Darah (4)

Darah (4)
(Refleksi tentng Darah dalam Beberapa Dimensi)

 

Darah Dalam Dimensi Kekerabatan

Dalam dunia berkerabat atau berkeluarga, selalu ada istilah seperti: darah-daging, masih ada hubungan darah.  Mungkin ada istilah yang mirip saya belum mempunyainya dalam perbendaharaan. Semoga dengan tulisan ini ada yang hendak menyumbangkan istilah-istilah yang menggunakan kata darah dalam hubungannya dengan kekerabatan.

Bagaimana merefleksikannya?

Saya kembali kepada tulisan sebelumnya dimana ada darah yang mengalir Ketika suatu peristiwa  kelahiran terjadi. Seorang ibu telah membiarkan darahnya mengalir membasahi bumi pada saat itu. Ia tidak peduli akan keselamatan dirinya. Ia harus sampai pada titik dimana anak/bayi lahir sampai di alam terbuka. Selamat dan sehat. Ketika berpikir yang demikian, seorang ibu seakan tidak mempedulikan keselamatan dirinya.

Apa hubungannya dengan darah-daging? Seorang anak adalah darah dan dagingnya sepasang suami-isteri. Kita ingat bagaimana proses terjadinya pembuahan. Sepasang suami-isteri pasti berdarah dalam hubungan intimnya untuk pertama kali. Darah yang mengalir itu tentulah terjadi oleh karena adanya luka di bagian yang paling intim dari mereka. Sekalipun berdarah mereka terus melakukannya dalam kerangka tugas pro creator, menghasilkan/mengkreasikan manusia pelanjut keturunan.

Darah mengalir pada saat itu, selanjutnya terjadi pembuahan[1] yang diawali dari satu titik kecil. Pada umur 1-2 hari Ketika hal itu terjadi seorang ibu ada kemungkinan mengalami pendarahan. Lagi-lagi darah ada di sana. Ketika darah mengalir itu pertanda ia berangkat dari satu sumber tertentu, yaitu daging. Daging itu milik siapa? Milik seorang ibu. Dagingnyalah yang “robek” dan “luka”. Dari robekan dan luka itulah darah mengalir demi satu kehidupan dari satu insan baru kelak.

Apakah seorang suami tidak ada dalam hal ini? Ada! Ia tidak dapat terlepas dari “derita” darah-daging seorang perempuan. Sepasang suami-isteri tentu sudah seroh dan sedarah-daging adanya. Maka, sakit yang diderita seorang isteri yang sedang hamil/mengandung, tentulah menjadi sakitnya seorang suami.

Selanjutnya tentang istilah masih ada hubungan darah. Istilah ini biasanya diucapkan dalam percakapan-percakapan untuk memperkenalkan diri kepada rekan/lawan bicara.

Dalam hubungan kekerabatan, kita menganut system keluarga besar, sehingga orang selalu mengucapkan keluarga besar A, keluarga besar B,  dan lain-lain. Keluarga-keluarga besar yang demikian, kemudian menyebar ke mana-mana sehingga pada suatu masa tertentu “hilang” dalam kekerabatan. Itulah sebabnya bila mengurutkan Kembali ke masa lampau, kemudian pada titik simpul kekerabatan tertentu orang menarik kesimpulan sebagai masih ada hubungan darah-daging.

Hubungan darah-daging kiranya penjelasan refleksinya seperti yang sudah saya buat pada proses yang dimulai daari sepasang suami-isteri.

Mungkin Anda bertanya, bagaimana dengan kelahiran yang terjadi pada seorang anak yang “tanpa” ayah? Tidak! Seorang anak pasti berayah. Melarikan diri dari tanggung jawab sajalah yang menyebabkan seorang anak dilahirkan lalu ayahnya tidak diketahui lubang persembunyiannya. Akan tetapi, anak itu sesungguhnya tetaplah darah-daging dari si ayah yang tidak bertanggung jawab itu.

Mengapa harus demikian? Karena dia dan ibu yang melahirkan anak itu telah berdarah pada saat hubungan intim itu terjadi, walau pada titik waktu tertentu ia lari dari tanggung jawab itu.

Tidak heran, “sakit”nya seorang perempuan yang berdarah-darah setiap bulan selalu harus menjadi perhatian. Terlebih lagi bila seorang perempuan dalam budaya Asia pada umumnya, selalu “bernilai” di mata hukum adat perkawinan ketika memasuki umur siap menikah.

Tengoklah kisah Alkitab ketika utusan Abraham meminang Ribka (Ke.24). Antara Abraham dan orang tua Ribka mereka masih ada hubungan darah-daging. Ingat pula untuk membaca catatan-catatan silsilah keluarga-keluarga dan banyak catatan sebagai sejarah di luar Alkitab yang berkisah pula tentang hubungan darah-daging.

Dalam hal hubungan darah-daging, sakitnya seorang anggota keluarga selalu menjadi sakitnya anggota keluarga yang lainnya bahkan menjadi sakitnya komunitas. Itulah sebabnya di dalam komunitas emosi kekeluargaan sangat padat berisi sehingga kegotongroyongan menjadi sistem yang dimiliki. Walau kemajuan zaman secara perlahan menggeser hal ini, tetapi emosi kekeluargaan yang sempit di dalam satu keluarga dan komunitas selalu terbangun. Misalnya di kalangan Atoin’ Meto’ dikenal istilah umi. Dalam umi-umi itu tergabung keluarga-keluarga yang masih ada hubungan darah-daging.

Heronimus Bani

Lihatlah apa yang terjadi ketika dua peristiwa penting dalam fase kehidupan umat manusia. Kematian dan Perkawinan. Dua fase ini selalu menghadirkan orang dalam jumlah besar. Di dalamnya ada yang hadir dengan term darah-daging atau masih ada hubungan darah-daging.

Demikian sedikit uraian darah dalam dimensi kekerabatan. Membangun diskusi akan memperkaya materi ini.

[1] https://www.alodokter.com/proses-terjadinya-kehamilan-setelah-berhubungan-intim