Sudah Terjadi

Koro’oto-tefneno.koroto.org. Hari ini bukan hari yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Namanya pun tetap, Sabtu. Isian hari ini mirip saja dengan hari-hari yang lain. Di hari yang sudah terlampaui ada yang lahir, ada yang meninggal. Ada ritual kecil menyambut kelahiran, ada ritual panjang makan waktu melelahkan, plus kadang-kadang menjengkelkan ketika upacara penguburan berlangsung.

Semua yang demikian itu sudah terjadi.
Hari ini seperti yang sudah kutuliskan sebelumnya, aku tiba di rumah sukacita oleh karena kelahiran baru. Di sana aku memimpin doa pernyataan syukur atas proses itu atas pertolongan Tuhan melalui mereka yang bertugas di Puskesmas. Mereka telah menolong proses kelahiran itu, ibu dan bayi sehat dan selamat. Mereka pun telah tiba di rumah. Terpujilah Tuhan. Kiranya hikmat, pengertian dan ketrampilan makin bertambah pada mereka yang menolong. Kiranya hal yang mirip ada pada orang tua yang hari ini menerima bayi sebagai tanggung jawab. Ketika melihat angka, di sana ada satu angka bertambah. Bila sebelumnya sepasang suami isteri yang sama dengan ada dua orang, lalu lahir seorang anak, bertambah satu, mereka bertiga, lalu bertambah satu lagi anak, menjadi empat orang, dan entah mungkin akan bertambah. Di sana ada tanggung jawab yang makin bertambah, yang sama dengan berat secara moral, etika, dan nilai.
Kelahiran itu sudah terjadi. Hal yang belum terjadi ada dalam benak, ada dalam mimpi orang tua ketika anak-anak ada dalam bimbingan dan pengasuhan. Ketika anak-anak bertumbuh menjadi remaja, pemuda, gadis hingga menjadi orang dewasa tanggung jawab itu beralih kepada mereka sendiri. Saat itu orang tua akan membuka tangannya dan berkata, sudah terjadi.
Selain kelahiran, hari ini sudah terjadi sesuatu yang kiranya terasa aneh. Tidak biasanya orang berbakti dalam liturgi bergereja (GMIT, khususnya) tanpa khotbah. Kebaktian tanpa khotbah. Padahal kaum Kristen paham dan ingat bahwa khotbah/renungan/refleksi menjadi “roh” dalam kebaktian itu. Hal-hal lain seperti pujian dari paduan suara, vokal grup, jika ditiadakan, biasa saja itu.
Kebaktian penguburan jenasah sudah terjadi sesuai prosesdur operasional standar penguburan jenazah di lingkungan gereja (GMIT) dalam masa bencana non-alam ini. Sebelum upacara keagamaan ini dilakukan, seorang anggota presbiter menyampaikan POS itu pada pelayat. Hampir saja tidak menyentuh angka 30 menit upacara itu berakhir. Selesai. Siap ke tempat dimana peti jenazah dan isinya akan dihilangkan dari pandangan mata setiap pelayat yang berdukacewa.
Hal yang sama sudah terjadi pada seorang guru. Ia masih aktif sebagai guru pada saat meninggalnya. Ia tidak terpapar covid-19. Ia meninggal di tempat pelayanan pasien. Dari sana jenazahnya disiapkan lalu berangkat kembali ke rumah, karantina cinta-kasih bersama suami dan anak. Sempat disemayamkan karena sudah sore. Paginya dibuatkan upacara singkat tanpa kehadiran para rekan dan lagi tanpa upacara kedinasan. Ya, itu sudah terjadi, bahkan pada pejabat daerah pun tidak dilakukan upacara kenegaraan sesuai POS yang rutin.
Begitu banyak hal yang sudah terjadi pada setiap orang. Hal-hal yang sudah terjadi itu akan memberi kesan tersendiri. Semua yang sudah terjadi tidak dapat dikembalikan kepada posisinya semula. Bayangkan sebuah kelapa jatuh sendiri atau dipetik, dijatuhkan. Bagaimana mungkin memasangnya kembali pada tempatnya bila orang berkatan, “Buah kelapa ini tidak ada isinya, air kelapa muda ini masih terasa sepat, belum manis!” Sudah terjadi, tidak mungkin untuk mengembalikannya ke tempat semula.
Begitulah catatanku malam ini yang sudah terjadi. Aku dapat saja menghapusnya, tapi sudah terjadi di otakku. Maka biarlah tetap ada di sini.
Koro’oto, 2 Mei 2020
Heronimus Bani