Bansos Kerumunan Massa Belajar dari Rumah

Bansos Kerumunan Massa Belajar dari Rumah

Pengantar

Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Ir. Joko Widodo telah dan sedang terus bekerja keras dalam kerangka pelayanan yang holistik. Dalam kerangka itu Presiden dan jajarannya telah melakukan prioritas-prioritas, terutama pada masa pandemi covid-19 ini. Di antaranya dengan melakukan apa yang disebut refocusing. Menarik. Hal-hal yang sudah diputuskan, telah diundangkan dan segera akan dieksekusi dalam pembangunan masyarakat, justru harus ditinjau kembali dengan kecepatan peninjauan yang tidak tanggung-tanggung, super cepat.

Tiga butir penegasan penting yang terdengar mudah diwujudkan oleh masyarakat Indonesia: bekerja, belajar dari rumah dan beribadah di rumahKetiga butir kegiatan ini sebahagian masyarakat dapat menjawabnya dengan memanfaatkan infrastruktur teknologi infomasi dan komunikasi. Apakah semua masyarakat Indonesia dapat memasuki akses itu?

Layanan instansi pemerintah harus cepat, tetapi harus dalam bingkai bekerja dari rumah. Rapat-rapat berlangsung dengan menggunakan aplikasi tatap muka. Data dikirim dalam jjariangan. Entah bila diprosentsekan angkanya mencapai berapa prosen layanan mesti dalam jaringan. Super cepat bila menggunakan akses TIK. Masyarakakat sekalipun belum siap untuk hal ini, harus memaksa diri memasukinya. Mau tidak mau harus memaksa diri berada dalam arus itu agar tidak ketinggalan.

Infomasi-informasi yang bersileweran di berbagai media massa makin marak. Jemari, mulut dan seluruh indra serta emosi bermain dalam satu sistem yang tak dapat menolak persoalan-persoalan yang dihadapi bersama. Semua orang, entah pejabat atau penjahat, korporasi berkelas atau koruptor berdasi, pengusaha atau pengasong, dan lain-lain paradoksi kehidupan, wajib mematuhi aturan yang disebut protokol kesehatan.

Di beberapa negara, di sana kota-kota tertentu benar-benar ditutup, border, lockdown yang menciptakan kegentaran bagai kota yang mencekam dan mencekik warganya. Mungkin mereka berhasil mengubur virus korona di tempat itu? Pemerintah Indonesia melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar di beberapa kota di pulau Jawa dan Sulawesi yang kiranya sungguh berbeda dengan lockdown. Masyarakat tetap ada dalam kegiatan-kegiatan rutin tetapi dibatasi.

Pemerintah  “Hamba Allah”

Pemerintah manapun ditunjuk sang Khalik, untuk menjadi pelayan pada umat Allah
Kitab Roma yang ditulis Rasul Paulus khususnya pada pasal 13 : 1 -7 selalu menjadi rujukan khususnya pada term wakil Allah. (Rom 13:4).

θεου γαρ διακονος εστιν σοι εις το αγαθον εαν δε το κακον ποιης φοβου ου γαρ εικη την μαχαιραν φορει θεου γαρ διακονος εστιν εκδικος εις οργην τω το κακον πρασσοντι
Translit interlinear, theou {Allah} gar {karena} diakonos {pelayan} estin {ia adalah} soi {bagimu} eis {kepada (untuk)} to agathon {yang baik} ean {jika} de {tetapi} to kakon {yang jahat} poiês {engkau berbuat} phobou {takutlah} ou {tidak} gar {karena} eikê {tanpa tujuan} tên makhairan {pedang} phorei {ia menyandang} theou {Allah} gar {sebab} diakonos {pelayan} estin {ia adalah} ekdikos {yang membalas} eis {untuk} orgên {kemurkaan (hukuman Allah)} tô {atas orang yang} to kakon {yang jahat} prassonti {berbuat}

LAI: Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tiak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

Kutipan teks terjemahan dinamis berikut ini dalam dua bahasa daerah: Bahasa Melayu Kupang (MK) dan Bahasa Amarasi (AAZ)

MK: Te orang yang pegang parnta, dong tu yang Tuhan pili ame ko layani sang bosong. Ma kalo bosong ada bekin sala tarus, lebe bae bosong ati-ati sa! Te dong yang ada pung hak yang sonde parcua ko kasihukum sang bosong. Dong tu, sama ke Tuhan pung orang suru-suru ko kasi hukum orang yang bekin jahat dong. Te Tuhan sonde tarima hal jahat yang orang ada bekin; Dia mara sang dong.

AAZ: Fin ana’apreent ein, sin re’ naan es re’ Uisneno npiir ma nanaib naan sin he ntuthae ki. Mes karu hi mmoe’ sanat pit, reko nneis hi mpaant om reko! Fin sin re’ naan, anmu’in hak he nhukun ki. Hak naan ka ruum am parsuum fa. Sin re’ naan, on re’ Uisneno In aan’ reun ein re’ nfee hukum neun tuaf ein re’ nmo’en maufinu. Fin Uisneno ka ntoup fa rais maufinu re’ atoni’  nmoe’ je’ In natoo’ neu sin.

Dua teks dalam bahasa daerah menggunakan diksi kata kerja, layani, ntuhae. Pemerintah itu dipilih Allah untuk melayani. Teks berbahasa Indonesia menggunakan kata benda, hamba. Antara kata kerja dan kata benda saya tidak kontradiksikan. Satu hal mereka bukan menjadi wakil Allah, sekalipun kata ekdikos terkandung makna dapat mewakili. Sungguh suatu kekeliruan bila mengatakan pemerintah itu wakil Allah. Bahwa pemerintah mendapat mandat dari Allah yang memilih mereka untuk menghukum, ya, tetapi dalam koridor edukasi. Pemerintah manapun dalam lembaga/badan yang mendapat kewenangan menghukum pastilah harus bijak menghukum. Mereka merupakan “pesuruh” Allah di dunia. Diksi yang terakhir ini pasti menjengkelkan.  Tapi, mereka telah bekerja benar-benar sebagai pesuruh yang bijaksana. Maka, tidak heran mereka harus melakukan koordinasi antar lembaga pemerintahan, dan konsultasi dengan berbagai lembaga/badan non pemerintahan demi melayani masyarakat/umat/rakyat.

Itulah sebabnya kini pemerintah gencar bekerja, sebagaimana yang dilakukan Presiden NKRI ini, Ir. Joko Widodo dan jajaran pembantunya serta badan-badan di bawah Presiden. Hingga pemerintah provinsi, kabupaten dan kota masing-masing daerah bersama jajaran terkait dan pihak swasta. Semua bergerak secara serempak menanangi bencana non-alam ini dengan berbagai cara. Sosialisasi protokol kesehatan misalnya sebagai upaya menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menggunakan masker, cuci tangan, dan lain-laiin tindakan pencegahan virus korona. Vidio dalam berbagai versi dibuat bahkan dalam lagu-lagu yang mudah dihafal oleh anak-anak. Komik protokol kesehatan, dan cara-cara positif lainnya yang menggambarkan kerja bersama mendukung pemerintah pada penanganan virus korona.

Selain sosialisasi, sikap dan tindakan yang berdasarkan keputusan-keputusan penting telah mulai diwujudkan.

Dalam website Sekretariat Kabinet terpublis berita resmi tanggal 9 April 2020, saya kutip secara ringkas sebagai berikut: Pemerintah berikan bantuan tambahan hadapi covid-29

Dalam website ini terdapat 4 program utama dalam rangka penanganan masalah sosial-ekonomi masyarakat. Keempat program itu aalah, 1) Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan, 2) Kartu Sembako, 3) Kartu Pekerja, dan 4) Pembebasan tarif listrik untuk konsumen dengan daya 450 VA.

Program-program ini sedang dijalankan dengan segala konsekuensi yang terjadi di lapangan berhubung akurasi data yang mungkin belum sempat terverifikasi sehingga menimbulkan polemik. Orang tidak melihat pada kebermanfaatan tetapi menyapa dan menyasar pada kekeliruan (saya mungkin termasuk golongan ini?). Itulah sebabnya polemik dibangun, yang kemudian harus ada ekstra kerja pada pemerintah untuk mengklarifikasi polemik baik yang dibangun oleh pengamat maupun oleh politisi dan pegiat medsos. Sementara masyarakat kecil yang biasanya disebut akar rumput (aaz: koro-manu; huun am naba’) terus menadahkan tangan, meminta sekedar genggaman, membuka mulut sekedar pelepas dahaga pengganjal perut.

Proses dan prosedur dijalankan secara cepat, cermat, dan cerdas. Walau harus tetap waspada berhubung penggunaan anggaran negara yang dikucurkan amat besar untuk kebaikan ini, dapat saja menjadi lahan subut menanam sedotan di alirannya agar dapat dibelokkan.

Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai salah satu lembaga tinggi negara menyadari akan pentingnya penggunaan anggaran negara bagi kesejahateraan masyarakat pada masa pandemi covid-19 ini. Maka keluarlah Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2020 yang mengatur pencegahan korupsi terkait penggunaan anggaran pengadaan barang/jasa (PBJ) untuk percepatan penanganan Covid-19.

Hal ini dilakukan sebaga langkah pencegahan yang sekaligus hendak mengingatkan lembaga-lembaga pemerintah bersama unit-unit teknis pelaksananya, bahwa anggaran negara yang telah dialirkan secara cepat dalam jumlah besar, harus segera diejawantah secara nyata di tangan masyarakat, dan sekali-kali tidak boleh diselewengkan.

Ya, Pemerintahan di negara ini bersama seluruh pemangku kepentingan termasuk lembaga keagamaan sedang aktif dan pro aktif menangani pencegahan virus korona agar tidak banyak merenggut nyawa anak bangsa.

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah “meja”nya para “diaken” yang hari-hari ini sedang sibuk dengan implementasi bantuan sosial. Antrian dan kerumunan orang dimana-mana. Jarak antar individu yang katanya mesti 2 meter tidak lagi dipatuhi. Orang berbondong dan berkerumun di loket-loket, dan tenda-tenda pembagian sembako dan penarikan uang. Protokol kesehatan nampaknya dipatuhi, bermasker dan mencuci tangan. Siapa yang ikut ke rumah untuk mengetahui bahwa di rumah mereka akan cuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menanggalkan dan merendam pakaian, mandi, cuci pakaian terlebih dahulu sebelum melakukan tugas-tugas di rumah?

Unit teknis telah bekerja keras. Sosialisasi protokol kesehatan telah sampai menggetarkan hati. Gambaran situasi yang benar-benar bagai perang. Orang sedang berperang melawan virus yang tidak kelihatan dengan sejumlah kebijakan taktis praktis, tapi tidak 100% dapat dilakukan oleh masyarakat bahkan oleh anak buah dari pembuat kebijakan itu sendiri.

Masyarakat tidak boleh berkerumun. Ya. Tengoklah pasar tradisional. Bagaimana mungkin orang berbelanja lalu tidak boleh mendekati penjual untuk menyerahkan uang dan menerima barang. Jaga jarak aman, 2 meter.

Lirik sebentar saja para pelaksana teknis di lapangan pada pemerintah India ketika mereka menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat. Petugas sudah menyediakan segala hal yang akan diserahkan. Mereka menunjuk satu alamat tertentu, penerima manfaat mendatangi dengan mematuhi aturan, antrian dalam jarak yang sudah ada dalam pengetahuan, mengambil tiap-tiap item bantuan yang disediakan, petugasnya berdiri pada jarak 2 meter untuk menjadi saksi tanpa menyentuh bantuan itu atau menyalami penerima bantuan. Berturut-turut hal itu dilakukan sebagai bukti bahwa mereka ada dalam satu kata, sikap dan tindakan.Nah, bagaimana di Indonesia?

Lalu rumah ibadah di Indonesia, di sana orang tidak boleh berkumpul. Sudah terjadi orang berkumpul di sana lalu di antaranya terpapar virus korona. Di antara mereka ada yang meninggal, diupacarakan secara darurat lalu dikuburkan. Mereka tidak taat pada aturan menjaga jarak aman. Kembali dan lihatlah pasar dan antrian di loket dan tenda penerimaan bansos. Tidak baikkah, bila diatur jadwal ibadah secara shift?

GMIT dalam Penanganan Covid-19

GMIT sebagai organisasi keagamaan di Indonesia memaknai diri sebagai murid Kristus.  Sebagai murid Kristus ia mesti bekerja dalam koridor tuntunan Gurunya. Guru/Rabi/Rabuni Yesus telah menempatkan ajaran-Nya pada satu himpunan besar “surat cinta-kasih-Nya” yang disebut Alkitab. Dari sana rujukan dimulai. Tidak semudah itu memulainya berhubung harus melalui proses rumit nan ribet pusing kepala.

Apresiasi mesti disampaikan kepada Majelis Sinode Harian GMIT, seluruh Majelis Klasis, dan Majelis Jemaat. Ketika suara Kristus diperdengarkan dalam wujud suara gembala, umat/jemaat mendengarkan dalam nuansa keresahan dan kecemasan, sambil tetap patuh. Dua pertanyaan muncul dari sini. 1) Apakah GMIT sebagai organisasi keagamaan mirip atau serupa dengan institusi pemerintah? Dan Apakah keanggotaan dalam GMIT kepatuhan ini sama dengan sama dengan keanggotaan dalam negara yang dimpimpin pemerintah?

Jawabannya, panjang lalolak. Butuh kerja keras, belajar keras, dan diskusi.

Singkat saja.

Organisasi keagamaan tidak sama dengan organisasi pemerintah, walau terasa seperti mirip. Di sana ada konstitusi organisasi yang oleh GMIT namanya Tata Dasar. Dari tata dasar ini lahirlah aturan-aturan pelaksanaan yang sifatnya edukatif. Ia menggembalakan, bukan menggembleng kasar. Ia mendidik orang, bukan menduduki hati dan tanah orang. Ia menghimbau dengan hikmat yang datang dari Gurunya, bukan menghakimi sesuai minat dan kenikmatan rasa di hatinya.

Oleh karena itu, GMIT mengimplementasikan langkah-langkah taktis agar umat/jemaat terhindar dari situasi pandemi covid-19 ini. GMIT menggembalakan anggota-anggotanya dalam “kandangnya”. Ia tidak sampai pada ranah sebagaimana pemerintah melayani tanpa batas organisasi. GMIT berbatas maya pada organisasinya.

Itulah sebabnya bila keluarga besar GMIT masih beribadah di rumah dengan mengikuti live steaming misalnya karena terakses, patutlah disyukuri. Di pedesaan geliat ibadah tersendat, dan kekuatiran patut ditonjolkan mengingat situasi ini akan memberi dampak pada kebiasaan baru. Orang dapat saja tinggal di rumah, lalu pada hari tertentu anggota majelis jemaat datang menjemput persembahan. Selentingan bagai penagih pajak telah dimulai.

Saya mempunyai satu pertanyaan di akhir opini pada sub judul sebelumnya.Tidak baikkah, bila diatur jadwal ibadah secara shift?

Ada data kunjungan setiap minggu di gedung gereja. Bukankah dengan data itu dapat diatur sehingga orang dapat bertemu minimal 45 menit dalam satu kebaktian yang mungkin dihadiri kurang dari 150 orang dengan mengikuti protokol kesehatan? Mengurangi ketegangan dengan pihak keamanan, tidak baikkah jika mereka memeriksa dan atau sekaligus menghadiri ibadah minggu yang diatur posisi duduk sesuai protokol kesehatan? Ini hanya opini belaka. Kebijakan yang berdaya hikmat lebih tinggi dan tegas ada pada MSH.

GMIT mempunyai prosedur operasional standar (POS) penguburan jenazah korban covid-19 termasuk bukan korban covid-19. Ya, sungguh perlu dilaksanakan secara patuh oleh anggotanya di lapangan. Pelaksanaan yang sifatnya semu, berhubung emosi jiwa menolak tradisi ritus keagamaan yang sudah membudaya.

Sejumlah besar persoalan muncul yang membutuhkan kecermatan para pengambil kebijakan untuk melakukan analisis kebijakan untuk menjawab persoalan-persoalan itu, termasuk gereja (dhi.GMIT).

Penutup

Ketika menulis artikel ini saya sedang bekerja dan belajar dari rumah. Para siswa pun sedang belajar dari rumah walau harus ke sekolah terlebih dahulu untuk menjemput dan mengantar tugas. Betapa akan terjadi suatu situasi drop di sekolah-sekolah sesudah korona berlalu yang entah kapan terjadi. Kiranya semua segara menyadari akan sikap kepatuhan.

Artikel ini hanyalah satu dering bunyian dari kampung. Di sini gejolak hati jemaat berkerinduan dalam persekutuan berjemaat secara nyata. Kata-kata tegas dilantangkan, sementara fakta-fakta terpampang lain di hamparannya. Bolehkah kita lain di bibir sementara yang lain baru bubar?

 

Diolah dari berbagai sumber.

Oleh : Heronimus Bani
Admin weblog tefneno.koroto. org

2 comments

  • Alexander

    Trima kasih kk. Tulisan yang banyak sangat baik. Setuju upaya dari Gereja untuk pencegahan dan menghindarkan jemaatnya agar terhindar dari virus itu, tapi sangat setuju dengan saran bagaimana kalau gereja juga diatur shif dengan memperhatikan protokol kesehatan covid 19. GMIT perlu pertimbangkan ini.

    • Terima kasih telah membaca artikel ini. Hanya opini belaka. Biasanya selesai di atas kertas dan pandangan mata serta batin yang membaca. Ha ha… Kita terus ada dalam keterpaduan doa dan harap, kiranya Tuhan menjauhkan dari kita bencana ini.