Yusuf, Persahabatan dan Dampaknya di Penjara

Yusuf, Persahabatan dan Dampaknya di Penjara
Kejadian 40:1-23

 

Kita sudah mengikuti uraian (yang belum tentu memuaskan) tentang Yusuf yang di kesempitan

Heronimus Bani

manakala ia berkesempatan. Pasal 39 telah diurai oleh banyak penulis dari sudut pandang berbeda. Saya masih dengan gaya yang kiranya dapat dimaklumi. Saya bertugas sebagai fasilitator penerjemahan alkitab. Teks-teks yang diterjemahkan kami bahas sambil belajar apa yang patut menjadi bahan pelajaran yang merefleksikan makna hidup sebagai insan dalam hidup berkomunitas dan berkomukasi, baik dengan sesama terlebih prioritas dengan Tuhan.

Inilah lanjutan cerita dan uraian dari hasil belajar bersama tim penerjemah.

Saya membagi Kejadian 40:1-23 ini ke dalam empat bagian.

  1. Ayat 1 – 4 ~  Penjara tak mengenal kasta manusia.
  2. Ayat 5 – 19 ~ Mimpi dan maknanya
  3. Ayat 20 – 22 ~ Wujud makna mimpi napi terhormat
  4. Ayat 23 ~ Melawan Lupa.

Pertama, Penjara tak mengenal kasta manusia.

Pernahkah anda ke penjara? Jujur, saya belum pernah ke sana. Tapi mendengar cerita tentang penjara dan intrik di dalamnya sudah sering. Menonton film aksi dengan latar lokasi syuting satu unit penjara atau area sekitarnya, sudah pernah saya (dan mungkin saudara) tonton. Tentu yang difilmkan tidak seluruhnya menjadi representasi persepsi tentang penjara, tetapi, para sineas pasti punya pesan yang mesti dapat ditangkap oleh penonton/pemirsanya.

Penjara pada zaman Mesir kuno tentulah dapat dibayangkan kekejaman dan kekejian perlakuan terhadap para napi di dalamnya. Pertanyaannya, apakah orang-orang yang dipenjarakan dikastakan? Apakah ada kategori pejabat dan penjahat di dalam penjara? Apakah ada kategori tuan dan hamba di sana?

Fakta berkata lain. Ruang-ruang penjara terbuka untuk pejabat dan penjahat, tuan dan budak, hingga raja dan rakyat jelata. Semuanya mempunyai satu sebutan, narapidana ~ napi. Sebutan terhormat mungkin ada embel-embelnya seperti napi pembunuh, napi koruptor, napi pencuri, napi pemerkosa, napi mutilasi, dan lain-lain. Tapi mereka semua mempunyai nama baptis yang sama, narapidana atau biasanya disingkat napi. Di Indonesia, penjara diberi nama terhormat, Lembaga Pemasyarakatan. Lembaga yang menjadikan para napi untuk menjadi warga masyarakat yang bermartabat. Nama mereka bukan napi, tetapi warga binaan. Apa bedanya? Itu demi alasan kemanusiaan.

Hal pemenjaraan orang terjadi juga pada dua pejabat penting di dalam istana Firaun. Kedua pejabat penting itu berrhubungan dengan urusan kerumahtanggaan istana kefiraunan. Seorang mengurus minuman dan seorang mengurus makanan. Kedua pejabat di ring I (satu)  ini amat sangat penting oleh karena merekalah yang paling bertanggung jawab pada makanan dan minuman yang akan dinikmati Firaun. Merekalah yang mesti memastikan bahwa semuanya steril dari racun bahkan yang teramat kecil seperti ersenik yang pernah diperdebatkan publik hingga ke ruang sidang pengadilan.

Keduanya pejabat yang berkasta VVIP (very-very important person) ~ orang yang sangat-sangat penting ini akhirnya ada di ruang bawah tanah dimana Yusuf berada. Keduanya kini bukan lagi pejabat tetapi telah menjadi penjahat yang mesti siap lahir-bathin untuk berhadapan dengan maut. Ajal telah mendekat bila sudah tiba di ruang bawah tanah, pengab, sumpek, tanpa cahaya matahari, tanpa canda dan tawa riang. Suasana di ruang bawah tanah itu hanyalah yang bersifat mencekam, mencengkeram, menakutkan, dan traumatik selalu ada pada mereka yang tiba di sana, termasuk Yusuf dan kedua pejabat itu.

Satu hingga dua tahun mereka berada di sana dengan tanpa kasta. Mereka sama saja dengan Yusuf. Di dunia bebas, Yusuf menghirup udara tetapi kastanya seorang budak, sementara kedua orang ini menghirup udara sambil berleha-leha di istana. Tapi, apa daya, “dosa besar” telah mereka lakukan yang menjadi jembatan untuk mengantar mereka tiba dengan hati yang terbelah dan hancur di ruangan itu.

Tanpa kasta di penjara. Tidak ada pejabat di penjara. Penjara yang berada langsung di bawah kendali Firaun tentulah penjara yang super ketat. Mungkin bila ada di zaman ini, orang membangun penjara bawah tanah, sambil memasang CCTV di setiap ruang dan lorong. Para sipir memonitoring melalui layar monitor saja agar dapat menghirup udara segar.

Tidak demikian pada zaman Mesir kuno. Yusuf menikmati suasana dan nuansa itu bersama kedua sahabat barunya. Yusuf seorang Ibrani dijebloskan ke penjara atas tuduhan palsu, kejadian yang diada-adakan. Fitnah. Sementara kedua napi yang pernah memangku jabatan penting di istana, tidak jelas dosanya apa sehingga harus sampai ke sana.

Itulah penjara. Kita masih bisa membuka banyak literatur untuk membaca dan menulis tentang penjara pada zaman Mesir kuno dan peradaban bangsa-bangsa dalam Perjanjian Lama.

Kedua, Mimpi napi terhormat di dalam penjara

Sekarang kita melanjutkan pada mimpi dua napi yang datang dari kasta terhormat. Kedua orang itu telah saya sebut sebagai orang yang berada di ring 1 (satu) istana Firaun. Satu sampai dua tahun mereka berada di ruangan yang sumpek itu dalam pelayanan yang diterima dari seorang napi muda, sahabat mereka, Yusuf. Yusuf sebaagaimana kita sudah membaca sebelumnya, ia mendapatkan kepercayaan untuk mengurus para napi di dalam penjara itu. Ia menjadi pengurus yang tanpa pandang kasta.

Yusuf mengikuti irama dan ironi kehidupan kedua napi sahabatnya. Suatu pagi keduanya pucat-pasi ketika bangun dari tidur malam masing-masing. Keduanya masing-masing mengalami visi-mimpi yang menggalaukan, mencemaskan, atau menggoncangkan hati. Keduanya membawa alur pikiran mereka ke dalam mimpi masing-masing. Alur pikir tentang kelak akan jadi pada pada diri masing-masing.

Ya. Orang dapat saja percaya pada mimpi. Mimpi kiranya dapat dimaknai sebagai tanda awal untuk bersiap menghadapi sesuatu di waktu yang akan datang. Persoalannya ada pada waktu. Waktu untuk terjadinya peristiwa yang ditunjukkan dalam mimpi tidak dapat dipastikan kecuali oleh mereka yang benar-benar berhikmat.

Orang Timor di Pah Amarasi menyebut maat atboran, orang yang mempunyai mata tembus pandang melewati dimensi ruang dan waktu. Sebutan lain untuk orang seperti itu mungkin tepat sebagai memiliki indra keenam, indigo. Orang seperti itu melakukan apa yang disebut sokat, yaitu menjelaskan sesuatu yang akan terjadi pada suatu waktu. Lalu terjemahannya menjadi ramalan.

Yusuf menyaksikan kedua sahabatnya itu murung dan pucat. Ia bertanya kepada keduanya. Lalu berceritalah napi yang pernah mengurus minuman Firaun. Cerita mimpi itu dan maknanya menjadi menarik pada sahabatnya. Lalu iapun termotivasi untuk menceritakan mimpinya pula. Ia berharap mendapatkan makna di balik cerita mimpinya itu.

Mimpi pertama dan maknanya.

Ada tiga tangkai anggur dimana bergantungan buah-buah anggur yang siap panen. Buah-buah anggur itu diambil oleh pejabat penyedia minuman, lalu memeras air buah-buah anggur itu. Airnya ditempatkan ke dalam piala/gelas minuman Firaun. Ia melayani Firaun di meja perjamuannya.

Pernahkah anda minum anggur dari buah anggur hasil perahan? Anggur yang disimpan dalam waktu lama akan semakin nikmat diminum. Kita tidak bahas sekarang di sini, bukan?

Yusuf menyebutkan bahwa hanya TUHANlah yang dapat menjelaskan dan mengurai apa yang akan terjadi di balik mimpi sebagai indikasi akan terjadi sesuatu. Lalu, atas hikmat dari TUHAN, Yusuf berkata bahwa dalam tiga hari yang akan datang, Firaun akan membebaskan sang napi ini, lalu ia akan mendapatkan pemulihan nama baik. Jabatannya akan kembali kepadanya. Ia boleh kembali menjadi pejabat di istana Firaun. Ia akan melayani Firaun sebagaimana sebelumnya. Ia akan kembali ke dalam kehidupan dan tugasnya yang rutin dan normal.

Yusuf mengingatkan sang napi. Jika ia bernasib baik, baiklah ia mengingat dirinya yang dipenjarakan atas alasan yang dibuat-buat, apalagi ia dibawa ke Mesir secara tidak terhormat. Keadilan belum atau tidak berpihak kepada Yusuf, sang pemuda.

Mimpi kedua dan maknanya.

Sang pejabat yang mengurus makanan (roti) di meja jamuan Firaun melihat bahwa ia menjunjung tiga bakul berisi roti. Roti yang berada di dalam bakul paling atas, dimakan oleh burung-burung.

Yusuf segera memberitahukan makna mimpi sang sahabat. Ia mengetahui kegundahan hatinya. Baiklah ia ratakan gundah-gulana itu dengan jawaban yang kiranya menjadikannya puas. Tiga bakul itu hendak menjelaskan adanya waktu tiga hari berikutnya. Tidak lama. Hanya tiga hari lagi. Sayangnya, dalam tiga hari yang akan datang, sang pejabat akan dipenggal kepalanya, badannya akan disulakan di tiang hukuman badan. Daging tubuhnya akan dicabik-cabik oleh burung-burung pemakan bangkai.

Yusuf tidak memesankan apapun kepada pejabat yang satu ini. Penulis cerita tidak mendeskripsian bahwa Yusuf bersimpati dan atau berempati. Tetapi, kita dapat membayangkan simpati dan empati itu. Bagaimana mungkin meramalkan kematian pada sahabat satu ruang dan kamar tidur. Bagaimana mungkin mengatakan bahwa kamu akan mati dalam waktu dekat ini. Bersiap-siaplah. Di depan sana telah menunggu algojo pemenggal kepala. Mereka akan memisahkan kepalamu dari seluruh tubuhmu yang lainnya.

Dapatkah para sahabat mengatakannya kepada sahabat yang telah makin akrab. Ingatlah bahwa Yusuf dan kedua pejabat yang telah beralih status sebagai napi itu, mereka bersahabat di penjara antara 1 – 2 tahun. Apalagi Yusuf seorang yang masih muda. Mungkin saja ia menjad teman bercerita yang baik ketika ia menjadi pengurus pada semua napi di dalam penjara itu, termasuk kepada kedua sahabatnya itu.

Ketiga, Wujud makna mimpi napi terhormat

Kata-kata Yusuf terbukti dan tak dapat dibantah. Tiga hari kemudian di istana Firaun ada pesta. Pesta untuk merayakan hari kelahiran sang Firaun. Pesta yang meriah. Pesta itu dihadiri hanya oleh kalangan lingkaran dalam (ring 1), dan orang-orang penting lainnya yang mungkin diundang dengan tanda khusus.

Sahabatku dapat membayangkan bagaimana seorang pemimpin negara yang otoriter mengadakan pesta hari ulang tahunnya ketika ia masih berkuasa? Sterilisasi.

Sahabat-sahabatku tentu ingat cerita bagaimana Yohanis Pembaptis menghadapi ajalnya? Saat itu Herodes mengadakan pesta untuk mengingatkan para pejabat di lingkaran kekuasaannya bahwa pada suatu waktu yang lampau, seseorang telah lahir dari satu kandungan seorang ibu. Seseorang itu yang menjadi bayi, dibesarkan oleh sepasang suami-isteri. Ia tumbuh menjadi anak, remaja, pemuda, hingga mencapai dewasa. Ia kemudian menjabat sebagai Herodes di wilayah Herodian Yudea. Dialah yang bersuka hatinya atas tarian yang dipertontonkan oleh seorang gadis. Sumpahnya tak dapat ditarik kembali. Ia harus melunasi secara tunai apa yang diucapkannya sekarang juga. Kepala Yohanis Pembaptis (Mrk 6:14-29; Mat 14:1-12; Luk.9:7-9). Jabatan dan nama baik adalah jaminan harga diri, harkat dan martabatnya. Mulutnya menjadi memangsa dirinya sendiri bila tidak segera melunasi secara tunai ucapannya.

Kesenangan pejabat berujung maut pada orang-orang tertentu dalam penjara. Kesenangan pejabat dapat pula memberi dampak baik pada orang-orang tertentu dalam penjara.

Ingatlah di negara kita Indonesia. Negara merumuskan aturan untuk memberikan remisi dan pembebasan bersyarat hingga pembebasan/keluar dari penjara sebelum masa pemenjaraan berakhir. Itu tentu berbeda dengan kesenangan pejabat yang berujung pada “kemerdekaan” orang-orang tertentu dalam penjara.

Kesenangan dalam kemewahan Firaun berdampak pada dua orang yang pernah menjadi pejabat istana. Kedua orang penting itu akhirnya sampai pada titik dimana seorang bebas dan kembali kepada tugas dan fungsinya di dalam istana Firaun. Ia mendapatkan pemulihan nama baik. Jabatannya diemban kembali yang artinya, ia telah dapat menghirup udara segar dan bebas. Tidak lagi sumpek dan pengap. Ia dapat memandang matahari terbit, atau pergi ke pantai menunggu saat matahari terbenam, lalu membuat foto-foto ekslusif.

Sementara rekannya berbeda nasibnya. Ia, mungkin saja tanpa mata tertutup. Ia harus menyaksikan bagaimana algojo memegang sebilah parang atau pedang tajam. Mungkin saja menggunakan gunting pemutus leher. Apapun alat pemisah kepala manusia dari tubuh besarnya, mereka telah menggunakanya untuk melakukan penghukuman akhir hidup pada sang terpidana mati itu. Vonis yang inkrah telah dieksekusikan kepadanya.

Melepaspisah kepala dari tubuh. Tubuh yang telah menjadi bangkai itu disulakan. Suatu penghukuman yang sangat keji. Hukuman itu dilangsungkan di tengah pesta dan kemewahan istana dan para pembesar Mesir.

Di Pah Banam, terdapat satu bukit kecil di sekitar Pasar Niki-Niki. Bukit kecil itu disebutkan orang Posu Manu. Mengapa disebutkan demikian? Karena di tempat itu pernah dihukumkan seseorang dengan cara disulakan badannya pada tiang yang disiapkan khusus hukuman mati.

Menurut cerita, peristiwa itu terjadi hanya untuk satu orang dan tidak pernah terulang kembali pada masa pemerintahan dinasti Nope hingga dinasti ini “bubar” dan mengakui kedaualatan NKRI, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan hingga sekarang.

Kita kembali ke ruang bawah tanah dalam cerita kita. Di ruang bawah tanah tempat para narapidana tersisa, di sana ada Yusuf. Ia masih menjalani kehidupan di ruang bawah tanah itu sebagai napi dengan tuduhan mengambang, tapi hukuman telah pasti. Penjara dan menunggu saat eksekusi tiba.

Tapi, seorang napi bernama Yusuf ini tetap menjalani kehidupan itu dengan tetap beriman kepada TUHAN yang disembah oleh keluarganya. TUHAN Allah Israel, Allah Yakob, ayahnya. Ia melewati new normalnya sudah lebih dari dua tahun di dalam ruang penjara itu. Para napi itu sedang berada dalam masa very-very lockdown. Mereka hanya dapat ditengok dengan cara look down ~ melihat ke bawah. Harus turun ke dalam ruang bawah tanah ketika masuk (entre ~ antri ~ enter) ke sana.

Keempat, Melawan Lupa.

Pernahkah sahabat pembaca memberi jasa kepada seseorang yang terjepit atau tersangkut suatu masalah besar? Bila pernah melakukannya oleh karena sahabat merasa senasib dengannya, tentulah mau berpikir bahwa akan ada balas jasa suatu hari kelak dari orang itu. Mengapa? Karena pernah hidup bersama sebagai sahabat yang senasib.

Saya memiliki sejumlah pengalaman yang kira-kira mirip tapi tidak dalam masalah besar. Ketika itu masih menjalani masa-masa perkuliahan. Itu semua telah berlalu. Mereka yang pernah menikmati jasaku telah berasumsi bahwa jasaku telah lunas dengan bertegur sapa ketika bertemu. Ketika memberi mamahan pemerah bibir, bercakap dan bergurau sebentar, bertegur sapa lagi, lalu berpisah. Jasa telah lunas dan tidak perlulah untuk dikenangkan. Itulah warna kehidupan.

Roda terus berputar. Roda itu bisa saja roda kayu yang menarik pedati, atau roda besi berbeban berat, hingga roda karet berisi angin, ringan tetapi dapat membawa beban lebih banyak. Roda itu terus menggelinding di berbaga medan, cuaca dan iklim.

Pejabat Penyedia Minuman (mashgèh) telah lupa pada jasanya Yusuf. Roda kehidupannya sedang menggelinding di jalan bebas hambatan. Empuknya kursi jabatannya mengantarkannya pada kealpaan. Ia benar-benar lupa. Tapi, biarkanlah hal itu terjadi.

Nah, sampai di sini uraian dari saya. Semoga pembaca menyukainya.

 

Koro’oto, 5 Juni 2020