Kontradiksi Salam Yesus

Kontradiksi Salam Yesus

Ankono krei jes antein’, Nai’ Yesus In atoup noin’ ein nabuan nfanin nok nai’ Tomas anbin uim jes. Eon’ ein ma’reut ein mates anrair, mes Nai’ Yesus antaam anhake nbi sin atnaank ein. In nasee sin im nak, Hoore tua! Saloom! (Yoh. 20:26, Bahasa Amarasi)

Dia pung satu minggu lai, ju Yesus pung ana bua dong ada sama-sama deng Tomas dalam satu ruma. Biar pintu dong su takonci, ma Yesus maso badiri di rong pung teng-tenga. Dia togor sang dong bilang, “Saloom!” (Bahasa Melayu Kupang)

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datng dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata,“Damai sejahera bagi kamu!”  (Bahasa Indonesia)

Saudaraku. Apakah saudara sedang nyaman-nyaman saja saat ini? Saudara yang secara rutin keluar dari rumah setiap pagi, dan mungkin masuk kembali ke rumah pada siang atau sore hari. Saudara mungkin menjadi guru yang bekerja 8 jam sehari. Mungkin ASN yang bekerja Senin-Jumat. Mungkin pengusaha yang hampir mesti tidur di kantor sendiri untuk menyelesaikan tugas-tugas perusahaan.

Saudara dalam profesi apapun, kecuali petani, atau peternak (entah nelayan). Mereka mesti keluar dari rumah. Petani ladang harus ke ladang. Petani sawah harus ke sawah. Petani sayur dan tanaman semusim mesti selalu berada di sekitar dan di antara tanamannya itu. Peternak, ia mesti menjumpai ternak-ternaknya. Ia harus mencari dan menemukan pakan dan memberi minum.

Jadi mereka yang bersentuhan dengan tugas-tugas yang bukan bertemu dengan sesama manusia (mungkin) merekalah yang sedang merasa nyaman-nyaman saja dalam bekerja. Bagaimana dengan beribadah?

Rasanya tidak ada di daratan manapun saat ini, orang beribadah dalam persekutuan berjemaat yang nampak nyata. Ada persekutuan berjemaat di rumah-rumah semata, itulah yang terjadi sejak 22 atau 29 Maret 2020 lalu sampai saat ini. Siapakah yang masih bersabar? Bila ada yang masih bersabar, mereka itu masuk golongan orang-orang yang mampu menahan diri dan mengekang emosi.

Dalam situasi ini,  Yesus menyapa, Yesus nasee, Yesus togor.

Dalam catatan Yohanis 20:24-29, di sana tertulis kisah bagaimana pertemuan Yesus yang telah bangkit, Yesus yang hidup kembali dari kematian, Yesus yang mengalahkan kuasa kematian. Yesus itulah yang sedang nasee, togor murid-murid-Nya. Murid-murid yang ketakutan masuk ke dalam rumah yang pintu-pintunya terkunci secara amat rapat. Trauma dan ketakutan. Kegentaran.

Mereka masih mengalami trauma atas kematian Yesus namun kemudian gentar pada situasi baru. Yesus telah bangkit. Ia bahkan telah menampakkan diri-Nya kepada perempuan-perempuan yang pergi ke tempat di mana jenazah-Nya dikuburkan. Ia sudah menampakkan diri kepada Simor dan teman-temannya yang lain ketika itu Tomas tidak hadir.

Bila berspekulasi, kira-kira apa yang dipercakapkan para murid yang mengetahui dan melihat sendiri Yesus dalam penampakan itu? Ketika Yesus menampakkan diri tujuh hari sebelumnya sangat besar pokok pembicaraan mereka pasti terkait kesengsaraan, penyaliban yang mengerikan, tetapi juga akhirnya tiba pada titik di mana kebingungan dan keheranan, bagaimana mungkin Ia bangkit? Bagaimana mungkin Ia hidup dari kematian?

Bila percakapan mereka jatuh pada perkataan para nabi terdahulu, mungkinkah mereka mengingat semua itu? Bisa jadi, ada di antaranya. Dalam percakapan-percakapan yang demikian itu, Yesus tiba di antara mereka dan menyapa, “Dama sejahtera bagi kamu. Sebagaimana Bapa mengutus Aku, Akupun mengutus kamu!: (ay.21).

Damai sejahtera disampaikan ketika kegentaran membungkus. Perasaan kegentaran seperti apa yang segera  keluar dari dalam alam pikiran agar menempatkan damai sejahtera itu? Dapatkah semudah itu orang keluar dari kepanikan sehingga menikmati damai?

Tomas yang mendengarkan cerita teman-temannya belum percaya. Ia begitu kuat berargumen dengan teman-temannya. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalamlambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya!” (ay.25). “On nai.Au ro he ‘kius papa’ na’ko kuust ee in baran abit In a’niman fe’. Ma au ro he urepa’ au kruruk ‘eu In papa’ abit In abnapan. Fin karu au ka ‘moe’ je fa fe’e te, au ka ‘pirsai fa fe’ ‘ak, In anmoni nfain.”

Pernyataan yang teramat kuat. Pernyataan yang menggambarkan keteguhan hati seorang yang menyaksikan secara amat sangat jelas dan nyata bahwa Yesus benar-benar mati di kayu salib. Ia dikuburkan. Kisah dan cerita penampakan dirinya yang diulangsampaikan oleh teman-temannya belum menjadi jaminan bahwa Yesus telah bangkit. Kuburan yang kosong, batu penutup kubur yang berpindah tempat, belum menjadi bukti bari seorang murid bernama Tomas. Sungguh suatu sikap yang berbeda dari teman-temannya.

Dalam situasi itu, Yesus tiba dan menyapa mereka. Yesus menyapa Tomas. Yesus memintanya untuk menempatkan jemarinya ke dalam lubang bekas paku di tangan-Nya dan lubang bekas paku di lambung-Nya.

Apakah Tomas melakukannya. Mungkin ya, mungkin tidak. Mengapa? Keterperanjatan. Terperanjat. Yesus sudah ada di hadapan-Nya. Pernyataan yang sekaligus permintaannya langsung terjawab di depan matanya. Ia tidak menunggu beberapa hari. Ia tidak harus memaksa Petrus atau siapapun dari teman-temannya untuk mencari Yesus agar membawa-Nya kepadanya.

Yesus telah bangkit. Ia mengatasi ruang dan waktu. Ia berada di manapun dan kapanpun. Ia kini hadir di tengah-tengah kegentaran kita akibat covid-19. Ia berada di dalam rumah kita ketika kita harus beribadah di rumah saja. Ketika orang harus bekerja di rumah saja dengan mengikuti penegasan pemerintah, Yesus hadir. Yesus hadir dalam segala situasi kita. Ia memberi salam pada kita, “Damai sejahtera bagi kamu!”

Memang, kita patut mengetahui, bahwa salam yang demikian sangat konttras dengan situasi kita. Tidak dapat disejajarkan. Tidak dapat diterima akal sehat. Bagaimana mungkin merasakan damai sejahtera di bawah ancaman virus yang belum ada ujung akhirnya?

Ya. Suatu kontradiksi di dalam situasi ini ketika salam kedamaian dan kenyamanan disampaikan kepada kita. Walau demikian, kita patut ingat, bahwa iman bertumbuh dalam situasi-situasi seperti ini. Bukankah kita meyakini hal ini?

Tuhan memberkati para pembaca web ini. Amin

 

oleh: Heronimus Bani

2 comments