Anjing

Anjing
Petang tanpa ide dan inspirasi untuk menulis sesuatu. Tantangan pada diri sendiri yang kubuat untuk menulis apapun setiap senja tiba kutumbukkan di ruang hampa. Lalu aku tiba di dapur sepulangnya dari menengok si pig di kandangnya. Aku bertemu dengan anak anjing yang … akh…
Aku bermain sebentar dengannya. Kujentikkan jari-jariku beberapa kali yang menghasilkan bunyian. Ia berlari dan bersembunyi. Kubiarkan beberapa saat. Aku tidak menggubrisnya. Beberapa saat kemudian ia muncul lagi. Aku bawa ke dalam gendonganku. Segera kujepret dengan aplikasi kamera yang tidak bagus dari android cebol ini.
Aku unnggah ke medsos. Eh…ternyata menggoda juga rupanya. Seseorang yang selama ini tidak pernah menggubris kiriman-kirimanku, tiba-tiba muncul. Katanya bosan di rumah saja, jadi baik sekali bila berteman dengan anjing. Kukabarkan padanya bahwa anjingku hanya seekor. Ha ha…Padahal ada dua. Kuatirnya kalau dia minta anak dan isteriku kecewa, karena tidak biasanya aku kecewakan orang ketika ada anak anjing di rumah. Pasti kuberi. Sebaiknya mereka kuberitahukan terlebih dahulu. Mungkin mereka setuju. Tapi, kali ini anak anjing yang ada memang sangat terbatas. Jadi kupastikan mereka tidak akan mengizinkan. Muka cemberut dan sewot akan mereka pertontonkan. Lebih kuatir kalau membelakangi. Ha ha…
Aku teringat bila orang kecewa, di antara kata-kata yang sering terucap salah satunya, anjing. Kata itu disematkan pada manusia. Misalnya, “Anjing, ni!” Nah, itu gaya bicara yang khas Melayu Kupang. Sasaran kalimat pendek itu akan sangat tertekan dan emosional. Lalu, akan terjadi sesuatu yang buruk. Pertengkaran, perkelahian, dan lain-lain yang sifatnya ribut dan tidak nyaman. Situasi itu terlihat amat jelas pada para anjing bila saling merampas satu objek. Biasanya gambaran objeknya, tulang. Mereka “bertengkar”, saling cakar, gigit, hingga berdarah-darah. Itulah karakter anjing.
Aku tidak menyukai hal itu terjadi padaku di rumah. ha ha..
Walau demikian, aku juga ingat bahwa anjing yang mendapat pelatihan akan menjadi anjing penolong. Lihatlah anjing polisi, Mereka membantu para anggota kepolisian untuk mengendus tindak pidana. Dan, banyak kisah pada kebaikan anjing. Contoh pada lima atau enam ekor anjing yang pernah menggegerkan jagad informasi dan cerita.
Medi dan Lily yang satu paket. Keduanya berhati manusia. Satunya buta sehingga tidak mengetahui jalan yang akan dilalui selalu. Sementara yang satu bermata baik, dialah yang menjadi teman seperjalanan. Persahabatan hingga akhir hayat.
Jake, yang dijadikan maskot pemadam kebakaran. Ceritanya berawal dari kebakaran di satu lokasi. Anjing kecil ini diselamatkan petugas. Lalu dijadikan peliharaannya. Kemudian anjing ini dilatih untuk membantu tugasnya.
Hachiko anjing yang setia menunggu di stasiun kereta api, dan Captain, anjing yang tidur di makam pemiliknya selama 6 tahun, dan Jack bertelinga satu atas alasan kanker, maka telinganya harus diamputase.
Aku melirik-lirik sebentar mencari buku untuk membaca agar mengusir kegelisahan, karena bantuan untuk adikku pada skripsinya yang macet. Mataku tertumbuk pada buku Homo Deus, milik Yuval Noah Harari. Buku yang sudah kubaca itu. Luar biasa isinya. Sayangnya buku itu pun kupinjam jadi harus kembali kepada pemiliknya. Tapi, terima kasih telah meminjamkannya, dan akupun memindahkan amat kecil informasi dari dalamnya. Paling tidak aku punya pengetahuan tentang spesis manusia pada zaman-zamannya.
Tanpa ide dan inspirasi. Aku sudah menulis pada senja ini. Kaumku pasti kecewa membaca. Harap tidak mengucapkan, “Anjing!” padaku.
Koro’oto, 23 April 2020
By: Heronimus Bani