Di manakah Dia Kala Kucari Damai?

Apakah seseorang sedang dan telah membaca nuansa benak? Kidung pujian Kala Kucari Damai telah aku dengarkan pagi ini. Kidung ini dikompous oleh Mawar Simorangkir, aransemen, Dharana Moniaga dan dikumandangkan dalam alunan suara bernada indah yang menegakkan kuduk oleh Jeffey Simorangkir. Tuhan yang duduk di atas puji-pujian sungguh luar biasa. Kidung pujian ini biasanya didengarkan bahkan sudah hafal dalam lafal dan dapat pula dinyanyikan. Tapi, beda pagi ini!   ??

Kidung pujian ini sungguh mengantar rasa pada suasana dan situasi yang sedang terjadi pada sebulan lebih ini. Memasuki bulan kedua, siapakah di antara kita yang betah tak butuh keleluasaan di luar? Ada sejumlah opini bahwa keleluasaan di luar rumah selama ini sudah cukup menjadikan kita melanglang buana tanpa memperhatikan sedetail mungkin apa isi rumah kita. Rupanya mereka yang memberikan opini seperti itu menjadikan rumah sebagai terminal singgahan. Di sana mereka menurunkan tensi psikologis yang dibawa dari luar sana, lalu menaikkan tensi psikologis baru sebagai penumpang motivasi ke dunia luar.

Lalu, kini setelah terus berada di rumah bagai induk ayam sedang mengerami telur-telurnya, dapatkah “telur” yang dierami setiap orang saat ini akan menetas?

Aku di sini, dan anda di situ. Kami di sini, kamu di situ dan di sana. Aku sedang menghangatkan isi rumahku, entah akan gosong karena akan naik tensi pemanasan atau sebaliknya dingin hingga beku?

Anda di situ mungkin sedang menghangatkan seisi rumah pula, dan entah akan gosong pula, atau sebaliknya sedang menuju ke pembekuan seisi rumah karena semakin dingin komunikasi yang rutin; tidur-bangun-ke kamar kecil-dapur-ruang tengah-makan-bersih-bersih diri-; dan lain-lain yang tetap di dalam rumah.

Bersama Dia hatiku damai walau dalam lembah kekelaman. Bersama Dia hatiku tenang, walau hidup penuh tantangan. Tak satupun dapat menghiburku, tak seorangpun dapat menolongku. Hanya Yesus jawaban hidupku.

 

By: Heronimus Bani

2 comments