Berbahasa untuk Memuliakan Tuhan

Aku mengenal segalaperbuatan dan rancangan ereka, dan Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaan-Ku. (Yes. 6:18)

Jemaat-Jemaat dalam Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) sedang memasuki Minggu kedua Bulan Bahasa dan Budaya. Suatu tenggat waktu yang khusus dan khas dalam GMIT yang trendi ketika memulainya. Ia begitu semarak ketika setiap minggu dalam kebaktian-kebaktian segala hal yang sifatnya etnis NTT ditampilkan, muncul dalam liturgi kebaktian yang seakan hendak menggeser rutinitas.

Kesan yang teramat sangat pada kondisi seperti itu ketika Bulan Bahasa dan Budaya berlalu. Orang akan bercerita tentang apa yang sudah berlalu pada Minggu-Minggu kebaktian itu. Cerita tentang bahasa daerah dalam lagu, sementara Bahasa Nasional dipakai dalam khotbah, walau di pedesaan besar kemungkinan menggunakan bahasa daerah. Ada cerita tentang pendeta yang mengeluh tidak dapat berbahasa daerah di tempat pelayanannya berhubung ia bukan orang lokal di sana. Ia punya bahasa daerah sendiri dari daerah mana ia datang. Maka, dia mesti belajar untuk dapat mengucapkan dan mengerti paling tidak istilaistilah kunci yang sederhana, agar dalam pergaulan ia dapat berkomunikasi dengan orang sekitar.

Seorang pendeta yang bukan orang dari Pah Amarasi misalnya, ketika bertugas di wilayah Pah Amarasi, lalu berada di daerah yang pengguna Uab Amarasinya Kotos, atau Ro;is atau Tais Nonof, atau Ketun, ia akan berusaha untuk mengetahui dan mengucapkan kata-kata yang mudah dipahami dan diterima oleh lawan bicara.

Misalnya, yang umum, pada saat memberi salam. Hore tua ~ Salom. Hai mbukae, tua ~ Kami mulai makan; Hai mkoon, tua ~ kami permisi. atau Aok-bian manekat ~ saudara-saudara terkasih, dan lain-lain. Semua usaha ini untuk masuk ke dalam budaya orang-orang yang dilayani.

Yesaya mencatat apa yang Tuhan sampaikan kepadanya. Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa. Segala bangsa dari semua bahasa tentulah amat sangat banyakl Kita ingat bagaimana Tuhan menyerakkan manusia (Kej.11) sehingga mereka menyebar dan berkumpul seturut bahasa yang diketahui. Sejarah manusia membentuk komunitas, diawali dari satu kepentingan yang sama, bahasa. Anda satu bahasa dengan saya, kita saudara. Anda berbeda bahasa dengan saya, kita saling curiga. Kita belum dapat saling menerima bila kita berbeda bahasa. Itulah sebabnya orang mempelajari bahasa. Mereka yang berbeda bahasa dengan kita mau belajar bahasa kita. Kita yang berbeda bahasa dengan orang lain, mesti berusaha belajar bahasa mereka. Mengapa? Supaya kita bisa sebagai satu komunitas. Satu komunitas berbahasa itu akan menolong kita untuk memahami budaya. Di dalam ungkapan-ungkapan berbahasa yang oral dan tertulis, di sana budaya tersirat. Perwujudannya lewat sikap dan tindakan.

Saudara-saudara terkasih. Kita sedang berada dalam satu situasi yang menggetarkan rasa.  Beredarnya kabar tentang penyebaran virus korona yang telah mencapai ratusan negara, merenggut nyawa puluhan ribu orang, mengantar orang berstatus pasien, atau dalam pemantauan. Situasi yang menggegerkan ini sedang ada usaha dari berbagai elemen pemerintah dan organisasi-organisasi nirlaba hingga perusahaan, tokoh, termasuk organisasi keagamaan. Semua ada dalam satu “bahasa” dan tindakan.

Satu “bahasa” yang dimaksudkan di sini adalah memahami segala hal yang berhubungan dengan virus korona, mengejawantahkannya ke dalam bahasa lokal masing-masing agar segera dapat dipahami oleh komunitas. Upaya yang dipercepat dalam sosialisasi dan “kampanye” keselamatan ini menjadikan semua bangsa dan bahasa ada dalam situasi berbahasa yang sama. Keselamatan dan kesehatan umat manusia. Itu satu bahasa yang sedang dimainkan oleh pemerintah dari negara-negara yang sedang dilanda virus korona.

Jika demikian, di manakah Tuhan yang menceraiberaikan manusia dalam berbagai bahasa? Kita ingat bahwa Tuhan bukanlah sedang eror ketika menceraiberaikan manusia. Ia telah menjadikan manusia terserak ke berbagai penjuru bumi, di sana mereka menciptakan budaya mereka sendiri yang khas. Budaya yang mencirikan siapa mereka yang berkumpul dalam komunitas-komunitas itu. Budaya yang khas komunitas itulah yang kemudian membedakan satu komunitas dengan komunitas lainnya. Itulah pula yang menjadikan berbeda dan makin kayalah permukaan bumi ini dengan pengetahuan. Dari sana orang belajar.

Apa yang dipelajari? Tuhan mengijinkan orang untuk belajar bahasa dan budaya. Ketika seseorang belajar bahasa etnis lain, ia sedang membuka celah yang akhirnya menjadi pintu masuk ke dalam budaya etnis lain itu.

Ketika kita makin mengetahui bahasa lain dan bersekutu dalam komunitas pelayanan umat dan dalam pergaulan keseharian yang menempatkan manusia pada harkat dan martabatnya, bukankah kita sedang memuliakan Tuhan? Muliakanlah Tuhan dengan bahasamu. Muliakanlah Tuhan dengan budayamu. Bila ada yang mengklaim budaya tertentu sebagai buruk, semestinya yang buruk itu dibakar agar mendapatkan kemurnian budaya di dalamnya. Budaya yang baik itu pemberian Tuhan. Aksesori yang disematkan pada budaya etnis itu pemberian manusia. Bila ada sentuhan manusia seringkali atas keinginan dan nafsunya. Ia tidak menempatkan hikmat dari Tuhan padanya. Itulah sebabnya orang memberi cap buruk pada budaya tertentu.

Ketika Tuhan mengijinkan kita untuk belajar bahasa lain dalam situasi saat ini, maka kita sedang belajar untuk memiliki suatu kebiasaan baru yang sebelumnya tidak ada pada kita. Bila mencuci tangan pada waktu yang lalu sesekali saja, sekarang ini wajib selalu mencuci tangan atau menggunakan cairan yang mengandung obat pembasmi virus dan bakteri ~ hand sanitizer.

Saudara-saudara. Demikianlah yang dapat saya sampaikan di sini. Tuhan memberkati kita dalam merambah masuk pada Bulan Bahasa dan Budaya GMIT (B3 GMIT).

 

Oleh: Heronimus Bani