Bermasker sambil Menyanyi bagi Tuhan

Bermasker Sambil Menyanyi Bagi Tuhan

Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada (Maz. 104:33)

Heronimus Bani

 

Gedung dan rumah-rumah gereja pada hari-hari pandemi covid-19 ini sedang ditutup. Pintu gedung/rumah gereja tertentu dibuka hanya untuk kepentingan pelayanan kebaktian secara live streaming. Lalu berapa banyak jemaat/umat yang menjadi peserta kebaktian yang disiarkan seperti itu? Apakah sudah ada riset tentang kebaktian yang diikuti secara live streaming itu akan sungguh-sungguh? Penyelenggaranya bersungguh-sungguh, sementara yang mengikuti secara live streaming, penuh misteri. Ini opini saya. Kita boleh membangun opini yang berbeda. Mengapa? Karena belum ada data yang menunjukkan bahwa ada kesungguhan peserta kebaktian via smartphone android.

Pada situasi normal, kebaktian-kebaktian di gedung/rumah gereja selalu penuh pada hari Minggu tertentu dan pada hari raya tertentu. Hal ini menjadi tantangan pada para presbiter (pendeta, penatua, diaken, pengajar, penginjil, dan pekerja gereja lainnya). Menghitung jumlah peserta kebaktian sudah menjadi kebiasaan agar mengetahui tingkat partisipasi jemaat secara kuantitatif, sementara secara kualitatif, belum ada riset tentang hal ini. Mengapa? Secara kualitas, variabel utamanya adalah iman.

Bagaimana mengukur iman?

Terlepas dari itu, kita sekarang ini ada dalam situasi pandemi covid-19. Salah satu di antara protokol kesehatan yang sangat dipersyaratkan, bahkan telah menjadi kewajiban yang bersanksi bila tidak mengenakannya, masker. Orang harus bermasker dalam perjalanan dan dalam tugas-tugas. Nah, bila memasuki era normal baru dimana pintu gedung/rumah gereja dibuka, umat/jemaat kembali berbakti, sambil mengenakan masker?

Akh, tidak mungkin!

Baiklah. Asumsikan saja bahwa tidak mungkin. Tapi jarak duduk mesti terjadi. Setiap meter persegi ditempati satu orang. Misalkan gedung gereja luasnya 400 meter persegi, maka yang boleh masuk ke sana 40 orang saja. Padahal, luas 400 meter persegi itu itu masih terbagi lagi paling kurang dua bagian; bagian untuk area Majelis Jemaat dan yang lebih luas untuk area umat/jemaat.

Mari memasuki pemisalan berikutnya, bahwa luas area aula yang dipakai untuk kebaktian itu 20 x 20 meter; 4 meter di antaranya dipakai untuk anggota Majelis Jemaat, 80 meter persegi. Lalu jarak antara Majelis jemaat dengan bangku pertama yang diduduki jemaat peserta kebaktian 5 meter (5 m x 20 m) area 100 meter persegi telah diambil lagi. Jadi, ada 180 meter persegi telah diambil untuk posisi kosong dan majelis jemaat. Tersisa 220 meter persegi. Jika 220 meter persegi ini harus diposisikan tiap orang duduk pada satu meter persegi maka yang boleh mengikuti kebaktian sebanyak 22 orang jemaat ditambah 8 orang presbiter (penatua, diaken) dan seorang pendeta. Jadinya di gedung/rumah gereja yang luas aulanya 400 meter persegi hanya boleh ditempati 31 orang peserta setiap kali kebaktian. Nah, bila dilonggarkan, maka akan mencapai maksimal 50 orang dengan segala konsekuensi yang menyertainya.

Apakah kita akan memuji Tuhan dengan masker menutup mulut dan lubang hidung?

Sekali lagi mungkin tidak. Mazmur 104: 33 tadi jelas menyebutkan tentang menyanyi bagi TUHAN selagi masih hidup. Banyak ayat alkitab yang menunjukkan sukacita orang perorangan atau komunitas yang rindu  menyanyi bagi Tuhan. Mazmur 40 : 3; Mazmur 59 : 16; Mazmur 96 : 1-2; Keluaran 15 : 1-2; KPR 16 :25-26, dan lain-lain.

Saya berefleksi demikian. Apakah selama ini umat/jemaat sudah memuji Tuhan secara benar? Nah, ini lagi-lagi susah untuk menempatkan data secara evaluatif. Tapi, fakta hari ini kita menutup mulut dan hidung sehingga memuji TUHAN hanya boleh di rumah saja. Kita tidak boleh masuk ke gedung/rumah gereja untuk secara bersama-sama memuji TUHAN.

Mungkin mulut yang kita pakai untuk memuji TUHAN selama ini lebih “berbau” caci maki dan umpat. Kita ingat di dalam mulut ada satu alat yang disebutkan yaitu lidah. Teks berbahasa Amarasi menggunakan fefaf. Kitab Yakobus 3 : 9-10 dalam tiga teks terjemahan.

Nok fefaf mese’, hit tpures ma taseku’ nok. Naan ka reko fa! Hit tpaek hit fefak he tbo’is Ama’ Uisneno. Rarit nok fefaf re’ naan amsa’, hit taseku’ ma ta’akan hit aok-bian, re’ Uisnenno nmoe’ je natuin In human ma In masan. On mee m’es on re’ naan? (aaz)

Deng mulu yang sama, orang puji-puji deng bamaki. Itu sonde pantas! Kotong pake mulu ko puji sang Tuhan, Allah Bapa. Ais deng itu mulu ju, kotong maki-maki orang yang Tuhan su bekin iko Dia pung model. Karmana bisa begitu? (BMK)

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. (BI)

Mari memperhatikan secara cermat ayat alkitab yang saya kutipkan untuk kita belajar bersama ini. Sekali lagi, apakah selama ini kita benar-benar memuji Tuhan? Bisakah saudara dan saya menghitung berapa sering kita memuji Tuhan dibandingkan dengan seberapa sering kita memaki, mengutuk dan mengatai sesama dengan kata-kata buruk. Semua itu keluar melalui satu pintu, namanya mulut.

Nah, pada masa pandemi covid-19 ini kita semua benar-benar sedang memuji Tuhan, tapi di rumah saja. Kita sedang bersekutu secara nyata, persekutuan yang kelihatan. Kita bersekutu di dalam roh, kita diberi ruang dan jarak antar rumah yang satu dengan rumah yang lain, hingga jarak antar rumah dengan gedung/rumah gereja. Lalu kita memuji Tuhan masing-masing di sudutnya.

Saat itu, siapa yang mengumpat sesamanya?

Jangan-jangan selama ini kita berkumpul di gedung/rumah gereja, kita menyanyi sambil melirik seteru, musuh. Mungkin tetangga, atau rekan kerja yang tinggal berjauhan, tetapi bertemu di dalam kebaktian sambil menyanyi memuji Tuhan, mata sempat bertubrukan pandang, lalu berhentilah kita dalam pujian itu, kemudian memaki dulu. Setelah itu rona diberes-bereskan bagai tak berdosa. Kemudian, kembali mengangkat pujia bagi  Tuhan dengan lagu yang sedang dinyanyian secara berjemaat.

Ini hanya dugaan. Jangan dibenarkan karena sesekali terjadi, begitu habis kebaktian, di emper gedung/rumah gereja peserta kebaktian tertentu sudah bertengkar.

Nah, besok tetaplah menyanyi untuk Tuhan dari rumah masing-masing. Ingatlah bahwa saudara dan saya masih tetap bermasker. Masker untuk kesehatan. Masker menutup sementara lidah dan mulut agar kiranya tidak mengumpat sesama ketika saling bertemu, walau mungkin hati sedang mengucapkannya. Masker menutup hidung. Bila kemarin membau dan berkata pada sesama, “lu pung baboo lai, pi sana do!” Baiklah lubang hidung itu ditutup agar tidak lagi membau badan orang lalu mengatakan yang buruk padanya. Hidung yang sama yang kemarin mencium lalu berkata dalam hati tentang keburukan hidung sesama, biarlah diistirahatkan dengan masker agar tidak mencium dulu.

Akh… lelucon belaka. Kiranya lelucon ini direfleksikan.

Mari menyanyi untuk Tuhan selama masih ada. Besok bernyanyilah untuk  Tuhan kita Yesus Kristus yang naik ke Sorga. Ia pergi menyediakan tempat pada kita. Pujian dan penyembahan kita mestinya lebih pada hormat dan kemuliaan-Nya. Maka, Ia pun akan menempatkan kita di tempat yang mulia.

Selamat Memasuki Kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus, Kamis, 21 Mei 2020. Tuhan Yesus memberkati.

   

 

 

One comment

  • Ade Jelo

    Untuk orang yang sementara bertengkar/punya masalah dengan orang lain, duduk berjauhan juga adalah kesempatan supaya tidak saling “baku dekat” dan “baku seti” satu dengan yang lainnya…😁😁😊