Cerita Yusuf di Zoom (1)

Cerita Yusuf di Zoom

Kejadian 37:1-36

Kata Awal

Kegiatan penerjemahan alkitab dalam bahasa-bahasa daerah di wilayah pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor yang dilakukan oleh Unit Bahasa dan Budaya GMIT tidak stagnan gegara korona. Sekalipun para penerjemah berjauhan, proses tetap dapat dilakukan sambil memperhitungkan waktu kesiapan semua anggota tim (konseptor, pembina, pembaca awam).

Heronimus Bani

Hari ini kami memulai satu di antara banyaknya kitab-kitab yang diproyeksikan untuk dikerjakan. Satu-satunya kitab dari Perjanjian Lama yaitu Kitab Kejadian. Penerjemahannya dimulai dengan konsep (drafting), membaca ulang konsep dalam tim (team check). Dua langkah pertama ini telah berakhir. Selanjutnya bekerja dalam tim yang diperluas bersama Pembina (fasilitator).

Memasuki tahap cek dengan pembina, dua langkah dilakukan sekaligus, yaitu pembina cek dan cek dengan pembaca awam. Dua langkah sekaligus ini dilakukan untuk menghemat waktu.

Dalam kitab Kejadian, selalu dimulai dari cerita Yusuf. Kejadian pasal 37. Rencana waktu normal untuk menyelesaikan dua tahapan sekaligus ini, biasanya memakan waktu lima hari. Namun dalam situasi yang tidak normal dimana korona menjadi penghalang, kami mencoba penggunaan aplikasi zoom cloud. Kami merencanakan kiranya sesuai waktu yang normal, lima hari, walau belum dapat dipastikan hal itu berjalan demikian.

Pada hari ini kami membacanya bersama pembaca awam dengan tingkat pendidikan yang bervariasi. Dari empat pembaca, dua di antaranya bergelar akademik sarjana, dua lainnya tidak mencapai sarjana. Dari empat orang ini, seorang di antaranya sehari-hari berprofesi sebagai pengemudi/sopir. Tiga lainnya kantoran dengan tugas dan fungsi yang berbeda.

Kami membaca cerita Yusuf pada Kejadian pasal 37 yang telah disiapkan naskah dalam Bahasa Amanuban. Membaca dan membahas ayat per ayat, kalimat dan paragraf. Kami memulainya pada pukul 10.00 berhenti sejenak pada pukul 12.30 WITa. Tiga puluh enam ayat telah kami baca dan bahas dengan mendapatkan pengalaman berharga di dalamnya.

Kami akan melanjutkan besok, Kamis, 4 Juni 2020, pukul 10.00 WITa.

Naskah cerita

Cerita ini terbagi atas 3 bagian;

  1. Kembalinya keluarga Yakob dari Mesir
  2. Yusuf dan saudara-saudaranya
  3. Proses terjadinya penjualan Yusuf

Pertama, Kembalinya keluarga Yakob dari Mesir. Yakop dan keluarganya sudah kembali dari Mesir. Ia membawa semua anggota keluarganya. Isteri-isteri dan anak-anak dan seluruh harta bergerak (ternak) milik kepunyaan mereka. Mereka kembali ke tanah kelahiran Yakob, tempat dimana ayahnya, Ishak bermukim dari masa-masa sebelumnya. (37:1-2a)

Kedua, Yusuf dan saudara-saudaranya. Bagian ini bercerita tentang Yusuf yang dilahirkan oleh Rahel, salah seorang isteri Yakob. Ketika Yusuf berumur 17 tahun, ia dan saudara-saudaranya selalu bersama-sama menggembalakan kambing-domba orang tua mereka. Sebagai seorang remaja, ia sering bercerita kepada orang tuanya (ayahnya) tentang apa yang mereka lakukan pada saat di padang penggembalaan. Hal ini dipandang sebagai hal yang kurang patut oleh saudara-saudaaranya.

Benih kebencian mulai tertabur. Yakob memberi rasa cinta yang lebih pada Yusuf oleh karena kelahirannya terjadi pada masa tuanya. Rasa cinta yang lebih ini diwujudkan dengan menjahitkan sehelai baju panjang yang indah untuk Yusuf. Benih kebencian mulai berkecambah.

Yusuf bermimpi. Mimpi-mimpinya diceritakan pada orang tua dan saudara-saudaranya. Dua mimpi yang berbeda waktu, tetapi prinsipnya mirip. Kedua mimpi itu saya tidak ulangi di sini (37:5-9). Benih kebencian rasanya mendapatkan lahan yang sedang digembur dan diberi pupuk. Mulai berkecambah. Bagian kedua ini dapat dibaca dalam perikop 37:2b-11

Ketiga. Proses terjadinya penjualan Yusuf. Sebagaimana biasanya saudara-saudara Yusuf bertugas menggembalakan kambing-domba di padang. Mereka berpindah-pindah tempat agar mendapatkan rumput dan air yang menjadi kebutuhan pokok ternak kambing dan domba. Yusuf dimintakan oleh ayahnya, agar pergi mengikuti kakak-kakaknya. Sebagai anak, ia tidak keberatan atas tugas yang diberikan orang tuanya.

Berangkatlah Yusuf. Ia terpaksa harus bertanya pada orang yang ditemuinya di perjalanan. Dari sana ia mengetahui ke arah mana saudara-saudaranya menggembalakan ternak kambing dan domba. Ia akhirnya dapat berjumpa dengan mereka. Sayangnya, benih kebencian yang berkecambah mulai bertunas sebagai pembalasan dendam.

Diskusi untuk menghilangkan nyawa dan jejak dimulai. Ruben mengusulkan untuk dibuang saja ke dalam lubang di sekitar tempat itu. Ruben bermaksud bila nanti memungkinkan ia akan menolong adiknya, Yusuf, untuk boleh kembali dengan selamat, terhindar dari ancaman pembunuhan.

Yahuda mengusulkan agar Yusuf dijual saja, agar pada mereka tidak berhutang darah. Darah tidak boleh mengalir, atau tangan mereka tidak boleh berdarah, mengingat yang masuk dalam rencana pembunuhan itu adalah adik mereka sendiri. Menjualnya adalah solusi terbaik. Dengan begitu ia tidak lagi akan bercerita tentang apapun kepada mereka, termasuk kepada orang tua. Cerita mimpi atau sifat dan perlakuan ketika berada di padang penggembalaan akan berhenti ketika Yusuf tidak lagi bersama mereka.

Mereka menariknya keluar dari lubang tempat dimana Yusuf dilemparkan. Tanpa tawar-menawar untuk bersitegang dengan para pedagang dari Gilead, orang Midian keturunan Ismael. Mereka menjual Yusuf sebagai budak. Para pedagang membawa Yusuf sampai ke Mesir dan menjualnya lagi kepada Komandan Pengawal Istana Kefiraunan Mesir.

Ruben yang tidak mengetahui penjualan Yusuf. Ia menangisi adiknya. Tetapi, akhirnya mereka semua baik Ruben maupun Yahuda yang masing-masing dengan solusi dan pertimbangan. Mereka bersepakat untuk melaporkan suatu peristiwa jadi-jadian. Peristiwa itu diangankan terjadi pada Yusuf. Seekor atau beberapa ekor binatang buas telah menerkam, mencabik, merobek dan memakan daging tubuh Yusuf. Baju panjang mahal dan terbaik sajalah yang tertinggal dengan berlumuran darah. Mereka membawa baju itu dan menyerahkannya kepada orang tua mereka, Yakob.

Yakob, mengenali baju panjang itu. Ia menangis dan berkabung. Ia menganti pakaiannya dengan pakaian perkabungan. Hatinya sangat sedih dan hancur. Tiada satupun dari anak-anaknya, laki-laki dan perempuan, yang berhasil memberi rasa nyaman kepadanya. Ia tidak dapat dihiburkan. (37:12-36)

Pelajaran Hari ini

Belajar dari tokoh-tokoh dalam Kejadian 37 : 1-36

  • Yakob. Suami untuk isteri-isterinya; Lea, Rahel. Bilha, dan Zilpa. Ayah, orang tua untuk anak-anaknya. Ia berada dalam masa tuanya. Seorang anak lahir baginya, bagi mereka. Anak yang lahir dari isteri yang lebih dicintainya. Cintanya diberikan secara lebih juga pada anaknya. Bukti cinta yang lebih itu, dengan memberikan pakaian (baju) paling indah. Pemberian yang paling indah dengan dilumuri cinta yang lebih, pastilah yang paling mahal dan terbaik. Pemberian cinta-kasih dan perwujudan yang melampaui anak-anak yang lain berdampak pada kesulitan dan kesusahannya. Ia harus menangis, meratap dan berkabung.
  • Yusuf. Seorang remaja beranjak dewasa (17 tahun). Lahir dari seorang ibu yang menerima rasa cinta lebih dari isteri yang lain. Yusuf sebagai remaja yang beranjak dewasa bertabiat labil. Ia bergirang ketika bercerita tanpa merasakan aura kebencian saudara-saudaranya. Ia bahkan menceritakan kedua mimpinya tanpa mengetahui maknanya. Ayahnya, rupanya sempat membaca makna kedua mimpinya itu, sehingga ia masih memberi peringatan pada Yusuf. Yusuf, suka menyenangkan hati orang tuanya. Apakah karena ia mendapatkan cinta-kasih yang lebih? Tidak! Ia sama seperti saudara-saudaranya yang juga menjadi penurut pada orang tua mereka. Yusuf seorang yang tidak berdaya pada 10 saudara-saudaranya. Ia pun tidak berdaya ketika diperjualbelikan dari satu tangan ke tangan lainnya.
  • Ruben. Sulung dalam keluarga Yakob. Sebagai yang sulung, ia memberikan solusi ketika mereka secara bersama-sama memaparkan rencana pembunuhan. Solusi itu terkandung maksud untuk menyelamatkan. Maksud hatinya tidak terwujud. Ia menyesal, menangisi adiknya yang telah hilang.
  • Yahuda. Salah seorang di antara mereka yang dituakan. Ia memberikan solusi agar tangan mereka “tidak berdarah”. Ia memberikan pertimbangan bahwa Yusuf adalah saudara sekandungan. Ia tidak boleh mati di tangan mereka. Menjual Yusuf merupakan solusi terbaik.
  • Kelompok 10 anak Yakob. Sepuluh anak Yakob setelah menjual Yusuf, mereka bersepakat mengada-adakan suatu kejadian. Kejadian itulah yang akan didramakan pada ayah dan keluarga mereka. Mereka menemukan baju panjang yang indah milik seseorang. Baju itu dipertanyakan dan diasumsikan sebagai milik Yusuf?? Klarifikasinya sebaiknya diserahkan kepada ayah mereka. Mereka berhasil mendramakan kematian Yusuf.

Adakah yang dapat ditiru dari para tokoh dalam cerita kejadian 37?

Selamat belajar.

 

Koro’oto, 3 Juni 2020