Klopas Klopkan Motif ke Yerusalem

Koro’oto.- tefneno.koroto.org.- Minggu pertama dalam Bulan Bahasa dan Budaya GMIT (B3GMIT), dimulai dengan tema, Yesus Hadir Dalam Budaya. Perspektif berbeda hendak saya tampilkan di sini, walau mungkin terasa mirip.

Setiap produk budaya yang dihasilkan oleh makhluk beradab yang namanya manusia selalu berawal dari ide yang imajinatif. Belum ada orang periset sekelas Einsten dan Habibie berhasil menangkap dan mengurung ide, kecuali pasrah dan berkata ada ide. Mana wujudnya ide? Salah satu produk budaya makhluk manusia yang beride imajinatif itu adalah rumah. Budaya Atoin’ Meto’ menamainya umi atau ume. Dua kata yang sama dalam wujud konstruksi di depan mata, beda lafal karena beda entitas di daratan Pah Meto’ ini.

Manusia Atoin’ Meto’ di Pah Meto’ ini mengelompok dalam umi. Di dalam umi sebagai karantina cinta kasih mereka meraciknya dengan bumbu penyedap. Bumbu-bumbu itu seperti rasa senang dan suka, tertarik dan terdorong dan lain lagi yang menjadikannya tersenyum hingga berjingkrak. Bumbu yang lain seperti kecewa dan marah, bence dan dendam yang mengantarnya menjadi pemurung hingga dapat membunuh orang lain atau dirinya sendiri. Dapakah pembaca membayangkannya?

Umi selalu identik dengan himpunan keluarga. Saya mencontohkan di Koro’oto ada beberapa umi yang secara konstruksi tidak nampak, walau nampak secara fungsional. Umi Nii Baki, tempat dimana saya tinggal dan mengirim spirit pada anggotanya yang menyebar di sekitar dan di luar jangkau tangan. Umi Eno’-‘To’i, Umi TbaatUmi Baikeno’, Umi ‘Too’ dan lain-lainnya. Semuanya pada masa lampau ada konstruksi dan fungsi yang nyata. Kini tanpa konstruksi namun fungsi tetaplah ada dengan penyesuaian-penyesuaian agat tidak menimbulkan salah tafsir pada penganut agama semawi, agama yang mengantar pengikutnya ke sorga kekekalan roh.

Hari Minggu ini, orang beribadah dari rumah, atau mengikuti ibadah dalam jaringan dan beragam media pada zaman milenium ini. Hal yang kiranya akan menjadi suatu kebiasaan baru yang akan trendi hingga bila dipertahankan akan menjadi budaya. Bila sudah membudaya, apakah mungkin untuk kembali pada versi semula yang tradisional?

Penulis Injil Lukas mencatatkan satu peristiwa bersejarah. Catatan itu terdapat dalam Lukas 24:13-35; satu catatan yang setiap tahun sesudah kebangkitan para pemuka agama Kristen akan membacakannya kepada umat. Refleksi yang dibuat atas catatan Lukas ini dibuat bersesuaian dengan kondisi dan konteks zaman. Demikian halnya dengan kondisi dan konteks saat ini, di mana setiap keluarga sedang kukuru’u mengurung diri di rumah bagai berperang. Padahal, berperang pun mungkin masih ada orang rela menjadi kaki-tangan musuh agar mendapatkan keleluasaan bergerak.

Lukas mencatat bahwa Klopas dan temannya kembali ke Emaus, kampung halaman mereka. Yesus yang telah bangkit itu telah menjadi Tuan dan Tuhan atas maut. Ia datang menyapa Klopas dan temannya yang sedang bercerita di perjalanan pulang ke kampung. Mereka tidak menyadari siapa sesungguhnya yang sedang menyapa dan bahkan mau bercerita menemani mereka dalam perjalanan itu. Lebih mencengangkan sebetulnya, bila Atoin’ Meto’ yang tidak mengenal seseorang di perjalanan, tiba-tiba si orang asing ini berkata, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” (ay.25-26)

Pernyataan yang menyinggung perasaan, bukan? Klopas bukan orang Timor. Dia dan temannya bukan orang NTT yang sensitif bila disentil sebagai orang bodoh. Syukurlah. Lukas tidak mencatat reaksi emosional Klopas bila ada. Lukas mencatat bahwa Tuhan Yesus menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai daari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (ay.27).

Klopas dan temannya pendengar yang baik. Mereka akhirnya tiba di kampung Emaus. Keduanya mengajak Tuhan Yesus mampir (ay.29). Yesus yang semula hendak melanjutkan perjalanan akhirnya bersedia masuk hendak bermalam bersama Klopas dan temannya, dan tentu dengan keluarga kecil di dalam rumah (umi-ume) yang konstruktif. Di dalamnya ada fungsi-fungsi pelayanan, di antaranya menyediakan makanan yang dibumbui keramahtamahan, kesantunan dan ucapan syukur.

Ketika itu, Tuhan Yesus mengambil roti, lalu diikuti ucapan syukur (doa), memecahkan roti di tangan-Nya dan membagi-bagikan kepada mereka. Perhatikan, Tuhan Yesus mengambil alih kepemimpinan di ruang makan. Ia yang seorang Tamu mendapat kehormatan mengambil terlebih dahulu. Cocok dan sangat tepat dengan budaya orang Timor dan NTT, bukan? Tamu mengambil makan terlebih dahulu. Bedanya, Tuhan Yesus mengambil, mengucap syukur dan membagi-bagikan. Entah tamu kita setelah mendapat kesempatan pertama, ia mengucap syukur? Akh… pikiran ngawur.

Ketika mereka mulai makan, ketika mulut mulai terbuka hendak menerima suapan roti pembagian, mulut itu kemudian tidak sempat lagi memasukkan suapan. Mulut itu terus terbuka tanda keheranan dan sekaligus bingung. Sangat manusiawi, bukan? Tamu yang mengucap syukur, memecah roti di tangan dan membagikan, justru hilang di depan mata. Langsung hilang. Klopas tidak dapat menangkap untuk menahan Tamunya itu di dalam uminya. Ia telah hilang, kemana?

Saya pastikan dulu, bahwa Klopas dan temannya (dan seisi rumah yang makan bersama Tuhan Yesus) menyelesaikan makanan di meja. Mereka akhirnya memutuskan (klop) untuk kembali ke Yerusalem. Mereka kembali ke Yerusalem. Di sana ada Bait Allah. Di sana ada Rumah Allah. Di sana ada persekutuan yang spiritnya berbeda daripada spirit di umi masing-masing.

Spirit dan motif Klopas diklopkan, diteguhkan. Mereka bergegas kembali ke Yerusalem. Di sana spirit kebersamaan dibangun dalam nuansa yang dihidupkan oleh Roh milik Tuhan Yesus, yang sekalipun belum dikiriman pada waktu itu, tetapi Tuhan Yesus sendiri hadir, menunjukkan Diri-Nya kepada Klopas, Simon Petrus, dan para perempuan yang pergi ke kuburan-Nya. Tuhan Yesus hadir dalam Roh-Nya. Ia hadir di umi yang suasananya seperti yang sudah saya gambarkan di atas. Di dalam umi yang demikian, Roh Tuhan Yesus mendorong kita, memberi spirit kepada kita untuk kembali ke “Yerusalem”.

Akh…

Saya berhenti di sini saja dulu. Saya percaya covid-19 tidak mau mengambil tempat di Umi Nii Baki,Umi Tbaat, Umi Baikeno’, Umi ‘Too’ dan lain-lainnya karena para penghuninya sedang tidak ke mana-mana di luar kampung besarnya. Mereka rindu ke Uim Re’u Kninu’, Sonbua Kninu’, sebagai Yerusalem baharu yang nyata secara konstruksi dan fungsi.

Mari terus ada dalam usaha dan kerja bersama dalam kepatuhan untuk mematikan si covid-19 yang bagai dewa sembahan baru kini. Ia ditakuti dan digentari. Kitalah yang harus menghancurkannya hanya dengan satu patah kata, PATUH.  Ketika kita klop pada patuh, kita seperti Klopas dan temannya yang teguh, kokoh dan roh penuh sukacita kembali ke Yerusalem. On re’ naan, tua. Bagitu sa. Makasi.

 

Koro’oto, 3 Mei 2020

Heronimus Bani