Bukit Zaitun

Bukit Zaitun

Hari ini, Kamis (21/05/2020) gereja-gereja di belahan bumi bagian Timur telah beribadah memperingati

Heronimus Bani

Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga. Kami jemaat kecil di pedesaan Timor pun telah melakukannya dalam situasi pandemi covid-19 dengan segala ribetnya. Ketika kebaktian berlangsung di gedung gereja yang dihadiri tidak lebih dari 20 orang, tidak ada satupun vocal grup atau paduan suara. Saya ingat untuk menyanyikan satu lagu tua, begini,

Zaitun pangkalan dunya, di sana Yesus bertolak, menumpang kapal awan, ke kota Sion yang baka. Nama-Nya besar lebih, kuasa-Nya tak setara, Raja atas segala raja. Trus sampai selama-lamanya.

Nomor lagu yang sudah memudar ini tidak selalu dinyanyikan zaman ini. 1950-an hingga 1980-an di kampung Koro’oto lagu ini terdengar syahdu. Kini, pop rohani lebih disukai dan selalu baru sehingga lagu seperti itu telah usang dan lebih baik dimuseumkan di pori-pori bumi.

Nah, satu frase yang selalu diingat ketika memperingati Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga. Kata itu adalah  Bukit Zaitun. Catatan para Penulis Kitab-kitab Injil tidak secara tersurat menyebut Bukit Zaitun, sebagai tempat dimana Yesus terangkat ke sorga, kecuali semacam tanda penunjuk arah (Mat. 28:16; Luk. 24:50). Bahwa ada catatan-catatan nama Bukit Zaitun disebutkan ada, tetapi dalam masa pelayanan-Nya (Mat 21:1; 24:3; Mark 11:1; 13:3, Luk 19:29, 37, 41; 21:37; Yoh.8:1).

Lukas yang menulis Kisah Para Rasul mencantumkan nama Bukit Zaitun (KPR 1:12). Inilah satu catatan yang menyebut secara jelas nama Bukit Zaitun. Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem (KPR 1:12). Ayat ini tidak boleh dibaca terpisah dari ayat-ayat sebelumnya (ay 6-11). Dengan membaca seperti itu kita mengetahui bahwa Yesus terangkat ke Sorga, pada waktu itu mengambil tempat di Bukit Zaitun.

Satu pertanyaan menggoda, mengapa disebut Bukit Zaitun?

Browining  dalam A Dictionary of the Bible, dalam terjemahannya sebagai Kamus Alkitab menulis satu paragraf yang saya penggal di antaranya sebagai berikut, Zaitun, gunung atau bukit, suatu perbukitan sepanjang 1,6 km sebelah timur Yerusalem dipisahkan oleh Lembah Kidron dimana terletak Getsemani… .

Satu catatan di zaman modern ini dibuat oleh stellatours.com demikian, … Bukit Zaitun dengan 3 puncaknya. Puncak di Utara (818 m) oleh umat Kristen disebut Viri Galilaei, puncak di tengah (808 m) secara tradisional dipandang sebagai tempat kenaikan Tuhan Yesus, dan puncak di Selatan (734 m) oleh umat Kristen disebut Gunung Skandal, sebab konon di situlah Raja Salomo mendirikan tempat pemujaan dewa-dewa yang dihormati oleh para istrinya yang asing.

Dua catatan ini satunya dibuat yang menggambarkan topografi daerah sekitar Yerusalem pada abad-abad pertama para rasul melaksanakan misi pekabaran injil, sementara catatan kedua dibuat pada zaman ini dimana orang sudah berziarah ke Yerusalem untuk merasakan aura pelayanan Yesus bersama para murid-Nya sebagai sekutu yang diikuti para seterunya.

Bukit Zaitun disebutkan demikian oleh karena pada suatu masa bahkan sejak zaman raja Daud, bukit itu telah dipakai sebagai area tanaman zaitun. Daud pernah menangis di bukit ini (2 Sem.15:30. Ketika itu Daud menyelamatkan diri dan keluarga serta pengikut-pengikutnya dari pemberontakan Absalom. Buki Zaitun tercatat beberapa kali dalam Perjanjian Lama sebagai tempat yang kurang elok kisahnya. Di sini, konon didirikan tempat-tempat penyembahan kepada para dewa asing (Yehz.11:23; 1 Raj 11:7-8; 2 Raj 23:13).

Di masa Yesus dan para sekutu (murid-murid-Nya) dan seteru-Nya beriringan dalam pelayanan, bukit ini dilewati beberapa kali. Di lerengnya ada Getsemani. Di sana Yesus pernah membawa tiga murid-Nya, Simon Petrus, Yakobus dan Yohanis untuk berdo’a (Mat 26:36-46; Mrk 14:32-42; Luk 39-46).

Apa pesan yang dapat direfleksikan dari Bukit Zaitun, bukit bersejarah ini?

  • Pada masa lampau bukit ini ditanami pohon-pohon zaitun. Minyak zaitun (olive oil) diperoleh dari pohon zaitun. Di Yerusalem tempat pemerahannya disebutkan dalam Bahasa Ibrani, Getsemani ~ tempat pemerahan buah zaitun untuk mendapatkan getahnya agar diolah menjadi minyak. Memerah mesti dengan alat yang kuat. Saya teringat orang Koro’oto dan sekitarnya kalau perah santan kelapa. Beberapa orang berdiri pada satu palang kayu yang dialasi. Di tengahnya dijepitkan parutan kepala dalam karung, lalu jadilah santan itu keluar. Ampasnya dikeluarkan dapat diterbangkan angin karena sudah tidak ada minyak lagi.
  • Pada masa lampau di tempat ini ada duka mendalam yang dialami oleh seorang raja. Raja Daud yang “melarikan diri, menyelamatkan diri” dari serangan musuh anaknya sendiri, Absalom.
  • Pada masa lampau raja Salomo pernah membangun bagi isteri-isterinya tempat pemujaan. Ingtlah bahwa ada sejumlah besar isteri-isteri Salomo yang didapatkan secara sah melalui pernikahan resmi dan sejumlah lainnya diberikan sebagai “hadiah”. Para isteri inilah yang membawa dewa-dewa asing masuk ke dalam istana raja Salomo, sekaligus ke dalam kota Yerusalem. Mungkin demi menghindari “benturan” keyakinan, Salomo membangun kuil-kuil para dewa isteri-isterinya di tempat ini.
  • Lalu pada zaman pelayanan Yesus, Ia tiba di lereng bukit Zaitun d tempat itu Ia  duduk dan berdiskusi/tanya-jawab dengan para murid-Nya tentang akhir zaman. Bait Allahpun akan diruntuhkan (Mat 24; Mrk 13; Luk 21). Tempat dimana pernah dijadikan pemujaan para dewa asing akan menjadi saksi yang memalukan karena Yerusalem kota religius akan “menangis”.
  • Di Getsemani tempat pemerahan air (minyak) buah zaitun menghasilkan minyak untuk bahan makanan maupun minyak rambut. Minyak zaitun bahkan masih berlaku sampai saat ini. Di tempat yang sama, Yesus, dalam doa-doanya, keringat-Nya tercurah bagai diperah, bahkan lebih keras cara memerahnya sehingga keringat Yesus bercucuran bagai darah (Luk.22:44). Darah tentu tidak sama dengan minyak. Peluh~keringat tentu tidak sama dengan minyak. Walau secara ilmu orang secara mudah mengatakan itu benda cair. Ya. Benar. Tetapi minyak untuk melicinkan urusan rambut dan kenikmatan/kelezatan makanan. Ada sejumlah manfaat ketika manusia berkeringat menurut para ahli kecantikan. Tetapi keringat Yesus tidak dalam rangka kecantikan-Nya. Keringat Yesus yang menetes ke tanah bagai darah itu untuk memelihara “kecantikan” manusia yang diciptakan-Nya.  Keringat bermanfaat untuk meluruhkan racun, sementara keringat Yesus yang berdarah itu bermanfaat untuk meluruhkan dosa yang meracuni manusia.
  • Di Bukit Zaitun, Yesus terangkat ke Sorga. Bukit tentulah secara kasat mata terlihat lebih tinggi. Ia bukan gunung sehingga membutuhkan ketrampilan tertentu untuk mencapai puncaknya. Di bukit, semua orang dapat sampai ke puncaknya. Yesus dan para murid tiba di sana. Mereka walau hanya 12 orang (Yesus dan 11 murid-Nya), tetapi mereka telah memproklamasikan suatu kemenangan dari satu dunia baru. Dunia Pekabaran Injil. Injil Kerajaan Allah, Kabar dari Istana Sorga dimulai dari perintah/amanat agung Yesus Kristus di Bukit Zaitun (Mat. 28:18-20), … Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan dibumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.
  • Bukit Zaitun tempat kesedihan, kejijikan, kemurtadan, bahkan sampai pada kegentaran dan ketakutan. Kini telah diubahkan menjadi tempat yang membawa sukacita, damai sejahtera dan keberanian.

Adakah saudara hendak menjadikan rumah, kampung dan kotamu menjadi Bukit Zaitun?

4 comments

  • Jes Djo Nag

    Mantap bp Roni, teruslah memberkati😇🙏

    • terima kasih su baca ini artikel dari kampung oo… Tuhan Yesus memberkati bp Pdt Yes dan keluarga …

      • David R E Selan

        Terimakasih juga bpk Bani, telah menulis tentang kenaikan Tuhan Yesus,sungguh luar biasa Kasih Tuhan Yesus terhadap umatNya, tak terselami oleh manusia, doa kami semoga Bpk Guru tetap menjalankan misi penulisan dgn tetap mengandalkan Tuhan senantiasa.

        • Terima kasih banyak bapak David Selan yang sudah membaca tulisan dari guru kampung. Puji Tuhan dan Amin untuk doanya. Tuhan memberkati senantiasai bapak dan keluarga.