Jenuh tapi belum Jauh baiknya Jujur

Majelis Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditegaskan oleh pemerintah, dan Suara Gembala MSH GMIT. Setiap Sabtu malam sebelum covid-19 selalu ada ibadah Sabtu sekaligus koordinasi mingguan untuk tugas-tugas pada hari Minggu.

Dalam masa pandemic covid-19 ini, ibadah Sabtu dialihkan dari pukul 18.30 WITa (jam 06.30 malam) ke pukul 09.00 WITa; dengan mengambil tempat di Gedung Gereja. Pertimbangannya agar ruang utama itula yang sangat memungkinkan para anggota MJ duduk berjauhan, bahkan berjarak sampai setiap dua bangku dari depan ke belakang.

Kondisi seperti itu telah berlangsung selama pandemic covid-19. Mengapa harus dilakukan? Karena masyarakat/jemaat pendesaan khususnya mereka yang tidak mengetahui sama sekali tentang perkembangan apapun melalui media maistream atau media sosial, perlu mendapatkan sesuatu informasi yang pasti, langsung dari mulut pemimpinnya. Itulah sebabnya ada kepentingan untuk beribadah dan berbicara pada Sabtu jam 09.00 itu.

Hasilnya akan disampaikan dari rumah ke rumah oleh anggota MJ agar dapat menguatkan anggota jemaat di setiap rayon pelayanan.

Hari ini beberapa opsi ditawarkan; salah satu opsi yang disepakati adalah; dua orang pendeta berkunjung ke rumah-rumah anggota jemaat dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Setiap harinya hanya boleh mengunjungi dua rumah anggota jemaat. Di sana pendeta menjalankan fungsinya sebagai gembala.

Pemerintah desa telah menghimbau masyarakat untuk menempatkan tempat cuci tangan di setiap rumah anggota masyarakat. Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa orang boleh bertamu ke rumah tetangga, dengan tetap waspada. Maka, mencuci tangan menggunakan sabun dari air yang mengalir sudah dilakukan oleh masyarakat. Gembala umat dapat berkunjung ke rumah anggota jemaat dengan menggunakan masker, membawa handsanitizer, tisu pada dirinya sendiri. Sementara anggota jemaat telah menyediakan air bersih dan sabun untuk mencuci tangan. Ini suatu langkah baik untuk pelayanan kepada jemaat dapat dilaksanakan.

Sebelum anggota jemaat makin jenuh dan menjurus kepada menjauhi persekutuan oleh karena jatuh ke dalam kebiasaan “menyendiri” di rumah dalam ibadah, baiklah pendeta berkunjung untuk menggembalakan mereka dengan pendekatan pastoral yang tepat.

Sudah jenuh di rumah saja. Jenuh tapi belum jauh dari Tuhan. Ada kerinduan yang dibingkai erat di dada; darah; dan jantung anggota jemaat. Kerinduan itu belum membobol dinding bingkai itu. Sebelum ia akhirnya beku memadat hingga dapat memborbardir bingkai, baiklah ada isian roh motivasi yang menghidupkan dari pendeta.

 

By: Heronimus Bani