Amanah yang Diterima Yusuf

Amanah yang Diterima Yusuf
Kejadian 41:37-57

 

Yusuf telah memberikan opininya di depan Firaun setelah ia menyampaikan makna kedua mimpi Firaun. Tanpa basa-basi yang luar biasa, seorang pemuda berumur 30 tahun berbicara di depan raja Firaun dengan hikmat yang luar biasa. Ia membuat Firaun dan para punggawa kefiraunan tercengang. Kita kembali mengingat ayat 33 – 36 dalam teks berbahasa Amarasi bunyinya demikian,

Es naan ate, au ‘peint ii on nai, tua. reko nneis aam usi ho maim tua ahinnt es, re’ an’urus nahiin nok reko.Rarit ho mait je he n’ator ma naroitan rek-reko pah re’ ia. Oras mnaah ahoet toon hiut naan, reko nneis aam usi ho mait tua ‘teet es antein, he in nbaububu’ pena’-maka’ na’ko too gui sin renan. Pena’-maka’ naan anbait sin paa’ niim, he natunu paaf es. Sin ro he natuin aam usi’ ho prenat, he sin ntoupun pena’-maka’ na’ko kuan-kuan anbin pah Masir ia. Rarit sin ro he natunu’ sin nbin umin re’ he tatunu’ mnaaht ein. Rarit ro he npao sin rek-reko. He karu toon hiut amnahas naan antea te, hit fe’ atmu’i mnahat. Karu sin n’aotr ee on re’ naan ate, katiit fa tuaf he namnaah anmaet, tua.

Kira-kira bila diterjemahkan secara dinamis artinya begini, Oleh karena itu, inilah pendapat saya. Sebaiknya bapak raja mencari (menemukan) seseorang yang pandai (dan cerdas) yang dapat mengurus secara bijak dan baik. Lalu bapak raja mengangkatnya untuk mengatur secara amat baik negeri ini. Ketika masa kelimpahan selama 7 tahun itu, sebaiknya bapak raja mengambil seorang yang lain lagi untuk mengumpulkan hasil panen (padi dan jagung) dari ladang-ladang (dan sawah-sawah). Hasil panen dari kampung-kampung di seluruh negeri Mesir. Lalu mereka harus menyimpan di rumah-rumah tempat penyimpanan persediaan makanan. Lalu mereka harus menjaga rumah-rumah itu secara ketat (agar aman). Supaya dalam tujuh tahun kelaparan itu tiba, kita masih mempunyai persediaan makanan. Kalau merek (dapat) mengatur seperti itu, tidak seorangpun mati kelaparan.

Itulan pandangan, opini dan analisa Yusuf. Ia pemuda yang baru saja dibebaskan dari penjara. Ia telah berada di hadapan Firaun. Ia telah bebas berbicara di sana, bahkan memberikan opini, analisis hingga solusi yang menjangkau masa depan.

Mari kita ikuti lanjutan ceritanya pada Kejadian 41:37 – 57

Saya membaginya dalam

  1. Ayat 37 – 44 ~ Seremoni Upacara Pengangkatan Yusuf dalam Jabatannya
  2. Ayat 45 – 57 ~ Perkawinan dan Implementasi tugas dalam situasi Negara

Pertama, Ayat 37 – 44, Seremoni Upacara Pengangkatan Yusuf dalam Jabatannya

Pada “awalan pintu masuk” saya tempatkan opini atau pandangan analitik yang tajam sekaligus solutif yang disampaikan Yusuf di hadapan Firaun dan para petinggi negara dalam Ring 1. Kejadian mahapenting di istana Firaun pada zaman ini pasti seluruh saluran media televisi, media daring, radio, dan medsos akan melakukan live reporting untuk agar serentak seluruh warga negara, masyarakat di kota hingga pedesaan dapat segera mengetahuinya.

Kiranya hal ini telah terjadi pada zaman Mesir kuno, tetapi kabar tentang mimpi Firaun dan ketidakmampuan para cerdik pandai untuk memberitahukan maknanya telah tersiar. Yusuf menjadi jawaban atas permasalahan besar yang dihadapi Firaun dan negaranya.

Pertimbangan Firaun dan para petingginya di ring 1 mencapai kesepakatan. Tidak ada orang lain lagi yang lebih cerdas dan berhikmat seperti Yusuf. Firaun mencabut cincin bermeterai yang dipakainya. Ia menempatkan cincin itu di tangan Yusuf. Suatu upacara maha penting. Saya menduga hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya. Seorang raja yang Mesir yang diterima sebagai anak matahari mengambil cincinnya dan memberikannya kepada orang asing. Cincin di jari Firaun merupakan dirinya sendiri. Ketika Firaun menyerahkan cincin itu, ia sedang menyerahkan dirinya sendiri kepada Yusuf. Maka tidak heran kalau Firaun segera eling dan berkata, “… rakyatku akan mengikuti perintahmu. Hanya saja seorang yang lebih daripada engkau!” (ay. 40b).

Apa artinya? Yusuf mendapatkan mandat dan amanah yang sama dengan Firaun. Haknya memerintah sama dengan Firaun. Andaikan saya menempatkannya dalam tatanan tata negara demokrasi, mereka menggunakan pemerintahan monarkhi parlementer, dimana raja menjadi kepala negara dan seseorang dipilih menjadi perdana menteri. Tetapi, perdana menteri bertanggung jawab kepada raja bukan kepada parlemen. (Catatan: ini butuh riset arkeologis dan literatur. ha ha).

Cincin bermeterai dipakai oleh Firaun untuk pengesahan keputusan-keputusan penting. Bila cincin itu dicabut untuk memeterai suatu keputusan pada lembar-lembar papirus, jadilah keputusan itu berlaku selama mungkin, dan atau keputusan itu mencabut keputusan-keputusan lain sebelumnya yang dianggap expired, out of date, ketinggalan zaman sehigga pemberlakuannya menjadi absurd di tengah masyarakat.

Rantai dan kereta kuda. Rantai yang dipakaikan Firaun kepada Yusuf menjadi tali pengikat yang tidak erat tetapi elastis. Yusuf dapat masuk-keluar ke istana secara bebas tanpa protokol yang ketat. Rantai emas. Ia mendapat hak istimewa untuk leluasa di istana yang dilambangkan dengan adanya rantai di lehernya.

Ingatlah bila hendak bertemu kepala negara, seringkali orang harus mendapat surat ijin, katabelece, atau tanda tertentu sebelum masuk. Mengapa? Keamanan kepala negara ditempatkan sebagai yang teramat prioritas dibanding tamu yang hendak bertemu dengannya. Lebih baik tamu tidak bertemu dengan kepala negara jika membahayakan, sekalipun tamu itu dianggap penting.

Yusuf tidaklah demikian. Di lehernya sudah ada tanda itu. Ia bebas masuk-keluar bertemu dengan Firaun. Elastislah rantai itu, tetapi mulia karena bahan dasarnya emas.

Mari kita lihat barang lain yang diserahkan Firaun kepada Yusuf. Kepadanya diberikan satu unit kendaraan. Apa itu? Kereta kuda. Kereta kuda sebagai kendaraan darat. Kereta kuda milik Firaun tentulah terbuat dari bahan dasar yang terpilih kualitasnya. Kuda, mestilah kuda terbaik: sehat, kuat, mampu berlari dalam durasi waktu yang dikehendaki kusirnya, dan sebagainya.

Kereta kuda yang diserahkan kepadanya perlambang gerak cepat. Kelincahan untuk segera tiba di daerah bahkan kampung kecil sekalipun.  Yusuf yang cerdas dan berhikmat ketika menjadi penyelenggara negara mesti bergerak cepat. Ia secara senyap mendapat perintah dari Firaun untuk melakukan perjalanan ke kampung-kampung dan banyak daerah di dalam Mesir. Ia melakukan apa yang disebut-sebut zaman ini, blusukan.

Seluruh proses dari pertimbangan, keputusan hingga pelantikan telah berlangsung secara terhormat dan mewah. Sang pejabat bahkan diarak berpawai. Pawai kemegahan seorang yang terpuruk dalam kurungan penjara. Pawai yang bernuansa tanggung jawab besar dan berat. Pawai yang mengantarkan Yusuf ke dalam peremenungan ide-ide program aksi yang mesti nyata dirasakan oleh masyarakat, dan terlebih dapat dipertanggungjawabkan kepada pemberi jabatan itu, Firaun.

Yusuf menerima penghormatan dan martabatnya kini berbeda. Dari manusia terpenjara menjadi manusia merdeka. Ia yang dahulu berada di area terbuka yaitu di padang bersama saudara-saudaranya, tapi tak bebas karena dijebloskan ke dalam lubang, bahkan dijual, kini bebas. Tidak ada uang yang dikeluarkan untuk membeli kemerdekaannya. Ia dimerdekakan oleh penguasa Mesir yang tanpa disadarinya, TUHANlah yang telah menjadi “sutradara” atas skenario pembebasan yang memerdekakan ini.

Kemerdekaannya melebihi kemerdekaan orang-orang di sekitarnya, bahkan para pejabat di sekitar lingkaran kekuasaan Firaun. Teks dalam TB mencatat demikian, Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorang pun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir!”  Bila menggunakan teks berbeda, kira-kira bunyinya seperti ini, “Akulah Firaun. Hanya dalam pengetahuanmu sajalah setiap orang di Mesir boleh melakukan apa yang perlu di seluruh tanah Mesir!”

Tidakkah kalimat pendek itu akan sangat memberi peluang kepada Yusuf untuk berlaku otoriter?

Kedua, Ayat 45 – 57, Perkawinan dan Implementasi tugas dalam Dua Situasi Negara

Situasi yang lebih spesifik dialami Yusuf. Ia dinamai Zafnat Pa’aneah (mungkin lidah saya lebih mudah mengucapkan, Safnat Paneah). Dari comentary yang saya baca-baca secara daring, nama Safnat Paneah punya maknanya, Tuhan bersabda, dan manusia hidup. Jika term ini dipakai oleh masyarakat Mesir, Tuan Yusuf berkata, hiduplah masyarakat Mesir. Akh… mungkin tidaklah demikian. Tapi, kita membaca dan sudah dalam pengetahuan kita bersama, bahwa TUHAN telah menyampaikan kepada Firaun keputusan-Nya, yang menyebabkan mereka harus mempunyai cara pengelolaan negara secara tepat agar mereka hidup. Cara pengelolaan negara dalam hal ini khususnya pada penempatan personil yang tepat dalam situasi negara dan masyarakatnya mengambil hasil berkelimpahan dan berkekurangan. Personil dan segala tools yang mesti memberi jawaban secara pasti pada masa paceklik dan kelaparan.

Yusuf, seorang pemuda yang telah dewasa fisik dan mentalnya. Ia berumur 30 tahun ketika ia dipilih Firaun sebagai penyelenggara negara. Firaun melengkapkan pribadinya dengan menikahkan Yusuf. Firaun mengambil seorang gadis dari kota On. Asnat, anak seorang ulama (agama Mesir) bernama Potifera. Semua yang pernah belajar sejarah mungkin pernah membaca atau mendengar kata Heliopolis. Di sanalah pusat pemujaan dewa matahari penganut agama itu di Mesir.

Asnat, satu nama yang artinya, milik dewa, milik penguasa kehidupan. Ya, kita dapat memahami bila pemberian nama kepadanya bernuansa rohani amat dalam, berhubung orang tuanya seorang ulama besar, Potifiera. Apakah ada di antara sahabat pembaca yang bernama, Asnat? Nama seperti itu maknanya sangat dalam. Orang tua yang memberi nama seperti itu sesungguhnya telah menyerahkan anaknya menjadi milik Tuhan.

Akh…

Kita kembali kepada Yusuf. Masa berkeluarga dijalaninya. Anak-anaknya lahir. Manase lahir. Ia memberi nama seperti itu oleh karena ia bagai telah terlupakan. Atau mungkin dia sendiri telah melupakan segala sakit yang pernah mendera dirinya?? Efraim lahir, ia ingat bahwa TUHAN tidak meninggalkanya. TUHAN telah memberikan kepadanya berkelimpahan berkat. Ia menjadi saksi kelimpahan berkat itu di Mesir dari aspek kesejahteraan rakyat. Negeri itu mengeluarkan hasil berlimpah dalam masa 7 tahun menurut apa yang dikehendaki TUHAN. Masa itu telah diberitahukan kepada Firaun oleh TUHAN melalui mimpi. Masa yang bertolak belakang dari kelimpahan pun telah disampaikan TUHAN kepada Firaun. Yusuf, ada kelimpahan berkat berupa hikmat dari TUHAN untuk menerjemahkan mimpi Firaun agar menjadi lebih jelas dan terang.

Kita ingat kini, Yusuf menerima kereta kuda nomor dua milik Firaun. Masyarakat awam tentu mempunyai cara pandang sendiri terhadap pemberian Firaun pada Yusuf, khusus pada kereta kuda itu. Ya, dengan kereta kuda, Yusuf sebagai pejabat terlantik, diarak berkeliling kota. Masyarakat kota wajib memberi hormat kepadanya. Bila di jalan-jalan sedang sibuk dan ramai oleh pengguna jalan, ada team forerider yang mendahului untuk mengingatkan bahwa ada pembesar hendak melewati jalan itu. Semua mesti menepi, membuka jalan agar sang pejabat tidak terhalang. Ketika menepi dan jalan menjadi luas tanpa halangan, semua yang telah menepi harus memberi hormat kepada pejabat itu.

Ketika membaca bagian ini saya teringat setiap peristiwa suksesi di negara manapun, termasuk Indonesia. Bukan saja suksesi untuk seorang kepala negara, bahkan gubernur, bupati, walikota, hingga anggota DPR (D) pun ada yang diarak keliling kota dan kampung. Masyarakat berdiri di bibir jalan memberi salam. Mereka meninggalkan rumah sebentar, entah sempat melihat pejabatnya atau tidak, mereka telah menjadi bagian yang meramaikan bibir jalan.

Para pengarak yang mengkarnavalkan sang pejabat beria-ria. Sementara pejabatnya tersenyum di dalam mobil bak terbuka. Ia melambai dan mengirim ciuman dengan telapak tangannya. Bila sempat menyalami, tentu akan menjadi cerita tersendiri pada mereka yang menyentuh tangan sang pejabat. Menarik, bukan? Ingatlah ketika Presiden NKRI, Ir. Joko Widodo blusukan. Betapa bahagianya orang-orang yang sempat menyalami beliau. Tangan yang sempat menyalami seakan tak hendak dicuci lagi biar terus merasakan sentuhan sang presiden.

Tugas segera dilaksanakan. Ia menata logistik dengan menyediakan lumbung/gudang-gudang logistik bahkan sampai ke kampung-kampung. Yusuf melakukan blusukan yang tentu saja bukan untuk berwisata dengan kereta terbaik milik Firaun yang diterimanya. Ia tidak sedang pergi untuk memamerkan kemewahan dan kemuliaan dirinya yang sebelumnya berada di arena keterpurukan, penjara. Ia tidak sedang pergi membawa isteri dan anak-anaknya agar mereka mempunyai pengalaman berada di suatu tempat belaka. Ia sedang bertugas. Tugas yang teramat penting untuk menjaga setoran hasil ladang dan sawah untuk persediaan di setiap tempat.

Managemen pergudangan ia terapkan secara ketat agar tidak terjadi kebocoran. Gudang-gudang dijagai agar tidak dirambah oleh pencuri dan perampok yang melakukan penimbunan di sisi gelap penyelenggaraan negara.

Masa kelimpahan selama 7 tahun terlewati. Penimbunan resmi dengan perhitungan yang matang telah terjadi. Saya mencoba memasukkan konteks Timor dalam perhitungan itu pada tulisan sebelumnya, walau tidak mungkin jitu.

Masa kesulitan datang. Di luar Mesir sudah terasa kesulitan itu. Kelaparan melanda dunia. Mesir mempunyai persediaan logistik yang cukup. Masyarakat mulai mengalami masa paceklik oleh karena persediaan mereka sendiri telah habis. Mereka mengetahui bahwa ada lumbung/gudang pangan di kampung atau daerah mereka. Maka, permohonan kepada Firaun diperdengarkan. Firaun menyebut Yusuf sebagai pengelola. Dialah yang akan meluaskan orang untuk boleh mengambil menurut managemen pembagian sembako yang tidak tumpah-tindih.

Ia membuka lumbung/gudang persediaan. Ia tidak membagikan secara gratis kepada masyarakat di luar Mesir yang datang memohon bantuan. Mereka harus membeli. Masa kelaparan yang hebat.

Kita akan membaca lanjutan cerita dan refleksinya dari seorang awam di kampung Koro’oto ini.

Koro’oto, 9 Juni 2020
Heronimus Bani

 

(catatan: pembaca bisa secara filosofis mencari makna lain dari hubungan Firaun-Yusuf melalui semua tools yang Yusuf terima).