Sekolah Dasar Pedesaan NTT menghadapi Era Normal Baru

Sekolah Dasar Pedesaan NTT menghadapi Era Normal Baru

Pengantar

Apakah insan dengan potensi hikmat, akal, pengetahuan segera akan “berdamai” dengan korona? Jawabannya, tidak! Walau demikian, korona telah akan menjadi bagian dari kehidupan umat manusia, sebagaimana kolera pernah ada bersama dan berbagai virus lainnya yang akhirnya hilangnya itu bagai sedang senyap saja. Manusia kemudian memilih memasuki era baru dengan terus berwaspada pada berbagai virus dan bakteri.

Tuberculosis yang dikenal dengan istilah TB atau TBC disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Hampir tidak dapat dipastikan kapan TB/TBC menyerang umat manusia di Indonesia. Relief pada candi Borobudur[1] menggambarkan orang yang tubuhnya kurus kering mungkin memberikan indikasi bahwa TB/TBC pernah ada, dan akhirnya tetap ada sampai sekarang. Ia dapat disembuhkan dalam jangka waktu enam bulan[2] bila pasien patuh dan rutin menelan obatnya.

Kini korona merebak. Korban telah berjatuhan. Berbagai aturan yang bijaksana telah dikeluarkan oleh pemerintah demi mencegah penularan virus ini. Pembatasan-pembatasan pun telah dilakukan. Batasan waktu untuk menutup pintu rumah/Gedung ibadah, sekolah, perkantoran, perusahaan, dan berbagai bidang usaha tidak juga memberi harapan yang penuh. Angka kematian bertambah, angka kesembuhan bertambah, tapi angka terpapar sebagai ODP pun bertambah.

Pada sisi lain, pergerakan orang tak dapat dibatasi berhubung tuntutan ekonomi, paling tidak untuk mengisi perut untuk beberapa orang di dalam rumah. Maka, bekerja dari rumah bagi sebahagian orang mungkin berhasil, tetapi mayoritas orang masih perlu bekerja di luar rumah. Seperti halnya belajar dari rumah dalam jaringan, mungkin bagi sebahagian siswa dan guru itu baik. Pada mahasiswa dan dosen, mungkin itu juga baik. Tapi, mayoritas siswa – guru; mahasiswa – dosen tetap menempatkan tatap muka di ruang kelas, ruang kuliah sebagai yang dianggap paling efektif.

Kini kebijakan nasional berganti Haluan. “Berdamai dengan korona”.  Lalu pemerintah akan segera membuat kebijakan-kebijakan baru seiring induk kebijakan ini sehingga menjadi protocol-protokol baru dalam pelaksanaannya di tengah-tengah masyarakat. Dunia Pendidikan dasarpun akan mengalami hal yang sama dan tentu akan lebih teknis.

Tiap provinsi pasti memiliki problematikan tersendiri dalam hal Pendidikan dasar. Baik provinsi yang hanya sedaratan, terlebih lagi provinsi kepulauan. Nusa Tenggara Timur dengan jejeran pulau besar dan kecil akan melewati era normal baru itu pula. Tulisan ini hanyalah asumsi-asumsi berangkat dari kenyataan saya sebagai guru kampung di daerah terpencil.

Pendidikan Dasar di NTT dalam Era Normal Baru

Wacana era Normal Baru yang lebih dikenal dengan istilah New Normal mulai dikumandangkan dari Badan Kesehatan Dunia. Sekalipun masih dalam tahapan wacana dan konsep, namun komunitas dan bangsa-bangsa mesti mulai menyiapkan diri memasukinya. Definisinya pun masih beragam namun dalam prinsip-prinsip yang mirip, yaitu semua orang akan berada dalam situasi yang tidak sama seperti sebelumnya. Wiku Adisasmita[3] mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal.

Nurul Fauziyyah[4] New normal merupakan habitual baru yang muncul atas penyesuaian pada kondisi sebelumnya. New normal memang merupakan langkah awal yang tak mudah sebab meski aktivitas sektor industri kembali dibuka, semua takkan persis sama seperti sedia kala. Kuncinya adalah sikapi dengan bijaksana jika ingin melalui ini semua dengan segera

Saya menggarisbawahi pandangan Nurul Fauziyyah pada aktivitas sektor industri kembali dibuka, semua takkan persis sama seperti sedia kala. Hal ini akan berlangsung pula di dunia Pendidikan. Sekolah-sekolah yang ditutup dengan pendekatan belajar dari rumah, semuanya akan Kembali dibuka, namun tidak akan sama persis seperti sedia kala. Akan ada sejumlah protocol yang patut diikuti, ditaati, dan dipatuhi.

Sekolah-sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Nusa Tenggaraa Timur yang berdiri di mulai dari area perkotaan di ibukota provinsi, kota Kupang, dan kota-kota kabupaten hingga kota kecamatan dan wilayah-wilayah pedesaan jumlahnya mencapai ribuan. Data pokok Pendidikan (dapodik) yang menunjukkan jumlah Sekolah Dasar yang mencapai 5.154 unit dengan rincian antara sekolah negeri/inpres sebanyak 3.345 unit dan swasta sebanyak 1.809 unit, sekali lagi menyebar di kota hingga pedesaan. Semua ini akan berhadapan dengan era normal baru dimana tidak akan sama persis seperti semua.

1.   Dalam Hal Penerimaan Peserta Didik Baru

Dalam hal penerimaan peserta didik baru (PPDB) sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 44 Tahun 2020, prinsip transparan, akuntabel, objektif, berkeadilan, dan non diskriminatif pasti dapat dilakukan. Zonasi yang perlu dalam PPDB di Sekolah-sekolah Dasar pedesaan sangat tidak dapat dilakukan. Tanpa zonasi pun sekolah-sekolah itu sudah terbatas dalam hal penerimaan siswa. Angka kelahiran di pedesaan NTT makin menurun. Dimana-mana terpampang papan pengumuman kampung Keluarga Berencana. Di desa-desa seperti itu angka kelahiran makin ditekan. Ruang-ruang kelas makin kosong. Unit-unit sekolah baru makin bertambah.

Zona PPDB untuk SMP yang dibangun di kota-kota kecamatan dalam wilayah kabupaten dan kota hingga kota kecamatan. Rerata PPDBnya akan mirip dengan sekolah-sekolah dasar. Jika pada masa Orde Baru pembangunan satu unit SMP mesti didukung oleh beberapa sekolah dasar, misalnya 3 – 5 SD menjadi sekolah pendukung satu unit SMP, maka di sana akan sangat besar kemungkinannya untuk sekolah tersebut mendapat siswa pada awal tahun pelajaran.

Persoalan PPDB akan dialami oleh SMP-SMP swasta pedesaan. Bila berdekatan jaraknya dengan SMP Negeri, sangat besar kemungkinannya orang tua membawa anaknya ke SMP Negeri tersebut. Maka, SMP Swasta yang kedudukannya sama dengan SMP Negeri “jatuh pamor”. Berbeda bila SMP Swasta itu pamornya sebagai sekolah favorit. Jumlahnya sangat berbatas.

2.   Dalam Hal Pemanfaatan Ruang Kelas dan perabotan di dalamnya

Ada maksimal sepuluh item perhatian dalam menata satu ruang kelas sesuai Permendiknas Nomor 24 tahun 2007. Ksepuluh item itu adalah:

1)   Set meja-kursi per siswa

2)   Meja-kursi guru

3)   Papan pajang

4)   Lemari

5)   Loker

6)   Papan tulis

7)   Wastafel

8)   Tempat sampah

9)   Jam dinding

10)Soket listrik

Khusus set meja-kursi siswa, sesungguhnya tiap siswa mendapatkan satu set meja-kursi. Faktanya tidak demikian. Tidak semua sekolah mendapatkan hal yang sama. Sekolah-sekolah dasar di pedesaan NTT, ruang kelas selalu diisi meja-kursi yang tidak sama. Satu meja berpasangan dengan dua kursi. Meja sepanjang 120 cm tinggi 75 cm dan lebar 50 cm. Ada pula yang masih menggunakan bangku.

Tidak semua sekolah mempunyai jaringan perpipaan air bersih yang baik. Maka wastafel masih sangat jauh dari harapan. Belum lagi listrik. Bila listrik tersedia, soket disediakan di ruang-ruang kelas bukan atas kebutuhan untuk proses pembelajaran, namun umumnya disediakan untuk penerangan semata. Mengapa demikian, karena pembangunan ruang-ruang kelas baru tidakd diawasi oleh guru, yang memahami kegiatan pembelajaran dan kebutuhannya di dalam ruang kelas.

Jangan bertanya, apakah ada loker? Semua sekolah pedesaan NTT tidak mempunyai loker.

Semua item yang semestinya sudah ada sejak pemberlakuan standarisasi Pendidikan (8 standar nasional Pendidikan), justru belum terstandar. Bagiamana memasuki era normal baru. Dengan pembatasan jarak fisik, tentu rombongan belajar akan diperkecil sehingga kelas-kelas parallel akan dipecah. Tetapi, betapa banyak masalah yang akan muncul pada saat itu.

Pada saat perabotan di dalam ruang kelas digunakan, sebutlah yang sudah tersedia seperti meja-kursi. Semua itu mesti dibersihkan. Cairan pembersih akan selalu harus tersedia. Dapatkah anggaran Biaya Operasional Sekolah yang saat ini seakan “memerdekakan” itu dimanfaatkan untuk dominan jatuh kepada protocol Kesehatan? Tidakkah akan mengganggu porsi pembiayaan lainnya?

3.   Dalam Hal Pembiayaan

Sekolah-sekolah dasar di pedesaan Nusa Tenggara Timur terutama yang jauh dari ibukota Kabupaten biasanya menganggarkan biaya perjalanan dinas kepada pengguna dan pelaksana anggaran, dan sering pula pada para guru dalam tugas-tugas tertentu. Hal ini akan berpengaruh pada pemanfaatan dana BOS yang walaupun mulai tahun 2020 ini angka nominalnya naik mencapai Rp900.000/siswa/tahun untuk Sekolah Dasar, dan Rp1.100.000/siswa/tahun untuk Sekolah Menengah Pertama.

Seluruh pos pembiayaan yang seturut petunjuk teknis penggunaan dana BOS yang biasanya termaktub dalam Permendikbud akan dibijaksanai. Setiap kepala sekolah akan dengan caranya masing-masing harus secara bijak dalam hal ini.

Saya ambil pemisalan di Kabupaten Kupang. Sekolah-sekolah Dasar terjauh ada di wilayah Amfoang Raya (6 kecamatan). Dalam situasi tertentu di Amfoang Timur yang berbatasan dengan Timor Leste, mereka bila ke ibukota Kabupaten Kupang harus menuju ke Timur terlebih dahulu. Mereka akan menembus jalan lintas utara ke Timur menuju Kabupaten Timor Tengah Utara. Dari sana mereka akan ke arah Barat melintas di Kabupaten Timor Tengah Selatan untuk mencapai ibukota Kabupaten Kupang di Oelamasi. Sungguh suatu perjalanan panjang. Dalam kondisi normal mereka mengalami kesulitan seperti itu, bagaimana dengan kondisi normal baru yang akan dihadapi?

Pemisalan yang lain. Kolana, di Alor Timur, terjauh di pulau Alor. Untuk mencapai Kolana dapat ditempuh melalui dua jalur: darat dan laut. Walaupun jalan darat sudah beraspal, namun pada musim penghujan jalanan sering mengalami longsoran.Kesulitan tambahanya pada item komunikasi.

Di Kabupaten Rote-Ndao terdapat dua pulau kecil Ndao dan Ndana. Pada kedua pulau ini terdapat sejumlah unit sekolah-sekolah dasar. Mencapai kota Ba’a, ibukota Kabupaten Rote-Ndao, mereka harus bersampan. Masih banyak pulau-pulau kecil yang mengitari pulau Flores dan Alor.

Kesemuanya ini akan berhadapan dengan tatanan normal baru yang sedang mulai penerapannya, dan akan sampai di Dunia Pendidikan Dasar di pedesaan pula.

Heronimus Bani

[1] https://www.tbindonesia.or.id/page/view/25/sejarah-tbc-di-indonesia
[2] https://www.alodokter.com/tuberkulosis
[3] https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/26/
[4] https://www.suara.com/yoursay/2020/05/25/092542/

4 comments

  • Salam kenal dari Mr.Bams di Bandung. Perjuangan pendidikan harus dilakukan dalam kondisi apapun

  • Welmince Mulla

    Fasilitas untuk semua sekolah negeri di kabupaten Kupang maupun kota Kupang saya rasa sama,ambil contoh seperti loker, jgn kan disekolah bapak di sekolah saya kota Kupang saja loker untuk siswa tidak ada

    • nah, terima kasih telah membaca tulisan saya. Saya menulis dari aspek kami di pedesaan. Saya selalu berasumsi bahwa sekolah di kota apalagi favorit, pasti paling sempurna.