Masih tentang Yahuda

Masih tentng Yahuda
Kejadian 38:1-30

Di bagian akhir tulisan sebelumnya saya berpesan akan menyambungnya dengan nama bagian kedua. Apa yang hendak saya urai pada bagian kedua? Simak selanjutnya di sini.

Pdt. Budi Asali, M.Div dalam golgothaministry.org mencatat bahwa perginya Yahuda dari keluarganya dipersepsikan atau ditafsirkan penerapannya pada zaman ini sebagai keluar meninggalkan kelompok orang percaya, meninggalkan gereja Tuhan, bergabung dengan orang-orang kafir yang tidak mengenal Tuhan. Asali menempatkan Ibrani 10:25 sebagai bandingan. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling

Heronimus Bani

menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Lalu saya pun bertanya, Apakah konteks Kejadian 38:1 dapat dikompilasikan dengan Ibrani 10:25? Tidakkah orang mesti mengetahui bahwa konteks Kej 38:1 berbeda dengan konteks Ibr 10:25? Mungkin ada kemiripan atau bahkan memiliki makna yang sama, tetapi konteks dan latar narasi tentulah berbeda.

Saya pun mau bertanya, apakah kekristenan itu ekslusif sehingga harusnya tidak boleh berada di tengah-tengah orang-orang non Kristen lainnya? Sementara kita ingat pameo hiduplah seperti ikan, sekalipun ikan hidup di dalam laut (yang asin bergaram) tetapi ia tetap harus digarami ketika orang mengolahnya menjadi makanan. Tidakkah itu berarti penganut Kristen mestinya seperti ikan dan garam? Ingatlah bahwa Yesus dalam pelayanan-Nya berkali-kali menggunakan media ikan yang nyata untuk menunjukkan bukti cinta-Nya pada sesama, dan garam sebagai metafora dalam mengajar.

Mari kita kembali kepada kisah Yahuda. Yahuda meninggalkan keluarganya dan pergi menumpang pada keluarga Hira, sahabatnya.

Tidakkah ini suatu inklusivisme dari Yahuda. Ia menembus sekat etnis, entitas, dan agama ketika ia menjadi sahabat Hira. Ia memilih untuk menikahi perempuan yang bukan termasuk golongan mereka, dan mau membagi sebahagian jiwanya kepada kelompok itu. Tidakkah ini suatu hal yang patut dipelajari? Apakah Tuhan sedang menutup mata-Nya ketika Yahuda memilih untuk menjadi bagian dari komunitas baru di daerah itu?

Bayangkanlah bahwa saudara seorang penganut Kristen sejati di dunia milenial yang begitu buming dengan beragam aplikasi medsos. Saudara mungkin memilih aplikasi medsos X untuk menjadi bagian dari grup tertentu sesuka hati. Apakah dengan bergabung ke dalam grup tertentu yang heterogen tanpa pandang bulu itu kemudian melunturkan anutan ke-Kristen-anmu? Jika kekristenanmu luntur oleh karena saudara bergaul karib dengan mereka yang non Kristen, apa artinya menjadi pengikut Kristus jika pergaulanmu menghancurkan dan meluluhkan keyakinanmu? Saudara tidak dapat lagi disamakan dengan ikan yang hidup di dalam samudra pergaulan ini.

Mari kita kembali ke cerita Yahuda. Saya juga mau mengajukan pertanyaan, jika Yahuda dipersepsikan sebagai “keluar” dari komunitas keluarga Allah, tidakkah Tuhan menyertainya? Saya dan saudara tentu saja membaca bahwa TUHAN tetap menyertai Yahuda. Ada bukti dimana penyertaan TUHAN selalu ada. Lihatlah bagaiman TUHAN menghukum Er dan Onan. Latar belakang mengapa keduanya mendapatkan hukuman itu jelas ada dalam pengetahuan TUHAN.

TUHAN mengizinkan Yahuda menjadi seorang suami, ayah dari tiga putera yang diizinkan TUHAN untuk menjadi pelanjut keturunannya. Bahwa kemudian TUHAN memilih Peres (dan Zerah) yang lahir dari persetubuhan yang tak pantas, tetapi kemudian menjadi bagian dari sejarah silsilah keturunan Yahuda hingga tiba di Daud dan dari sana tiba di Yesus (Mat.1), bagaimana kita bisa menafikan rencana besar TUHAN pada umat-Nya melalui Yahuda?

Tidak sadarkah kita bahwa TUHAN yang kita sembah itu TUHAN yang inklusive. Ia ada untuk segala makhluk manusia. TUHAN membawa Tamar yang terkategori sebagai perempuan asing, jalang, tak bertuhan yang sama. TUHAN membawanya secara senyap ke dalam kehidupan kaum yang mengklaim diri sebagai kelompok ekslusif!? Hanya mereka saja yang berTUHAN. Tidakkah TUHAN sedang mengingatkan kita bahwa IA ada untuk seluruh makhluk manusia?

Saudaraku. Bila saudara membaca sambil lalu saja kisa itu, mungkin saudara akan berdebat dengan saya, apakah kita akan mempelajari sesuatu yang kemudian mengantarkan kita untuk berbuat seperti Yahuda? Tentu saja, tidak! Kita tidak boleh melakukan kekejian di mata TUHAN, dalam kesadaran. Tidakkah TUHAN akan menghukum kita yang secara sadar dan sengaja melakukannya?

Saya memberi interpretasi bahwa Yahuda sekalipun sadar dalam persetubuhannya dengan Tamar, ia tidak pernah berpikir untuk menjadi ayah dari sepasang anak kembar, bukan? Siapakah lelaki hidung belang yang membeli jajanan seks di lokalisasi kemudian pergi dan bertanggung jawab pada kelahiran seorang anak dari penjaja seks?

Yahuda, akhirnya bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia tidak lagi menyetubuhi Tamar ketika ia mengetahui bahwa kandungan Tamar itu adalah berasal dari benihnya. Ia menjaga “kesucian” Tamar dan buah kandungannya.

Masih ingatkah bahwa ketika Maria mengandung, Yusuf tidak menyetubuhinya. Yusuf telah mengetahui bahwa Anak di dalam kandungan Maria, bukan dari hasil persetubuhan keduanya. Anak itu ada dari Roh Kudus. Yusuf tidak ingin mengotori, menajiskan Anak yang ada di dalam kandungan Maria. Ia menyadari bahwa Tuhan mempunyai rencana besar kepada pada Anak itu dan keluarganya, dan akhirnya pada kita umat manusia (Mat.1:25)

Tidakkah Yahuda merefleksikan sesuatu dari peristiwa ketamakannya pada hubungan seks yang dinikmatinya walau hanya sebentar? Tidakkah Yahuda berefleksi tentang kematian Er dan Onan, dan lagi kematian isterinya?

Peristiwa-peristiwa itu tentulah ada dalam refleksi seorang Yahuda yang tegar di tengah komunitas yang berbeda entitas, etnis dan agama, bukan? Anang dalam syair lagunya, separuh jiwaku telah pergi, Yahuda, mungkin telah berefleksi tentang sebahagian jiwanya telah hilang. Dalam kesadaran yang demikian, bukankah ia akan kembali merapat lebih erat kepada TUHAN?

Jika kita membaca Kejadian 38 hanya sebagai satu cerita belaka, tanpa kerinduan mempelajari lebih mendalam, sangat besar kemungkinannya untuk segera menginterpretasi bahwa Yahuda tidak dalam rencana TUHAN. Ia mengambil langkah keluar meninggalkan komunitas yang mengenal TUHAN itu sebagai berjalan sendiri sesuka hatinya.

Yahuda seorang yang bertanggung jawab. Mari melihat bukti-bukti dimana ia bertanggung jawab.

  1. Ia mengambil perempuan asing menjadi isterinya. Ia bertanggung jawab atas perkawinan itu. Ia bertanggung jawab pada isteri dan anak-anaknya, walaupun ia berada di rantauan. Tidakkah ini suatu langkah bijak. Ia bertanggung jawab ketika Er dan Onan harus memikul beban tanggung jawab perkawinan menurut hukum ada perkawinan yang berlaku saat itu. Tanggung jawab yang ia pikul berat adanya, ketika dua anaknya meninggal akibat dosa yang menyakiti TUHAN. Pada titik ini, ia mulai ragu. Sesuatu yang wajar, bukan? Tidakkah saudara akan tawar hati ketika anak pertama dan kedua meninggal tanpa keturunan? Tidakkah pada saat itu Yahuda berteriak pada TUHAN, dimanakah TUHAN? Mungkin saat itu Yahuda “pergi” ke arah lain untuk menenangkan hatinya.
  2. Ia bertanggunggung jawab pada perempuan jalang yang ditemuinya di jalan. Ia menggodanya dan menidurinya. Bukti tanggung jawab itu, ia memberikan dua barang jaminan yang akan ditebusnya dengan kambing. Ia bahkan meminta bantuan sahabatnya Hira untuk mengambil kedua barang jaminan itu dan memberikan kambing yang  dijanjikannya itu. Itu bukti tanggung jawabnya. Apakah ada di antara lelaki penikmat jajanan seks yang memberikan sesuatu kepada penjaja seks sebagai jaminan? Tidakkah lelaki penikmat seks yang demikian akan membuka aibnya sendiri? Yahuda telah membuka aibnya sendiri. Hira pergi mencari perempuan itu. Ia bertanya di dalam kampung itu sambil membawa kambing. Tidakkah kita membayangkan bahwa orang akan bertanya, “Kambing itu untuk apa?” Bukankah Hira akan menjawab, “Sahabat saya Yahuda hendak mengambil kembali barang jaminan yang pernah ia berikan kepada seorang perempuan yang ia tiduri beberapa waktu lalu.” Kemudian, orang-orang yang mendapatkan jawaban demikian pasti berkata, “Nah, Yahuda! Oh, Yahuda! Memang ia perlu barang itu karena isterinya telah meninggal.” Bukankah hal demikian akan menjadi pergunjingan? Buli, olok dan gosip kemana-mana? Tapi, Yahuda telah menunjukkan bahwa ia seorang lelaki yang bertanggung jawab, bahkan kepada seorang perempuan penjaja seks sekalipun, ia tegar pada janjinya untuk melunasinya.
  3. Ia bertanggung jawab pada benih yang ia tabur di dalam rahim Tamar. Itu bukti yang teramat kuat. Persetubuhan yang tidak pantas antara mertua-menantu. Yahuda kemudian membatasi dirinya sendiri untuk tidak melanjutkan nafsu kelelakiannya pada Tamar. Ia memilih berefleksi saja. Ia, akhirnya memetik buah dari benih yang ditaburnya. Dua putera lahir dari kandungan Tamar. Peres dan Zerah. Anaknya Syela dari isterinya bagai tertelan bumi dalam kisah, bukan? Peres dan Zerah muncul bagai bintang baru.

Sampai di sini dulu pandangan saya tentang Yahuda. Kiranya ada kesempatan lain untuk membahas tentang Tamar. Kiranya dua tulisan pendek sederhana tentang Yahuda yang saya tempatkan pada weblog ini menjadi bacaan yang menyegarkan.

Terima kasih. Tuhan memberkati.

 

Koro’oto, 6 Juni 2020