Hikmat Yusuf

Hikmat Yusuf
Kejadian 41:1-36

Membaca Kejadian 41:1-36, pasti seorang anak Sekolah Minggu kelas Tanggung atau Remaja dapat bercerita kepada teman-temannya di muka kelas. Ia akan bercerita secara lancar bila membacanyapun dilakukan secara benar atau mendengarkannya itu dalam keadaan sungguh-sungguh. Nah, bagaimana kalau yang bercerita itu seorang dewasa, tetapi dalam Bahasa Daerah, misalnya: Uab Meto’ secara umum atau pada cabangnya seperti Uab Amarasi, Uab Amfo’an atau Uab Amanuban dan lain-lainnya?

Saya bersama 4 orang pembaca awam dewasa telah membaca teks itu dalam konsep yang disiapkan oleh tim konseptor terjemahan ke dalam Uab Amanuban, salah satu cabang Uab Meto’.

Itulah pengantar tulisan saya hari ini. Kejadian 41:1-36 saya bagi dalam bagian. Saya hendak memberi interpretasi dan refleksi pada bagian-bagian yang sudah kami baca.

  1. Ayat 1 ~ Latar Waktu
  2. Ayat 2 – 7 dan ayat 17 – 24a ~ Dua Mimpi Firaun dan ceritanya
  3. Ayat 8-16 dan 24 b ~ Sikap Firaun
  4. Ayat 25 – 36 ~ Hikmat Yusuf

Pertama, Ayat 1, Latar waktu dan satu kejadian pada suatu malam. Dua tahun telah berlalu. Dua tahun berlalu itu dihitung darimana? Saya merasa perlu bertanya di sini. Mungkinkah dihitung dari saat pesta peringatan hari kelahiran Firaun? Semoga itu. Jika dihitung dari saat itu, maka kita dapat menduga bahwa Yusuf berada di penjara 1 – 4 tahun. Mengapa? Karena ada keterangan sebelumnya bahwa mereka telah berada di penjara selama kurang lebih 1 – 2 tahun (40:3).

Di istana kefiraunan, pada suatu malam Firaun bermimpi. Di dalam mimpinya itu, ia melihat dirinya berdiri di tepi sungai Nil. Pengetahuan tentang sungai Nil pasti semua yang pernah melewati bangku sekolah dasar mengetahuinya. Sungai terpanjang di seluruh dunia, walau katanya masih dapat diperdebatkan. Panjang aliran sungai Nil mencapai 6.650 km. Lebih panjang dan jauh dari pulau Timor, bukan?

Kedua, Ayat 2 – 7 dan ayat 17 – 24a. Dua Mimpi Firaun dan ceritanya. Saya kelompokkkan ayat 2 – 7 dan ayat 17 – 24a dalam satu kelompok, berhubung isinya sama. Bedanya, ayat 2 – 7 mengenai adanya mimpi-mimpi itu, sedangkan ayat 17 – 24a, pemilik mimpi bercerita atau menceritakan kembali mimpi-mimpinya itu. Ia memperdengarkan kepada orang lain.

Sudah dalam pengetahuan bersama bahwa Firaun bermimpi. Mimpi pertama, dikisahkan bahwa ia berdiri di pinggir Sungai Nil. Dilihatnya 7 ekor sapi (atau lembu) yang tambun keluar dari dalam sungai itu. Lalu datang pula 7 ekor sapit (lembu) yang lain tetapi masing-masingnya berbadan kurus. Ketujuh ekor sapi (lembu) yang kurus menelan ketujuh ekor yang gemuk. Anehnya, tidak ada perubahan pada tubuh tujuh sapi (lembu) yang kurus-kurus itu. Firaun terbangun dari tidurnya.

Ia kembali ke pembaringan. Kali ini ia bermimpi lagi. Dilihatnya satu rumpun padi (atau gandum). Pada rumpun padi (gandum) itu ada 7 tangkai yang bernas. Lalu muncul di samping 7 tangkai bernas itu 7 tangkai lainnya yang kosong. Angin timur memainkan mereka hingga tak berisi. Ketujuh tangkai kosong itu menelan ketujuh tangkai bernas yang sudah ada sebelumnya. Firaun terkejut dan bangun dari pembaringannya itu.

Kedua mimpi ini kemudian ia ceritakan kembali kepada Yusuf. Ia menambah satu informasi dalam ceritanya bahwa sapi-sapi (atau lembu) kurus yang dilihatnya dalam mimpinya itu tidak pernah ia lihat di Mesir. Informasi ini hendak mendeskripsikan bahwa tanah atau negeri Mesir, negeri yang subur, kaya dan masyarakatnya makmur. Oleh karena itu, ternak seperti sangat jarang terlihat di negeri yang dipimpinnya itu.

Ketiga, Ayat 8 dan 24b. Sikap Firaun. Firaun tidak berdiam diri ketika ia bangun dan kembali menunaikan tugas-tugasnya sebagai pemimpin besar di negeri makmur, Mesir. Ketika ia berada di istana, rona dan air mukanya tidak cerah. Ia akhirnya menceritakan kepada para pejabat istana. Ia memberi perintah untuk memanggil orang-orang pandai di negeri itu. Negeri yang luas dan makmur, tentulah bertebaran orang pandai dimana-mana. Mereka yang pandai mestilah berhikmat, termasuk dapat menafsirkan mimpi, terlebih mimpi seorang raja. Mimpin seorang raja, pasti merupakan suatu visi masa depan yang tidak disadarinya. Ia mesti bersikap bila mimpi itu harus diwujudkan dalam tindakan menejerial.

Ternyata pada cerdik pandai dan berhikmat tidak satupun berhasil memberi jawaban yang memuaskan Firaun. Kini, datanglah pejabat penyedia  minuman raja Firaun. Ia ingat bahwa di penjara ada seorang pemuda yang pernah memberitahukan kepada mereka makna mimpi. Makna mimpi dari kedua pejabat itu kemudian terjadi di depan matanya. Ia mengalaminya dan menjadi saksi hidup atas kematian sahabatnya yang sesama pejabat yang dinapikan. Firaun mendengarkan informasi itu, ia memerintahkan untuk mengambil Yusuf dari dalam penjara. Perintah ini sekaligus membebaskan Yusuf. Ia bukan lagi seorang narapidana hukuman mati. Ia seorang yang bebas, kini.

Keempat, ayat 25-36, Hikmat Yusuf. Kini Yusuf telah menjadi orang bebas. Ia dibebaskan atas titah yang diucapkan oleh Firaun. Tidak seorangpun dapat menggugat titah Firaun, termasuk Potifar. Fitnah telah terhapuskan.

Di depan Firaun, Yusuf telah menjadi orang bebas. Ia tidak menunjukkan kepongahan. Ia pun tidak melakukan press conference untuk mengklarifikasi seluruh fitnahan. Ia tidak berkisah di depan para juru warta yang menantikannya di depan istana Firaun yang mau bertanya darimana asalnya? Seluruh informasi itu telah ada dalam pengetahuan keluarga Potifar, Pejabat Ring 1, dan Firaun sendiri.

Yusuf muncul sebagai tokoh pembeda di antara para pejabat dan orang berhikmat di depan Firaun. Ia mendengarkan secara saksama dan cermat paparan mimpi tuannya, Firaun. Ia tidak lantas berkata bahwa dia mampu memberitahukan makna di balik mimpi itu. Ia justru berkata, Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk itu.

TUHAN telah mengambil keputusan terhadap negeri yang dipimpin Firaun. TUHAN akan segera mewujudkan keputusan itu. Sebelum mewujudkannya, IA menyampaikannya kepada Firaun agar menyiapkan negerinya menyambut 7 tahun masa kelimpahan, karena sesudah 7 tahun itu, mereka akan masuk dalam 7 tahun masa kelaparan yang amat sangat. Kelaparan yang menyebabkan masyarakat, warga negara Mesir bahkan melupakan masa 7 tahun kelimpahan itu.

Dua mimpi satu makna. Dua mimpi dalam satu perwujudan. Oleh karena itu, Yusuf memberikan solusi yang kiranya dapat menjadi pertimbangan raja Firaun. Solusi itu adalah, menemukan orang yang tepat untuk menjadi manager yang melakukan tugas-tugas managemen secara apik dan cermat.

Tugas-tugas managemen yang apik dan cermat itu mesti benar-benar teliti sehingga pada saat kelimpahan dimana-mana lumbung-lumbung harus terisi dengan hasil ladang dan sawah. Masyarakat wajib mengisi lumbung-lumbung itu selama 7 tahun. Setiap musim panen mereka harus membagi hasil itu dalam 5 bagian dan satu bagian di antaranya disimpan.

Mari menghitung dengan pendekatan ala Pah Amarasi dan Pah Amanuban

Masyarakat Pah Amarasi menghitung bulir jagung dengan besaran pokok, rean. Sementara masyarakat Pah Amanuban menghitung dengan besaran pokok bikase’, bahkan ada besaran tertinggi yang tidak diketahui masyarakat Pah Amanuban namanya tuke.

Di Amarasi, khususnya di kalangan Kotos, hitungan standar rean menyebutkan bahwa setiap 400 bulir jagung orang menyebutkannya dengan nama, 1 rean. Bila di Mesir pada masa kelimpahan orang mempunyai ladang dimana ditanami jagung dan menghasilkan 100 rean, yang sama dengan 40.000 bulir jagung, maka ia harus membagikannya dalam 5 bagian. Seratus rean itu dibagi ke dalam lima bagian maka, tiap bagian terdapat 20 rean, yang sama dengan 8000 bulir jagung. Satu bagiannya diserhkan untuk disimpan ke dalam lumbung raja sebagai persediaan. Jadi, mereka menyetor 20 rean atau sebanyak 8000 bulir. Sementara sisanya 80 rean untuk menjadi milik keluarga itu.

Lumbung itu di Indonesia zaman ini kira-kira Badan Urusan Logistik (Bulog). Jadi Bulognya zaman Firaun menerima limpahan persediaan setiap tahun, setiap keluarga dengan perhitungan yang kira-kira seperti itu menurut cara Pah Amarasi (Kotos).

Sementara bila menggunakan hitungan bikase’ gaya Amanuban. Satu bikase’ sama dengan 40 ikat. Tiap ikat 8 bulir. Jadi, satu bikase sama dengan 320 bulir. Jika seseorang mendapat hasil hasil ladang jagung dalam satu musim kelimpahan itu sebanyak 100 bikase, maka ia telah mendapat 32.000 bulir jagung. Ia harus membaginya dalam lima bagian dari 100 bikase itu, yang sama dengan 20 bilase’ tiap bagiannya. Maka, 20 bikase yang sama dengan menyerahkan 6.400 bulir jagung.

Itulah kira-kira menggunakan contoh perhitungan untuk menghitung bulir jagung gaya Pah Amarasi (Kotos) dan Pah Amanuban, bila kita masuk ke dalam saran yang disampaikan oleh Yusuf kepada Firaun. Saran itu dimaksudkan untuk mengantisipasi kekurangan persediaan bahan makanan pada masa kelaparan hebat selama 7 tahun sesudah 7 tahun masa kelimpahan.

Menurut Yusuf, pada masa kelaparan nanti orang akan begitu laparnya sehingga mereka lupa bahwa pernah terjadi masa kelimpahan selama 7 tahun sebelumnya. Itulah sebabnya, sebagai negara yang bertanggung jawab pada kelangsungan hidup masyarakatnya, warga negaranya, Firaun harus berbuat sesuatu untuk menghadapi kedua situasi itu.