Jemaat di Pedesaan Masuk ke Normal Baru

Jemaat di Pedesaan Masuk ke Normal Baru

Halo, Apakah normal yang baru atau yang dengan menggunakan kata berbahasa asing, the New Normal itu akan seperti apa ketika umat beragama, bergereja khususnya di pedesaan menghadapinya? Saya memulai dari kisah lama terlebih dahulu.

Saya berkisah di seputar Pah Amarasi (Amarasi Raya) saja agar tidak bias. Ketika pembentukan desa-desa gaya baru di seluruh Pah Amarasi, yang menghasilkan 23 desa antara tahun 1968 – 1975, saat itu bukan saja rumah-rumah penduduk yang dibongkar dan dipindahkan, tetapi rumah-rumah gereja pun ikut dibongkar dan dipindahkan. Desa-desa bergaya baru itu sesuai aturan yang berlaku pada saat itu yang disebut Desa Praja. Pah Amarasi sesungguhnya hendak memberlakukan aturan itu sejak 1965, tetapi saat itu terjadi peristiwa bersejarah yang disebut Gerakan 30 September PKI, (yang kontroversial dalam berbagai catatan sejarah). Sesudah peristiwa itu umat beragama kembali ke kehidupan yang normal. Suatu tatanan atau era normal yang baru. Mengapa?

Menurut cerita para orang tua, ketika itu banyak orang rajin bergereja. Setiap hari minggu rumah-rumah gereja sesak oleh jemaat. Mengapa? Karena semua yang masuk mengikuti ibadah diterima sebagai orang beragama. Pemerintah Orde Baru yang segera berkuasa melancarkan “pembersihan” pada unsur-unsur PKI hingga ke akar-akarnya. Mereka yang tidak beragama dianggap mendukung PKI. Oleh karena itu, rumah-rumah ibadah selalu penuh. Jadilah suatu tatanan normal yang baru. Sebelumnya rumah-rumah ibadah tidak seperti itu, apalagi sebelum pembentukan desa-desa di Pah Amarasi ini.

Situasi itu terus normal seiring perubahan-perubahan dimana orang beragama pindah antaragama, yang memberi gesekan-gesekan, lalu kembali normal. Demikian juga perpindahan antargereja (Misalnya, anggota dalam Sinode A, pindah ke Sinode B) dengan segala intrik permasalahan di dalamnya. Sesudah itu kembali ke normal baru.

Lalu sekarang, ketia korona menjalari semua umat manusia tanpa pandang area tertentu, rumah/gedung gereja dan gedung-gedung ibadah ditutup demi menjamin keselamatan umat manusia dan keberlangsungan hidupnya. Bila saja korona itu seseorang, atau sekelompok komunutas yang menyerang, tentulah orang sudah mengangkat senjata padanya. Ia hanyalah satu virus yang tidak kasat mata, tetapi telah merenggut nyawa. Ia telah menjadi “hantu” baru baik pada kesehatan manusia maupun pada lingkar tugas-tugas hingga ibadah.

Para anggota tertentu dari kaum beragama secara pongah menyerukan untuk segera melawan korona dengan tetap beribadah. Tentu saja hal itu tidak salah karena orang beriman mesti dapat mengalahkan segala kuasa yang tidak kelihatan. Tetapi, pada akhirnya ada di antara mereka yang tumbang dirayapi korona. Ia tidak menyerang secara membabi buta, ia merayap atau menjalari saja. Hasil yang dimainkan dari gayanya merayap dan menjalar itu adalah, kematian. Prosedur upacara menguburkan jenazah yang dirayapi dan dijalari korona pun sangat kilat hingga anggota keluarga tidak sempat melihat rupa jenazah dan bahkan kuburannya pun hampir-hampir tidak boleh disentuh.

Semua itu telah ada dalam pengetahuan. Lalu bagaimana dengan satu situasi yang kini sedang dikampanyekan sebagai sosialsasi agar boleh kembali beribadah dengan mengikuti aturan yang disebut protokol kesehatan. Tentu saja semua rumah/gedung ibadah dimana umat memasukinya akan ada persiapan ke arah itu termasuk umat yang beribadah pun harus menyiapkan diri.

Heronimus Bani

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT),jemaat-jemaatnya menyebar dari kota hingga pelosok-pelosok dan perbukitan. Sebaran di pulau Timor bagian Barat, Rote, Sabu, Semau, sebahagian Sumbawa, dan Flores, Jemaat-jemaat itu akan menjalankan suatu situasi beribadah dengan memperhatikan protokol kesehatan. Dari sejak masuk ke rumah/gedung gereja hingga di dalam aula utama tempat berlangsungnya ibadah.

Di halaman rumah/gedung gereja, anggota-anggota jemaat akan mencuci tangan, atau menggunakan cairan pembersih tangan (handsanitizer). Tidak bersalaman. Mengambil tempat duduk yang  menjaga jarak. Liturgi akan berlangsung hampir tidak lebih dari satu jam. Keseluruhan liturgi yang normal biasanya disisipi penyanyi seperti paduan suara, vokal grup dalam jumlah tertentu yang menambah lamanya waktu beribadah. Itu semua akan diabaikan.

Sakramen-sakramen seperti baptisan kudus, apakah akan mengalami perubahan? Seorang pelayan mesti mencelupkan tangannya ke dalam air, atau membawa calon baptis ke dalam kolam untuk dibaptis. Bagaimana hal ini dilakukan. Ajaran tentang menjamahjamahan, akankah hal seperti itu akan hilang?

Sakramen perjamuan kudus, akankah akan terus dengan mengantar roti-anggur ke rumah-rumah anggota jemaat? Atau tengoklah saudara-saudara kita penganut Katolik yang harus menerima hostia, tidakkah mereka harus mendekat kepada sang imam?

Pernikahan, penguburan jenazah, dan berbagai ibadah, semua itu akan berubah gaya dalam situasi yang disebut era normal baru. Akankah akan seperti itu?

Kita segera pergi ke sana dalam Juni 2020 ini dan seterusnya dengan segala romantika kenormalan itu.