Darah (3)

Darah
(Refleksi tentng Darah dalam Beberapa Dimensi)

 

Darah Dalam Dimensi Berbangsa

Kita sering mendengar ungkapan, Indonesia tanah tumpah darah. Atau kita mengetahui lagu yang bernada mars, Tanah Tumpah Darahku yang dirilis oleh Gita Gutawa. Bagaimana memaknai darah dalam term yang dipakai seperti itu?

Saya merefleksikan dua hal:

  1. Indonesia sebagai tempat kelahiran

Indonesia sebagai tempat kelahiran dapat menggunakakan istilah tanah tumpah darah. Mengapa? Karena di sana ibu mengandung dan melahirkan. Ketika melahirkan perjuangan berat untuk menempatkan seorang anak di pangkuannya. Dalam perjuangan itu, darahnya dicurahkan/ditumpahkan. Ia berjuang di antara dua sisi yang saling bertarikan secara amat kuat; hidup atau mati.

Dalam perjuangan untuk menghadirkan seorang bayi yang bakal menjadi pelanjut kehidupan bersama dalam komunitas dan bangsa, sang ibu menumpahkan darah tanpa memperhitungkan keadaan dirinya sendiri. Sering kita menggunakan istilah sampai titik darah penghabisan. Bukankah seorang ibu berjuang hingga titik darah terakhirnya untuk menghadirkan seorang bayi/anak?

Ibu yang melahirkan itulah yang menumpahkan darah. Anak yang lahir itu kemudian menyebutkan tempat kelahirannya sebagai tanah tumpah darahnya.

  1. Indonesia sebagai tempat pertumpahan/penumpahan darah

Dalam refleksi saya yang kedua ini, rasanya ada nuansa postif-negatif.

Dalam nuansa positif

Sejarah bangsa Indonesia sangat kental dengan perjuangan, khususnya dalam rangka mengusir bangsa penjajah. Usaha mengusir bangsa penjajah memakan waktu yang lama. Menguras kekayaan alam untuk kepentingan perjuangan, mengorbankan nyawa warga negara baik sebagai serdadu/prajurit/tantara maupun sebagai penduduk yang terdampak perjuangan itu.

Mereka yang menjadi korban, disana terjadi pertumpahan darah. Darah warga negara baik yang militer maupun sipil telah mengalir dan membasahi permukaan bumi negeri ini. Olehnya itu, Ketika orang-orang yang darahnya ditumpahkan atas perjuangan mengusir penjajah, mereka disebut pahlawan, baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat. Mereka yang tercatat Namanya itu kemudian heroismenya diceritakan dalam buku-buku sejarah. Sementara yang Namanya tidak tercatat, heroismenya diceritakan bagai legenda.

Dalam nuansa negatif

Johan Suryana[1] penulis blog kompasiana mengatakan, di Indonesia ketika terjadi suksesi kepemimpinan nasional hampir selalu terjadi kerusuhan. Kerusuhan memakan korban nyawa atas nama stabilitas keamanan semua “pengacau” keamanan negara “dibungkam” mulutnya. Pembungkaman yang paling berdampak buruk adalah menghilangkan nyawa warga negara sendiri, yang kemudian terjadi penumpahan darah.

Sementara mereka yang berdiri di atas alasan demokrasi yang menyuarakan kepentingan umum atau kepentingan tertentu, berada di sisi sebelahnya dengan jargon, sampai titik darah penghabisan. Jika mereka tiba di titik darah penghabisan justru di sana mereka menjadi tumbal atas perjuangan yang belum tentu dapat diakomodir oleh negara.

Negara dapat melakukan “pembungkaman” demi stabilitas keamanan, walau terpaksa darah warganya sendiri yang ditumpahkan. Penumpahan darah yang demikian yang kiranya saya golongkan bernuansa sebagai negatif. Mengapa? Pengorbanan yang demikian seringkali sia-sia adanya.

Banyak korban berjatuhan pada berbagai peristiwa “penumpahan darah” di Indonesia dan banyak negara. Mereka yang akhirnya darahnya ditumpahkan tidak dapat menikmati hasil perjuangannya.

 

Alkitb mencatat penumpahan darah pertama terjadi ketika Kain dan Habel membawa persembahan mereka kepada Tuhan. Persembahan berupa korban bakaran itu menuntut adanya darah. Kain membawa hasil ladangnya sebagai petani lahan. Tidak jelas lahan basah atau lahan kering, perladangan atau perkebunan. Seluruh persembahan Kain ditempatkan di meja persembahan, lalu ia menyalakan api dan membakar semuanya itu sebagai persembahan bakaran kepada TUHAN. Semua itu ia bawa dari hasil ladangnya.

Sementara Habel membawa persembahan hasil dari peternakannya. Habel seorang peternak. Habel membakar ternak yang didahului dengan menyembelih ternak. Darah ternak korban itu dialirkan. Ternak yang telah menjadi bangkai dibakar bersama-sama dengan darah yang mengalir di atas meja persembahan (mezbah).

Kisah ini berakhir dengan pertumpahan dan penumpahan darah. Habel tidak pernah menyangka bahwa tugas membawa persembahan kepada TUHAN mengantar dirinya sampai di titik kematian. Darahnya ditumpahkan oleh kakaknya, Kain. Seluruh cerita itu dapat dibaca dalam Kejadian pasal 4:1-16.

Alkitab mencatat banyak peristiwa pertumpahan dan penumpahan darah yang terjadi pada masa pra Kerajaan Isra’el. Zaman para Hakim terjadi pertumpahan darah berkali-kali atas nama membela bangsa. Ketika eksistensi Kerajaan Isra’el diganggu pada masa berpemerintahan mulai dari Saul, Daud, hingga Salomo dan para pelanjut, selalu hal itu terjadi, hingga berdiasporalah bangsa Yahudi ke berbagai penjuru dunia.

Heronimus Bani

Darah selalu mewarnai ekesistensi komunitas, bangsa dan negara. Berharap hal ini terhapuskan, apakah itu mungkin?

[1] https://www.kompasiana.com/djohans/54ff9ca8a33311494c51081c/indonesia-tanah-tumpah-darah