Misteri Kematian

Misteri Kematian

[(seuntai refleksi atas kematian secara mendadak (seorang sahabat)]

Heronimus Bani

Pengantar

 “Takuju sa, su bagitu!”

Frase dalam Bahasa Melayu Kupang seperti ini hendak menggambarkan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan lagi (unlogic) khususnya tentang kematian yang terjadi secara tiba-tiba. Dalam pengetahuan umum, kematian pasti datang pada waktunya, cepat atau lambat’ dalam kondisi sakit, usia senja, kecelakaan atau sesuatu terjadi sehingga menyebabkan hal itu terjadi. Tetapi, sekali lagi, selalu tidak dapat dijelaskan mengapa seseorang meninggal secara tiba-tiba. Orang pun berkesimpulan secara singkat sebagaimana kata orang Kupang, “Itu su dia pung waktu” atau “Tuhan pung kehendak.”

Pernyataan-pernyataan semacam itu sesungguhnya menggambarkan kebuntuan alam pikir manusia. Sebab, pada akhirnya orang berkata seperti pada pernyataan pertama atau kedua di atas, karena mereka orang beragama atau mungin juga ateis?

Kematian (Datang) Menjemput secara Misterius

Banyak kitab dan literatur yang membahas kematian dari sudut pandang dan latar Pendidikan dan pengalman penulisnya. Athanasius (dalam Lindwood Urban, 1955) mempersoalkan keberadaan kosmos dan isinya, dimana manusia menjadi pemain yang mewarnai kosmos ini. Menurut Athanasius, rasanya Pencipta (Khalik) tidak ada pada yang diciptakannya, khususnya pada lama hidup manusia; ada yang berumur berabad-abad, bahkan hampir mencapai satu millennium (Kej.5). Masa seperti itu sudah tidak berlaku lagi. Pemberlakuan lama hidup manusia hanya di bawah tujuh puluh tahun, bilalebih daripada itu, maka disebut bonus.

Bonus pertambahan umur kehidupan manisia, sudah selalu menjadi ayat hafalan para rohaniawan dalam refleksi mereka, untuk menghibur dan menguatkan orang-orang yang mengalami peristiwa keduaan. Padahal, kematian seseorang yang teramat dekat, teramat dicintai, teramat dikasihi akan sangat menggores hingga melukai bathin. Dapatka penghiburan dan penguatan seperti itu segera mengobatinya?

Pada kepercayaan manapun ada keyakinan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Penganut agama suku percaya akan hal itu. Atoin’ Meto’ misalnya, pada masa lalu percaya bahwa seseorang meninggal, rohnya pergi menetap di balik batu dan pohon (Nuban Timo, 2005). Ada istilah asaenenot pada orang Amarasi. Istilah itu disematkan pada mereka yang meninggal dalam status sebagai kaum ningrat, atau terpelajar yang “naik status” dalam masyarakat. Maknanya adalah, roh orang yang meninggal itu sedang naik ke langit, ke tempat yang tinggi, yang tak terhampiri, yang hanya diperuntukkan kepada mereka terklarifikasi sebagai manusia terhormat dan bermartabat. Pada sisi ini ada keyakinan bahwa orang yang meninggal sesungguhnya tidak mati. Dia meninggalkan orang yang dikasihi, pergi ke tempat lain dan kelak mereka yang ditinggal akan pergi untuk tiba di tempat yang sama.

Pada etnis Sabu, orang yang meninggal akan Kembali kea lam kehidpan semula dengan berperahu. Maka, setiap orang yang meninggal di luar pulau Sabu, akan diupacarakan di tempat dimana ia meninggal, tetapi pada waktu lain mereka harus Kembali ke tanah Hawu untuk melakukan upacara Ruke’tu.

Pada etnis Sumba, mereka menempatkan jenazah di tempat yang amat terhormat, terlebih mereka yang berasal dari kaum bangsawan. Mereka akan menunggu masa yang tepat untuk upacara penguburan yang memakan waktu dan biaya. Sekalipun begitu, mereka tidak akan meninggalkan system itu demi menjaga marwah ke-Sumba-an.

Begitu pula seperti pada etnis Toraja yan gamat terkenal dengan upacara yang menggambarkan penghormatan luar biaa terhadap jenazah orang yang mereka cintai. Bahkan dikabarkan pada masa lalu mereka dapat memindahkan kerangka jenazah ke tempat lain dengan mengucapkan mantera tertentu, kerangka itu bangun, berjalan mengikuti kemauan pawing lalu tiba di tempat yang dimaksudkan. Di sanalah ia akan tidur lagi.

Kaum dan penganut Kristen sungguh-sungguh percaya dan beriman bahwa ketika seseorang meninggal(kan) dunia, pasti ada kehidpan abadi bersama Penciptanya. Hampir dapat dipastikan semua orang yang membaca kitab Yohanis akan menghafal Yohanis 3:16, khususnya frase … hidup yang kekal. Frase itu memberikan penghiburan dan penguatan.

Ketika peristiwa kematian tiba, warna dan suasana di sekitarnya adalah kesedihan yang mendalam, ratap-tangis tak mungkin terhindarkan. Contoh dapat kita lihat bersama (menurut Alkitab) dalam Kitab Kejadian 50. Kutipan berikut dalam Bahasa Melayu Kupang.

(ayat1) Ais Yusuf palo ame dia pung papa, ju dia manangis makarereu’. Tarus dia ciom dia pung papa ulang-ulang. (ayat 3) … Ju orang Masir dong samua iko manangis Yakop pung mati. Dong bekin bagitu sampe tuju pulu hari, sama ke dong pung orang besar yang mati.

Teramat banyaknya contoh tentang ratapan terhadap orang yang meninggal dunia baik yang tercatat di dalam kitab suci (Alkitab) maupun di sekitar ziarah kehidupan manusia. Hal ini terjadi sebagai Tindakan yang menempatkan manusia sebagai yag terhormat, makhluk kelas wahid dan utama. Ia punya nilai (value) teramat tinggi pada konteksna bila ia masih hidup. Tangisan dan ratapan tak terelakkan mengingat nilai itu.

Hakim-hakim 11:29-40 mencatat kisah dimana Yefta bernazar kepada TUHAN dan ia tidak dapat mundur menarik Kembali yang diucapkannya. Ia dengan hati yang hancur harus merelakan anak gadisnya yang semata wayang. Tidak ada padanya saudara laki-laki, kakak atau adiknya. Ia harus secara sukarela sedihnya menerima kenyataan atas nazar ayahnya, mati dengan cara dibakar. Bahwa pembakaran itu dilakukan sebagai persembahan bakaran kepada TUHAN, ya, diterimanya oleh sang anak, tetapi betapa hancurnya hati seorang ayah yang perkasa di medan perang.

Apa yang dapat orang katakana tentang kematian Saul,raja pertama Isra’el (1 Sem.31:1-13) yang mati dengan cara tidak terhormat, walaupun mungkin orang Jepang setuju karena ia telah melakukan hara-kiri. BAgaimana pula opini orang ketika Daud meratapi Saul. Semua orang mengetahui siapa Daud, panglima dan raja baru yang telah diurapi Samuel (2 Sem.1:17-27). Mari terus belajar dari sejumlah besar peristiwa kematian yang melukai dan menghancurkan, yang tercatat dalam kitab suci.

Markus 5:38, saya kutipkan dalam teks Bahasa Melayu Kupang. Waktu dong sampe di Yairus pung ruma, dong lia orang banya dong batasibu, dengar dong ada manangis makarereu’… Dalam teks Bahasa Indonesia demikian bunyinya, Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Na orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Peristiwa ini terjadi di depan mata Yesus. Yesus tidak dapat mengelak ketika melihat fakta bahwa memang manusia yang sudah tidak bernafas pasti ditangisi dan diratapi.

Yesus segera mengambil sikap terhadap situasi seperti itu. Ia, menurut catatan Markus 5:39-41, bertanya pada para pelayat tentang peristiwa itu. Setelah mendengar jawaban, Yesus membuat pernyataan bahwa anak itu tidak mati tetapi tidur. Para pelayat berubah sikap dari menangis menjadi menertawakan pernyataan Yesus. Selanjutnya Yesus meminta mereka keluar dari ruang dimana jenazah anak itu dibaringkan. Yesus memegang tangan anak itu dan berkata, “Talita kum, hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Dalam teks Bahasa Melayu Kupang singkat saja, “Nona, bangun suda!”

Dalam teks lain yang menggambarkan peristiwa kematian Yohanis Pembaptis. Pembaca saya ajak untuk sejenak membayangkan bahwa anda hadir pada peristiwa itu […]. Apa komentar yang akan keluar dari bibir secara seketika, ketika gadis penari meminta kepala Yohanis Pembaptis saat itu juga? (Mrk.6:23-29). Saya membayangkan, komentar orang Kupang yang kira-kira hadir pada saat itu adalah, “Beta ilang kira. Bayangkan sa, orang ada sehat-sehat di dalam bui, orang pi ko potong ame dia pung kapala ko taro di dulang, ais bawa pi ko raja lia. Wee, beta pasti bangun lari. Lia dara su gamatar apala lia dia pung kapala deng mata matlolo’ kaluar!” Ini baru sepenggal, entah apa lagi komentar lain sehubungan dengan kematian yang seperti itu.

Kematian telah menjemput Yohanis Pembaptis. Murid-muridnya datang mengambil jenazahnya lalu menguburkannya. Herodes tidak dapat mengelak dari keputusan yang telah dibuatnya. Ia tidak dapat menarik kembali kata-katanya. Ia harus melaksanakan keputusan itu demi harga dirinya, demi hadiah yang telah dijanjikannya. Kematian seorang Yohanis Pembaptis dan kepalanya sebagai hadian atas aksi artistic menarik hati, dan pasti membuat para penonton berdecak kagum oleh karena seorang gadis belia telah begitu indahnya menari, tetapi pada simpul berikutnya ia tidak sempat menyelami akan kebusukan rencana orang tuanya, karena memang ia dijadikan jembatan penyeberangan untuk menghabisi pagar moral, etika dan nilai, terutama dos yang dikumandangkan oleh Yohanis Pembaptis. Nafsu Herodias telah menutup mata bathinnya.

Yohanis Pembaptis telah mati (meninggal dunia). Sebelumnya, ia sendiri pasti tidak pernah membayangkan bahwa kematian menjemput dengan cara seperti itu. Ia berada dalam penjara. Mungkin membayangkan kalau akan dipenjarakan selama-lamanya, sehingga kematian baginya akan terjadi pada suatu waktu nanti. Mungkin ia akan ditemani belatung ketika sakit mendera tubuhnya yang makin renta hidup di dalam penjara. Mungkin ia terlunta tak dihiraukan lagi oleh opsir dan petugas lainnya menjelang ajalnya karena jijik melihat mukanya yang tidak bercukur, dengan rambut gimbal tak terurus, disertai bau menyengat lubang hidung di dalam penjara. Ternyata kemungkinan-kemungkinan itu berbeda. Tangan algojo pemenggal telah mengambil kepalanya sedini mungkin daripada kemungkinan yang berkelebat di pikirannya. Ia tidak pernah memberi peluang pada pikirannya untuk tiba pada titik dimana kepalanya akan ditempatkan pada satu unit baki atau dulang agar dapat memenuhi keinginan seorang penari yang sesungguhnya hanya akal bulus dan busuk dari seorang perempuan sundal.

Para dictator pada zaman modern (Alejandro, 2007) mungkin tidak pernah membayangkan bahwa mereka pun akhirnya mati dengan cara yang saatu sama lainnya serupa tapi tak sama. Beberapa di antaranya seperti: Tzu-His, selir yang menjadi Kaisar Chin menggantikan suaminya yang meninggal dunia. Ia diduga membunuh anaknya sendiri karena ia tidak sudi menyerahkan  kekuasaan yang menjadi hak anaknya. Ia memerintahkan untuk membunuh Kuang-hsu yang masih balita sebagai tindakan pencegahan agar kelak tampuk kekuasaan tetap berada di tangannya. Sehari sebelum ia meninggal, Kuang-shu mati dibunuh atas perintah sang Kaisarina ini (1908). Maka tampuk pemerintahan pun vacuum.

Vladimir Ilyich Lenin, dictator Rusia mati di ujung bedil seorang perempuan revolusioner pada 30 Agustus 1918. Hitler dan Eva Braun sang kekasih, keduanya mati dengan cara membunuh diri sendiri. Jenazah pasangan ini dibakar (1945). Nicolecea Ceasescu mati di depan regu tembak (1989). Pol Pot, dictator Kamboja meninggal pada umur 70 tahun karena serangan jantung (1998). Saddam Hussein mungkin sudah membayangkan bahwa kelak ia akan mati karena suatu keputusan pengadilan. Maka, ketika negaranya “diinvasi” Amerika Serikat, ia memilih bersembunyi di bunkernya. Ia berhasil ditangkap, dan akhirnya atas keputusan Mahkamah Agung Irak, ia menerima eksekusi hukuman gantung 30 Desember 2006. Dua pembantunya pun ikut mengalami hal yang sama pada 15 Januari 2007.

Kematian menjemput orang bijak, beradaab hingga biadab. Filsuf Plato dan Aristoteles yang dibanggakan sampai hari ini dan buah pikir keduanya (dan para muridnya) selalu dirujuk dalam tulisan-tulisan. Kematian menjemput mereka sebelum Tarikh masehi. Orang di sisi kiri dan kanan Yesus ketika bersama-sama disalibkan, akhirnya mati. Yang seorang menyadari kepantasan dan kelayakannya mati atas alasan perbuatan jahatnya. Seorang di sebelahnya justru mengolok Yesus (Mat.27:38-44). Ia seakan sedang bergurau dengan kematian? Ataukah sesungguhnya ia sedang benar-benar merindukan untuk berjumpa dengan Yesus jauh sebelumnya agar dapat bercanda agar dapat menertawakan pernyataan-pernyataan Yesus dalam pengajaran-Nya?  Orang kedua di sisi kiri Yesus mungkin layak mendapatkan komentar pada zaman ini di dinding pengguna medsos, “Itu laki-laki memang sial. Ko memang bodo, na!”

Kematian menjemput konglomerat dan kaum melarat. Kematian menjemput orang bermartabat yang selalu berada di barisan depan dalam menerima pelayanan dan penghormatan. Kematian menjemput kaum hina-dina, miskin-papa termarginalkan dalam pelayanan. Kamtian menjemput pejabat terkemuka dan dapat saja pada saat yang sama menjemput penjahat berkelas yang tampilannya necis dijuluki berdarah dingin, namun sadis nan kejam dan keji. Kematian menjemput nabi yang bernubuat, tapi juga dukun yang berlagak nabi/pelihat. Kematian menjemput hamba Tuhan dan pada saat yang sama mengambil budak setan. Kematian menyapa rasul penulis risalah dan pembaca manis Budiman. Kematian tidak menggunakan pola tebang pilih, sebagaimana perambah hutan memilih kayu dari pohon terbaik. Pola tebang pilih dipakai secara terbalik oleh mereka yang suka menghajar yang tidak disukai dan merangkul yang manut dan penurut mudah diatur atau yang dapat memberikan keuntungan atas kepentingannya. Kematian tidak peduli pada kepentingan apapun. Ia tidak menunggang pada kendaraan politik tertentu untuk mencapai tujuannya. Ia tidak butuh organisasi massa dan sosial atau Lembaga Pendidikan untuk diajari bagaimana dan dengan pendekatan apa plus teori agar seseorang atau sekelompok orang hingga etnis dan bangsa itu harus mati. Ia mengetahui secara pasti dan mempunyai pertimbangan dan pengambilan keputusan sendiri untuk menjemput manusia dalam dimensi keberadaannya. Kematian mempunyai satu kepentingan yang tidak dapat dibantah, dikiritisi, atau secara lembut memberikan dan pendapat agar ia mempertimbangkan secara bijaksana. Kepentingan dari kematian satu saja, memutus rantai kehidupan manusia (dan makhluk hidup lainnya) dari tubuhnya yang fana. Selesai.

Desmon (2007) menulis, Bloody Mary menghukum mati lebih dari 300 orang pemuka agama Protestan antara tahun 1553-1558. Pamungkas (2014) mencatat ulang dalam Kamus Sejarah Lengkap, Holocaust yang merupakan Tindakan menghilangkan nyawa kaum Yahudi oleh Nazi Jerman. Joseph Ingnace Guillotine menciptakan alat yang menggunakan namanya sendiri (1789). Alat ini dipakai untuk menggunting putus leher orang yang dihukum mati.

Perang, dengan nama apapun seperti Perang Salib, Perang Dunia I, II dan lain-lain perang, telah mengakhiri hidup jutaan manusia. Bencana alam, kecelakaan lalulintas darat, laut, udara menjadi biang berkurangnya jumlah populasi manusia di planet bumi ini. Bunuh diri, dibunuh, dikerat-dikuras sebelum lahir, disuntik secara sadar karena alasan medis untuk mengakhiri hidup seseorang. Kursi dengan setrum tegangan tinggi mengakhiri hidup seseorang pesakitan. Semua tindakan itu telah mengantar seseorang atau kelompok orang tiba pada titik kematian itu yang jauh sebelumnya ia atau mereka tidak pikirkan.

Satu kebanggaan dan kehormatan yang teramat sangat pada seorang muda bernama Alexander III. Namanya masyhur sebagai Alexander the Great, Alexander Agung. Ia menjadi penguasa pada masanya. Memperluas wilayah Makedonia dengan tangan teracung, pasukannya seakan tidak pernah tidur, padahal mereka telah mengalami apa yang disebutkan sebagai combat fatigue, lelah bertempur (Pamungkas, 2014). Ia begitu luar biasanya dalam perluasan wilayah, pembangunan dan pengembangannya. Namanya dimeteraikan pada kota Alexandria di Mesir. Tapi, apakah ia sudah menduga sebelumnya bahwa ia akan mati ketika mencapai kejayaan. Ia tidak dapat mengelak dari kematian ketika dalam perjalanan pulang ke Yunani.

Masih banyak lagi misteri kematian yang menjemput manusia dalam kondisi dan hakekatnya.

Ada pula yang mati secara misterius dan jenazahnya pun tidak diketahui keberadaannya sehingga tetap menjadi teka-teki. Katanya penembak misterius, (petrus) yang melakukan perbuatan itu terhadap orang-orang yang tidak disenangi penguasa orde baru. Misteri itu pula yang terjadi pada kematian Wiji Tukul. Misteri yang mirip pada kematian Munir yang jenazahnya dapat disemayamkan tetapi tetap menjadi perdebatan dari berbagai aspek yang tidak diketahui siapa dan apa yang akan dapat menghentikannya. Misteri seperti itu akan terus mewarnai lembaran hitam sejarah bangsa (dan bangsa-bangsa).

Setiap orang yang mengalami sakit tubuh/badan pasti diusahakan agar menyembuhkannya sehingga ada nilai pada kehidupan. Sakit seberat apapun sesulit apapun perawatannya, bahkan semahal-mahalnya pun orang mau mengusahakannya agar terjadi proses penyembuhan sehingga terhindar dari kematian. Ini bentuk-bentuk nyata dari usaha manusia untuk mempertahankan kehidupan, dan menghindari kematian walau sifatnya sementara, karena penjemputan oleh roh kematian akan tiba pada titik waktu itu.

Setiap orang padanya selalu ingin tetap hidup untuk berkarya, berguna dan bernilai bagi sesamanya, paling tidak bagi keluarganya. Dalam iman Kriten, orang hidup melakukan kehendak Tuhan, menyaksikan dan memberitakan kasih dan kemurahan Tuhan, agar nama-Nya dimuliakan.

Ketika kematian tiba secara mendadak, anggota keluarga, sanak dan sahabat, kenalan, rekan kerja, atau apapun Namanya yang berhubungan dengan pertautan manusia, semuanya berduyun-duyun datang dengan versi yang mirip. Melayat, menyatakan turut berdukacita, berbela sungkawa. Varian tugas dan hal dapat dilakukan dalam suasana kematian yang mendukakan. Hal yang sama tercermin dalam bacaan Injil Markus yang sudah saya sebutkan tadi. Artinya, ketika suatu peristiwa kematian tiba, orang sekitarnya tidak mungkin berpangku tangan, berdiam diri menyaksikan hal itu. Nurani pasti terusik melihat kenyataan bahwa seseorang telah meninggal dunia, meninggalkan orang-orang terkasih, termasuk mereka yang mengenal dan dikenal, mengetahui dan diketahui.

Pada masa ini, umat manusia sepangkuan pada planet ini sedang berada dalam masa sulit. Angka kematian terus bertambah, seiring dengan itu usaha untuk menekan bertambahnya pasien covid-19 terus digiatkan. Pemerintah negara manapun serius menangani pandemic covid-19 ini, termasuk pemimpin negara yang semula meremehkan informasi tentang penyebaran virus korona ini. Manusia mati dengan bangkainya yang seakan tidak ada kehormatan padanya. Pejabat mati tanpa upacara kenegaraan sesuai protap. Si miskin mati ditangisi dari kejauhan. Antara pejabat yang kaya lagi terhormat, dan si miskin yang hina-dina ketika mati dalam “serbuan” korona, keduanya dikuburkan dengan satu prosedur. Tidak berbeda. Apakah sang pejabat pernah berpikir tentang itu? Ataukah si miskin mengimpikan hal itu bahwa posisi kematiannya sama dengan sang pejabat?

Penutup

Seorang rekan, teman dan sahabat yang selalu ada di tapak keyboar handphone untuk berbagi pengalaman via medsos pada waktu senggangnya telah meninggal secara tiba-tiba. Ia bercanda dalam kesibukannya di siang hari, merenung dalam mimpi malam hari. Padangan umum, ia masih bisa bekerja menunaikan tugas, membagi kasih-sayang bersama seisi rumahnya. Ia belum sempat membisikkan pada telinga orang terkasihnya bahwa ia akan segera pergi secepat itu. Peristiwa itu mengejutkan begitu banyak orang. Ia masih melakukan tugasnya pada pagi hingga sinag hari waktu regulernya. Ia masih bertemu dan ditemui dalam perjalan ketika pergi dan pulang dari tempatnya bertugas. Masih bertegur sapa dengan rekan dan sahabat di beberapa tempat sambil bercanda raing. Ia masih sempat juga bercakap dengan orang-orang terkasih di dalam rumahnya. Secepat kedipan mata, ia meninggalkan keluarganya dengan satu tarikan napas terakhir. Siapa menduga ini sebelumnya?

Saya, dalam iman kepada Yesus Kristus Tuhan. Hanya Dia yang memberikan jawabannya. Hanya Dia yang sanggup menyingkap tabir kematian dengan mencapai kematian itu dan mengalahkannya. Ia mati dan bangkit. Kematian tidak dapat menghalangi kebangkitan-Nya. Ia bahkan naik, naik ke tempat terhormat dan termulia. Di tempat itu Ia menyediakan tempat bagi setiap orang yang mati di dalam nama-Nya, yang setia mengikuti-Nya, yang tulus dalam tuntunan kasih-Nya. Ia memanggil semua orang tanpa memandang siapa dia, berasal dari etnis dan bangsa mana, warna kulit dan lain-lain. Dia-lah Kebangkitan dan Hidup itu. Kesaksian Injil Yesus Kristus memproklamasikan semua itu.

Jadi, kematian sebagaimana kata orang Amarasi dalam satu ungkapan, amoint ii na’feo’ mates, orang yang hidup padanya selalu melekat kematian. Misterius memang datangnya sang penjemput ajal itu. Ia tidak memberi kabar, mungkin bisa dirasakan, tapi tidak dapat ditentukan hari dan jamnya. Itulah misteri kematian.

 

Catatan Penulis: Artikel ini dipublis pertama kali oleh Tabloit INFO NTT pada Edisi No.2, Tahun I, Minggu III, Agustus 2015. Saya kutip Kembali sambil memberikan sedikit tambahan seperlunya sesuai konteks masalah umat manusia di sekitar covid-19

2 comments