Ancaman dan Kecaman Bermuara Natural

Sekedar Awalan

Heronimus Bani

Siapakah yang tak gentar ketika ratusan orang meninggal dalam waktu singkat? Pemimpin negara manakah yang membiarkan masyarakatnya terpapar dan berguguran bagai dedaunan yang dihempaskan badai? Geger dan kecemasan. Tertegun dan kini bagai kehilangan semangat (Yer.4:9). Tengoklah saat ini, kerja keras berujung pada berdamai dengan korona”.Tidakkah kita sudah harus masuk pada suatu situasi normal dengan kebiasaan yang akan ditradisikan hingga dibudayakan?

Sabtu yang lalu (16/05/20) dalam percakapan ringan dengan pelayan di Jemaat Koro’oto, saya sempat mengatakan, kita bukan lagi berhadapan dengan ancaman tetapi situasinya sudah seperti sesuatu yang normal-normal saja. Masyarakat pergi ke pasar sambil mendengarkan penegasan pemerintah pada aturan protokol kesehatan. Pegawai dan karyawan kembali ke kantor. Semua orang mesti berdaya dalam kerja rutin untuk hidup. Maka kelonggaran menjadi solusinya.

Kota-kota yang sedang melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pun akhirnya mempunyai trik dalam aturan-aturan yang dibuatnya. Sanksi denda dan sosial. Denda yang maksimal dua ratus lima puluh ribu mungkin murah. Denda sosial dengan menghafal Pancasila, olahraga ringan seperti push up, scot jump, atau menyapu di jalan, dan lain-lain sanksi sosial.

Langkah-langkah bijak seperti itu akan jadi sesuatu yang normal dan natural saja. Begitu pula dengan situasi ancaman korona yang pada awalnya menggegerkan, namun dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja sehingga isolasi diri dan lain-lain aturan kesehatan ditanggapi secara ogah, antara ya dan tidak.

Kata Berakta

Hingga Senin (18/05/2020) tercatat jumlah kasus covid-19 di Indonesia lebih dari 18.000 kasus dengan lebih dari 1.000 orang di antaranya meninggal dunia (kompas.com). Kompas dan jajaran medianya tentu tidak asal mengutip. Para Jurnalis menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan covid-19 tentu berdasar rilis resmi dari Gugus Tugas yang dibentuk pemerintah pusat. Kompas dan jajarannya bukanlah satu-satunya yang menggiatkan pemberitaan tentang pandemi covid-19. Media arus utama manapun di pusat pemerintahan hingga daerah-daerah provinsi, kota dan kabupaten, semuanya menempatkan covid-19 sebagai prioritas pemberitaan. Urgensinya tak dapat ditunda, mesti langsung (live) agar selalu aktual.

Semua yang aktual itu ditanggapi bagai sesuatu yang normal, natural dalam pemberitaan. Sikap dan tindakan anggota masyarakat dan publik sudah tak gentar lagi. Publik bagai telah diberi vaksin publikasi sehingga semua berita yang publis telah imun pada pendengaran dan perasaan. Geger pada awalnya hanya sebagai kontrakdiksi reaksi dari tubuh, selanjutnya menjadi normal-normal saja (natural).

Tentang sesuatu yang normal dalam kehidupan masyarakat, Emile Durkheim Sosiolog Prancis (1858-1917) berkata, itu perilaku yang paling umum dalam masyakat.

Kita bertanya, apakah ada perilaku yang paling umum selama penanganan covid-19? Ya. Semua orang (publik ~ umum) diwajibkan mematuhi protokol kesehatan, paling kurang ada dua hal, cuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir dan bermasker. Lalu ada tambahan-tambahan seperti jaga jarak aman, seperti berkendaraan di jalan raya, lalu hindari kerumunan, dan kurangi kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.

Nah, pada sisi-sisi tertentu bagaimana membatasinya? Menikah misalnya, semestinya social distancing berlaku di sini. Ada yang benar-benar membatalkannya. Tapi masih ada yang mencari celah di antara ketegasan aturan dan implemntasi lapangan. Kemenag mengeluarkan aturan menikah di tengah pandemi covid-19 (detik.com); dan terjadi pernikahan pada para pasutri yang tidak ditunda gegara covid-19 (cnnindonesia.com).

Kota-kota tertentu di Indonesia mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat untuk pelaksanaan PSBB. Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan memberikan izin itu. Implementasinya dikeluarkanlah aturan-aturan di kota-kota itu dengan segala konsekuensinya. Bukankah hal-hal ini sedang menuju kepada suatu normal dan alamian (natural)?

Ketika para kepala negara hingga selebriti dalam berbagai jenjang kelas mengiklankan protokol kesehatan dengan gaya yang khas, orang melihat itu sebagai suatu kebiasaan belaka. Mengapa? Itu iklan yang bersifat sosial kemasyarakatan. Didengarkan dan dipatuhi, syukur, tidak pun siapa yang memberi sanksi? Maka, normal-normal saja.

Para petugas ketertiban yang menegakkan aturan secara hukum pidana, mereka berdiri di jalan-jalan protokol dengan pos-pos penjagaan dan pengawasan yang ketat. Pada pos-pos itu ditempatkanlah secara terpadu para petugas medis, petugas tramtib, keamanan negara, polantas, petugas dinas lalulintas jalan raya, dan lain-lain. Semuanya bekerja dalam satu tim yang kompak. Kepatuhan dan kepongahan pengguna jalan beradu kuat dengan aturan yang dijalankan oleh tim ini. Lalu, hal yang demikian menjadi sesuatu yang normal. Bukan barang baru di Indonesia, dimana selalu ada operasi di jalan-jalan yang disebut tilang.

Tengoklah kata para pemuka agama. Siapa pemuka agama yang berdiam diri dengan mengisolasi diri pada masa pandemi covid-19 ini? Hanya segelintir orang mungkin atas alasan tertentu. Mayoritas pemimpin dan pemuka agama bahkan secara bergilir berdoa. Doa-doa itu dilantunkan di layar televisi secara langsung (live) sehingga dapat diikuti oleh seluruh masyarakat bangsa ini. Doa dan anjuran pemuka agama. Ya, hal yang lumrah dilakukan oleh mereka karena itulah tugas dan fungsinya pada negara. Mereka harus berbuih-buih bibir untuk terus menyuarakan kabar-kabar dari Tuhan. Kabar itu dapat berupa nasihat dan peringatan, sanksi ringan hingga hukuman berat disampaikan oleh Tuhan melalui mereka. Melalui bibir mereka sebagai jembatan penyampaian, di sana merekapun menunjukkan jalan dan cara terbaik untuk keluar dari berbagai hal di dunia nyata dan maya, yang hanya bisa terjadi bila ada iman dan taqwa.  Inipun sudah sesuatu yang normal, bukan luar biasa mencengangkan.

Bila ada yang mencengangkan, ingatlah bahwa telah terjadi suatu peristiwa di abad pertama zaman para rasul, Simon Petrus, cs. (KPR 2) dan kisah-kisah tentang mujizat-mujizat yang terjadi sejak tarikh masehi berlangsung hingga saat ini. Akh… bukankah itu sesuatu yang normal?

Bukankah beberapa pemimpin negara pernah “mengganggap remeh” pada penyebaran covid-19? Hal itu mungkin dipandang sebagai sesuatu yang normal. Sepuluh negara dengan kasus terbanyak, Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, China, Iran, Inggris, Turki dan Swiss (kompas.com). Ada upaya dan kerja keras. China bahkan dalam keadaan darurat telah membangun rumah sakit khusus hanya dalam hitungan hari hampir memecahkan rekor perbaikan satu kapal induk Amerika Serikat yang digunakan untuk menghancurkan kesombongan Jepang yang memborbadir pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Kepulauan Hawai.

Jika membangun rumah sakit dalam waktu teramat pendek seperti itu, Indonesia pun melakukannya, walau limit waktunya tidak sama dengan apa yang dilakukan di China (sosok.id). Paling tidak hal itu telah terjadi dan bagai memberi suatu kebanggaan di tengah kecemasan? Lalu bila hal itu terus berlanjut dengan kecepatan yang konstan bukankah itu akan dianggap sebagai sesuatu yang normal? Jika tidak maka para “politisi vokal” akan menjadikan itu sebagai alat argumentasi di parlemen. Bangun rumah sakit dalam tempo singkat, mengapa hal lain tidak dapat dilakukan dengan tenggat waktu yang mirip? Ini akan menjadi tren baru yang normal-normal saja.

Kantor-kantor pemerintahan dan swasta, perusahaan dan pabrik dari rumahan hingga yang kompleksitas padat modal, semuanya akan kembali pada rutinitas yang plus. Artinya akan ada satu tradisi baru dalam mengurus kesehatan masyarakat, pegawai dan karyawan, serta buruh dan para pekerja dengan berbagai status di dalamnya.

Lembaga-lembaga riset akan terus berkarya untuk memperoleh sesuatu yang dapat dimanfaatkan pada penanganan korona. Wujudnya sudah ada seperti alat tes covid-19 yang dibuat oleh Kemenristek, dan dipastikan akan ada beragam alat yang akan tercipta sebagai hasil kreasi inovasi para periset maupun mahasiswa, bahkan mungkin secara tidak sengaja oleh orang dengan tingkat pendidikan rendah sekalipun. Itu akan mencengangkan sementara waktu, lalu kembali ke kehidupan normal.

Sekolah-sekolah akan dibuka kembali. Guru dan siswa akan berinteraksi normal plus. Plusnya itu merupakan tambahan yang akan mentradisi di lingkungan sekolah. Segala perlengkapan cuci tangan, sabun, kran atau tempat tampungan air bersih yang dapat dibukaalirkan, berbaris dengan jarak bukan lagi sepanjang tangan tapi dua kali bilah tangan, duduk dengan menggunakan topi kreatif bertanduk dengan jari-jari 50 cm kali dua sehingga jarak antarsiswa sepanjang 100 cm (1 m), dan lai-lain. Pada saat itu jumlah siswa dalam satu ruang kelas akan dibatasi. Mengapa? Karena itu protokol kesehatan menegaskan, jaga jarak aman, tidak boleh memberi salam jabat (cipika-cipiki, hidung, tepuk dan lain-lain variasi yang dibuat guru kreatif). Semua yang rutin pada aspek tertentu akan dibuang menjadi kenangan.

Beribadahpun kembali normal dengan mengikuti protokol kesehatan. Mesjid-mesjid sudah mempunyai kran air bersih dalam rangka berwudhu. Ya, kaum Muslim tidak perlu mendapat penegasan soal cuci tangan. Mereka melakukannya tentu dalam tensi yang berbeda dari protokol kesehatan, tetapi mirip karena hal itu menyangkut kebersihan badan sebelum menghadap Tuhan dalam ibadah.

Penganut agama lainnya yang tidak menyediakan kran air bersih di kompleks pasti mesti mengusahakannya agar jemaat/umat dapat melaksanakan protokol kesehatan itu. Cuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir. Gunakan pembersih kuman di tangan (hand sanitizer) bila tidak menggunakan air bersih yang mengalir. Dan lain-lain penegasan itu yang akhirnya akan sampai pada kehidupan yang normal di lingkungan kaum beragama.

Lalu kita dan seluruh masyarakat bangsa-bangsa di dunia akan menjalani kehidupan yang normal sambil mendengar kabar-kabar tentang bumi yang terus bekerja dengan caranya untuk menyehatkan dirinya (http://tefneno-koroto.org/?p=3031).

Kata Akhir Belaka

Masih banyak aspek kehidupan yang akan terjadi dan dijalani secara normal. Semua hal yang menjadi ancaman akan dikecam, lalu bergegaslah pemimpin formal dan informal bersuara lantang menyerukan kewaspadaan hingga sanksi dan hukuman berat, atau akan dipikirkan untuk menerbitkan kebijakan reward pada mereka yang telah secara tekun melaksanakan aturan-aturan yang plus ini.

Mari menjadi orang-orang bijak yang menjalani kehidupan secara normal dalam segala nuansa yang menyertainya. Bukankah Tuhan pernah mengingatkan masyarakat pada zaman Nuh tentang ancaman kehancuran bumi ciptaan-Nya? Seratus tahun kemudian Nuh dan keluarganya selamat dengan semua kisah kreasi inovatif yang diperoleh mereka sebagai inspirasi-inspirasi solutif di dunia baru mereka bersama Tuhan (Kej. 6, 7, 8 dan 9). Kisah itu tercatat dan menjadi kenangan reflektif, dan entah akan menjadi refleksi solutif pada masa ancaman pandemi covid-19 dan ancaman tak kasat mata lainnya?

Selamat menikmati kehidupan normal yang baru sebagai sesuatu yang rutin plus natural.

 

Koro’oto, 19 Mei 2020

3 comments

  • Amin… Terimakasih pencerahan nya Pak…
    Tuhan memberkati.

  • alfred p. saebessi

    Tulisan ini adalah lukisan kerja saya di sini yang notabene rt dan koordinator satgas bidang pencegahan tingkat keluarahan pasir panjang . Dalam nada yang sama disampaikan dalam khotbah oleh pdt bobby litelnoni pada live streaming kebaktian perayaan kenaikan Tuhan Yesus hari ini di GMIT JEOeba.Kita berharap dalam doa agar kita tetap terkendali baik dalam dan oleh tuntunan tangannYA selalu….salam TYM