Darah (2)

Darah
(Refleksi tentang darah dalam beberapa dimensi)

 

Darah dalam Dimensi Agama Suku

Menggunakan terminology agama suku rasanya tidak banyak literatur membahasnya. Mohamad Zazuli (2018)[1] dalam bukunya Sejarah Agama Manusia, ia menggunakan terminology agama pribumi dan agama kuno serta agama pra sejarah. Ia tidak membedakan ketiganya, tetapi ia menguraikan kronologi adanya agama kuno dan prasejarah hingga secara spesifik pada agama pribumi. Saya memilih menggunakan agama suku.

Sejarah agama-agama di dunia beragam versi ceritanya. Dalam seri ke-2 tulisan tentang darah saya tidak melanglang buana kemana-mana jauh dari Timor. Hal ini agar tidak terjadi bias informasi. Saya hendak masuk di area orang Timor (Atoin’ Meto’) saja, walau mungkin dapat saja terjadi kekurangan informasi mengenai topik ini. Saya mulai dari yang terdekat di lingkungan sub etnis kami, yang kiranya dapat menjadi gambaran gamblang pada umumnya.

Dalam lingkungan sub etnis Timor yang menghuni wilayah besar Amarasi di dalamnya secara dialek terbagi atas Kotos, Ro’is, Taisnonof, (dan Ketun). Keyakinan akan adanya kekuatan di sekitar kehidupan manusia Timor sangat kental. Banyak hal dihubungkan dengan kekuatan supra natural itu sehingga menciptakan semacam ketakutan bila tidak melaksanakan kehendaknya. Itulah sebabnya, dalam dunia atoin’ meto’ rasanya peluang untuk “bebas” dari jangkauan kekuatan supra natural itu sangat tipis, atau bahkan tidak ada sama sekali.

Dalam situasi seperti itu orang harus memberikan persembahan kepada kekuatan supra natural itu. Persembahan itu harus dalam wujud darah dari binatang tertentu. Dua hingga tiga jenis ternak selalu menjadi korban dari permintaan kekuatan supra natural itu. Ayam, kambing dan babi.

Ayam merupakan ternak yang paling banyak dijadikan korban agar darahnya diambil sebagai persembahan kepada kekuatan-kekuatan supra natural. Setelah ayam disembelih, darahnya ditempatkan pada wadah tertentu (biasanya berupa tempurung kelapa). Darah itu akan mengental.

Sementara itu para pemuja akan mencari kemauan/kehendak kekuatan supra natural itu dengan cara mengecek pada usus-usus, jantung dan belahan lembaran hati ayam. Di sana ada tanda-tanda khusus yang diyakini sebagai kehendak itu ada.

Sesudah mengetahui adanya kehendak dari kekuatan-kekuatan supra natural, mereka akan mengambil bulu ayam, mencampurkannya dengan darah dan usus. Campuran itulah yang dibakar sambil membaca mantra (sebagai doa) kepada kekuatan supra natural itu.

Untuk upacara rutin menggunakan pendekatan yang demikian. Upacara rutin seperti membuka lahan baru, membakar, menanam, mengambil hasil pertama. Sementara Ketika membawa hasil akhir dari ladang ke rumah untuk disimpan dalam lumbung (‘mau) mereka menyembelih ternak sedang seperti kambing atau babi.

Dalam banyak ritual ayam, kambing dan babi selalu menjadi korbannya. Darah yang dibakar atau seringkali dibiarkan menyiram pori-pori bumi diyakini sebagai pemberian kepada kekuatan supra natural itu.

Apakah kekuatan supra natural itu?

  1. Roh para leluhur

Di kalangan Atoin’ Meto’ roh para leluhur diyakini tidak pergi menjauh ketika meninggal. Itulah sebabnya mereka akan menyembelih ternak tertentu pada peristiwa kedukaan. Orang yang meninggal dunia mesti dapat “dipestakan” oleh orang-orang yang masih hidup. “Pesta” dukacita itu memerlukan pengorbanan. Ternak menjadi ukuran pengorbanan.

Jika pada masa lampau ternak babi dalam jumlah tertentu menjadi ukuran harga diri peratap duka. Kini ternak besar seperti sapi adalah ukuran tertingginya. Makin banyak ternak sapi disembelih, martabat peratap duka itu makin naik, sementara roh dari yang meninggal diyakini amat berbahagia menyaksikan peristiwa itu di dunia yang lain. Ketika itu roh itu telah bersama-sama dengan roh-roh yang telah mendahuluinya di dunia yang lain itu. Mereka bersama-sama ikut meramaikan “pesta dukacita” itu.

Diyakini bahwa darah yang dicurahkan baik pada ayam, kambing, babi, atau sapi, semua curahannya diambil sebagai “makanan” para roh itu. Dengan car aitu peratap duka akan terlepas dari nista dua pihak. Pihak orang sekitar yang masih hidup, dan oleh pihak roh-roh.

Orang yang masih hidup di sekitar peratap duka akan membincang-bincangkan kebodohan peratap duka bila tidak ada “pesta dukacita” itu. Perbincangan itu menjadi sas-sus belaka di lingkungan masyarakat, apabila peratap duka itu berasal dari keluarga “mapan” ekonomi.

Roh orang mati yang “disambut” di dunia lain oleh para pendahulu, akan mengucilkannya bila tidak ada darah yang dicurahkan mengiringi kepergiannya.

  1. Ron bukan leluhur

Roh bukan leluhur itu seperti menyembah kepada berbagai ilah di langit, di bawah air, di bukit dan gunung. Di tempat-tempat itu diyakini adanya roh-roh yang menjadi penunggu dan pemilih benda dan makhluk. Pada benda dan makhluk seperti itu mereka membawa ternah dan menyembelihnya. Darahnya dicurahkan atau dibakar bersama-sama dengan campuran tertentu. Dari sana mereka melafalkan mantera (sebagai doa) kepada roh yang bukan leluhur itu.

Demikian sekilas saja tentang dimensi darah pada agama suku. Kiranya hanya bersifat informasi berhubung saya pun mendapatkan semua ini dari cerita orang tua saya yang tidak sempat melakukannya. Leluhur kami pernah melakukannya.

Bersambung, 

[1]Mohammad Zazuli, 2018, Sejarah Agama Manusia, Ikhtisar Agama-Agama, Mitologi dan Ajaran Metafisika Selama Lebih dari 10.000 tahun, Narasi, Yogyakarta.