Nasionalisme anak bangsa NKRI di Era Normal Baru

Sekedar Awalan

Heronimus Bani

Seluruh umat dan anak bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini sadar dalam pengetahuannya bahwa sejak 20 Mei 1908, telah berdiri satu organisasi pertama yang membangkitkan kesadaran bersama, kesadaran Nasionalisme. Boedi Oetomo. Organisasi tersebut didirikan oleh para mahasiswa STOVIA yang dipimpin Sutomo yang gagasan awalnya oleh dr. Wahidin Soediro Hoesodo (Pamungkas, 2004).

Organisasi yang bertujuan meningkatkan pendidikan dan pengajaran serta pelestarian kebudayaan etnis Jawa, kemudian bergeser ketika R. T. Tirto Kusumo yang pejabat politik menggeser misinya hingga menyentuh ranah politik praktis. Jadilah Boedi Oetomo berhasil mengantarkan beberapa anggotanya dalam Volksraad (parlemen zaman Hindia Belanda).

Sejarah tak dapat lagi untuk dibalikkan. Waktu terus bergulir seiring perjuangan dan kerja keras yang diawali kesadaran akan siapa sesungguhnya anak bangsa ini?! Instrospeksi dan mawas diri menjalari darah dan roh hingga perjuangan menentang penjajahan dikobarkan. Panji nasionalisme, patriotisme dan heroisme, saya sebutkan sebagai tiga darah anak bangsa tidak lagi diturunkan apalagi harus digantikan dengan membuang handuk atau menaikkan bendera putih. Jalur diplomasi diperankan, jalur persenjataan dipertautkan, dan dunia kepenulisan bagai sumber air terus mengalirkan air tenang hingga banjir menghanyutkan.

Di sana awal dari suatu natural dan situasi normal baru dijalani, hingga akhirnya tiba di titik persinggahan baru, 17 Agustus 1945. Suatu titik persinggahan yang melejitkan tiga darah anak bangsa makin berkobar dan berkibar. Suatu natural dan normal baru dimulai dengan memasuki pintu gerbang kemerdekaan untuk mencapai visi bangsa yang ditetapkan dalam Pembukaan UUD 1945 yang tidak digugat amandemen pada era Reformasi ini. Di sana, setiap titik persinggahan ada satu masa yang dimulai dengan sesuatu yang akhirnya menjadi era normal baru.

NKRI dan bangsa-bangsa dunia segera akan memasuki era normal baru (the new normal) dalam masa pandemi covid-19. Tiga darah anak bangsa segera berhadapan dengan tantangan itu.

Kata Berakta di Takhta

Bangsa-bangsa terjajah membangun era normal baru ketika kemerdekaan diraihnya. Kitab suci umat Nasrani mencatat berbagai hal yang menjadi titik-titik krusial perjalanan bangsa Israel, bangsa pilihan Allah. Intrik internal para bangsawan untuk saling menjegal lalu bangkit sebagai pemenang dalam membangun negara dan bangsa. Di sisi lain mereka harus membangun kesadaran nasional anak bangsa sendiri untuk berhadapan dengan bangsa-bangsa sekitarnya yang mengancam keberlangsungan hidup Israel.

Bangsa Israel tidak saja kehilangan orang-orang, tetapi mereka pun kehilangan negara. Orang-orangnya diangkut sebagai tawanan, walau pada suatu titik waktu tertentu mereka diizinkan untuk kembali membangun kota Yerusalem (kitab Ezra dan Nehemia). Pada masa-masa seperti itu, kejayaan manakah yang akan dikembalikan agar menarik napas dan berkata, “Inilah yang normal!”

Ketika NKRI memasuki pintu gerbang kemerdekaan, isiannya dimulai dengan membersihkan sisa-sisa semangat separatisme dan rekolonialisme. Berhasil. Tiga darah anak bangsa menjadi patokannya, di samping suntikan motivasi yang mengakui adanya NKRI yang sejajar dengan bangsa-bangsa dunia. Dua puluh delapan September 1950 menjadi anggota Perserikan Bangsa-Bangsa ke-60. Walau pada 7 Januari 1965 sempat melepaskan keanggotaannya di PBB. Pada 28 September 1966 kembali lagi ke PBB sebagai anggotanya (wikipedia.org).

Silang sangkarut politik dengan segala dampaknya berakhir ketika Supersemar sebagai satu surat sakti berada di tangan Soeharto. Orde Lama berakhir. Orde Baru lahir. Suatu era normal baru dimulai hingga mencapai titik jenuhnya pada 1998 dengan segala krisis di dalamnya.

Anak bangsa ini sekalipun berada dalam berbagai situasi krisis, dan ketika krisis itu berakhir seakan hendak kembali ke dalam rutinitas lama. Tidak. Semuanya maju memasuki era normal baru dengan pelaku yang di antaranya orang lama dan orang baru. Mereka yang disebut sebagai orang lama mungkin hendak mempertahankan status quo,sementara orang baru hendak maju dengan ide-ide baru yang digagas dengan pembuktian-pembuktian.

Amandemen pasal-pasal UUD 1945 melahirkan suatu orde/era yang disebut Reformasi. Semangat Reformasi menempatkan bangsa ini pada satu era normal baru seturut perubahan pada batang tubuh UUD 1945. Rasanya tidak ada krisis politik yang memunculkan suatu tindakan subversif atau makar. Praktisi politik, analisis/pengamat politik, dalam berbagai organisasi politik dibentuk dan bubar atau bangkit dengan baju baru. Sesuatu yang normal dalam bentangan wilayah NKRI ini. Argumentasi dan silang polemik seakan menjadi hiasan dan aksesori pada pendengaran dan penglihatan melalui berbagai saluran media massa.

Adnan S. Ricardi (2006) mencatat dalam bukunya Potret Suram Bangsaku, gugatan dan alternatif pembangunan. Ia menulis nilai-nilai budaya orisinil milik anak bangsa ini yang kemudian bergeser maknanya ketika mendapatkan sentuhan baru yang menurutnya ironi. Ya, ada ironi ketika melewati titik-titik waktu sejarah. Semua ironi itu patut menjadi catatan perhatian pada perkembangan dan kemajuan bangsa.

Lumintang (2009) mencatat perlunya Re-Indonesianisasi Bangsa ketika rakyat menangis, pemimpin bangsa tertawa. Ideologi bangsa dikhianati, wilayah NKRI digugat, bangsa dinodai oleh dosa bangsa, alam dieksploitasi dan diterlantarkan, agama dipolitisasi dan negara diagamaisasi.

Itu semua telah berlangsung dan menempatkan bangsa ini pada titik-titik waktu sejarah sehingga bagai diterima dalam asumsi sebagai suatu kehidupan di era normal baru tanpa pertumpahan darah massal, kecuali tindakan-tindakan kriminal yang melanggar hak asasi manusia sekaligus sebagai tindak pidana dan separatisme sempit yang dikategorikan sebagai pengganggu keamanan.

Pasang-surut perjalanan yang tampak di permukaan tidak menjadikan bangsa di area arus bawah lantas tidak ikut dalam hingar-bingarnya. Ada berbagai dampak yang dirasakan ketika politik digerakkan sebagai panglimanya. Dampak sosial-ekonomi sangat terasa. Sanering ~ pemotongan nilai mata uang menjadi salah satu titik yang amat melemahkan perekonomian Indonesia plus ekonomi terpimpin menjadikan rakyat Indonesia hanya mengerjakan apa yang dibuat oleh pemerintah pusat dengan kedisiplinan. Krisis ekonomi berlanjut ketik Indoensia menarik diri dari keanggotaannya di IMF dan Bank Dunia (tirto.id). Semua ironi dan kronik yang mewarnai perjalanan bangsa menjadikannya bagai sedng hendak terpuruk. Namun tiga darah anak bangsa tak lekang. Nasionalisme, patriotisme dan heroisme bangkit memasuki era normal baru.

Covid-19 dalam Era Normal Baru

November 2019 satu titik waktu sejarah dimulai dari Wuhan-China. Dalam waktu singkat korona merebak dan menyebar. China bergerak menutup pintu keluar-masuk kota Wuhan, dengan pengecualian-pengecualian, misalnya ketika Pemerintah Indonesia menjemput 245 WNI yang “terjebak” dalam kota yang dikunci (nasional.kompas.com). Virus Korona penyebabnya.

Dalam waktu singkat banyak negara telah terseberangkan korona ke sana. Indonesia menyiapkan diri oleh karena pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lainnya, termasuk dari satu negara ke negara lainnya. Maret 2020, gejala Indonesia menyiapkan diri dalam upaya penanganan virus korona. April melalui Kepres Nomor 12 Tahun 2020, tanggal 13 April 2020, Gugus Tugas dibentuk dan memulai penanganan tugas pokok dan fungsinya.

Seiring dengan itu, bekerja dan belajar dari rumah serta beribadah di rumah disuarakan dengan himbauan dan penegasan. Tiada yang berdiam diri dalam hal ini. Refocusing oleh pemerintah pusat diikuti pemerintah daerah provinsi, kota dan kabupaten. Semuanya dalam satu sikap dan tindakan demi penyelamatan anak bangsa dari serangan virus korona yang dinamai covid-19. Berbagai aturan dan surat edaran dibuat oleh kementerian-kementerian, gubernur, walikota dan bupati untuk penanganan covid-19. Sekali lagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam negara ini melalui lembaga formal dan organisasi non pemerintah, semuanya bergandengan walau harus menjaga jarak aman dan jarak sosial. Keberlangsungan hidup anak manusia sebagai penduduk dan warga negara menjadi taruhan.

Tiada hari tanpa berita tentang covid-19. Siaran langsung oleh televisi saluran nasional dan daerah tentang data statistik naik-turunnya status penanganan covid-19. Kota dan daerah bergiat tanpa henti. Bekerja dan belajar dari rumah dilakukan dengan menutup sekolah-sekolah. Kantor-kantor pemerintah dan swasta mengatur shift. Rumah-rumah ibadah ditutup hingga perayaan hari-hari besar keagamaan pun tidak dapat dilakukan secara bersama dalam kelompok besar.

Budaya baru yang tak baru-baru amat mesti dimulai. Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Biasakan mandi bersih. Gunakan pembersih kuman di tangan (hand sanitizer), kreasikan salam jabat yang baru dan lain-lain. Semua bergerak dalam bidang kerja dan profesinya untuk mendapatkan suatu situasi yang normal baru.

Lihatlah contoh bundesliga di Jerman telah dimulai tanpa penonton. Intensitas pelanggaran di tengah lapangan berkurang karena jarak aman mesti nyata, kecuali terpaksa dilakukan demi penyelamatan gawang. Bukankah dunia olahraga pun akan menyesuaikan untuk tiba pada era normal baru itu?

Internet menjadi satu kebutuhan di tengah hiruk-pikuk covid-19. Rapat dan konferensi menggunakan berbagai produk aplikasi. Mengajar dan Belajar menggunakan aplikasi dalam jaringan (daring). Bersurat dalam jaringan. Bahkan mengirim virus pun terjadi dalam jaringan. Ini era baru, era normal baru yang akan kita mulai, sambil mengenang era normal lama dengan berkata, “dulu … !”

Badan Kesehatan Dunia, WHO telah mengingatkan para pemimpin negara tentang hal penanganan covid-19 yang masih akan terus berlangsung. Waktu beberapa bulan yang sudah terlewati telah menjadikan pemeintah dan masyarakat dari negara-negara yang terpapar covid-19 ini harus mulai melonggarkan penegasannya. Kelonggaran diikuti dengan kesanggupan penanganan dimana ada ketersediaan fasilitas kesehatan oleh pemerintah (health.detik.com).

Era Normal Baru tiba juga di dunia pendidikan kita (iNews.id). Para guru di Indonesia akan dipaksa dan terpaksa belajar sambil mempraktikkan penggunaan multi media pembelajaran. Tidak dapat lagi beralasan bahwa kami ada di daerah tanpa jaringan internet. Sungguh akan dipermalukan oleh sejawatnya tanpa malu-malu. Mengapa? Guru tak tergantikan oleh media apapun itu, tetapi guru harus berada dalam jaringan untuk memanfaatkannya. Jika guru masih menggaruk-garuk kepalanya dan memeragakan rona ketidaktahuan, betapa mesti ada upaya menyaring  kembali para guru, sekalipun itu NKRI secara topografi sangat heterogen area persebaran sekolah-sekolah.

Seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara dalam NKRI sudah berada dalam era normal baru itu sejak pengetahuan tentang covid-19 dimulai. Bukankah 100 tahun lalu virus spanyol merenggut nyawa hingga terkenallah penyakit kolera dengan vaksin dan klorokuin sebagai obatnya. Sambil menantikan vaksin covid-19, kita mulai dengan kreasi yang inovatif solutif.

Sejenak Di sini Kata Akhir

NKRI telah terbiasa berhadapan dengan krisis. Semua krisis dapat diatasi dengan semangat yang saya sebutkan sebagai tiga darah anak bangsa; nasionalisme, patriotisme, dan heroisme plus gotong royong.  Hal-hal ini masih tetap eksis. Eksistensi mereka patut diinternasisasikan sebagai doktrin pada anak bangsa. Ketika diindoktrinkan, krisis manapun dengan segala polemik dan argumentasi silang sengkarut, pasti akan ada solusi untuk memasuki suatu era baru. Di setiap titik waktu sejarah, ada catatan-catatannya. Dari sana anak bangsa ini akan mengambilnya sebagai pengetahuan reflekstif.

Pandemi covid-19 telah mengantarkan perubahan pola pikir, sikap dan tindakan pada pemerintah dan masyarakat NKRI aspek kesehatan masyarakat. Aspek lain dari kehidupan berbangsa dan bernegara serta merta ikut terdampak. Kita akan segera memasuki the new normal, atau era normal baru pada pertengah tahun 2020 ini.

Selamat datang the new normal, era normal baru.

 

 

6 comments