Yusuf di Kesempitan Manakala Ia Berkesempatan

Yusuf di Zoom (2)
Yusuf di Kesempitan Manakala Ia Berkesempaatan
Kejadian 39:1-23

Tulisan berikut ini kembali tentang Yusuf. Yusuf yang telah dibawa oleh para pedagan. Mereka menjual Yusuf kepada seorang pejabat militer di Mesir. Pejabat militer itu kira-kira berpangkat perwira. Ia menjadi komandan jaga di istana Kefiraunan. Bagaimana ceritanya, tentulah para pembaca yang pernah menjadi anggota murid Sekolah Minggu mengetahuinya. Tapi, izinkan saya mengulanginya di sini.

Saya mencoba (saja) mengelompokkan ayat-ayat Kejadian pasal 39:1-23 itu.

  1. Ayat 1 – 6 ~ Yusuf dalam situasi baru hingga kepercayaan yang diterimanya
  2. Ayat 7 – 20 ~ Yusuf dalam ujian karakter
  3. Ayat 21 – 23 ~ Yusuf dalam penjara

Pertama, Yusuf dalam situasi baru hingga kepercayaan yang diterimanya. Ayat 1 – 7 diawali cerita

Heronimus Bani

tentang transaksi jual-beli seorang budak bernama Yusuf. Para pembelinya kemudian menjual dirinya di Mesir. Rupanya orang yang membeli Yusuf bukanlah sembarangan orang. Ia seorang perwira yang bertugas sebagai Komandan Jaga istana Kefiraunan. Nama komandan ini Potifar.

Potifar membawa Yusuf. Di rumahnya, ia menjadikannya sebagai budak. Bahwa sebagai budak tentulah ia berada dalam batasan-batasan aturan yang amat ketat, terlebih lagi ia bukan berada di rumah keluarga warga sipil, tetapi keluarga militer. Aturan-aturan khas kemiliteran tentulah menyelimuti keberadaan Yusuf dan orang-orang di rumah Potifar, sang Komandan Jaga Istana.

Kita ingat, Yusuf seorang pemuda, berumur 17 tahun (mungkin sudah lebih seiring bertambahnya waktu). Sebagai pemuda, ia mesti berada dalam masa gembira dalam corak dan gaya yang membedakannya dari pemuda seumuran. Tetapi, lingkungan pergaulannya dibatasi hanya di dalam rumah Potifar, apalagi ia hanyalah budak, hamba, pekerja atau istilah zaman ini, tenaga kerja (naker).

TUHAN menyertai Yusuf. Kemudaannya tidak menjadikannya memiliki gaya hidup sesuai zaman, tetapi ia punya gaya hidup sesuai kehendak TUHAN. Maka, TUHAN menyertainya di dalam tugas-tugas kebudakannya itu. Sekalipun ia seorang budak terbeli lunas, ia bekerja dengan ketulusan dan keikhlasan. Ketulusan dan keikhlasannya dibarengi ketelatenan dan ketrampilan serta takut akan TUHAN, mendapat perhatian Potifar. Potifar memberikan kepercayaan penuh padanya untuk mengurus segala hal di dalam dan di luar rumahnya. Segala harta bergerak dan tidak bergerak menjadi tanggung jawab Yusuf dalam hal pengurusannya.

Kepercayaan yang diterimanya itu tidak disia-siakan. Ia memikul amanah itu sebaik-baiknya. Tugas terselesaikan secara baik dan tuntas. Mungkin pujian dan apresiasi sebagai reward kepadanya ia terima walau (mungkin lagi) hanya dalam kata dan sikap. Entah itu secara jujur dan berseri hati yang tergambar pada mata berbinar?

Penulis cerita ini jelas menyampaikan bahwa Potifar tidak mempunyai beban pikiran pada segala milik kepunyaannya, baik di dalam rumahnya maupun di luar rumahnya. Oleh karena itu, ia menjadikan rumahnya sebagai istana relaksasi, santai. Mungkin dapat dibaca sebagai destinasi wisata lokal, daripada keluar rumah mencari yang indah, padahal di rumah sendiri ada keindahan dan kenyamanan. Maka, bersantailah Potifar sebagai Kepala Keluarga, Pemimpin di dalam rumahnya sendiri. Tangan kanannya, orang kepercayaannya mengerjakan segala kewajiban secara tepat, jitu, cermat dan membanggakan.

Kedua,   Yusuf dalam Ujian Karakter. SIapakah pemuda yang tidak mempunyai jati diri? Semua pemuda pada umur 17 tahun rindu memamerkan kemudaannya pada sesamanya. Mereka akan berpesta pada hari lahirnya yang ke-17 itu. Bagaimana dengan Yusuf? Semua sudah mengetahuinya. Yusuf justru mengalami kemudaan dalam kekecewaan. Ia hanya sebentar saja menikmati umur itu ketika ia masih bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Matanya (mungkin) berbinar-binar ketika ia menceritakan mimpi-mimpinya (Kej.37).

Bola mata berbinar dan tajam penglihatan itu kini bukan milik satu keluarga Ibrani, tetapi milik Yusuf sang budak terbeli di rumah Potifar. Sang budak yang muda belia itu berbadan kekar dan kuat karena tugas-tugas yang diembankan kepadanya. Ia terus tumbuh sebagai seorang pemuda ganteng bertubuh atletis. Siapakah perempuan yang tidak menyukai pemuda bertubuh atletis plus perawakan ganteng plus rajin, cekatan, cermat, jitu dan membanggakan?

Plus yang dimiliki Yusuf mungkin bukan hanya dua itu. Ada lagi plus berikutnya, Yusuf takut akan TUHAN, hidup beriman teguh dan kokoh. Memeluk dan berlindung pada TUHAN-nya. Sengaja saya beri huruf miring pada kata plus itu. Bahkan seorang perempuan yang telah bersuami pun diam-diam “menaruh hati” padanya. Jatuh cinta. Jatuh cinta, berjuta rasanya. begitulah kata syair lagu. Cintanya mulai ditepuk-tepukkan. Berkali–kali ia tepukkan pada Yusuf, tapi tangan milik Yusuf dipakainya untuk bekerja. Waktunya dimanfaatkan untuk kecermatan tugasnya. Cintanya diarahkan pada TUHAN dan tanggung jawab yang diterimanya. Perasaan sebagai budak terbeli, pelayan pada tuan dan puannya tak boleh dinodainya dengan cinta terlarang yang dimainkan puannya itu.

Isteri Potifar terus melancarkan serangan hingga suatu waktu yang tepat itu tiba. Kesempatan dalam kesempitan. Kiranya saat itu ia berharap tepukan cintanya itu bersambut dan akan menghasilkan bunyian yang indah bagai dua belah tapak tangan bertepuk pada permainan tepukan para anggota pramuka??

Isteri Potifar, seorang perempuan dewasa jatuh cinta. Apakah Yusuf menyadarinya? Ya. Oleh karena itu ia menolkanya. Mungkin pemuda pembaca dapat membayangkannya?

Isteri Potifar tak dapat menahan dorongan cintanya. Nafsu cintanya itu dilumuri kata-kata yang keluar dari hati bergejolak asmara kesengsem pada pemuda di hadapannya. Ia selalu melihat sang pemuda di rumahnya. Cinta lokasi milik dirinya sendiri.

Yusuf menolak mentah-mentah rayuan kemesraan isteri Potifar. Yusuf tak dapat menekuk lutut tegarnya demi cinta dan asmara kesengseman milik seorang perempuan terhormat di kalangan isteri-isteri para perwira. Yusuf tak rela menjadi alat permainan cinta dan jatuh pada gaya berbirahian binatang jalang tanpa kehormatan.

Ia lari dari gaya percintaan yang dimainkan isteri Potifar. Ia sama sekali tidak tertarik pada cinta seperti itu. Ia memilih bertanggung jawab pada tugas-tugas yang telah diembankan kepadanya oleh tuannya. Tuan yang telah “membebaskannya” dari para pembeli yang menjual dirinya itu. Yusuf merasa telah “bebas” berkarya walau terkerangkeng sebagai budak yang dibebaskan secara luas tapi terbatas pada area tertentu.

Yusuf bagai dalam Taman Firdaus. Ia boleh menjadi penikmat segala yang tersedia, tetapi, tentang satu jenis pohon yang ada di tengah-tengah Taman itu, ia tidak boleh menyentuh, mengambil dan memakan buahnya, sebab pada saat ia memakannya, ia akan mati (Kej.2:16-17).

Cakrawala cinta yang dimainkan isteri Potifar tak berhasil merayu ketegaran hati Yusuf. Gaya berbirahi bagai binatang jalang tak bermoral tak juga memenangkan kejujuran dan ketulusan Yusuf pada puan yang mesti ia layani dari aspek tugas dan tanggung jawabnya.

Yusuf berhasil keluar sebagai pemenang, walau ia harus menjadi pesakitan karena fitnahan yang ditiupkan sebagai badai. Badai itu memutar tubuh yang bebas terikat masuk ke dalam kerangkeng berjeruji dan pengab.

Potifar tak sudi menjadi orang yang dipermalukan. Ia seorang komandan jaga istana. Berpangkat perwira bukanlah suatu pangkat rendahan yang harus dimain-mainkan. Ia akan menjadi bulan-bulanan gosip bila kabar niat pemerkosaan terhadap isterinya itu diketahui umum. Ia menjebloskan Yusuf ke dalam penjara. Lagi-lagi Yusuf selalu berada di area yang sempit. Ia selau ada di kesempitan lokus. Apakah sempitnya area menyempitkan kasih dan penyertaan TUHAN padanya?

Ketiga, Yusuf dalam penjaraPenjara. Suatu tempat yang selalu menghantui manusia di segala zaman. Siapapun, paling tidak suka dipenjarakan, walau sering kita mendengar dan atau membaca kisah-kisah tokoh tertentu, yang berkata, “Aku dipenjarakan tetapi di sanalah aku berkesempatan … .” Lihatlah tokoh seperti Ir. Soekarno, atau yang paling hits di ero Reformasi Indonesia, Ahok. Mereka dipenjaraan tetapi, nama baiknya masih terpelihara.

Bagaimana dengan Yusuf? Ia tiba di penjara tentu sebagai narapidana. Di kalangan mereka itu keputusan hukuman mati telah menanti. Apakah Yusuf yang dipenjarakan itu akan menemui ajalnya? Tidak! Di dalam penjara, ia justru mendapatkan kepercayaan dan tanggung jawab. Ia “bebas” terikat dalam penjara. Ia menjad pengurus terhadap sesama mereka yang ada di dalam penjara itu. Kepercayaan, amanah dan tanggung jawab yang diterimanya itu dijalankannya secara baik oleh karena ia selalu ingat dan takut akan TUHAN. Maka, TUHAN selalu menyertainya. Tugas dan tanggung jawabnya di dalam penjara berlangsung secara baik.

Kepala penjara bangga mempunyai seorang terpenjara yang masih muda, trampil dan terlebih takut akan TUHAN.

Pembelajaran pada Kita

Hal-hal yang dijadikan pembelajaran kepada kita pada hari ini

  • Yusuf

Seorang pemuda berpostur dan berkarakter. Postur yang atletis dan ganteng, tampilan yang elegan terhormat disertai jiwa dan karakter yang takut akan TUHAN. Ia rajin, dan tulus bekerja. Ia bertanggung jawab pada tugas yang diberikan kepadanya. Ia berada dalam rel normatif. Segala hal yang bersifat norma dan etika, ia perhatikan secara serius, termasuk ia tidak boleh “melirik” paras cantik dari puan yang harus dilayani di dalam rumah dimana ia menjadi pekerja dalam status budak.

Ketegaran hati. Sebagai pemuda, apakah ia tidak memiliki perasaan untuk bercinta? Tentu saja ia memilikinya. Tetapi, apakah cintanya harus diobralkan kepada perempuan yang telah bersuami? Sekalipun perempuan itu menggoda, merayu dan bahkan ada kesempatan di kesempitan waktu dan peluang di ruang kesendirian dan kesunyian, Yusuf memelihara dan menjaga karakter dirinya. Ia berpada pada jati dirinya sebagai seorang yang tulus bekerja, ikhlas menjadi pelayan.

Kecermatan dan ketelatenan. Yusuf tunjukkan kecermatannya dalam tugas. Ia mencermati segala milik kepunyaan Potifar. Semua pekerja diorganisir dengan deskripsi tugas yang jelas dan terukur. Mereka bekerja dalam koridor organisasi pekerja di rumah tuan/puan dimana merkea telah dibeli dan “dibebaskan” bekerja dalam bingkai perbudakan. Ketelatenan dipertontonkan sebagai aura ketakjuban penontonnya. Telaten pada fungsi-fungsi yang diperankan tetapi terbatas pada garis batas (tor).

Ingat batas, sebagai tor permainan kelereng. Di dalam area yang dibatasi tor mereka boleh bebas. Ketika kelereng keluar dari garis batas, tor, si butir kelereng itu dinyatakan, mati.

Yusuf tidak hendak “mati gaya”. Ia tetap dalam gayanya sebagai seorang yang takut akan TUHAN, trampil dan cekatan, tulus dan ikhlas, jujur dan setia. Tampil elegan bukan untuk pameran kegagahan dan kegantengan, tapi aura itu nyata dari jiwa yang merebakkan wewangian dan aroma mengharumkan nama baiknya.

  • Potifar dan isterinya

Potifar. Seorang perwira militer. Ia pasti termasuk golongan orang berpendidikan dan berpengalaman dalam tugas profesi dan karir. Karirnya dapat saja dimulai dari merangkak hingga mencapai pangkat dan jabatan yang dipercayakan kepadanya sebagai Komandan Jaga Istana Kefiraunan.

Seorang perwira yang berpengetahuan dan berpengalaman, tentulah seorang yang bijak bestari. Oleh karena itu, sangatlah tepat ketika ia menimbang dan mengambil keputusan untuk memberikan tanggung jawab kepada Yusuf. Kemudaan Yusuf pasti masuk dalam pertimbangan, tetapi, keputusannya bulat untuk menyerahkan tanggung jawab seluruh miliknya di rumahnya itu. Yusuf menerima tugas dan tanggung jawab itu dengan kerendahan dan ketulusikhlasan.

Keputusan Potifar tepat. Yusuf menjalankan amanah itu sebaik-baiknya. TUHAN memberkati seisi rumah Potifar.

Iblis masuk. Ini babakan yang memainkan emosi. Jantung berdebar. Daging bergetaran, hingga kuku jemari pun bagai hendak terlepas dari tempelannya. Ketika emosi dimainkan dalam birahi cinta milik seorang perempuan yang jatuh cinta hingga kebelet, bagaimana menahannya?

Isteri Potifar memainkan cinta berbirahi binatang jalang tanpa kehormatan. Ia perempuan terhormat. Isteri dari pejabat militer terhormat yang berwawasan dan berhikmat. Ia bagai ular yang licin dan berkilau kulit diterpa cahaya dengan corak ragam warna yang indah. Sayangnya, mulut dan lidahnya melepaskan liur berbisa. Ia hendak memagut. Pagutannya dapat ditangkis hingga tersisa daki dan tai’ busuk di bibirnya.

Daki dan tai’ busuk itulah yang ditiupkan sebagai fitnah kepada Yusuf dengan pembuktian di tangan. Apa? Baju. Baju menjadi alat bukti permainan kotornya. Bukti yang tak dapat disangkali oleh seorang budak. Seorang yang bebas merdeka dituduhkan dengan satu bukti seperti mungkin masih dapat mengelak dengan meminta bantuan hukum agar dapat mengurangi hukumannya. Tetapi, Yusuf harus menghadapi hukuman, ia budak terbeli.

Isteri Potifar, ular licin, licik dan beracun. Cantik, molek berseri menjulurkan lidah fitnah. Menjalarkan rasa keterpurukan ke dalam lubang kubangan berlumuran lumpur dosa.

Bukankah ular dikutuk untuk makan lumpur? (Kej.3:14)

  • Pejabat di dalam Penjara

Di dalam penjara ada seorang pejabat yang disebut Kepala Penjara. Sebagai pejabat, tentu ia mempunyai database para napi. Salah satu napi bernama Yusuf. Grafik naik dan baik pada perubahan sikap dan sifat Yusuf dalam pandangan sang Kepala Penjara. Itulah sebabnya ia menimbang untuk memberi tugas khusus kepada Yusuf.

Kepala Penjara telah menunjukkan kepemimpinannya di dalam penjara itu. Ia menunjuk Yusuf sebagai pengurus sesama napi di dalam penjara. Tugas itu ada dalam monitoring dan supervisi sang Kepala Penjara. Ia mengevaluasi tugas-tugas yang diberikan kepada Yusuf. Hasil evaluasi dipresentasikan, baik dan luar biasa.

Maka, jadilah si Kepala Penjara tidak banyak terbeban pada tugas-tugasnya di dalam ruang yang memenjarakan tubuh jasmaniah, otak, jiwa dan roh. Ia “melepaskan” diri menikmati hidup yang bebas di dalam penjara dengan tetap menjadi Kepala Penjara, sementara tugas-tugasnya dialihkan kepada Yusuf.

Halo saudaraku yang membaca artikel ini, bolehkah saya berpandangan demikian?

 

Koro’oto, 5 Juni 2020

One comment

  • Moti Marlino Ora

    Wow, ulasan yang sungguh tepat dan lengkap. Makasih banyak atas tulisan ini.

    Memang rancangan Kasih TUHAN sungguh luar biasa. Berliku-liku namun jika kita tetap taat dan setia kepada perintah-Nya maka kesuksesan serta kebahagiaanlah yang akan kita raih.
    Salut pak, atas ulasan ini! 👏👏👏