Bersandiwara dalam Bahaya Kelaparan

Bersandiwara dalam Bahaya Kelaparan
Kejadian 42:1-24

 

Sudah ada dalam pengetahuan kita yang membaca alkitab, khususnya bagian cerita Yusuf, bahwa

Heronimus Bani

akahirnya situasi kelaparan memaksa keluarga besar Yakob sang

Israel itu untuk mengambil sikap. Sikap dan tindakan itu akan membuat mereka tetap hidup, sufaif di tengah kelaparan.

Kabar tentang tersedianya makanan di Mesir telah terdengar juga pada mereka. Tapi, rupanya anak-anak Yakob belum berani mengambil sikap. Mereka masih berdiam diri hingga akhirnya orang tua mereka harus memberi petunjuk.

Bayangkanlah kelaparan pada tahun 2009 di Yahukimo yang angka korbannya tidak tentu dalam penjelasan para pejabat. Ada yang menyebut 200-an orang ada yang 300-an orang sambil diklarifikasi. Manalah yang tepat? Begitukah wujud pertanggungjawaban pejabat publik pada publik yang memilih dan menempatkannya di tempat terhormat?

Tapi itu peristiwa tahun 2009 dan hanya satu item masalah dari sekian banyaknya permasalahan yang sedang dihadapi di Yahukimo yang mungkin tak tersentuh media. Mungkin pejabatnya sudah berubah karakter untuk lebih baik dalam tanggung jawabnya.

Ada pula kelaparan di awal melenium ketiga yang pernah melanda dunia Sepertiga dari populasi benua Afrika mengalami kelaparan pada tahun 2018. Jumlahnya sekitar 256,1 juta jiwa yang kekurangan pangan yang oleh karenanya terdampak kelaparan. Sementara di Asia menurut kabar-kabar sebagai salah satu benua penyumbang angka kekurangan gizi pada anak sebesar 500 juta jiwa. Pada urutan ketiga beberapa negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia, 42,5 juta jiwa. Kelaparan dari zaman kuno hingga telah memasuki milenium ketiga yang sudah amat canggih. Ketika orang sudah pergi-pulang ke bulan dan berencana membangun hunian wisata di sana, di planet bumi masih ada kelaparan.

Itu sekedar pengantar.

Mari kita ke Mesir kuno dimana Yusuf telah menjadi penyelenggara negara yang sangat dipercaya oleh Firaun. Ia telah mengajukan opini, analisis dan solusi sekaligus kepada Firaun ketika ia ditugaskan menafsirkan dua mimpi Firaun. Ia telah menerima jabatan terhormat dan tertinggi yang berbeda dari pejabat tinggi lainnya di sekitar ring 1 istana Firaun. Ia telah menjadi seorang kepala keluarga untuk keluarga kecilnya dimana ada Asnat, isterinya, Manase dan Efraim, dua anak-anaknya.

Yusuf telah bertugas menjadi pejabat yang rajin blusukan di seluruh wilayah dan daerah kefiraunan Mesir. Ia bahkan tiba di kampung-kampung dimana masyarakat harus disiapkan untuk menghadapi masalah besar, kelaparan yang durasi selama 7 tahun sebagaimana yang diterimakan TUHAN kepada Firaun.

Penduduk di Tanah Kana’an ikut merasakan kelaparan itu. Mereka sudah mendengar kabar bahwa di Tanah Mesir ada persediaan makanan. Oleh karena itu mestinya mereka bersiap-siap berangkat ke sana untuk membeli. Tetapi, rupanya di dalam keluarga besar Yakob masih ada kebimbangan. Lalu, Yakob mengatai anak-anaknya dengan kata-kata, “Hi mtook ma mtaka’nana’ on re’ naan aa, oo? Au ‘neen a’rair nak anmu’i mnahat et pah Masir. Reko nneis hi mnao he msoos kit. Maut he on naan ate, hit kaisa’ tamnaah atmae.” Secara dinamis terjemahan ini saya ulangi dalam bahasa Melayu Kupang, “Bosong duduk ko tangana begitu sa ko? Beta su dengar kata bilang ada makanan di negara/tanah Mesir. Lebe bae bosong pi beli kasi botong. Biar ko deng begitu, botong sonde mati lapar.”

Apa yang disampaikan Yakob sebagai kepala keluarga besar ini benar adanya. Anak-anaknya pun berangkat ke Mesir. Yakob tidak mengizinkan Benjamin disertakan dalam perjalanan ini. Si bungsu yang lahir dengan kisah tersendiri di perjalanan ke Tanah Kana’an menyisakan kesan mendalam (Kej.35:16-22a).

Kehilangan Yusuf yang pada waktu itu telah berumur 17 tahun menyebabkan Yakob “berkabung”. Kini, kelaparan melanda mereka juga, dan harus berusaha mendapatkan makanan dengan cara membeli. Perjalanan jauh harus ditempuh. Yakob tidak mengizinkan Benjamin dalam perjalanan jauh itu.

Ruben dan adik-adiknya berangkat ke Mesir. Perjalanan jauh yang entah ada tantangan dan hambatan apa di jalan. Entah bagaimana mengatasi hambatan, tapi satu hal pasti, mereka telah tiba di Mesirr. Mereka harus menghadap kepada penyelenggara negara yang mempunyai kuasa sama dengan Firaun. Dia mengatur logistik yang kira-kira sama dengan Kepala Bulog sekarng di Indonesia, atau mungkin lebih dari itu. Dia, Yusuf yang mengatur agar seluruh persediaan di lumbung/gudang dapat memenuhi kebutuhan selama masa kelaparan itu.

Ruben dan adik-adiknya menghadap Yusuf sang penguasa, orang kepercayaan Firaun. Tanpa sepengetahuan Ruben, daa,  Yusuf sudah mengenal mereka. Maka, Yusuf pun mendramatisir pertemuan mereka itu. Ketika dilihatnya mereka mulai belutuh dan menyembah padanya, ia langsung teringat akan mimpi-mimpinya (pembaca pun pasti mengingat kedua mimpi Yusuf, bukan?)

Dengan drama, Yusuf mendramatisir pertemuan itu. Ia tidak segera memberikan makanan sebagaimana tujuan kedatangan mereka. Ruben, daa justru dituduh sebagai mata-mata. Mereka datang ke Mesir untuk memata-matai negeri itu. Dengan cara itu mereka mengetahui titik-titik kelemahan negara itu, lalu mereka menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk menyerang Mesir. Kira-kira demikian permainan drama Yusuf di pentas tugasnya.

Sekalipun Ruben,daa mencoba menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya, tetapi Yusuf, sang Penguasa itu bagai tidak peduli. Ia malah menekan mereka. Lalu berceritalah seorang di antara mereka tentang keluarga mereka. Dari cerita itu Yusuf mendapatkan informasi tentang ayahnya dan seisi rumahnya yang sudah ia tinggalkan selama lebih dari belasan tahun (Catatan, bila menghitung sejenak, ketika Yusuf dijual, ia berumur 17 atau 18 tahun. Ketika menjadi orang kepercayaan Firaun, berumur 30 tahun; ketika kelaparan tiba, umur Yusuf sekitar 37 – 38 tahun).

Setelah melalui perdebatan yang alot antara Yusuf versus kakak-kakanya, mereka harus mencapai kesepakatan yang merugikan Ruben,daa. Mereka akan mendapatkan makanan yang menjadi tujuan kedatangan mereka jika. Nah, jika di sini kemudian harus dijawab dengan kata, setuju. Mereka harus setuju agar mendapatkan makanan sehingga dapat “melawan” kelaparan hebat itu.

Yusuf secara sadar “memaksa” mereka untuk menerima tawaran jika yang disodorkan kepada mereka. Ia memaksa mereka untuk setuju dengan tawaran itu. Maka, ia harus punya cara, agar Ruben,daa setuju. Maka, ia memasukkan mereka ke penjara. Di dalam penjara mereka terus berdiskusi membangun argumentasi pembenaran. Tapi, apakah mereka dapat memenangkan skenario drama Yusuf? Tidak!

Di dalam penjara Ruben,daa kembali mengingat masa lalu mereka. Masa lalu bersama Yusuf adik mereka. Mereka membicarakan tindakan yang sudah lampau itu sementara Yusuf mendengarkannya.

Tindakan yang sudah lampau memberi buah pada hari ini. Benar! Bagai menanam kelapa di lahan Pah Meto’, ada yang menghasilkan secara berlimpah dalam waktu paling pendek 3-4 tahun, tapi ada yang baru menghasilkan buah di atas 5 tahun. Jika buah yang dihasilkan oleh satu pohon kelapa itu bagus, betapa senangnya pemiliknya. Bila kepala itu tumbuh di tanah tandus, buahnya kecil dan jumlah tiap tangkai buah terbatas, bahkan lebih banyak tidak memberi buah. Pemiliknya melihatnya sambil kecewa dan pada giliran waktu tertentu pohon itu ditebang.

Ruben,daa sedang membicarakan akibat dari perbuatan mereka di masa lalu. Akibat yang mereka petik sebagai buah itu mungkin tidak sama dengan buah kelapa yang saya gambarkan tadi. Yusuf mendengarkan. Sedih. Ia menangis. Tangis kerinduan yang sedang membuncah. Tangis yang mestinya segera ia tumpahkan di depan kakak-kakaknya. Ia sungguh rindu memeluk mereka. Ia masih harus bersandiwara sampai mereka benar-benar menepati janji setujunya dari apa yang ia kataikan sebagai jika.

Babak pertama drama atau sandiwara itu berakhir, dengan tragedi. Simeon menjadi tahanan untuk dijadikan jaminan, bahwa Ruben,daa akan membawa adik bungsu mereka setelah membawa persediaan makanan ke Kana’an.

Baiklah saya berhenti sejenak di sini. Mari kita belajar sedikit saja tentang sandiwara/drama kehidupan nyata.

Seringkali kita menyaksikan pembelajaran di sekeliling kita ada yang yang disandiwarakan. Seringkali orang menyebutkan hal itu sebagai tipuan putih. Mereka yang melakukan tipuan putih mungkin dapat dibenarkan ketika akhirnya korbannya memetik hasil yang baik dari tipuan itu. Adakah yang seperti itu?

Tengoklah pemberian sembako. Siapa yang memberi sembako? Bila yang memberikan bantuan sembako itu dari pemerintah oleh karena tugas dan tanggung jawabnya untuk memelihara kehidupan warga negaranya, maka hal itu tidak dapat disandiwarakan. Bila yang memberikan bantuan sembako itu datang dari orang perorangan mereka mesti bersandiwara. Bagaimana sandiwaranya?

Mereka menghubungi stasiun televisi dengan proposal yang mengabarkan maksud baik itu. Tentu saja maksud pemberian sembako itu baik. Di balik maksud baik itu nuansanya politis. Lihatlah, pada masa kampanye. Dimana-mana ada bantuan. Kelak orang yang tidak terpilih, justru kembali kepada konstituen yang pernah dibantunya untuk meminta kembali bantuannya.

Ada contoh. Seorang bakal calon anggota legislatif mengirim satu unit tanki air ke dalam satu kampung. Ia mengisi tangki itu dengan air selama masa kampanye. Ke rumah-rumah warga masyarakat ada pipanisasi sehingga di setiap titik ada kran untuk pengambilan air.

Sesudah pemilu, tangki air itu tidak ada air. Kran-kran kering. Lalu dibongkar oleh penduduk di kampung itu. Sang calon legislatof, gagal bersandiwara.

Seorang lagi mengirim alat berat. Ia membuat jalan ke lokasi-lokasi pertanian milik masyarakat. Tanah gundukan dibongkar, berlubang diratakan, ketinggian dimiringkan dan dibelok-belokkan. Jadilah jalan. Musim penghujan jalan itu tidak dapat dimanfaatkan bahkan oleh kendaraan roda dua sekalipun. Jadilah mubasir. Sang bakal legislator merugi dua kali. Pertama, merugi secara finansil dan kepercayaan, kedua, tidak terpilih hingga malu. Sandiwaranya ketahuan belangnya.

Apakah sandiwara Yusuf akan ketahuan belangnya oleh Ruben,daa?

Koro’oto, 12 Juni 2020