Aduh Belajar dari Rumah

Aduh Belajar dari Rumah

Sejak Maret 2020 ketika Pemerintah Pusat menetapkan untuk siswa-siswa di Indonesia belajar dari rumah, aku juga mengalaminya. Aku dan teman-temanku harus berpisah karena masing-masing harus di rumah saja. Belajar dari rumah saja menjadi keputusan pemerintah, tapi kami sebagai siswa merasa sangat berbeda. Kami para siswa harus berkomunikasi dengan para guru melalui aplikasi.

Penyebab utamanya sudah diketahui semua orang. Keputusan badan Kesehatan dunia yang menetapkan bahwa covid-19 dari endemic menjadi pandemic. Itulah sebabnya semua resah dimana-mana. Virus korona sungguh-sungguh mengurung kami para siswa. Memang kami dapat berkomunikasi melalui aplikasi yang kami ketahui, tetapi kami rindu bertemu baik sesama teman maupun dengan guru.

 

Ketika belajar dari rumah ada padaku keseulitan. Bila tatap muka kami dapat bertanya secara langsung dan dapat melihat wajah atau mimic guru yang memberi penjelasan dengan suara yang lancar dan sering memberi pujian atau sebaliknya. Kami dapat berdiskusi dengan sesama teman dan dapat pula saling memberi pujian dan sebaliknya juga. Tapi Ketika kami harus belajr dari rumah, hal ini dilakukan dengan aplikasi, walau ada video seperti tele konferensi tapi tentu butuh biaya tambahan.

 

Itu pua yang menjadi beban pada kami sebagai anak pada orang tua. Kami harus minta uang tambahan pada orang tua agar membeli paket pulsa. Jika kami sebagai pengguna aplikasi di henfon android tidak mempunyai paket pulsa, betapa itu suatu beban, antara belajar dan meminta uang paa orang tua.

Sekalipun demikian, sejauh ini orang tuaku di kampung, yaitu di desa Nekmese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang tetap mendorong untuk terus belajar dari rumah dengan uang kiriman yang kiranya dicukup-cukupkan agar kami dapat berkomunikasi baik dengan teman, guru, maupun orang tua.

 

Aku sendiri sungguh berharap agar pandemic covid-19 ini segera berlalu dan kami atau semua orang dapat Kembali dalam kehidupan yang normal dan rutinitas yang wajar.

 

 

By: Fini’honis Taopan
Editor: Heronimus Bani

One comment