara, “Salibkan Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Mereka mungkin sedang berpura-pura tidak mengetahui situasi itu?

Satu hal dapat dipastikan, kita tidak mengetahui secara persis situasi dan keadaan hati para murid. Remuk? Apakah mereka remuk hatinya menyaksikan gurunya digantung oleh tangan-tangan kasar algojo pembunuh dan penjegal yang selalu senang dengan tradisi itu?

Murid-murid zaman ini, manakah di antara kita yang menyebut dan memberi meterai sebagai murid yang paling dikasihi Yesus? Yesus berkata kepada Yohanis, “Inilah ibumu!”

Tidakkah Yesus sekarang sedang berkata kepada kita, “Hai murid-murid-Ku, inilah kondisi isi planet bumi. Sembuhkanlah dia!”

Keempat,  Para perempuan. Satu di antara mereka pasti ibu Yesus, Maria. Hatinya hancur menyaksikan Anaknya disalibkan. Tangisan dan ratapan yang tak akan berakhir sampai kapanpun. Hukuman yang diberikan kepada Anaknya yang sama sekali tidak didapati kesalahan apapun. Hukuman yang hanya berlaku pada para pelaku subversif, kudeta pada pemerintahan. Hukuman yang tidak pantas disuarakan oleh para pemuka agama, kaum agamawan, kaum berhati jernih yang sudah keruh. Para perempuan berdiri di sana menyaksikan kematian/wafat Yesus.

Keempat golongan ini telah menjadi saksi hidup peristiwa Jumat Bersejarah itu.

Setiap orang dapat menambah kategori orang menurut tafsirannya pada bagian catatan-catatan Markus, Matius, Lukas, Yohanis.

Yesus telah menanggung dosa manusia dengan memikulnya hingga tiba di tempat terhina. Ia membuang segala dosa itu. Ia memutihkannya. Ia membuangnya jauh, teramat jauh agar kita menjadi bersih sehingga dapat mendekat kepada Tuhan Allah yang kudus itu.

Yesus telah menang. Kemenangan itu Ia raih dengan kepedihan yang tiada taranya.

Selamat beribadah pada Jumat Agung yang Tak Biasa ini. Jumat Agung 2020.

by: Heronimus Bani

8 comments

  • Moti Marlino Ora.

    Rinciannya sangat detail, pak.

    Wajib kita terawang kembali poin demi poin sesuai rician di atas ttg Pengorbanan Yesus kala itu dan merekontruksikannya kembali pada diri kita secara pribadi. Apa peran dan yang kita lakukan jika kita hadir di sana kala itu.
    Sadar atau tidak dlm keseharian kita telah lakukan peran sesuai poin demi poin 1, 2, 3 & 4 diatas. Khusus poin 2 telah nyata dlm hidup bersosialisasi di negeri kita ini. Seringkali kita jumpai mc-mc “srigala berbulu domba”; agama bahkan nama TUHAN di politisasi demi keuntungan pribadi.
    Apa yang perlu kita lakukan? Takut dan manut lalu meninggalkan junjungan kita (Yesus Kristus)?

    Tulisan pak Roni Bani pagi ini benar-benar memotivasi saya utk merekonstruksikan kembali situasi kala pengorbanan Yesus dan merefleksikan apa yg telah dan akan saya lakukan dan alami dlm hidup ini. Yang terpenting;
    Waspadalah; berdoalah senantiasa.
    Jangan takut; Aku selalu menyertai kamu.

    Terima kasih YESUS, aku telah merdeka dari belenggu dosa.

    Selamat Jumat Agung. Kiranya TUHAN Yesus memberkati kita semua. 👏👏👏

    • terima kasih telah membaca. Semoga pembaca yang lain pun ikut terinspirasi dan lagi mau menulis di kolom ini. Setiap tulisan sebagai komentar di kolom ini memberi kans pada blog milik jemaat ini dan pengelolanya mengetahui bahwa ada yang membaca. Sekali lagi terima kasih. Berbagilah bila menginspirasi dan memberkati.

      Selamat beribadah pada Jumat Agung yang tak biasa ini. Kiranya TUHAN Yesus memberkati kita semua.

      • Alexander

        Trima kasih bp Roni tulisannya membuat kita berefleksi lagi tentang pengorbanan Yesus dan kita yang sekarang merayakannya dan tahun ini masing masing kita rayakan di rumah masing masing. Situasi bumi saat ini sungguh sedih

  • terima kasih pak Alex. Refleksi yang sederhana. Selamat hari Jumat Agung.

  • Johnny M. Banamtuan

    Makasi om Roni. Ini opini yang menarik dan cukup detail dari empat golongan orang yang menyaksikan secara langsung perjalanan Yesus sampai ke salib, serta ada juga yang merupakan golongan yang menjadi dalang kejadian tersebut.
    Ketika Saya baca, perlu juga tambah dua golongan yaitu para tentara yang mengeksekusi penyaliban Yesus dan dua penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus.
    Secara umum dua golongan ini terbagi menjadi dua sub-golongan yang mana pro terhadap keputusan pemerintah dan para pemuka agama. Sementara sub-golongan yang lain sebenarnya contra, namun apa boleh buat mereka bukan pengambil keputusan. Yang menarik hati nurani mereka masih aktif sehingga dalam keadaan itu mereka akhirnya mempercayai bahwa Yesus itu bukan manusia biasa, namun Yesus itu Anak Allah.

    Namun demikian dibalik keseluruhan kejadian tersebut, sebenarnya Allah Bapa yang mengatur skenario itu agar umat manusia, secara khusus yang percaya dapat dikembalikan pada rancangan Allah semula, seperti di Taman Eden.
    Makasi sekali lagi om Roni untuk tulisan ini yang bantu saya secara pribadi untuk berefleksi.

    • Moti Marlino Ora.

      Selamat malam pak Johnny M. Banamtuan. Selamat berefleksi makna Jumat Agung bersama keluarga.
      Super sekali respon bpk. Kalau kita mau merefleksikan diri kita secara jujur dalam kehidupan sekarang ini, bahkan mungkin lebih banyak lagi perilaku/peran yang bisa kita tambahkan dalam hal ini. Namun saya lebih menyoroti akan rencana Allah dalam pengutusan-Nya.
      “sebenarnya Allah Bapa yang mengatur skenario itu agar umat manusia, secara khusus yang percaya dapat dikembalikan pada rancangan Allah semula, seperti di Taman Eden.”
      Kita tahu malam sebelumnya Yesus sendiri memohon agar jikalau boleh semuanya berlalu. Namun ketetapan Allah tdk bisa dibatalkan. Karena Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa sejatinya betapa bejatnya kita di hadapan Allah dan demikian itulah siksaan yang seharusnya kita tanggung. Pertanyaannya; apakah kita sanggup?
      Allah menginginkan/mengasihi kita namun Allah tahu kelemahan kita sehingga Ia mengutus Anak-Nya utk menggantikan bahkan merekonstruksikan penderitaan yg sebenarnya kita sendiri yang mengalaminya di depan mata kita.

      Kini, kita telah tergantikan, dosa kita sudah lunas.
      Tinggal bagaimana masing-masing kita merespon pengorbanan Yesus, menyesali dosa dan kembali kepada Allah? Keputusan pada masing-masing pribadi.

      Selamat menjelang Paskah.
      TUHAN Yesus sayang kitong samua.
      Salam Damai Sejahtera. 👏👏👏

      • Mantap. Diskusi menarik untuk hari ini. Kita yang berdiskusi ini awam teologi. Kita ada di tataran praksis belaka. Kita memberi makna pada hidup ini, khusus pada Jumat Agung ini. Bila terus berefleksi demikian, betapa keindahan hidup ini di dalam Tuhan Yesus sang Junjungan itu. Mari terus berefleksi saban hari, bukan karena satu hari istimewa ini. Biarlah hari-hari istimewa dalam dunia keagamaan kita menjadi lebih istimewa. Bila beranalogi, bila pada hari biasa kita nyalakan lampu teplok berminyak, maka pada hari istimewa ini kita nyalakan lampu petromaks yang dipompakan ke dalamnya gas/angin, nyalanya lebih terang daripada lampu teplok.
        Bila biasanya kita nyalakan lampu bohlam 5 watt, hari ini 100 watt.
        Mungkin sesudahnya akan kembali lagi ke 5 watt. Itu suatu kebiasaan manusia.
        Yesus tidaklah demikian. Ia bukan lampu petromaks atau bolham 100 watt. DIA-lah TERANG DUNIA. Ia terus bercahaya dalam kegelapan dunia hatimu. Shalom

  • Terima kasih pak Johnny M. Banamtuan yang telah membaca dan memberi komentar dengan uraian tambahan pada apa yang tertulis. Bagi saya uraian tambahan ini memperkaya tulisan ini. Menarik. Saya tempatkan para tentara di bawah kendali Pemerintahan Gubernur Pontius Pilatus, sehingga saya tidak menempatkan mereka pada posisi sebagai terkategori. Sedangkan dua tersalib yang bersama Yesus saya tidak sebutkan berhubung mereka menerima eksekusi yang sama,dan memang tidak sempat pula untuk dibahas. Kiranya pada artikel lain akan membangun diskusi lebih menarik. Jumat Agung 2020 yang tidak biasa. Uisneno nneek ma namnau ko, tua. Tuhan sayang. Shalom