Yahuda

Yahuda
Kejadian 38:1-30

Hari ini kita membaca cerita tentang Yahuda. Sebagaimana sudah dalam pengetahuan bersama bahwa Yahuda, salah seorang anak dari Yakob dari isterinya yang bernama Lea. Urutan kelahiran Yahuda sebagai anak ke empat. Tiga kakaknya, Ruben, Simeon, dan Lewi (Kej.29:31-35).

Heronimus Bani

Dalam cerita tentang Yahuda (Kej.38:1-30), Pdt. Budi Asali, M.Div dalam golgothaministry.org membaginya dalam dua bagian. Bagian I, ayat 1-5; Yahuda berkeluarga, dan bagian II, ayat 6-30, Yahuda dan Tamar. Saya agak berbeda. Saya bagi dalam beberapa bagian.

  1. Ayat 1 ~ Yahuda meninggalkan keluarga batihnya.
  2. Ayat 2 – 5 ~ Yahuda berkeluarga
  3. Ayat 6 – 10 ~ Perkawinan anak-anak Yahuda
  4. Ayat 11 – 12a ~ Saran Yahuda pada Tamar dan kematian isteri Yahuda
  5. Ayat 12b – 30 ~ Hubungan tak pantas Yahuda dengan Tamar dan akibatnya

Pertama, (Ay.1) Yahuda meninggalkan keluarganya. Ayat ini menjadi latar cerita. Ayat yang kiranya menjadi pintu masuk tentang siapakah Yahuda. Rupanya ia seorang yang suka mencari sesuatu yang baru. Apakah ia pergi meninggalkan saudara-saudaranya oleh karena peristiwa sebelumnya (Kej.37) dimana mereka telah menjual Yusuf, kemudian mereka merencanakan dan melaksanakan suatu tipuan jitu pada orang tua (ayah) mereka, dan kesusahan, sebagai perkabungan ayah (dan ibu-ibu) mereka menjadi bagian kesusahan mereka juga?

Alkitab tidak menjelaskannya secara rinci. Akan tetapi, Kej.37:36 menjelaskan bahwa mereka semua menghibur tetapi tidak berhasil. Mungkin saja mereka ikut terbawa dalam kesusahan (dan kedukaan) itu. Oleh karena itu, sebagai bentuk “lari” dari tanggung jawab memberitahukan tentang kejadian yang sesungguhnya, Yahuda meninggalkan keluarga batihnya (ayah, ibu, dan saudara-saudaranya). Ia memilih bertemu sahabat karibnya, Hira, orang Adulam.

Kedua,  (Ay.2-5) Yahuda berkeluarga. Seseorang pemuda akan sampai pada titik emosional yang stabil untuk boleh menjadi seorang laki-laki dewasa yang bertanggung jawab pada keputusannya sendiri. Yahuda mencintai dan mengambi keputusan untuk menikahi seorang gadis, orang Kana’an. Buah dari perkawinan itu adalah terlahir tiga orang anak laki-laki, Er yang sulung, Onan, dan yang bungsu Syela. Satu rumah tangga yang normal dimana ada ayah, ibu, dan anak-anak. Yahuda dan isterinya membesarkan anak-anak mereka hingga dewasa.

Ketiga,  (Ay.6-10) Perkawinan anak-anak Yahuda. Anak-anak Yahuda sebanyak 3 orang laki-laki. Er sebagai sulung telah mencapai umur untuk berkeluarga. Yahuda menikahkannya dengan Tamar. Kejahatan seperti apa tidak dijelaskan, tetapi, hal itu telah menjadi penyebab keputusan TUHAN untuk mengakhiri hidup dari Er.

Kehidupan manusia pada zaman itu telah berbudaya dalam hal mengurus perkawinan menurut hukum-hukum adat perkawinan. Seorang pemuda dalam posisi sebagai adik diwajibkan menikahi janda yang ditinggalmati suaminya. Suami yang meninggal itu mestilah ada hubungan kakak-adik, seibu agar dapat menjadi pengganti suami. Hal ini dibenarkan dan diformalkan oleh budaya komunitas pada masa itu. Jadilah Onan menikahi Tamar atas pertimbangan hukum adat yang disampaikan ayahnya, Yahuda. Rupanya Onan tidak menyukai hukum adat perkawinan yang demikian. Ia tidak menghendaki anak keturunannya yang lahir dari perkawinan itu menjadi anak, keturunan dari kakaknya yang telah meninggal. Oleh karena itu, ia tidak melakukan tugasnya sebagaimana mestinya sebagai seorang suami, hal itu dipandang jahat di mata TUHAN. Hukuman TUHAN jatuh kepada Onan.

Keempat, (Ay.11-12a) Saran Yahuda pada Tamar dan kematian isteri Yahuda. Kematian Er dan Onan sebagai suami dari Tamar, menyebabkan Yahuda ciut hatinya. Ia merasa kuatir akan terjadi hal yang sama pada anak bungsunya, Syela. Oleh karena itu, ia memikirkan jalan keluar untuk “menyelamatkan” Syela. Padahal sebagai masyarakat berbudaya, Yahuda terikat hukum adat perkawinan yaitu kewajiban menikahkan anak lelaki berikutnya dengan janda yang ditinggal mati suaminya. Sepanjang suami yang meninggal itu ada hubungan darah, kakak-adik seibu-seayah, wajib hukumnya menikahkannya dengan janda itu. Hal ini menjadi suatu tembok tebal dan tinggi untuk Yahuda.

Apakah Yahuda akan menabraknya? Tidak! Ia tidak menabrak tembok itu. Ia mencari jalan aman. Kepada Tamar, menantunya itu, ia menyampaikan saran dan sekaligus janji. Sarannya adalah ia boleh pulang kepada orang tuanya sambil menanti waktu yang tepat dimana Syela, si bungsu sudah siap dinikahkan. Janjinya adalah menikahkan anaknya yang bungsu dengan Tamar ketika tiba waktunya.

Waktu berlalu, kematian yang lain datang menghampiri keluarga ini. Isteri Yahuda, anak dari Syua meninggal dunia. Sebagaimana lazimnya umat manusia, peristiwa kemaatian seseorang membawa duka yang mendalam. Yahuda berduka dan berkabung.

Kelima, (Ay.12b-30) Hubungan tak pantas Yahuda dengan Tamar dan akibatnya. Bagian ini diawali dengan latar kisah dimana ada pesta “panen” bulu domba. Saya menggunakan term “panen” berhubung bulu domba yang digunting itu kemudian secara ekonomi menghasilkan uang. Secara sosial, ada pesta, ada kegembiraan dan mungkin pula ada ritual-ritual khusus ketika menggunting bulu domba. Pesta itu direncanakan dan rupanya telah diumumkan atau telah menjadi tradisi dalam komunitas masyarakat peternak domba. Oleh karena itu rencana ini diketahui publik, dan sampailah kabar itu kepada Tamar melalui orang-orang dekatnya.

Tamar memasang ancang-ancang memberi pelajaran pada mertuanya yang tidak segera memenuhi janjinya. Sebagai janda, ia telah menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan melawan hukum perkawinan, tetapi mertuanya melanggar janji dengan tidak memberikan Syela yang telah menjadi seorang pemuda untuk menjadi suaminya.

Tamar menanggalkan untuk sementara waktu pakaiannya yang khas sebagai janda. Pakaian yang khas itu mencirikan kejandaan. Rupanya ciri khas janda pada masa itu berlaku umum dengan pakaian tertentu. Hal itu dilakukan oleh Tamar sebagai janda. Ia mengganti pakaian itu dengan pakaian yang indah. Ia kemudian memakai aksesori tamabahan untuk memanipulasi statusnya sebagai janda. Tampillah Tamar sebagai seorang perempuan penjaja seks bebas. Ia duduk di pintu gerbang kota dengan tampilan berbeda yang mengundang perhatian kaum lelaki.

Tampilan berbeda itulah yang memancing perhatian Yahuda ketika ia hendak pergi untuk menjadi bagian dari pesta pengguntingan bulu domba. Ia mendekati si perempuan cantik itu dan menggodanya hingga terjadi kesepakatan untuk berhubungan badan layaknya suami isteri.

Godaan Yahuda tidak diterima secara mudah oleh Tamar. Ia meminta jaminan barang sesuatu yang dapat dijadikan alat bukti ketika jaminan pemberian dilunasi, barang jaminan akan dikembalikan.

Sangat disayangkan. Penjaja seks bebas itu telah memanipulasi kejandaannya dan berhasil menjalin hubungan badan dengan lelaki pemberi jaminan, yaitu Yahuda. Dua barang jaminan dipegang oleh perempuan penjaja seks bebas itu yang tidak lain adalah Tamar, menantu dari Yahuda sendiri. Barang berharga di lehernya (kalung bertanda khusus, mungkin cap khas milik Yahuda), dan tongkat. Tongkat menjadi ciri khas para penggembala domba. Dua barang ini dibawa pulang oleh Tamar.

Yahuda hendak menebus kedua barang itu dengan mengirim kambing yang pernah dijanjikannya. Ia meminta bantuan pada Hira sahabatnya. Sangat disayangkan. Di kampung Enaim, Hira tidak menemukan perempuan penjaja seks bebas itu. Siapapun di kampung Enaim itu tidak mengenal perempuan yang dimaksudkan oleh Hira. Hasil kerja dari Hira disampaikan kepada Yahuda. Ia tidak berdaya untuk menerima kembali barang-barang itu.

Sementara itu, Tamar telah mengandung. Umur kandungannya telah mencapai tiga bulan. Kabar ini sampai kepada Yahuda sebagai mertua. Yahuda marah besar. Ia bahkan mengancam akan membakar Tamar hidup-hidup ketika orang menyampaikan kabar itu. Orang-orang suruhan Yahuda pergi kepada Tamar untuk membawanya kepada Yahuda. Ketika itulah, dua barang jaminan Yahuda menjadi bumerang. Senjata makan tuan.

Barang-barang jaminn itu ditunjukkan kepada Yahuda. Ia pun tidak berdaya. Malu. Bila sebelumnya kambing dikirimkan untuk menebus barang jaminan agar ia tidak malu, kini justru ia harus menanggung malu. Menantunya mengandung atas perbuatannya Yahuda. Hubungan mertua-menantu yang tidak pantas, terlarang, dan pasti mendapatkan hukuman sosial di tengah kehidupan bersama.

Yahuda membenarkan Tamar dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia tidak menepati janjinya kepada Tamar, menantunya itu. Janji untuk memberikan Syela anak bungsunya sebagai suami pengganti untuk Er dan Onan.

Nasi telah menjadi bubur. Kira-kira pepatah ini tepat pada Yahuda dan Tamar. Tepung telah dicampuri air, sangatlah tidak mungkin agar air dipisahkan dari tepung. Biarkan adonan itu dibentuk untuk menjadi makanan (roti dan jenis penganan lainnya).

Umur kandungan Tamar terus bertambah dari hari ke hari berikutnya hingga waktunya tiba untuk melahirkan. Ternyata Tamar mengandung anak kembar. Kelahiran anak kembar, anak-anak dari hasil hubungan tak pantas dari Yahuda-Tamar. Kedua anak itu “berebutan” ketika hendak tiba di alam terbuka. Penolong kelahiran memberi tanda pada anak yang ingin segera tiba lebih dahulu. Tetapi, tangan itu kemudian ditarik masuk kembali, lalu anak yang satunya lagi yang justru tiba lebih dahulu di alam terbuka. Kelahiran yang mengherankan mereka yang berada di sana, termasuk penolong kelahiran (bidan).

Kedua anak kembar itu dinamai Peres dan Zerah.

Tokoh dan Peranannya

Kejadian 38:1-30 mengisahkan dua  tokoh utama, Yahuda dan Tamar. Jika dapat disinetronkan atau dibawa ke layar lebar pada masa modern ini, kisah-kisah drama seperti ini sangat digemari. Ada kisah cinta yang dibumbui hubungan-hubungan yang tidak pantas. Penulis skenario akan memainkan emosi pembaca dan penontonnya sehingga sinetron, drama atau film akan menarik minat untuk terus membaca dan atau menonton hingga tuntas. Ketuntasan itu akan mengantarkan pada situasi mengomentari tokoh dan peranannya.

Jika boleh menggunakan pendekatan itu, saya membagi penokohan dalam naskah cerita itu dalam dua kelompok, 1) tokoh utama, dan 2) figuran. Tanpa melupakan satu tokoh lainnya yang tidak kelihatan, namun peran yang dimainkannya sungguh sangat memberi pengaruh pada alur cerita. Tokoh itu adalah TUHAN.

  • Tokoh Utama, Yahuda dan Tamar.

Yahuda sebagai tokoh utama dalam naskah cerita ini. Naskah itu bukanlah naskah reka-rekaan penulis Kitab Kejadian (38:1-30). Naskah ini benar-benar orisinil sesuai fakta empirisnya. Ada orang (tokoh), lokasi/tempat, dan hubungan-hubungan yagn menyebabkan suatu peristiwa terjadi dan dampak yang ditimbulkannya.

Yahuda yang meninggalkan keluarganya. Ia hidup sebagai pengembara dan pendatang. Tetapi, rupanya ia telah lama menjalin persahabatan dengan Hira. Oleh karena itu, penulis Kejadian mencatatkannya sebagai sahabat baiknya. Sebagai sahabat baik, Hira menerimanya. Keduanya berbeda dari aspek suku bangsa, tetapi mereka telah menjalin persahabatan itu sebaik-baiknya.

Yahuda jatuh cinta. Satu hal yang normal dan wajar. Pengembara dan pendatang yang jatuh cinta pada gadis yang bukan satu suku bangsa. Hal itu wajar-wajar saja. Tidak ada alasan untuk membatalkan percintaan Yahuda dengan gadis pilihannya. Sebagai seorang pemuda, Yahuda tentulah mempunyai kriteria tertentu untuk meneguhkan hatinya agar gadis itu menjadi bagian dari perjalanan kehidupannya. Ia memilihnya dan menikahinya.

Yahuda akhirnya menjadi seorang suami yang bertanggung jawab pada seorang isteri. Tanggung jawab itu makin bertambah ketika ia harus menjadi ayah untuk tiga orang anak yang lahir sebagai buah cinta kasihnya dengan isterinya itu. Er, Onan dan Syela. Tiga lelaki harapan untuk melanjutkan keturunannya.

Yahuda, sebagai ayah yang bertanggung jawab, ia memberi contoh yang baik bahwa perkawinan itu harus seturut hukum yang berlaku, sehingga mereka tidak mendapatkan cemooh atau hukuman sosial di tengah masyarakat bila mengambil seorang gadis menjadi isteri dengan cara-cara yang tidak terhormat. Maka, kepada anaknya yang sulung, Er, ia nikahkan secara baik-baik dengan Tamar. Melamar dan menikahkan. Tokoh Tamar muncul di sini. Tamar memainkan peranan sebagai seorang isteri.

Tamar, mungkin digambarkan sebagai gadis manis pujaan para muda ketika itu. Er berhasil merebut hati Tamar, walau diketahui bahwa Er dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, tergolong pemuda yang jahat. Tetapi, ia menikahi Tamar secara baik-baik. Sayangnya, dalam rumah tangga, ia berlaku jahat. Tuhan menghukum Er.

Mereka hidup di tengah komunitas masyarakat berbudaya. Maka aturan yang berlaku harus dipatuhi. Yahuda mengikuti aturan yang berlaku itu. Salah satunya adalah aturan perkawinan dan item turunannya. Seorang suami meninggal, bila masih ada adiknya, maka adiknya itu harus menjadi pengganti suami. Adiknya itu akan memberi anak kepada kakaknya yang meninggal.

Yahuda mengikuti aturan yang berlaku itu ketika Er, meninggal. Er meninggalkan Tamar. Tamar berstatus janda, tetapi yang juga mengetahui bahwa hukum adat perkawinan mengizinkannya untuk menjadi isteri dari adik suaminya, Er. Maka, Onan mempunyai hak menikahi Tamar. Tamar pun tak dapat menolak.

Entahkah Onan kurang nyaman pada item hukum adat perkawinan itu. Ia tidak menunjukkan kejahatannya secara nyata di depan publik. Hubungan sebagai suami-isteri sajalah yang tidak ada dalam pengetahuan publik. Onan membuang air mani pembawa benih jantan yang bakal membuahi sel telur milik isterinya, isteri Er, kakaknya. Hal ini dipandang jahat di mata TUHAN. Onan menemui ajalnya.

Sebagai seorang ayah, pasti Yahuda bersedih dan berduka ketika Er meninggal dunia. Kini anaknya Onan meninggal. Sedih dan duka kembali merundung Yahuda. Di tengah situasi itu, hatinya galau. Anak bungsunya harus menanggung tanggung jawab menikahi Tamar untuk memberikan keturunan kepada kedua kakaknya. Itu sudah hukum, dan wajib.

Yahuda berpikir keras, entah untuk berapa lamanya. Ketika ia berhasil menemukan jalan keluar untuk menghalau galau hatinya, ia justru dirundung duka untuk ketiga kalinya. Isterinya meninggal dunia. Tamar telah tidak bersamanya. Tinggal kini ia dan anak bungsunya.

Waktu berlalu. Rasa galau telah perlahan sirna dari hatinya. Janji telah diucapkan. Marilah berkata bagai orang tak bertuhan, bahwa, alam telah mendengar janji Yahuda pada Tamar. Tapi, kita mengetahui, bahwa Tuhan mendengar janji Yahuda itu. Yahuda harus bertanggung jawab pada janjinya untuk menikahkan anaknya Syela dengan Tamar. Tapi, ia mengingkari janjinya. Ia secara sadar dan sengaja abai pada janjinya.

Pesta budaya sosial ekonomi. Para peternak domba menggunting bulu domba. Bulu domba dalam jumlah besar menjadi komuditas perdagangan. Pakaian yang terbuat dari bulu domba tentulah sangat mahal. Bayangkanlah pada zaman ini orang-orang yang berpakaian bulu domba. Gayanya, aduhai.

Pesta. Selalu tergambar hati yang gembira. Langkah kaki menuju ke tempat pesta amatlah ringan. Tugas-tugas rumah dan tugas-tugas profesional segera akan dibereskan agar segera menyiapkan diri menghadiri pesta. Demikian halnya dengan Yahuda.

Tamar, tak ketinggalan. Ia muncul pada babakan ini setelah ditinggalkan dan secara sadar sudah dilupakan oleh tokoh Yahuda. Ia menanggalkan pakaian kekhasannya sebagai janda ketika ia kepadanya dikabarkan bahwa mertuanya akan menghadiri pesta pengguntingan bulu domba. Ia berpenampilan layaknya penggembira dalam pesta. Tetapi, ia tidak menuju ke pesta budaya sosial ekonomi itu. Ia pergi untuk menunggu “mangsa”. Ia hendak menjebak tokoh utama, Yahuda, mertuanya.

Alhasil tidak sia-sia. Tamar yang berpenampilan menarik berhasil menggaet hati mangsanya. Barang jaminan diambilnya. Bercintalah keduanya sebagaimana layaknya suami-isteri. Hubungan terlarang terjadi. Hubungan yang bila diketahui publik, pastilah akan menjadi bulan-bulanan buli. Tapi, hal itu sangat dirahasiakan hanya oleh Tamar. Yahuda mempunyai rahasia tersendiri, yaitu barang-barang yang diberikan jaminan “hubungan terlarang itu”.

Rahasia hubungan itu disampaikannya kepada Hira sahabatnya. Sebagai sahabat baik, ia bersedia menolong. Pertolongannya gagal. Ia membawa kabar bahwa tidak seorang pun di kampung Enaim yang berprofesi sebagai penjaja seks bebas, apalagi pernah duduk di pintu gerbang kampung.

Kegagalan Hira dianggap sebagai kesialan belaka. Yahuda membiarkan barang-barang itu sebagai telah hilang. Mungkin boleh menggunakan terminologi orang berbahasa Melayu Kupang, buang sial.

Barang yang dipakai untuk buang sial itu justru dipakai sebagai senjata yang membunuh karakter Yahuda. Yahuda yang perkasa tertunduk malu. Ia yang perkasa dalam kata-katanya ketika hendak menghukum Tamar, menantunya, kini justru tertunduk malu karena, barang-barang itu menjadi saksi atas kata dan perbuatannya.

Yahuda kini pasrah pada kenyataan yang dihadapinya. Ia kelak akan menjadi ayah untuk sepasang anak kembar yang lahir dari kandungan Tamar, menantunya. Peres dan Zerah.

Tamar akhirnya menjadi seorang ibu untuk dua anak laki-laki. Seorang di antaranya menjadi bagian dari sejarah dan silsilah adanya Mesias (Mat.1:3)

  • Figuran.

Beberapa orang yang saya kelompokkan sebagai pemain figuran masih dapat dikelompokkan sebagai figuran yang menonjol, dan kurang menonjol. Mereka yang menonjol itu karena perannya besar untuk mendukung ketokohan Yahuda dan Tamar. Oleh karena itu, urutan figuran yang saya tempat di bawah ini sesuai penonjolan perannya.

  1. Hira. Ia ada sebagai sahabat baik Yahuda. Hira mengabaikan tembok identitas diri dan komunitas, etnis dan entitas. Ia menerima Yahuda bahkan sebagai sahabat baiknya. Persahabatan tanpa sekat. Persahabatan yang bersedia menolong dalam suka dan duka. Hira memberi tumpangan pada Yahuda. Hira menjadi penolong ketika Yahuda harus menebus barang-barang yang dijaminkan kepada perempuan penjaja seks bebas yang tidak diketahuinya sebagai menantunya. Bahwa barang-barang jaminan itulah yang dijadikan alat pembuktian manipulasi ketegaran hati seorang lelaki perkasa. Hira telah menjadi melaksanakan peran terbaiknya dalam hubungan sosial kemasyarakatan sebagai sahabat sejati.
  2. Syua. Seseorang yang menjadi mertua Yahuda.  Ada pada Syua keikhlasan memberikan anak gadis yang lahir dari dalam keluarganya untuk menjadi isteri Yahuda. Peranannya sampai di sini. Mungkin ia masih hidup untuk menyaksikan kelahiran tiga cucunya, Er, Onan dan Syela. Mungkin ia masih hidup untuk menyaksikan kematian Er dan Onan, dan entah kematian anaknya.
  3. Er, Onan dan Syela. Tiga anak Yahuda. Er dan Onan telah tumbuh menjadi pemuda. Yang lebih tua telah mendapat keluasan hukum adat perkawinan untuk menikah. Ya. Ia memilih gadis tercantik menurut ukuran perasaannya. Pernikahan yang malang. Rumah tangga yang buntung. Er meninggal. Hukuman TUHAN jatuh padanya. Isterinya menjanda. Hukum adat perkawinan mengizinkan isterinya menikah dengan adiknya, Onan. Onan menjalani kehidupan suami-isteri dengan Tamar. Di sana ada hubungan yang dingin membeku karena Onan tak menghendaki adanya anak. Tempat tidur mereka sebagai suami-isteri menjadi saksi kejahatan Onan. Ia membuang air mani pembawa benih keturunan. Hal ini dipandang jahat di mata TUHAN. Onan menemui ajalnya. TUHAN menghukumnya. Jadilah Tamar menjada untuk kedua kalinya. Syela mungkin sedang bersiap-siap menikahi Tamar. Tidak dikisahkan, Galau hati terjadi pada Yahuda. Syela “terselamatkan” dari tanggung jawab menikahi Tamar si janda.
  4. Isteri Yahuda. Namanya tidak disebutkan oleh penulis cerita. Ia memainkan peran penting sebagai seorang perempuan yang dinikahi secara sah oleh Yahuda. Dari perempuan “tanpa nama” ini lahir tiga orang anak laki-laki. Ia menangisi dua anaknya, Er dan Onan ketika satu per satu meninggal. Mungkinkah ia depresi hingga akhirnya meninggal sebelum menyaksikan perkawinan menantunya dan anak ketiganya? Butuh penelitian mendalam dan menyeluruh.
  5. Penolong Kelahiran (sebutan zaman ini Bidan). Mereka telah menjadi saksi kelahiran anak kembar hasil hubungan tak pantas Yahuda dengan Tamar. Ketidakpantasan yang berbuah kepantasan. Anak-anak yang lahir, tentulah diizinkan oleh TUHAN.
  6. Orang-orang suruhan Yahuda dan Para peternak domba. Mereka telah menjadi pemberi warna pada kisah ini.
  • TUHAN.

Tiada seorang pun yang datang kepada Tuhan untuk menasihatinya (1 Kor.2:16). TUHAN mengambil keputusan pada diri-Nya sendiri. DIA terus bersama Yahuda. DIA yang memberikan kehidupan itu padanya, dan menjadi bagian dari keluarga pilihan-Nya, Yakob, Isra’el (Kej.32:28).

TUHAN berperkara dengan Yahuda yang meninggalkan orang-orang pilihan-Nya.

Saudaaraku yang sedang membaca artikel ini, kiranya sampai di sini. Saya akhiri artikel ini dengan pertanyaan, saudaraku sedang belajar apa dari para tokoh?

Saya akan sambung bagian kedua dari artikel ini. Mungkin saudaraku sudi menantikan sambungannya dan mau membacanya pula.

Tuhan Yesus memberkati. Amin

 

Koro’oto, 4 Juni 2020