Minggu di Rumahku dan Sahabatku

Minggu di Rumahku dan Sahabatku

Semua orang sudah merasa bagai terpenjara di rumah sendiri. Bekerja dan belajar dari rumah, lalu beribadah di rumah. Dua hal pertama memang patut disadari mulai memberi pada kita kejenuhan bila tidak kreatif. Tapi pada hal ketiga ada nuansa berbeda padanya. Ini kuceritakan sepenggal.

Saya secara pribadi mengalami perubahan besar dalam rumah tangga. Beribadah minggu di rumah sangat menginspirasi dan memberi nilai tambah.  Kebiasaan malas dan enggan beribadah dapat berubah tanpa syarat dan paksaan.Suka atau tidak suka. Mau atau tidak mau. siap atau tidak siap, harus mingikuti  ibadah minggu di tiap hari minggu sejak hadirnya virus korona.

Suami,istri dan anak wajib duduk bersama melaksanakan ibadah. Tidak ada alasan untuk tidak beribadah. Ini  adalah kemenangan dan sukacita besar bagi keluargaku, keluarga Kristen. Memenangkan anggota keluarga dari kebiasaan sifat malas dan acuh. Satu item jawaban doa yang sudah lama ditunggu-tunggu. Berbagi tugas beribadah membentuk  mental keberanian dan menumbuhkn rasa tanggung jawab atas panggilan Tuhan. Bahwa  melayani Tuhan bukan semata tugas pendeta, penatua, diaken dan pengurus wadah kategorial fungsional, namun tugas bersama selaku orang yang sudah mengakui dan percaya Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Masing-masing keluarga mengevaluasi diri dan berusaha menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Membangun kehidupan rohani dan saling berbagi kasih dalam kelurga adalah satu kebahagiaan.
Pengalamanku berbeda dengan sahabatku yang bercerita padaku pada suatu pertemuan. Mereka mempunyai pengalaman beribadah yang berbeda ketika pemerintah menganjurkan dan menegaskan untuk di rumah saja. Cerita keluarga ini justu berbanding terbalik.
Uraian sang teman demikian,“Kami di rumah tiap hari minggu masing-masing cari jalan. Saya suruh suami pimpin karena dia kepala keluarga. Dia jawab begini, tidak pimpin tidak usah ibadah. Saya belum siap pimpin ibadah. Kalau kamu saya sudah lihat biasa pimpin ibadah Ibu-ibu jadi sudah biasa.”
Mereka saling melempar tanggung jawab. Pada akhirnya suami meninggalkan rumah ketika istri terpaksa berdoa tanpa mengikuti tata ibadah yang disediakan.
Pada hari minggu berikutnya ibu ini mengajak tetangga yang adalah rekan sepelayanan kaum ibu. Dia punya pengalaman yang sama yaitu suami tidak pernah duduk untuk beribadah bersama.
Ternyata melakukan ibadah minggu di rumah mengalami pro dan kontra. Ada keluarga yang siap dan mau menjalankannya tapi ada yg menolak. Mungkin karena terbeban dan merasa tidak bisa memimpin ibadah ataukah karena malas beribadah?
Kembali kepada pribadi masing-masing bagaimana caranya untuk meresponi panggilan Tuhan. Meninggalkn rumah dan tidak beribadah tanpa alasan yang benar  harus diperbaiki agar hidup kita dapat menjadi berkat.
By: Marlisa Bani
Editor: Heronimus Bani